Salak, Biar Jelek Asal Keren

Meski jelek tampilannya, buah salak ternyata membanggakan. Sebab, buah berkulit kasar ini ternyata merupakan hal baru bagi banyak orang asing. Ini pengalaman baru bagiku ketika makan malam di Restoran Legong Sanur dengan peserta International Editor Meeting.

Usai makan malam kemarin, kami mendapat makan penutup yang tidak terlalu menarik bagiku: buah. Ada nanas, pepaya, semangka, dan salak. Beda dengan buah lain yang sudah dikupas, salak justru disajikan lengkap dengan kulitnya yang mirip kulit ular itu.

Continue reading “Salak, Biar Jelek Asal Keren”

Waduh, Anda Tidak Perlu Bayar

“Maaf, tapi saya harus bayar berapa untuk ditulis?” tanya suara di ujung telepon sana.

“Waduh, Anda tidak usah bayar. Malah kalau memang saya tidak dikasih gratis, saya akan bayar,” jawabku.

“Oh, begitu ya. Saya pikir saya harus bayar,” katanya.

Hmm, ini kali kesekian aku jadi korban salah paham. Ketika akan menulis sesuatu yang memang bersifat promotif, aku pasti dipikir akan meminta bayaran atau setidaknya aku dipikir akan mengharap sesuatu. Begitu pula hari ini.

Continue reading “Waduh, Anda Tidak Perlu Bayar”

Olahan Buah Naga nan Menggoda

buah-naga-sector-bb.jpg

Hari Raya Imlek Januari lalu membuat menu baru di Sector Bar and Restaurant laris manis. Maklum, menu itu memang mengandalkan buah naga, sesutau yang memang erat hubungannya dengan China: warna merah dan naga. Mungkin ini satu-satunya resto yang menjadikan buah naga sebagai menu makanan andalannya.

Di tangan ahlinya, buah yang bagi sebagian orang mungkin dianggap asing ini ternyata bisa jadi menu spesial di tangan mereka yang ahli. Demikian pula di Sector Bar and Restaurant. Resto yang sebagian besar pengunjungnya adalah pemain golf di lapangan golf Grand Bali Beach ini membuat empat menu baru yang berbahan dasar buah naga yaitu salad, soup, pudding, dan roast chicken dengan campuran buah naga.

Continue reading “Olahan Buah Naga nan Menggoda”

Kaya Rasa Miskin Pengolahan

Pemasarannya yang terbatas menjadi ciri khas kopi produksi Banjar Kiadan, Desa Pelaga Badung, Bali.

Kopi produksi Banjar Kiadan, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung memang tidak seterkenal kopi Banyuatis, Singaraja. Padahal dari desa di Badung utara inilah bahan baku kopi Banyuatis juga disuplai. Orang-orang di Bali menyebut kopi produksi Kiadan ini sebagai kopi pelaga.

Ada dua jenis kopi di Banjar Kiadan yaitu robusta dan arabica. Jenis arabica paling banyak diproduksi untuk keperluan konsumen dari luar desa. Menurut I Nyoman Juta, petani kopi di Pelaga, jenis arabica paling diminati karena rasanya tidak terlalu pahit. Sedangkan penduduk setempat sendiri lebih menyukai jenis robusta. “Orang sini menyukai kopi yang lebih pahit,” katanya. Perbandingan produksinya 75% arabica, 25% robusta.

Continue reading “Kaya Rasa Miskin Pengolahan”