Hanya Satu Kata: Capek

Pada akhirnya, tubuhku menyerah. Sabtu ke Jatiluwih. Hari ini ke Jatiluwih lagi. Hari ini lebih parah. Meski naik mobil, sementara Sabtu lalu naik motor sendiri, tapi kali ini medannya jauh lebih berat. Aku dan Raras, temanku, ke Wongaya Gede dulu. Dari Wongaya Gede kami ke Jatiluwih.

Medannya? Whuhh! Berat. Naik turun. Berkelok-kelok. Jalan rusak. Kanan kiri tebing. Agak ngeri meski tak sebanding dengan perjalanan ketika ke kaki Semeru akhir 2004 lalu.

Sejak semalem tubuhku sudah protes. Sakit sekali di pinggang. Lalu hari ini perjalanan jauh lagi. Huh.

Paling parah: pas sampe Denpasar mampir tempat lain untuk cari foto lagi. Kami diberi wine. Aku pikir tidak terlalu berat untuk diminum. Aku masukkan penuh ke cangkir. Lalu, tanpa basa-basi, aku habiskan. Aku pikir akan menyegarkan kayak minum bir dingin pas capek. Eh, setelah itu, nut!, kepala langsung muter. Makin parah!

Sumpah Blogger Indonesia

Awalnya aku pengen posting soal perjalanan ke Jatiluwih kemarin. Menikmati terasering sawah yang sedang diproses untuk menjadi Warisan Budaya Dunia Unesco itu lumayan menarik. Lebih menarik setelah tahu bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan di sana untuk tujuan tersebut.

Tapi, ah, aku malas nulis panjang. Seharian nyelesaiin kerjaan lumayan melelahkan. Apalagi ini hari Minggu, waktunya nonton Simpsons. *He.he.he*

Lagian ini 28 Oktober 2007. Tidak enak hati sama para pendahulu yang sudah susah-susah bikin Sumpah Pemuda. Jadi ya mengingat para pendahulu sajalah dulu. Tadi maunya posting Sumpah Rakyat, yang terakhir kami serukan ketika aksi solidaritas untuk Myanmar 30 September lalu. Tapi kok romantik amat. Hormat sajalah buat Pak Afnan Malay yang sudah bikin Sumpah Rakyat.

Continue reading “Sumpah Blogger Indonesia”

Habis Blogspot, Terbitlah WordPress

Minggu-minggu ini aku kembali bergairah otak-atik blog. Gara-garanya: wordpress!

Sebenarnya sudah kenal lama dengan wordpress. Aku tahu pertama kali ketika buka blog jurnalisme.wordpress.com punya Budi Putra, redaktur Koran Tempo yang sekarang jadi blogger professional. Lupa kapan persisnya buka blog itu. Tapi kalau tidak salah dua tahun lalu. Dasar aku yang males urusan teknis-teknis gitu, jadi ya sebatas tahu saja.

Aku masih asik dengan blogspotku. Maklum, ini blog pertama yang aku bikin sejak 2004. Tidak hanya ada beban emosi, berat melepas sesuatu yang sudah lama kita akrabi, tapi juga karena beban citra. Mirip-mirip sepeda motorlah. Meski Yamaha, tetap saja disebut Honda. Blogspot pun begitu: kadung jadi nama generik, meski dia hanya merk.

Dari sekian alasan itu, sebenarnya paling penting adalah karena aku memang males otak-atik. Beberapa kali coba ubah desain blogspotku, tetap saja tidak bisa. Pernah nambah link, eh aku otak-atik malah ilang. Pernah ganti desain bagus banget, aku obok-obok, eh malah tidak karuan. Jadilah desain blogspotku tetap saja begitu. Meski tidak puas, ya bisanya cuma itu, jadi ya puas-puasin.

Continue reading “Habis Blogspot, Terbitlah WordPress”

Soal StarOne yang Menyebalkan

Ini sekaligus klarifikasi soal StarOne.

Pekan lalu, pas bayar langganan StarOne bulan pertama, aku sekalian tanya soal pemakaian yang makin menyebalkan. Mbak di customer service melayani dengan simpatik. Di tengah panas dan kemacetan tengah hari Jl Teuku Umar, pelayanannya mengesankan. Apalagi aku udah pasang tampang judes duluan ketika tanya2.

Soal pemakaian StarOne yang makin sering tulalit, kata mbak itu sih, tidak semata karena StarOne. Bisa jadi karena modemnya. Aku pakai modem merk Venus.

“Kalau pake Wawe (?) mungkin lebih stabil,” katanya sembari menyusulkan kalimat bahwa dia tidak bermaksud menjelek2kan produk tertentu dan mempromosikan produk lain.

Continue reading “Soal StarOne yang Menyebalkan”

Ketika StarOne Makin Menyebalkan

Pagi ini aku berniat memposting tulisan-tulisan di Bale Bengong. Maklum, seminggu ke depan aku akan pulang kampung, mudik lebaran. Jadi pengennya ada arsip selama seminggu ke depan yang akan muncul tiap hari di Bale Bengong.

But, niat itu berubah jadi rasa dongkol gara-gara koneksi internet. Sudah sebulan ini aku langganan StarOne yang disediakan Indosat. Tapi makin hari layanan ini makin mengecewakan. Minggu awal aku pakai provider ini sih lumayan menyenangkan. Kecepatannya setara, atau bahkan lebih, dibanding beberapa warnet langgananku. Tak hanya untuk ngemail, ngeblog, untuk download dan upload pun bagus.

Meski tidak terlalu ngerti teknis layanan internet, cukuplah kalau aku bilang bahwa StarOne layak diandalkan. Aku kasi nilai 8,5 untuk layanan ini.

Continue reading “Ketika StarOne Makin Menyebalkan”

Kenapa Aku Tak Bisa Mengambil Punyaku?

Beberapa hari ini aku kepikiran untuk ngumpulin tulisanku yang pernah terbit dalam basa Inggris. Meski tidak banyak, adalah beberapa tulisan di The Jakarta Post. Biar gampang, aku pun search di Google pake namaku. TJP kan punya online jg. Jadi biar gampang ya cari saja di sana. Ada beberapa tulisan yang muncul.

Ada beberapa situs yang muncul. Lalu aku klik yang nyambung. Situs itu terbuka dengan tulisanku di sana. Aku klik. Lho, kok aku harus masukin username dan password. Kan aneh. Aku saja tidak pernah nyuruh orang untuk masukin username segala macem untuk baca tulisan2ku. Kok ini malah orang lain nyuruh aku untuk masukin username ketika aku mau baca tulisanku sendiri.

Ini memang konsekuensi revolusi teknologi informasi: tidak ada lagi batas ruang. Milik kita, bisa saja ada di tangan orang lain yang kita tidak pernah kenal sebelumnya. That’ fine. Tapi jangan dong kemudian orang lain itu memakainya sehingga kita sendiri pun tak bisa memakainya. Dasar!

Kenyataan Entah yang keberapa

Aku kaget ketika pagi tadi baca tiga berita di tiga media berbeda tentang aksi solidaritas untuk Myanmar. Semuanya bener-bener di luar dugaan. Tidak hanya di luar dugaan, tapi malah berbeda dari kenyataan.

Ya, memang begitulah media. Dia tidak hanya menyampaikan kenyataan kedua dari kenyataan sebenarnya. Sering kali media malah memberitakan kenyataan entah yang keberapa.

Karena Diam Bukan Jawaban

Headline koran-koran hari ini:
– Rusuh di Myanmar, Tiga Biksu Tewas (Bali Post)
– Darah Akhirnya Tumpah di Pagoda (Jawa Pos)
– Junta Tembaki Pemrotes (Kompas)
– Myanmar Memanas Militer Pukuli Biksu (Media Indonesia)
– Myanmar junta acknowledges one kill, three wounded in suppression of protests (The Jakarta Post)

Ada masalah di Myanmar. Para biksu yang menuntut keadilan dan bersenjata doa itu melawan junta otoriter bersenjata militer. Kita tidak pernah kenal mereka. Tidak punya hubungan apa-apa dengan mereka selain sesama manusia.

Continue reading “Karena Diam Bukan Jawaban”

Menjatuhkan Abu Lalu Berlalu

Sekitar pukul 8 pagi dalam perjalanan ke tempat kerja part time. Aku berhenti di lampu merah pertigaan Jl Hayam Wuruk dan Jl Kapten Japa. Seorang laki-laki dengan kumis tebal melintang, aku liat dari spion motornya, berhenti di depanku. Tangan kirinya memegang rokok. Lalu menghisap rokok itu.

Dan, plung!, dia membuang puntung rokok itu di depanku. Masih dengan asap tipis keluar dari sisa isapan terakhir, rokok itu dibiarkan begitu saja. Laki-laki itu seperti tanpa dosa membuangnya di sana.

Continue reading “Menjatuhkan Abu Lalu Berlalu”

Berikan Bantuan, Bukan Khotbah

Abis ada diskusi tentang global warming di Renon tadi pagi. Hasilnya ada di Bale Bengong. Overall, ini diskusi menarik. Sayangnya sih temanya trlalu abstrak. Tentang budaya lokal menghadapi global warming. Bahwa Bali punya Tri Hita Karana, local genius, dst untuk mengantisipasi global warming. Cuma, gimana ya? Abstrak banget.

Logika goblokku -dan ini pasti bener2 goblok-, penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca tuh Amrik dan negara2 maju lain. Peran Indonesi sangat kecil, apalagi khususnya Bali. Mungkin lebih menarik kalau ada hal lebih praktikal. Misalnya boikot produk Amrik -hi.hi.hi, ngetik blog saja pake Microsoft- dst.

Ikut diskusi pagi tadi jadi ingat cerita anak kecebur sungai.

Continue reading “Berikan Bantuan, Bukan Khotbah”