Polisi Itu Menghajarnya di Tengah Jalan!

Tanpa ba bi bu, lelaki tegap berseragam itu meninju muka laki-laki yang lain. Dug! Laki-laki yang dipukul itu hanya menunduk. Tatapan matanya jelas tatapan mata orang tak berdaya. Jangankan balik memukul, melihat wajah orang yang meninjunya pun dia tak berani.

Kejadiannya di pagi hari ketika aku berangkat kerja. Ada kecelakaan kecil di perempatan kecil Jl Gatsu I dan Jl Gatot Subroto Tengah. Ketika aku lewat di sana, posisi mereka masih sama-sama jatuh di jalan. Aku tidak tahu persis bagaimana kejadiannya. Pokoknya pas lihat mereka sudah sama-sama jatuh.

Aku lihat kejadian setelah itu. Keduanya sama-sama berdiri membawa motor masing-masing ke pinggir jalan. Tapi itu tadi, laki-laki yang berseragam coklat itu langsung menghantam muka laki-laki lainnya. Bruak! Dia lalu memaki-maki, dan bruak!, memukul lagi. Terus berulang-ulang: mulut memaki, tangan memukul.

Laki-laki lain, yang janggutnya berdarah itu seperti ketakutan.

Continue reading “Polisi Itu Menghajarnya di Tengah Jalan!”

Ngenet di Rumah, Semoga Lebih Murah

Ya, setelah lama tertunda, akhirnya bisa juga ngenet dari rumah. Sudah lama banget aku pengen langganan internet di rumah. Dulu pas masih bujangan sih asik aja keluar malam atau jam berapa pun untuk ngenet. Tapi setelah nikah dan punya anak, aku jadi lebih sering males untuk keluar malam.

Udah gitu, kadang-kadang ada saja masalah yang memaksaku untuk cepet2 ke warnet. Misal, Mbak Rita The Jakarta Post tiba2 bilang, “Kirim fotomu sekarang juga ya.” Atau ada sajalah yg lain. Mungkin 70 persen pekerjaanku kini tergantung internet. Padahal ngenet juga lumayan ngabisin duit.

Lalu, akhirnya hari ini aku bisa ngenet di rumah. Ternyata gak mahal2 amat. Semula aku cari handphone CDMA yang bisa dipakai ngenet. Misal Nokia 2865 -apa 2685 ya?- atau sejenisnya. Pas tanya ke Nokia atau toko2 HP, ternyata jenis yg murah di bawah Rp 700 ribu udah gak ada. Karena harga lain terlalu mahal, batal deh beli HP CDMA utk ngenet.

Continue reading “Ngenet di Rumah, Semoga Lebih Murah”

Akhirnya Buku Lentera Terbit Juga

Kami duduk lesehan di lapangan rumput belakang Danes Art Veranda Jl Hayam Wuruk, sore tadi. Ada sekitar 50 orang. Suasana santai. Aku aja cuma pake celana pendek dan kaos oblong seperti biasa. Pak Alit Kelakan, wakil gubernur Bali yang datang telat satu jam setelah acara berlangsung pun kemudian ikut lesehan di sana. -btw, pejabat yang satu ini memang rada edan. Dia tidak pernah menganggap diri sebagai pejabat. Selalu santai. Tapi omongannya berisi. Aduh, kok jadi jurkamnya dia. :))-

Petang itu kami merayakan terbitnya Buku Lentera, Lembaran tentang Realitas AIDS. Ini buku terbitan Sloka Institute tapi pesanan Komisi Penanggulangan AIDS Bali dan didanai Australia Indonesia Partnership. Aku dan dua teman lain, Ervi dan Mercya, bantu ngedit buku kumpulan artikel tersebut.

Continue reading “Akhirnya Buku Lentera Terbit Juga”

Marjuni, Membius Orang Tiap Hari

Pak Marjuni datang ke ruangan kami pagi ini. Dia memperkenalkan diri, “Saya bekerja di bagian anestesi di rumah sakit.” Tugas utama pekerjaan ini adalah membius orang untuk dioperasi. Pak Marjuni, bapak dua anak itu, sudah menjalaninya sejak 1986.

Aku sendiri belum pernah mendengar pekerjaan ini sebelumnya. Aku pikir tiap pembiusan pada saat menjelang operasi itu hanya dilakukan dokter. Ternyata salah..

Saat ini Pak Marjuni, umurnya sekitar 56 tahun. Ini sih perkiraan. Soale dia bilang empat taun lagi akan pensiun. Dan, rencana pensiun itu yang membuatnya datang ke ruangan kami. Dia bercerita kalau selama ini rajin baca SALAM, majalah tentang pertanian berkelanjutan yang kami buat. Aku sendiri sih baru kerja di sini empat bulan. Jadi ya bukan hasil kerjaku tapi kerja teman2 lain. Pak Marjuni akan kembali ke daerah asalnya, Banyuwangi selatan. Dia mau bertani setelah ini.

Continue reading “Marjuni, Membius Orang Tiap Hari”

Main Bowling untuk Menghilangkan Pusing

Kalau Anda pusing dengan pekerjaan, main bowling mungkin bisa membantu menghilangkan pusing itu. Setidaknya itu yang saya alami.

Selasa pekan lalu, setelah capek karena ada diskusi dua hari berturut-turut dari pukul 9 pagi hingga 5.30an sore, saya dan sekitar 15 orang teman kerja main bowling di The Kubu di lantai empat Ramayana Mall Jl Diponegoro Denpasar. VECO Indonesia, lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional di bidang pertanian berkelanjutan, tempat saya bekerja paruh waktu sedang membuat diskusi enam bulanan untuk mengevaluasi maupun merencanakan program. Diskusi dari Senin hingga Kamis sore. Dan, dengan cerdasnya, manajer kantor Bu Yuli mengajak kami main bowling pada hari kedua diskusi. Tentu saja setelah diskusi selesai. Continue reading “Main Bowling untuk Menghilangkan Pusing”

Menikmati Free Hotspot

Akhirnya, dapat juga aku free hotpsot di Denpasar. Setelah hanya denger-denger dari teman, sore ini bisa juga menikmatinya.

Free hotspot ini ada di Tiara Gatsu. Ketika berangkat sih terasa agak jauh dari rumah. But sebenarnya tidak juga. Rumahku di daerah Lumintang, Tiara Gatsu di ujung Jl Gatot Subroto Barat. Ya, kurang lebih 10 menitlah ke sini.

Begitu sampai Food Court, buka laptop, nyalain wireless, cari jaringan, dan JRENG! Dapatlah kita berselancar gratis. Kalau muka badak, silakan duduk saja di kursi meja food court tanpa beli apapun. Tidak bakal ada yang datang lalu mengusir kita. Kalau agak malu dikit, ya beli teh anget atau kopi secangkir cukuplah.

Sayangnya sih aku belum bisa menikmati sepuasnya. Soale, istriku yang sudah duluan kapling dari rumah. J Aku ya kebagian momong Bani. Daripada cerai gara-gara rebutan online kan? 🙂
Jadi ya tunda saja ngenet sepuasnya di sini. Kapan-kapan saja balas dendam sepuasnya. [+++]

Awas Tertipu Warung Nusa Lembongan

Ketika keluar dari kantor di daerah Yangbatu, Denpasar, saya sebenarnya berpikir untuk makan soto ayam di Jl Teuku Umar. Lama tidak makan di sana. Mendung dan sesekali gerimis sejak pagi membuat saya ingin menikmati makan siang dengan kuah hangat. Hmm, sepertinya pas untuk mengusir dingin.

Tapi begitu keluar dari Jl Letda Kajeng masuk Jl Cok Agung Tresna, saya mulai merasa terlalu jauh makan di Jl Teuku Umar. Otak saya bergerak. “Makan apa ya yang kira-kira berkuah hangat, ada di daerah Renon, dan bisa dinikmati dengan cepat?” Continue reading “Awas Tertipu Warung Nusa Lembongan”

Di Belakang Meja yang Membosankan

Sekitar 30 menit menjelang pulang kerja pukul lima sore, Bu Yuli, Office Manager kantor tanya ke aku, “Gimana kesan dan pesannya satu bulan kerja di sini, Mas?”

“Membosankan,” kataku spontan. Bu Yuli diam. Dalam hati aku langsung tidak enak hati. “Soalnya di belakang meja terus. Biasanya kan di lapangan tidak jelas,” lanjutku. Continue reading “Di Belakang Meja yang Membosankan”

Kepala Garuda Bisa Jadi Penanda

Pas lagi duduk di ruang tamu sama istri, aku melihat tas handphone di stang sepeda Bani, anak kami. Di tas kecil dari kain itu aku lihat gambar gajah. Aku langsung tahu kalau tas itu dari Thailand. Eh, ternyata bener.

“Itu untuk pemred. Kalau untuk yang lain cukup pembatas buku,” kata Lode, istriku. Tas itu diberi Ike yang ke Thailand Maret lalu. Ike wartawan Kulkul, tempat istriku kerja jadi Pemimpin Redaksi. Continue reading “Kepala Garuda Bisa Jadi Penanda”