Pakai Twitter Agar Lebih Pinter


Ketika semakin jarang ngeblog, aku justru makin rajin mantengin Tweetdeck.

Di aplikasi Tweetdeck, pengguna bisa mengatur banyak akun jejaring sosial. Selain Facebook dan Twitter, pengguna bisa menambah akun Foursquare (penanda lokasi), Myspace (musik), Buzz (mikroblogging ala Google), dan Linkedin (profil profesional).

Continue reading “Pakai Twitter Agar Lebih Pinter”

Mari Meneruskan Mimpi Setahun Lagi

“Mimpi adalah kunci. Untuk kita menaklukkan dunia,” kata Nidji dalam lagunya.

Kami meyakininya ketika berdiskusi di  rapat akhir tahun Sloka Institute. Rapat tahunan kami adakan untuk refleksi apa saja yang telah kami kerjakan pada tahun sebelumnya sekaligus merencanakan apa saja program dan kegiatan tahun depan. Satu hal yang menyenangkan karena kami ternyata masih bisa berjalan tapi juga kian bertambah, setidaknya jumlah orang dan kegiatannya.

Continue reading “Mari Meneruskan Mimpi Setahun Lagi”

Perbanyak Semut untuk Menandingi Gajah


Kita tak punya modal melawan gajah. Maka, cukuplah perbanyak semut. Setidaknya dia akan memberikan pilihan.

Ini bukan soal hewan-hewan koleksi di kebun binatang. Ini soal strategi membuat wacana berbeda di antara media-media arus utama di Bali. Sebab, kurangnya media alternatif itu membuat suara-suara alternatif masyarakat sipil juga tak terlalu muncul di media.

Continue reading “Perbanyak Semut untuk Menandingi Gajah”

Surga Kuliner Bernama Makassar

Di balik kesan sangarnya, Makassar sebenarnya sangat ramah. Apalagi kulinernya.

Tiap menyebut nama Makassar, maka yang langsung menclok di kepalaku adalah bentrokan antara mahasiswa dan polisi. Media ikut serta menanamkan kesan itu meski mereka juga tak bisa sepenuhnya disalahkan. Tak ada asap tanpa api.

Continue reading “Surga Kuliner Bernama Makassar”

Riuh Guyub Malam Minggu Makassar

Malam minggu di Makassar mengenalkan ramahnya wajah kota yang identik dengan kekerasan ini.

Keriuhan Makassar itu bermula dari Pantai Losari. Dengan tulisan PANTAI LOSARI di tepi pantai, tempat ini menjadi salah satu land mark kota. Beda dengan Denpasar yang, bagiku, tak cukup mengenalkan land marknya, Makassar lebih gesit mengenalkan penanda kota ini.

Continue reading “Riuh Guyub Malam Minggu Makassar”

Mendekatkan Teknologi Informasi pada Petani

Semangat Frans Bongkaraeng terhambat leletnya koneksi internet dan laptopnya yang sudah uzur.

Frans, staf keuangan Yayasan Komunitas Indonesia (Yakomi), lembaga swadaya masyarakat (LSM) pendamping petani di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Kabupaten ini baru terbentuk pada 2003. Sebelumnya, dia masuk dalam satu wilayah bersama Polewali membentuk Polewali Mamasa (Polmas).

Continue reading “Mendekatkan Teknologi Informasi pada Petani”

Rumput Kita Memang Lebih Menggoda

Meski belum sempurna, demokrasi di Indonesia melangkah lebih maju dibanding tetangga.

Setidaknya itu yang terasa dalam pertemuan pegiat organisasi non-pemerintah (Ornop) Asia di Nusa Dua pada 8-9 Desember lalu. Kegiatan paralel untuk Bali Democracy Forum (BDF) III ini diikuti sekitar 25 pegiat Ornop dari 11 negara di Asia termasuk Timor Leste, Filipina, Thailand, Myanmar, Korea Selatan, dan lain-lain.

Continue reading “Rumput Kita Memang Lebih Menggoda”

Kehebatan & Kesederhanaan Singgih

Tak hanya jadi tempat pamer kreativitas, Bali Creative Festival (BCF) juga tempat belajar dari orang-orang hebat.

Salah satunya dari Singgih Kartono, penemu radio dari kayu. Dia berbicara pada talkshow tentang green creation and lifestyle bersama Paula dari Ecolabel di tenda talkshow BCF, Minggu (5/12) kemarin.

Continue reading “Kehebatan & Kesederhanaan Singgih”

Meriahnya Kreativitas Anak Muda Bali

Kalian pikir Bali cuma punya pelukis, penari, perajin, dan semacamnya. Ah, jadul amat.

Bali punya bejibun anak-anak muda kreatif. Oh ya, tak hanya kreatif tapi juga gila dengan ide-ide baru. Itu setidaknya tergambar pada Pecha Kucha Night (PKN) di Bali Creative Festival (BCF) Sabtu malam lalu.

Continue reading “Meriahnya Kreativitas Anak Muda Bali”