Multitasking yang Bikin Pusing

Di Kompas sekitar sebulan lalu, Ninok Leksono menulis tentang fenomena multitasking. Mengutip penelitian ilmuwan Amrik –siapa ya namanya?- wartawan senior Kompas yang setauku doktor di bidang nuklir itu menulis bahwa multitasking alias mengerjakan beberapa hal pada satu waktu itu tidak akan efektif. Tulisan itu berawal dari banyaknya komputer yang menggunakan intel core duo.

Sebatas yang aku pahami adalah begini: dengan intel core duo sebagai prosesor, maka komputer akan punya dua prosesor untuk mengerjakan beberapa aplikasi pada satu saat yang sama. Misalnya pada saat komputer bekerja untuk mengetik, komputer juga dipakai untuk mendengarkan lagu. Atau pada saat komputer dipakai edit foto juga lagi online. Atau malah melakukan tiga empat hal sekaligus: mengetik, menyetel lagu, surfing internet, dst. Dengan dua prosesor, maka kerja multitasking lebih ringan dan cepat. Continue reading “Multitasking yang Bikin Pusing”

Penangkapan Teman dan Kepercayaan yang Hilang

Pagi tadi aku kaget banget baca koran. Satu teman lagi ditangkap polisi gara-gara bawa heroin. Aduh, ini telak banget bagiku. Soalnya Novian, teman yg ditangkap itu, akrab banget sama aku. Dia sering cerita masalah pribadinya: ceweknya hingga keputusannya utk berhenti minum ARV, obat terapi HIV. Beberapa kali dia cerita dengan embel-embel, “Gua cerita ini hanya ke Elu..” Aku sih yakin tidak begitu. Tapi keterbukaannya padaku, dan mungkin pada tiap temannya, membuatku merasa dipercaya. Kepercayaan bukankah sesuatu yg susah didapatkan?

Dalam beberapa kasus tentang HIV/AIDS, aku juga sering tanya ke dia. Soale, Novian memang salah satu aktivis LSM yang peduli pada pengobatan. Aku inget ketika liputan masalah ini, melihat dia mendampingi ODHA sakit, mengganti infus, ngelapin badan. Semua membuatku tersentuh. Continue reading “Penangkapan Teman dan Kepercayaan yang Hilang”

Hari Pertama Terasa Begitu Lama

Menjelang pukul 15.00 wita, bahasa tubuhku tak bisa lagi kompromi. Berkali-kali aku menguap. Dengan agak gak enak, aku menutup mulut yang menganga seperti singa itu. Tapi, mulut sih bisa ditutup, mata tidak. Padahal sistemnya memang canggih gitu: setelah menguap pasti diikuti mata merah dan berair.

Aku liat teman di depan, Raras, dan di samping kanan, Budi, sih tidak terlalu merhatiin kantukku, apalagi Tia, teman di kanan depanku -cailah kayak main bola aja, he.he- yang lebih jauh dari aku. Di ruang sebelah, Pak Imam dan Steff juga pasti tidak tahu kantuk yang begitu bertubi-tubi menyerangku. Continue reading “Hari Pertama Terasa Begitu Lama”

Ya, Mari Menikmati Hidup. Itu saja Cukup..

– kado ulang taun bagi diri sendiri-

Taun ini sepertinya memang waktunya menikmati hidup.

Tidak usahlah berpikir terlalu berat tentang masa depan. Cukup nikmati apa yang kau dapat. Dan rasakan betapa enaknya hidup ketika kita merasa cukup.. Ah, jadi kayak Gde Prama. He.he.

Continue reading “Ya, Mari Menikmati Hidup. Itu saja Cukup..”

28 Tahun. Ah, Makin Tua Saja.

Kok persis sama dengan taun lalu ya? Ulang taunku pas ketika aku lagi ngasi pelatian jurnalistik bagi aktivis LSM. Taun lalu sama teman2 LSM pertanian berkelanjutan di Jimbaran. Sekarang pas pelatian sama teman2 LSM penanggulangan AIDS.

Taun ini tidak banyak harapan dan doa. Mari menikmati hidup. Itu saja udah cukup.. Ini beberapa SMS sekadar ngingetin mereka yg masih inget. :)) Continue reading “28 Tahun. Ah, Makin Tua Saja.”

Kami Berlomba Maka Kami Ada

Lomba itu pun diadakan kembali di gang kami. Lomba sebelumnya sekaligus lomba pertama diadakan Agustus tahun lalu. Ceritanya untuk membangkitkan nasonalisme anak-anak gang. :)) Waktu itu lombanya banyak. Ada kepruk balon isi air, makan krupuk, gigit duit di jeruk. Pas gigit, gigi mereka sampe item-item. Tapi kan rame jadinya. Apalagi anak2 gang sebelah juga pada ikut.

Lalu Sabtu lalu lomba diadakan lagi. Yang bikin ide sih istriku lagi. Rencana semula lomba diadakan Minggu pekan lalu. Eh, ternyata aku pas lagi drop. Sakit. Udah gitu juga memang lupa. Jadi ya diundur Sabtu kemarin. Kebetulan banget hari itu tanggal merah. Jadi ya pas saja.. Continue reading “Kami Berlomba Maka Kami Ada”

Garingnya Perayaan Ultah Akademika

Ketika berangkat dari rumah, aku terlalu banyak berharap. Aku bayangin akan banyak teman alumni Akademika yang dateng malam itu. Akademika, pers mahasiswa tempat aku belajar jurnalisme pertama kali sekaligus tempat yang mengubahku, merayakan ulang taun ke-24 Sabtu malam kemarin. Sebagai alumni yg baik dan benar –he.he- aku niat banget datang ke aka, gitu sebutan kami untuk Akademika, malam itu.

Padahal sebenarnya ada tiga alasan untuk tidak hadir. Pertama aku tiba-tiba sakit. Badan agak demam. Hidung ngocor. Mungkin karena Jumat kemarin kehujanan terus malemnya nglembur ngetik laporan riset media sampai pukul setengah dua pagi. Udah gitu baru bisa tidur sekitar pukul tiga dan bangun pukul tujuh. Jadi ya klop: kehujanan, nglembur, kurang tidur. Seperti biasa, badan langsung drop. Continue reading “Garingnya Perayaan Ultah Akademika”

Akhirnya Aku Jadi Korban Banjir Juga

Hujan mengguyur deras ketika aku cabut dari akademika kemarin sore. Aku udah menunggu sekitar setengah jam setelah kursus feature itu selesai. Namun hujan tak juga berhenti. Hampir setengah enam ketika aku putuskan cabut saja dari akademika. Aku toh tinggal pakai jas hujan lalu naiki motor sampai rumah.

Menurutku hujan tadi memang kenceng banget. Tapi itu kan juga sering terjadi. Jadi ya aku ga terlalu mikir. Continue reading “Akhirnya Aku Jadi Korban Banjir Juga”

Kehangatan Keluarga di Taman 65

Kue ulang taun di meja kecil itu dikelilingi sekitar 30 orang. Umur mereka beragam. Ada yang masih digendong, ada juga yang berjalan tertatih karena umur yang uzur. Mereka semua bergembira. Ada yang berteriak, “Cium. Cium. Cium..” Lalu semua mengikuti teriakan itu. Dengan malu-malu, ibu yang merayakan ulang tahun ke-50 malam itu mencium pipi suaminya. Semua tergelak. Tertawa.

Sebelum kue dipotong ada yang berbicara. Ada sanjungan. Ada pujian. Ada terima kasih. Continue reading “Kehangatan Keluarga di Taman 65”