Remembering an innovative rights advocate

Published @ Asia Catalyst Blog

After three weeks of hospitalization, Bali and Indonesia’s best-known drug user rights advocate I Gusti Ngurah Wahyunda passed away in early March. Wahyu, 31 years old, was the founder of the Indonesian Drug User Solidarity Association (IDUSA) and coordinator of Ikatan Korban Napza (IKON), a network of drug victims in Bali.

I honor him as a friend, activist, and an innovative fighter who built a movement to defend the human rights of drug users.

Continue reading “Remembering an innovative rights advocate”

Kegembiraan Staf untuk Melatih Kerjasama

Di atas perahu karet di antara derasnya sungai Telaga Waja, Bali, kami berbagi tawa sekaligus melepas penat karena pekerjaan. Kami juga mengunjungi dua tempat di yang menyajikan keragaman Bali seperti halnya keragaman kami di VECO Indonesia.

Sabtu, 27 Maret lalu, 15 staf VECO Indonesia mengikuti staf gathering. Kegiatan yang diikuti 15 staf ini diadakan di sela Homeweek dan Badan Belajar Bersama (B3), dua kegiatan untuk mendiskusikan program dan kegiatan VECO Indonesia. Homeweek diikuti oleh staf Bagian Program termasuk empat Koordinator Lapangan di Jakarta, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur (NTT) 1, dan NTT 2. Sedangkan B3 diikuti oleh staf semua bagian seperti Publikasi, Keuangan, dan Administrasi.

Continue reading “Kegembiraan Staf untuk Melatih Kerjasama”

Bagi Industri, Nyepi Adalah Komoditi

Free Beer for Serene Nyepi

Spanduk di depan Circle K Jalan Letda Made Putra Denpasar menarik perhatian kami, Sabtu akhir pekan lalu. Saat itu aku, Bunda, dan Bani sedang melintas di depannya. Spanduk itu mempromosikan bonus satu botol untuk setiap pembelian satu kardus bir Bintang. Dia menarik  perhatian kami karena menggunakan Nyepi sebagai momentum untuk promosi.

“Happy serene Nyepi celebration with Circle K, buy one cartoon get one bottle,” tulis Circle K di spanduk dan poster tersebut.

Continue reading “Bagi Industri, Nyepi Adalah Komoditi”

Kenapa Mereka Harus Ditembak Mati

Pertanyaan sama selalu muncul di kepalaku ketika melihat tersangka, ingat ini baru tersangka, teroris ditembak mati oleh polisi. “Kenapa sih mereka harus ditembak mati?”. Meski sebenarnya tidak setuju dengan hukuman mati, aku bisa memaklumi ketika yang ditembak mati adalah Amrozi CS atau siapapun yang terbukti di pengadilan memang bersalah.

Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang status hukumnya belum jelas tapi sudah ditembak mati? Mereka ini baru disangka sebagai teroris. Belum jelas apa kesalahannya. Belum jelas kejahatan macam apa yang mereka lakukan. Belum jelas apa perannya. Lalu, polisi sudah menembak mereka. Mati.

Continue reading “Kenapa Mereka Harus Ditembak Mati”

Berbaringlah, Kawan. Berbaringlah dengan Tenang..

Wahyu

Seorang kawan telah berpulang. Ketika membaca SMS Gendo dan Moyong, Sabtu pagi lalu pukul 5.30an Wita, aku hanya bisa menyesali diri. Aku seharusnya di sana. Ikut mengantarkan akhir hidup seorang kawan itu, Wahyunda. Dia kembali menghadap Sang Hyang Widhi untuk entah kapan akan kembali bereinkarnasi.

Jumat malam sekitar pukul 8, aku mendapat SMS dari Gendo. Dia mengabarkan kondisi Wahyu yang kritis di Rumah Sakit Sanglah. Wahyu sudah dirawat di Sanglah sejak tiga minggu sebelumnya karena diare dan komplikasi lain-lain. Aku ingin ke Sanglah malam itu. Tapi niat ini aku batalkan karena kepalaku pusing bukan kepalang.

Continue reading “Berbaringlah, Kawan. Berbaringlah dengan Tenang..”

Lomba Blog SMA/SMK se-Bali

Koran dinding? It’s so yesterday. Ini zaman Facebook, blog, twitter. Ini zaman di mana media tak lagi statis, hanya dibaca oleh siswa di sekolahnya, dan tanpa interaksi. Ini zamannya anak sekolah lebih melek pada media internet.

Karena itulah Bali Blogger Community (BBC), Pers Mahasiswa Akademika, dan Sloka Institute mengadakan lomba Blog Pelajar SMA/SMK se-Bali. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Pelatihan Blog Pelajar SMA/SMK se-Bali yang diadakan pada 21 Februari dan 7 Maret di seluruh kabupaten/kota Bali.

Continue reading “Lomba Blog SMA/SMK se-Bali”

Keluarga Kecil di Sel Nomor 9

Lapas Anak Gianyar di Karangasem

Foto selebar tangan orang dewasa itu digantung di dinding kusam sel nomor 9 Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Anak Gianyar di Karangasem, Bali. Di dalamnya ada dua wajah: seorang kakek berumur 70an tahun dan anak perempuan sekitar 10 tahun. Foto itu menjadi salah satu penghias sel berukuran sekitar 5×3 meter persegi tersebut. Di sel itu, Roni dan dua temannya dikurung.

“Mereka yang menguatkan selama saya di sini,” kata Roni, 16 tahun, sambil menunjuk kakek dan adiknya di dalam foto tersebut. Remaja kelahiran Mataram, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini mengambil foto itu dari gantungan. “Saya harus bertemu mereka kalau keluar nanti. Kalau tidak ketemu mereka, hancur hidup saya,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Continue reading “Keluarga Kecil di Sel Nomor 9”

Dalam Damai Masalah Selesai

Es Enak Cafe Me

Sabtu pekan lalu, kami akhirnya bertemu. Aku bersama Lode, istriku. Sri, dari manajemen Cafe Me, bersama pemilik kafe. Pertemuan kami agak canggung pada awalnya, tapi akhirnya toh selesai juga masalah di antara kami.

Itikad untuk bertemu datang dari pihak Cafe Me. Manajemen kafe di Jl Pulau Kawe Denpasar dengan menu spesial mie ini pertama kali kontak aku pada 20 Januari lalu. Manajemen Cafe Me menjawab tulisan pengalamanku diperlakukan tidak simpatik oleh pemiliknya.

Continue reading “Dalam Damai Masalah Selesai”