Teman Baru Bernama Obama

Inilah enaknya hidup di zaman serba canggih begini. Dulu, mungkin perlu ratusan tahun untuk mengenal penguasa tertinggi sebuah negeri adidaya. Sekarang, cukup gaul di facebook. Dan, aku bisa kenal dengan begitu banyak orang. Nama-nama yang hanya pernah kubaca di koran, wajah-wajah yang aku lihat di TV, sekarang bisa kukenal secara langsung.

Dan inilah salah satunya. Ketemu juga aku sama profil Barack Obama di dunia maya ini. Tentu saja aku langsung masuk jadi suporternya. Kapan lagi bisa berteman dengan calon presiden negara adidaya Amerika.

Sebenarnya aku lebih bernafsu untuk bertemu Luna Maya. Apa daya, ada beberapa profil artis cantik ini yang semua tak kuyakini keasliannya. Well, itulah dunia maya. Tidak hanya melenakan, juga penuh tipu daya.

Oyu Sambil Monyongin Bibir

Lama juga gak nulis soal Bani. Jadi ya kali ini soal Bani saja. Tapi mulai dari mana ya? Umur? Ah, basi banget.

Baiklah. Aku mulai dari kata apa saja yang sudah bisa diucapkannya, meski tidak jelas benar. Oyuu adalah kata aneh yang diucapkan Bani dengan memonyongkan bibir ke depan. Kata ini dia ucapkan pertama kali ketika kami dalam perjalanan antara Salatiga – Jogja usai main ke sekolah alternatif Qaryah Thayyibah Juni lalu.

Kata ini selalu diucapkan Bani kalau ditanya, “Bilang apa?” usai dia mendapat sesuatu dari orang lain. Oyuu adalah bahasa Bani untuk Thank you. Aneh juga. Meski sudah diajarin berkali-kali untuk bilang “Terima kasih”, Bani lebih suka bilang “Oyu” sambil monyongin bibir itu tadi.

Continue reading “Oyu Sambil Monyongin Bibir”

Pagi di Sawah Seberang Kali

Baru sekitar pukul 6.30 pagi. Tapi Wira, tetanggaku anak kelas II SD yang lagi libur sekolah hari ini, sudah berterika-teriak di depan rumah. “Ooom, jadi ke sawah kan?”

Hari Minggu lalu, aku, Bani, Wira, Wayan, dan Bondres main ke sawah pagi-pagi. Tiga anak kecil, mereka kelas I dan II SD, tetangga di gang kecil Jalan Subak Dalem Denpasar Utara itu ternyata senang bukan kepalang. Mereka nyebur sawah, mengejar bebek, cari belut, dan seterusnya.

Continue reading “Pagi di Sawah Seberang Kali”

Sambel Bejek Pancen Uenak

“Dua hari ini aku mimpi dikejar-kejar orang terus. Ngeri,” kataku pada Bunda Jumat pekan lalu.

“Mungkin karena beberapa hari ini kamu nulis masalah-masalah gawat terus,” jawab Bunda.

Hmm, ada benarnya.

Karena itulah, pekan ini aku nulis soal yang asik-asik saja. Capek juga nulis masalah gawat terus. Dan, tulisan hari ini adalah soal makanan. Hmmm..

Continue reading “Sambel Bejek Pancen Uenak”

Narsis Memang Asik

Karena ada di koran kemarin, lalu hari ini Wira kirim klipingnya di milis BBC. Jadi ya aku posting saja di sini.

Sebagai pengikut agama narsisme yang diajarkan Nabi Selo Longor, tentu saja wajib hukumnya bagiku memasukkan kliping itu di blog. Kalau tidak, aku bisa dirajam di neraka Jahannam. Celakanya lagi bisa ditolak masuk surga Betngandang.

Ketika Pariwisata Mengalahkan Mereka

Atas nama apa pun, pembangunan selalu melahirkan korban. Begitu juga pariwisata Bali. Di antara gemerlapnya, ada juga suara-suara rintihan mereka yang kalah.

I Wayan Rebo salah satunya. Atas nama pembangunan lapangan golf dan fasilitasnya, petani di kawasan Bukit Pecatu, Kuta Selatan ini harus terusir dari tanahnya sendiri. Dua kali dia masuk penjara karena dianggap melawan Negara. Dia menolak menjual tanahnya. Maka, Rebo dianggap mengkhianati pariwisata, yang sudah kadung jadi mantra sakti di Bali.

Continue reading “Ketika Pariwisata Mengalahkan Mereka”

Apa yang Harus Mereka Rayakan

Dua anak perempuan itu menyerbu kami di tangga menuju bagian paling bawah Pasar Badung, pasar terbesar di Bali. Mereka membawa keranjang kosong di kepalanya. Muka dan pakaian mereka kusam. Dekil. Rambut kemerahan berantakan.

Aku dan tiga teman segera berhenti. Kami melihat ke mereka lalu saling mengangguk. “Ya sudah. Kita ngobrol sama mereka saja,” kata salah satu teman dari Jakarta itu.

Continue reading “Apa yang Harus Mereka Rayakan”

Bahkan, Anggota DPR pun Tak Tahu

Kami duduk berenam Sabtu kemarin di Art Cafe Jl Hayam Wuruk Denpasar. dr Oka, Mas Rofiqi, Bodrek, Bunda, Agung, dan Bani. Bli Popo datang ketika diskusi hendak berakhir. Keprihatinan terhadap media di Bali yang mempertemukan kami sore itu.

Tanpa mengecilkan peran media di Bali selama ini, kami mencatat masih ada beberapa masalah terkait kualitas media di Bali. Terutama soal makin hilangnya hak publik di media lokal saat ini.

Continue reading “Bahkan, Anggota DPR pun Tak Tahu”