Tinggal Pilih: Konro, Sup Saudara, atau Ikan Mas

Konro!

Sup konro dan konro bakar menjadi penutup perjalanan yang sungguh nikmat di Sulawesi pekan lalu. Kami menikmati menu ini di warung makan Sop Konro Karebosi, di belakang stadiun Karebosi Makassar. Konro itu sebutan orang lokal untuk tulang iga sapi. Warung ini jadi tujuan kami makan siang karena Amir PR, teman wartawan di Makassar, yang mengajak.

Sop konro, tentu saja berupa sup. Dagingnya pakai iga sapi dipotong kurang lebih sepanjang HP gitu deh. Ada tiga potong dalam tiap porsinya. Kuah sup ini mirip rawon dengan bumbu cengkeh dan kayu manis yang sangat terasa. Makanya warna supnya agak coklat gitu.

Continue reading “Tinggal Pilih: Konro, Sup Saudara, atau Ikan Mas”

Mengenang Teman yang Mendahului Pergi

Kami menundukkan kepala dalam diam ketika seorang teman berdiri di depan dengan pakaian putih-putih seperti pedanda, pemimpin upacara dalam ritual Hindu, sedang merapalkan doa. Sebagian di antara kami membawa mawar merah. Ada yang sekadar membawa bunga itu di tangan, ada pula yang meletakkan bunga itu di tengah kuncup tangan ketika berdoa.

Halaman depan kantor Radar Bali di daerah Ubung itu senyap untuk sekitar tiga menit ketika doa itu dibacakan. Sekitar 100 orang di sana berdiri dan berdoa menurut keyakinan masing-masing. Di sekitar kami, karangan bunga ucapaan duka cita masih berjejeran. Ada dari Fraksi Golkar di DPRD Vali. Ada dari Humas perusahaan rokok Sampoerna. Dan masih banyak lagi.

Continue reading “Mengenang Teman yang Mendahului Pergi”

Beratnya Menguliti Teman Sendiri

Untunglah ada sesi hari ini, Minggu (15/2), tentang etika jurnalistik dan aspek hukum dalam pemberitaan. Dua sesi ini amat menarik. Jadi bisa menutupi kekecewaan atas sesi sehari sebelumnya yang tidak terlalu “tepat sasaran”. Dua sesi hari ini sekaligus mengakhiri tiga hari pelatihan liputan investigasi tentang independensi dan profesionalisme media di Hotel Santika Jakarta yang aku ikuti.

Sesi kode etik jadi menarik karena disampaikan Nezar Patria dengan agak beda. Tidak melulu kode etik jurnalistik, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia ini juga memberikan perspektif agak filosofis tentang etika jurnalistik. Maklum, Nezar yang pernah jadi korban penculikan semasa jadi aktivis ini juga alumni Filsafat Universitas Gajah Mada (UGM). Jadi ya sesi ini sekaligus waktunya dia untuk berbagi ilmu. Hehe..

Continue reading “Beratnya Menguliti Teman Sendiri”

Ironi Mahalnya Biaya Demokrasi

Wajah para calon anggota legislatif (caleg) itu terasa sangat memuakkan bagiku. Selama ini wajah mereka di baliho dan spanduk yang kutemui sudah cukup memuakkan. Sebab mereka malah membuat kotor wajah kota.

Tapi ini jauh lebih parah. Wajah para caleg yang kutemui sepanjang jalan antara Polewali dan Mamasa, Sulawesi Barat itu sampai membuatku harus menahan marah. Geram.

Continue reading “Ironi Mahalnya Biaya Demokrasi”

Please Join BBC Bloody Valentine

Setiap hari ratusan orang membutuhkan bantuan darah dalam situasi kritis. Setetes darah Anda adalah kehidupan bagi orang lain. Ayo berbagi di Bloody Valentine.

Panitia Bersama Bakti Sosial Donor Darah dan Pelayanan Kesehatan mengadakan Bloody Valentine pada Minggu, 15 Februari 2009 di Lapangan Renon Denpasar, dari pukul 07.00 sampai 11.00 Wita. Bertempat di bawah pohon beringin ujung barat lapangan Renon. Jika hujan, acara akan dilaksanakan di Wantilan DPRD Bali, 100 meter dari lokasi awal.

Continue reading “Please Join BBC Bloody Valentine”

Penyeragaman Budaya Lewat Makanan

Perjalananku ke Mamasa kali ini adalah untuk liputan tentang kedaulatan pangan di kabupaten di Sulawesi Barat ini. Peni, teman program officer VECO Indonesia di Mamasa, bercerita bahwa di kabupaten yang baru terbentuk pada 2002 ini ada Forum Pangan Daerah. Kabupatean ini juga mulai mengembalikan pangan lokal, ubi dan umbi-umbian.

Maka, aku pikir menarik juga kalau menjadikan cerita di Mamasa ini sebagai salah satu bahan tulisan di LONTAR, media internal VECO Indonesia, tempatku kerja part time. Aku pun ke sini sama dua teman, Peni dan Anna, manajer publikasi VECO Indonesia.

Continue reading “Penyeragaman Budaya Lewat Makanan”

Merasakan Kembali Kesenjangan Negeri Ini

Sekitar pukul 11.30 tengah malam. Sepanjang jalan hanya gelap. Suara serangga malam menemami perjalanan panjang kami. Tinggal sekitar satu jam lagi kami akan sampai Mamasa, kota tujuan kami setelah perjalanan panjang sejak pukul 11 dari Makassar tadi.

Tapi, truk itu menghalangi perjalanan kami. Padahal Mamasa tinggal sekitar satu jam lagi. Apa boleh buat. Kami tidak bisa lewat. Truk yang mengangkut bahan bangunan itu terperosok di sana. Ban kiri belakangnya masuk lumpur. Truk itu sampai miring.

Continue reading “Merasakan Kembali Kesenjangan Negeri Ini”

Useful Links about Asia

Just keep these links for online update info about human rights and HIV/AIDS issue, particularly in the region as part of my internship for Asia Catalyst. For me, these are important links as source for the research for next five months.

I’ll update the links later..

www.forum-asia.org
www.asiapacificforum.net
www.ttag.info
www.hrw.org
www.seaconsortium.net
www.aidsalliance.org/sw1280.asp

Tak Sebagus Konsep di Atas Kertas

Laporan pertamaku untuk Asia Catalyst, organisasi pemantau masalah HAM dan HIV/AIDS di Asia yang berbasis di New York. Februari ini aku mulai kerja magang buat mereka setelah proses pendekatan, nglamar, dan kemudian urus tetek bengek kecil lainnya. Kerjanya secara online: riset, diskusi, dan mengirim laporan ke mereka.

Lumayan buat menambah jaringan dan pengalaman..

Continue reading “Tak Sebagus Konsep di Atas Kertas”