
Lokasi: Pintu masuk Taman Makam Pahlawan Margarana, Tabanan
Waktu: Jumat (18/07/08) sekira pukul 10.00 Wita.
Komentar: Pacaran kok dilarang? Bukankah itu gunanya para pahlawan berjuang. 😀
maka, menulislah untuk berbagi, agar ceritamu abadi.

Lokasi: Pintu masuk Taman Makam Pahlawan Margarana, Tabanan
Waktu: Jumat (18/07/08) sekira pukul 10.00 Wita.
Komentar: Pacaran kok dilarang? Bukankah itu gunanya para pahlawan berjuang. 😀
Rabu lalu, honorku pun dikirim. Aah, inilah enaknya bekerja untuk media asing. Kerja sebentar, duitnya buesar. Kirim honornya juga hanya perlu waktu seminggu.
Kali ini aku kerja untuk kontributor Financial Times. Kontributornya di Jakarta tiba-tiba kirim SMS ke aku sekitar seminggu sebelumnya. Dia bilang dapat kontakku dari teman di Al-Jazeera di Jakarta. Teman baru ini minta tolong aku bantu untuk cari informasi tentang rencana pembangunan lapangan golf di Desa Bugbug dan Perasi, Karangasem.
Semula dia mengatakan akan memberi honor Rp 2 juta untuk pekerjaan ini. Eh, ternyata kemudian nambah jadi Rp 3 juta. Aku kerja tak lebih dari tiga hari: satu hari riset, satu hari wawancara per telepon, satu hari reportase lapangan. Laporan yang aku buat, dalam bahasa Inggris acak adut, sekitar enam halaman.
Keindahan Pantai Bias Putih memang tersembunyi di antara bukit gersang di Desa Bugbug dan Desa Perasi Kecamatan Karangasem. Kamis pekan lalu, aku harus dua kali lewat untuk menemukan tanda menuju pantai berpasir putih kecoklatan ini. Dari jalan raya Desa Perasi antara Denpasar – Amlapura, ada jalan kecil berbatu dengan tanda panah di bawahnya.

Dari jalan kecil ini, aku harus melewati jalan beraspal seadanya hingga sekitar 1 KM. Di ujung jalan ini pos kecil di depan pura tanpa nama. Tiga orang berbadan kekar menunggu di pos. Menarik retribusi dari orang yang berkunjung. Murah, kok. Cuma seribu perak.
Jalan beraspal ganti dengan jalan berdebu ke arah kanan. Lalu jalan naik turun jelek di antara rimbun pohon kelapa, pisang, dan semak lain.
Diambil dari balebengong.
Tidak terasa, Juli ini balebengong.net berumur satu tahun. Meski masih hanya dikerjakan di antara waktu luang, blog tentang Denpasar khususnya dan Bali pada umumnya ini lumayan bisa jadi referensi alternatif tentang Bali. Ini bisa dilihat dari banyaknya email atau komentar yang masuk untuk sekadar memberi tahu bahwa pembaca menemukan informasi tentang Bali seperti yang mereka cari.
Sampai Selasa (15/07/08) ini, ada 547 artikel yang sudah dipublikasikan di blog ini. Artikel-artikel itu dibuat oleh sekitar 31 kontributor aktif maupun yang hanya sesekali menulis. Ada pula beberapa tulisan yang diambil dari beberapa blogger, wartawan, atau penulis lain kemudian dimuat di balebengong.net dengan izin yang bersangkutan.
Wadepak! Ternyata sudah lima hari tidak ngeblog. Padahal kemarin ada beberapa ide yang masuk. Cuma karena lima hari ini ngurus adik yang lagi liburan di Bali, liputan kuliner di akhir deadline, dan ngurus rumah di akhir pekan, jadinya lupa nulis.
Yowis. Nulis saja yang ada di kepala. Maunya tadi nulis soal Pantai Bias Putih di Desa Bugbug Karangasem, eh, aku lupa bawa fotonya. Padahal seperti kata beberapa teman, nulis jalan-jalan tanpa skrinsut itu sama dengan bull shit. 😀 Jadinya nulis soal pantai keren ini ditunda saja dulu.
Yap, akhirnya aku pun milih hari ini. Pilihanku pasangan Gede Winasa – Alit Putra. Ini sebagai bagian dari keterbukaan. Kenapa juga harus malu-malu dengan pilihan kita. Toh, tiap pilihan selalu ada risikonya. Begitu juga dengan Pilgub Bali kali ini.
Pilihanku sebenarnya antara Winasa dan Pastika. Sebab kalau CBS sudah jelas tidak jelas programnya. Dalam beberapa kali debat, aku tidak pernah nemu hal menarik dari apa yang disampaikan CBS – Suweta.
Aku tanyakan kata ini pada Pak De Google. indonesian english translation machine. Urutan 1 adalah http://www.toggletext.com/index.html.
Aku klik. Lalu coba. Aku pilih Indo to English. Lalu masukkan kalimat ini di kotak Enter Text.
Continue reading “Menerjemah jadi Begitu Mudah”
Kebiasaan memang berubah seiring waktu. Begitu juga aku.
Ini pada zaman masih aktif di Pers Mahasiswa (Persma) Akademika Universitas Udayana Bali. Kalau berkunjung ke satu kota, maka aku mampir ke Persma di kota itu. Misalnya ke Jogja, maka wajib hukumnya mampir di Balairung dan Bulaksumur, dua media milik mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) Jogja. Atau nebeng tidur di sekretariat Himmah, majalah mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Jogja.
Ke Lombok mampir Media, nama majalah teman-teman Universitas Mataram. Ke Malang mampir Indikator, milik mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang. Dan seterusnya..

Jumat (27/6) adalah hari terakhir di Jogja. Menurut agenda kerjaan, hari ini hanya ada diskusi dengan pembaca Salam, majalah tempatku kerja part time. Karena diskusinya setelah pukul 14 WIB, maka paginya kami pakai untuk jalan-jalan dulu.
Pengennya sih bisa cari tempat wisata asik di Jogja. Tapi ke mana? Maliboro tempat kami tinggal. Keraton sudah pernah. Prambanan juga sudah. Mau ke Borobudur, waduh jauh banget. Tidak cukup kalau hanya setengah hari.
Maka, pilihannya adalah kompleks pemandian Taman Sari, tidak jauh dari Keraton Yogyakarta. Apalagi beberapa hari sebelumnya aku baca di Kompas kalau kompleks ini masuk salah satu warisan budaya dunia Unesco. Hmmm, sepertinya asik.
Di antara sekian tempat yang kami kunjungi di Jogja dan Jawa Tengah pekan lalu, tempat ini bagiku paling mengesankan. Bertemu murid-murid sangat percaya diri di desa, tempat yang identik dengan keteringgalan, adalah penyebabnya. Rasa percaya diri itu, bisa jadi, karena mereka memang memiliki kemampuan di atas rata-rata anak seumuran mereka.
Usia mereka masih belasan. Antara SMP dan SMA. Tapi mereka jago menulis, bikin peta digital, ngoprek Linux, dan semua kemampuan yang aku tidak bisa. Anak-anak seumur mereka di gangku, di pinggiran Denpasar hanya lebih sering bengong. Atau sesekali duduk rame-rame sambil minum arak. Aku sendiri di usia mereka saat ini mungkin belum tahu apa yang hendak kucari.
Continue reading “Memanusiakan Murid dengan Pendidikan Alternatif”