Keakraban Semu Bernama Facebook

Kami sebenarnya berteman. Tapi ya hanya di dunia maya. Yap, dunia maya itu hanya. Sebab yang nyata toh di dunia maya. Dan sering kali dua dunia ini –maya dan nyata- tidak selaras meski tidak sampai pada posisi berseberangan. Maka meski berteman di dunia maya, kami tak bertegur sapa.

Padahal posisi kami sangat dekat Jumat malam lalu. Hanya berjarak hitungan jengkal. Kami pun duduk di kursi yang sama, kursi panjang dinding barat salah satu tempat makan di jalan Gatot Subroto, Denpasar. Aku dan Bunda malah sempat memperingatkan Bani agar tidak terlalu dekat dengan dia. Takut mengganggunya.

Continue reading “Keakraban Semu Bernama Facebook”

Mencari Siomai pada Ahlinya

Salah satu hal yang unik dari pengalaman berburu makanan adalah melihat sisi-sisi lain yang kadang tak nyambung sama sekali dengan makanan itu sendiri. Misalnya… nasionalisme di balik makanan.

Hal ini pertama kali aku sadari ketika ikut Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada tahun 2002 di Desa Medewi, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali. Ketika aku dan beberapa teman sedang ngopi sore di warung pemilik rumah tempat kami tinggal, datang penjual krupuk menawarkan dagangan.

Continue reading “Mencari Siomai pada Ahlinya”

Mading tuh So Yesterday

Lomba koran dinding Pers Mahasiswa (Persma) Akademika hari ini mengingatkanku pada sekitar sepuluh tahun lalu. Rasanya baru kemarin aku mengalami hal yang sama: gegap gempita Gema Jurnalistik Akademika.

Aku masuk di [aka], sebutan kami untuk persma di Universitas Udayana (Unud) Bali tersebut pada 1998. Antara 1998-2001 itu kami mengadakan banyak kegiatan, salah satunya Gema Jurnalistik, biasa disebut GJ. Kegiatan ini berupa pelatihan jurnalistik di SMP dan SMA se-Bali. Pelatian itu di semua kabupaten di Bali.

Continue reading “Mading tuh So Yesterday”

Berbagi Komitmen untuk Citizen Journalism

Rabu sore lalu, dua naskah di balebengong.net mulai dimuat di U Report Vivanews. Artinya kerjasama antara dua lembaga pelaksana jurnalisme warga ini sudah mulai berjalan. Tulisan ini semoga menjadi penjelasan mengenai kerjasama tersebut.

Sejak lahirnya, Bale Bengong adalah sebuah blog yang memperjuangkan adanya jurnalisme warga di Bali. Secara sederhana jurnalisme warga didefinisikan sebagai jurnalisme yang memberikan kesempatan pada warga tidak hanya sebagai pembaca tapi juga pembuat berita itu sendiri. Begitu pula di Bale Bengong di Bali.

Continue reading “Berbagi Komitmen untuk Citizen Journalism”

Bani Pipis Dini Hari

Bunda Ayah Bani

00.30 pagi, –apa malam ya.. Aku sedang ngetik transkip wawancara. Suara tangis Bani terdengar seperti biasa kalau sudah jam segini. Aku tanggalkan headphone, tinggalkan komputer, masuk kamar. Bani bangun. Dia menangis kecil minta susu. Jam biologisnya bekerja seperti biasa.

Aku balik ke dapur dari kamar tidur untuk menyiapkan susu. Terdengar suara pintu kamar tidur terbuka. Aku lihat. Bani berjalan agak terhuyung karena ngantuk. Dia mendorong pintu kamar mandi. Berdiri menghadap ke dalam kamar mandi itu, membuka celana, lalu kencing.

Continue reading “Bani Pipis Dini Hari”

Berikan Pilihan, Bukan Melarang

Kekerasan itu terjadi di depan mataku, Minggu dua hari lalu. Si bapak berkacamata itu menggendong anak dengan lengan kirinya. Lalu tangan kanannya dipakai menampar wajah anaknya berkali-kali. Dia menampar pipi kanan, lalu pipi kiri. Si anak yang berumur sekitar 2,5 tahun, seusia dengan Bani anakku itu menangis menjerit-jerit.

Tapi bapak itu seperti tidak peduli. Dia berkali-kali menampar muka si anak itu. Sampai dia memasukkan si anak ke dalam mobilnya, dia masih saja memukuli anaknya.

Continue reading “Berikan Pilihan, Bukan Melarang”

Mencari Tempat Diskusi di Denpasar

Pekan lalu, Ana, teman yang baru tinggal di Bali mengeluh tentang ketertinggalannya soal wacana film. Teman itu lahir dan besar di Jakarta. Dia pernah bekerja di Timor Leste sebelum bekerja di Bali sejak sekitar Oktober lalu. Obrolan kami terjadi ketika kami diskusi kecil soal Slumdog Millionare, film pemenang delapan kategori di Oscar tahun ini.

Ketertinggalan wacana itu, kata Ana, karena kurangnya tempat diskusi di Denpasar. Dia sih membandingkan kondisi Bali dengan Jakarta. Kalau di Jakarta, ceritanya, mau diskusi soal seni misalnya bisa di Taman Ismail Marzuki (TIM). Atau, contoh lain, soal peluncuran buku bisa di Aksara, Kemang. Dan seterusnya..

Continue reading “Mencari Tempat Diskusi di Denpasar”

Nikmat Menanti di Made Weti

“Dua nasi campur, Bu,” kata saya pada ibu yang melayani pembeli di warung Made Weti Sanut, Minggu (22/2) lalu.

“Ya, Pak. Tunggu ya,” kata ibu itu sambil sibuk melayani pembeli lain. Dia menyendok nasi, memasukkan berbagai macam lauk, lalu memberikannya pada perempuan lain yang berdiri membantunya mengantarkan nasi itu pada pembeli.

Continue reading “Nikmat Menanti di Made Weti”

Golput yang Bikin Ribut

Noldy, teman di kalangan aktivis penanggulangan AIDS di Bali, pun hari bilang padaku. “Aku golput saja, Pak. Semua caleg sama saja. Tebar janji ketika kampanye. Kalau sudah kepilih paling juga lupa sama kita dan janji-janjinya,” kurang lebih begitu katanya.

Hal serupa selalu saja dibilang oleh teman-temanku, terutama di kalangan aktivis LSM, ketika ngobrol soal Pemilu tahun ini. Semuanya bilang mending golput alias tidak memilih pada Pemilu 2009 ini. Ada beberapa alasan mereka. Antara lain adalah karena tidak jelasnya caleg yang akan dipilih. Namun ada pula yang Golput karena sudah tidak percaya pada sistem di negara ini.

Continue reading “Golput yang Bikin Ribut”

6,5? Hmm, Sepertinya Sih Dapet..

Soto sapi, menu sarapan pagi itu, tak bisa kuhabiskan. Bahkan separuh pun rasanya tidak. Ada perasaan agak gagap dalam hatiku. Jadi makan pun tidak enak. Menjelang ujian IELTS alias International English Language Testing System bawaanku memang gorgi banget. Gugup. Mungkin karena ada perasaan takut juga bahwa aku akan kesusahan menghadapi soal-soal ujian.

IELTS adalah ujian untuk mengetahui sejauh mana tingkat kemampuan bahasa Inggris seseorang. Aku mengikuti ujian ini dalam rangka berburu beasiswa. Dalam banyak peluang mencari beasiswa, aku selalu saja mentok di sini. Sebab aku memang belum pernah ikut sebelumnya. Jadi tidak ada nilai yang bisa aku pakai untuk nglamar.

Continue reading “6,5? Hmm, Sepertinya Sih Dapet..”