Begitu perban itu dibuka, aku lega tak terkira.
Setelah dua bulan membalut tangan kiri Bani, akhirnya perban itu dibuka juga Sabtu tiga hari lalu. Maka, aku merasakan beban amat besar itu kini hilang. Lega banget rasanya.
maka, menulislah untuk berbagi, agar ceritamu abadi.
Tak perlu antre sama sekali.
Kami bisa langsung mendapatkan pelayanan dari bidan Ni Wayan Darsini ketika sampai di rumahnya Kamis sore lalu. Padahal, kalau di dokter anak, kami harus antre setidaknya satu jam.
Sepucuk surat protes menyambutku begitu sampai rumah.
Bani memberikan surat itu begitu aku membuka pintu rumah sekitar pukul 8.30 malam pas baru pulang kerja. Hari ini tak hanya jam kerja seperti biasa, pukul 8 pagi sampai 5 sore, aku juga ada wawancara untuk riset soal jurnalisme warga di Bali.
Semula, narasumber dari Asosiasi Pengusaha Jasa Internet Indonesia (APJII) Bali tersebut bilang bisa wawancara pukul 4.30 Wita. Eh, ndilalah ternyata dia molor sampai sekitar pukul 6 petang baru bisa. Apa boleh buat. Daripada batal.
“Masalahnya, aku tak bisa membohongi kalian.”
Maka, penulis surat wasiat itu, Kurt Cobain, pun memilih bunuh diri. Dia menembak dirinya sendiri pada 5 April 1994 silam. Di samping mayatnya yang kaku, Kobain meninggalkan catatan bunuh diri yang dia tulis dengan tangan.
“The fact is, I can’t fool you, any of you. It simply isn’t fair to you, or to me. The worst crime can think of would be to pull people off by faking it, pretending as if I’m having one 100% fun.”
Begitu salah satu bagian dari catatan Cobain menjelang bunuh diri. Catatan ini kemudian jadi pembuka kotak pandora betapa sepi hidup salah satu musisi paling berpengaruh pada awal 1990-an ini.
Puncak tumpeng menandai penyerahan tongkat estafet di Sloka Institute.
Aku memotongnya setelah memberikan basa-basi tentang lembaga ini. Potongan tumpeng ulang tahun itu kemudian aku serahkan pada Gus Tulank. Puncak tumpeng ini hanya simbol. Di baliknya adalah tanggung jawab untuk membawa Sloka.
Begitulah. Perayaan ultah Sloka kelima kemarin adalah perayaan kami yang pertama. Kami belum pernah merayakan ultah sama sekali sebelumnya. Kali ini agak istimewa karena selain perayaan ultah kelima juga sekaligus pergantian direktur.

Kami memulainya lima tahun lalu hanya bermodal iri.
Ketika di kota-kota lain ada lembaga di bidang media, kenapa di Bali tidak ada. Di Jakarta ada Institut Studi Arus Informasi (ISAI) dan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP). Di Yogyakarta ada Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerbitan Yogya (LP3Y). Di Makassar ada Lembaga Studi Informasi dan Media Massa (Elsim), dan seterusnya.
Kami percaya nama adalah doa. Begitu pula nama anak-anak kami.
Doa kami sederhana saja. Semoga anak-anak kami bisa menjadi anak-anak yang berani dan adil. Tak hanya dalam pikiran tapi juga tulisan dan tindakan. Maka, begitulah kami memberi identitas pada keduanya, Bani Nawalapatra dan Satori Nawalapatra.
Mendadak jantungku berdegup lebih kencang karena takut.
Ketakutan berlebihan itu justru datang ketika dokter bilang bayi kami sudah sepertiga keluar. Aku tak tahu persis apa maksud sepertiga ini. Tapi, aku bayangkan bayi kami sudah keluar kepalanya sementara dua pertiga badannya masih dalam rahim.
Heran. Ternyata ramalan ini ada benarnya juga.
Padahal, selama ini aku tak terlalu percaya pada urusan ramal meramal. Apalagi kalau aku yang diramal orang lain. Cuma kok ya kali ini seperti ada benarnya ramalan itu.
Tapi, ini bukan ramalan kali ya. Lebih tepat kalau “penerawangan”. Hehehe..