Begitu aku sampai di pantai, ibu itu langsung menyergap dengan pernyataan satir. “Pantainya memang bagus. Tapi belakangnya jelek,” katanya.
“Kok jelek, Bu?” tanyaku.
“Ya, karena bukit jadi rusak. Tamu tidak ada. Kami tidak boleh jualan,” jawabnya.
maka, menulislah untuk berbagi, agar ceritamu abadi.
Begitu aku sampai di pantai, ibu itu langsung menyergap dengan pernyataan satir. “Pantainya memang bagus. Tapi belakangnya jelek,” katanya.
“Kok jelek, Bu?” tanyaku.
“Ya, karena bukit jadi rusak. Tamu tidak ada. Kami tidak boleh jualan,” jawabnya.
Tulisan ini aku buat ketika baru usai chatting sama Erwin, teman yang bekerja sebagai kameraman untuk salah satu TV Australia. Erwin sedang meliput di Tenggulun, Lamongan terkait rencana eksekusi Amrozi CS.
Desa berjarak sekitar 15 km dari rumahku di Lamongan itu tempat lahir tiga bersaudara terpidana kasus bom Bali 2002: Amrozi, Ali Ghufron, dan Ali Imron. Amrozi dan Ali Ghufron bersama terpidana lain, Imam Samudra, dipidana mati. Ketiganya akan segera dieksekusi. Maka, para wartawan pun berburu berita ke desa nan gersang itu. Erwin satu di antaranya.
Sejak awal punya nomor pribadi di telepon seluler (ponsel) pada 2001 aku memilih nomor XL. Alasanku waktu itu karena harga XL yang paling terjangkau. Aku lupa persis berapa harganya saat itu. Tapi yang pasti aku ingat, nomor ini yang bisa kubeli dibanding Mentari atau Simpati, dua operator besar lainnya.
Artinya, aku memilih nomor ini bukanlah tanpa mikir. Meski jaringan XL tidaklah sebagus Simpati –yang setauku memang menggunakan jaringan Telkom- atau Mentari, aku tak pindah ke lain hati.
Halo,sebelumnya saya mita maaf ya karena mau meminjam postingan kakak karena saya mau pakai register di google adsense.
Karena saya tidak bisa nulis artikel pake bahasa inggris….
Makasih ya…..
Bingung juga aku pas baca komentar itu di tulisanku soal anak-anak tukang suun. Tulisan itu dalam Bahasa Inggris. Makanya dipinjem buat cari Google Adsense.
Ya aneh juga sih. Mau diterima, aku nih sejak awal agak alergi sama Google Adsense. Tapi kalau ditolak, sejak awal aku penganut Copyleft. Jadi ya serba salah juga..
Dua minggu lalu, seorang teman berkata sambil menahan kecewa. “Gimana sih perasaanmu ketika ada orang mengeluh padamu dan kamu tidak bisa membantunya?” Teman yang suka cengengesan itu kali ini berkata lalu menahan nafas. Aku lihat wajahnya seperti tertekan oleh pertanyaannya sendiri.
Teman itu, seorang perempuan, bercerita tentang teman-temannya yang meninggal satu per satu karena infeksi oportunistik, sakit akibat AIDS. Dia ingin mengajak teman-temannya, yang juga kukenal, agar berobat ke rumah sakit. Tapi sebagian besar tidak bisa berobat karena tidak punya cukup biaya. Kalau sudah soal biaya, teman itu tidak bisa membantu lagi. Maka dia tak bisa berbuat banyak.
Anton Muhajir, Contributor, Denpasar | Thu, 10/30/2008 10:33 AM | Surfing Bali
She has not yet reached her 10th birthday, but Ni Wayan Cenik has already had an adult’s burden laid on her shoulders.
The young child works from 6 a.m. to 12 p.m. and after a brief rest in her cramped house, she will return to work another shift until 8 p.m. On the average, Cenik works nine hours per day.
Continue reading “'Tukang Suun' reflects the plight of Balinese child workers”
Thu, 10/30/2008 10:32 AM | Surfing Bali
Cenik is just one of many child laborers in Bali. Her life reflects the hardships these children must endure and survive.
Ni Putu Suartini, a member of the island’s Commission for the Protection of Children (KPAI), said the child tukang suun of Peken Badung had never received their basic rights — the right to proper education and the right to healthcare services.
The 2002 Law on the Protection of Children stipulates that children under the age of 18 have the rights to healthcare services, social security, education and play and recreational activities.
Anton Muhajir, Contributor, Tabanan | Tue, 10/28/2008 10:27 AM | Bali
The farmers of Jatiluwih are facing hardship as their crops are destroyed not only by the wereng insect and a mystery disease, but as water springs around the village dry up.
Lying on the northern tip of Tabanan, Jatiluwih is one of the island’s main rice producers, with more than 300 hectares of rice fields. The vast landscape of beautifully terraced paddies also makes Jatiluwih, some 60 kilometers north of the island’s capital Denpasar, one of Bali’s main tourist attractions.
One of the local farmers, I Wayan Sukabuana, said conditions began to change around three years ago.
“Three years ago the water springs started producing less water than before,” he said.
Talkshow di TV One pagi tadi mengingatkanku. Hari ini, Senin ini (27/10) ternyata Hari Blogger Nasional. Sejarah Hari Blogger Nasional berawal setahun lalu, 27 Oktober 2007. Saat itu sekitar 500 blogger bertemu di Jakarta dalam Pesta Blogger yang untuk pertama kali diadakan. Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Muhammad Nuh yang hadir saat itu kemudian memutuskan tanggal itu sebagai Hari Blogger.
Maka, hari ini pun kembali diperingati sebagai Hari Blogger. TV One menjadikan hari ini sebagai cantolan untuk membuat dialog pagi dalam Apa Kabar Indonesia. Ada Enda Nasution, yang diberi predikat sebagai Bapak Blogger Indonesi; Angelina Sondakh, anggota DPR yang juga blogger; serta orang dari Depkominfo yang aku lupa namanya.