Tetap Bekerja dengan Merdeka

Seperti biasa, Kamis sampai Minggu adalah waktu untuk bekerja dari rumah. Kalau bukan karena ada liputan keluar kota, empat hari ini aku lebih banyak bekerja dari rumah. Menulis sambil momong Bani.

Ini sesuatu yang menyenangkan. Dan terus menerus aku syukuri. Di antara padat pekerjaan, aku bisa menemani Bani. Main, belajar, bobo, bercanda, dan melakukan banyak hal bersama Bani di rumah atau sesekali keluar rumah. Tapi kadang juga sekaligus jadi bapak, tidak hanya sebagai teman. Mandiin, nyuapin, cebokin, dan seterusnya.

Continue reading “Tetap Bekerja dengan Merdeka”

the beat | interview | Bali Blogger Community

Ini wawancara dengan Dedi Kristian dari majalah the beat seminggu lalu. Semoga tidak soal karena dimuat di blog ini. Gapapa kan, Ded. Hehe..

So, Bali Blogger Community, sejak kapan terlahir?
? BBC lahir sejak 11 November 2007.

Berapa jumlah anggota yang terdaftar, dari kalangan mana saja?
? sampai hari ini 239 orang di mailing list (milis) -tapi ketika masukin di blog ini ternyata udah 240. Hampir tiap minggu ada penambahan anggota di milis. Selain itu ada beberapa anggota lain yang tidak ikut milis BBC tapi memasang banner sebagai anggota BBC. Jadi ya, sekitar 250 orang lah.

Continue reading “the beat | interview | Bali Blogger Community”

Bani Sang Juru Kunci

Jaket sudah kupakai. Tas sudah di punggung. Aku siap berangkat kerja pagi ini. Tapi pas aku cari-cari kunci motor ternyata tidak ada. Padahal aku ingat terakhir kali kunci itu ada di dapur, di tempat biasa.

Aku lalu mencarinya di semua tempat yang mungkin ada. Meja makan yang merangkap meja kerja di ruang depan. Dinding tempat biasa menggantung kunci. Bupet kecil di kamar utama. Meja kecil di kamar itu juga. Lemari. Saku celana. Saku jaket. Tapi nihil. Kunci itu tidak ada di sana.

Continue reading “Bani Sang Juru Kunci”

Iklan XL Itu Merendahkan Pelanggan

Sejak awal punya nomor pribadi di telepon seluler (ponsel) pada 2001 aku memilih nomor XL. Alasanku waktu itu karena harga XL yang paling terjangkau. Aku lupa persis berapa harganya saat itu. Tapi yang pasti aku ingat, nomor ini yang bisa kubeli dibanding Mentari atau Simpati, dua operator besar lainnya.

Artinya, aku memilih nomor ini bukanlah tanpa mikir. Meski jaringan XL tidaklah sebagus Simpati –yang setauku memang menggunakan jaringan Telkom- atau Mentari, aku tak pindah ke lain hati.

Continue reading “Iklan XL Itu Merendahkan Pelanggan”

Halo, Pinjem Postingan ya..

Halo,sebelumnya saya mita maaf ya karena mau meminjam postingan kakak karena saya mau pakai register di google adsense.

Karena saya tidak bisa nulis artikel pake bahasa inggris…. 

Makasih ya…..

Bingung juga aku pas baca komentar itu di tulisanku soal anak-anak tukang suun. Tulisan itu dalam Bahasa Inggris. Makanya dipinjem buat cari Google Adsense.

Ya aneh juga sih. Mau diterima, aku nih sejak awal agak alergi sama Google Adsense. Tapi kalau ditolak, sejak awal aku penganut Copyleft. Jadi ya serba salah juga..

Tentang Kegalauan Seorang Teman

Dua minggu lalu, seorang teman berkata sambil menahan kecewa. “Gimana sih perasaanmu ketika ada orang mengeluh padamu dan kamu tidak bisa membantunya?” Teman yang suka cengengesan itu kali ini berkata lalu menahan nafas. Aku lihat wajahnya seperti tertekan oleh pertanyaannya sendiri.

Teman itu, seorang perempuan, bercerita tentang teman-temannya yang meninggal satu per satu karena infeksi oportunistik, sakit akibat AIDS. Dia ingin mengajak teman-temannya, yang juga kukenal, agar berobat ke rumah sakit. Tapi sebagian besar tidak bisa berobat karena tidak punya cukup biaya. Kalau sudah soal biaya, teman itu tidak bisa membantu lagi. Maka dia tak bisa berbuat banyak.

Continue reading “Tentang Kegalauan Seorang Teman”

Emak, Generasi Terakhir Penjual Garam

Asin garam adalah air susu dalam bentuk yang lain bagiku. Oleh asin garam aku dibesarkan, disekolahkan, dikuliahkan, diajarkan tentang bagaimana hidup. Bukan hanya untukku, asin garam itu pula sumber penghidupan bagi tujuh saudaraku. Bahkan sejak belum lahir, kami semua sudah akrab oleh asinnya.

Emak kami yang mengalirkan asin itu ke keseharian kami. Dia pembuat garam olahan. Dari butir-butir kristal kecoklatan bercampur tanah hasil bertani di tambak, garam itu dilarutkan di atas persegi empat dari seng sebagai tempat mengolah. Malam-malam kami selalu diisi dengan gemertak kayu bakar untuk mendidihkan garam tersebut.

Continue reading “Emak, Generasi Terakhir Penjual Garam”

Blog Sweet Blog

Setelah seminggu menikmati candu bernama keluarga besar di Lamongan, Kamis kemarin kami tiba kembali di rumah kecil kami di Subak Dalem, Denpasar. Bukannya istirahat, pas nyampe rumah kami langsung ngebut bersih-bersih rumah. Nyapu, nyuci baju, dan seterusnya.

Lalu seharian tadi kami ke Pekarangan, Karangasem. Ada ngaben dadong di kampung. Karena besok pagi Bunda ada kerjaan di Denpasar, maka sorenya kami langsung balik ke Denpasar.

Continue reading “Blog Sweet Blog”