Dunia Tanpa Kemiskinan Bukanlah Impian

Muhammad Yunus

Perdagangan global itu seperti ratusan jalan tol. Perlu ada yang mengatur: batas kecepatan, lampu merah, batas ukuran kendaraan, dan seterusnya. Tanpa aturan, maka truk-truk besar dengan kecepatan tinggi saja yang bisa melewatinya. Aturan tidak hanya akan membuat kendaraan-kendaraan kecil punya kesempatan menggunakan jalan tapi juga disejajarkan dengan kendaraan yang lebih besar.

Tapi bagi Muhammad Yunus, peraih hadiah Nobel Perdamaian 2006, aturan saja tidak cukup. Kendaraan-kendaraan kecil itu harus diberikan jalan yang lebih baik. Sebab dalam praktik selama ini, jalan besar bebas hambatan itu tak hanya menghilangkan kesempatan tapi juga menyingkirkan kendaraan-kendaraan kecil tersebut.

Continue reading “Dunia Tanpa Kemiskinan Bukanlah Impian”

BBC on Air dan Buku Mai Melali

Sabtu (20/6/09) kemarin sebagian anggota Bali Blogger Commmunity (BBC) kumpul di angkringan Pasar Burung, Sanglah. Nongkrong usai main futsal sama anak Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Udayana (BEM), oya kami kalah dengan skor telak 12-6, ini diikuti sekitar 20 orang.

Sambil menikmati menu khas angkringan seperti nasi kucing, sate jeroan, wedang jahe, dan seterusnya, kami mendiskusikan beberapa rencana agenda BBC ke depan. Dua di antara agenda tersebut adalah rencana BBC on Air alias siaran BBC di radio. Ini rencana siaran rutin di Bali FM terkait dengan blogging maupun dunia teknologi informasi secara umum.

Continue reading “BBC on Air dan Buku Mai Melali”

Bedah Buku dalam Kuasa Perdebatan

Perkiraan saya ada benarnya. Bedah buku di Program Magister dan Doktor Kajian Budaya Universitas Udayana Jumat (17/4) itu jadi semacam pengadilan pada I Gede Jayakumara, penulis resensi buku yang sedang dibahas, Bali dalam Kuasa Politik.

Bali dalam Kuasa Politik ditulis I Nyoman Darma Putra, wartawan dan dosen Fakultas Sastra Unud. Darma Putra, panggilan akrabnya, saat ini sedang mengikuti program Postdoctoral Research Fellowship di School of Language and Comparative Cultural Studies di University of Queensland Australia. Selain mengajar di almamaternya dan bekerja untuk ABC, kantor berita Australia, Darma Putra juga rajin menulis buku, meniliti budaya Bali, serta berbicara di berbagai forum terutama terkait dengan budaya Bali kontemporer.

Continue reading “Bedah Buku dalam Kuasa Perdebatan”

Memahami Diaspora di Tanah Palestina

hebron-cover

Lama tidak menulis resensi buku. Tidak tahu juga kenapa aku bisa males banget menulis resensi atau sekadar review pendek tentang buku yang baru selesai aku baca. Kali ini soal buku yang terakhir aku baca saja deh. Mumpung masalahnya masih hangat, bahkan sedang panas-panasnya.

Buku berjudul Hebron Journal ini langsung aku samber ketika aku belanja buku di Gramedia Gatot Subroto Denpasar seminggu lalu. Tidak tahu juga sih kenapa bisa refleks gitu aku langsung mengambilnya padahal sudah beli tiga buku lain. Mungkin karena judul buku ini yang pas banget dengan situasi terkini di Palestina.

Continue reading “Memahami Diaspora di Tanah Palestina”

Library donations help teens read

Anton Muhajir, Contributor, Denpasar | Tue, 11/11/2008 10:56 AM | Bali

With undisguised joy, Aryani Putri and her friends immersed themselves in the three boxes of books, donated through Bali Youth Corner and delivered by Putu Eka Dharmartha.

Putri, an eighth-grader at the state’s SMP 10 junior high school and her friends, Gede Santika and Mei Rismawati, carefully began cataloging the 250 books, which consisted of novels, comic books, school books and magazines.

Continue reading “Library donations help teens read”

Mari Memproduksi Informasi Sendiri

Media massa yang disebut sebagai media mainstream (media arus utama) kurang memberi tempat bagi kelompok-kelompok marjinal. Lihatlah TV, maka kita lebih sering melihat wajah-wajah penguasa modal politik, ekonomi, maupun sosial. Bacalah koran maka nama-nama sama juga yang kita temukan. Kelompok-kelompok yang tak punya cukup modal hanya diposisikan sebagai konsumen media, bukan produsen, atau setidaknya dilibatkan.

Namun kelompok tak cukup modal politik, ekonomi, dan sosial itu punya kekuatan lain yaitu komunalisme. Mereka dipersatukan oleh kesamaan latar belakang sosial maupun geografis. Bermodal komunalisme ini ternyata mereka bisa meninggikan posisi tawar dalam praktik penyebaran informasi. Mereka tak lagi hanya mengonsumsi informasi, tapi memproduksinya.

Continue reading “Mari Memproduksi Informasi Sendiri”