Karena Montok Lebih Hot!

Ini sesuatu yang datang beruntun. Mungkin ini petunjuk baik untukku. Bahwa aku memang harus menulis soal ini. Jadi aku bisa dapat dua-duanya, menyelesaikan kewajiban sekaligus ikut perlombaan. Siapa tahu nantinya malah dapat hadiah karena tulisan ini. Hihihi..

Pekan ini, Bali Blogger Community (BBC) membuat thematic posting tentang TV. Ide ini datang dari Gus Tulank. Aku pikir ada baiknya juga. Apalagi Arif juga sudah membuat tulisan asik soal kritiknya pada program TV. Thematic posting adalah ide dari BBC untuk menggalakkan kembali blogging yang megap-megap akibat serbuan social networking.

Di luar urusan thematic posting BBC itu, Bunda di rumah juga tiba-tiba ngajak beli TV baru Rabu lalu. Mungkin karena dia lagi banyak duit. Aku sih mengiyakan saja. Apalagi TV 14 inchi di rumah kami sudah terlalu uzur. Umurnya sudah 10 tahun lebih.

Maka, Rabu lalu kami membeli TV baru di salah satu toko elektronik di Ubung, tak jauh dari rumah kami. Merknya Samsung. Tipenya UltraSlim. Ukurannya 21 inchi.

Selesai membeli TV baru ya biasa saja. Sebab bagi kami TV toh bukan sesuatu yang sangat penting. Kami lebih banyak menghabiskan waktu di depan internet daripada nonton TV.

Nah, pas lagi buka internet itu aku baru buka postingan di milis BBC dari Putri. Aneh juga. Imelnya si Putri di salah satu tret ini sudah lama. Tapi kenapa juga aku baru membukanya. Pas buka itu aku baru tahu, eh lha dhalah, ternyata Putri kirim imel soal lomba ulasan produk TV Samsung.

Aku klik link yang diberikan. Aku baca tulisannya. Dan sudah aku putuskan ikut lomba saja. Kalo menang kan lumayan juga. Wahaha…

Ketika mencari TV di toko UFO Ubung Denpasar Rabu lalu, kami kepincut pada TV LED. Bentuknya ramping. Seksi benar. Semua TV yang sedang menampilkan gambar bergerak itu warnanya juga sangat bagus. Indah benar.

Kami cek sebanyak mungkin produk TV langsing itu. Melihat tampilannya, kami benar-benar jatuh cinta. Cuma ya kami langsung ilfil pas lihat harganya. Untuk ukuran 21 inchi, harganya sekitar Rp 2,5 juta. Meski masih terjangkau kantong, harga itu terlalu mahal untuk sesuatu yang bukan hal sangat penting bagi kami.

Tapi cinta memang buta. Karena sudah kadung jatuh cinta itu tadi, harga agak mahal tidak terlalu jadi masalah. Kami masih berusaha mencari-cari. Apalagi Bani anak kami juga senang bukan kepalang melihat gambar-gambar yang sangat bagus di TV tersebut.

Di lantai dua toko ini, kami masih mencari-cari TV LED yang bentuknya mirip monitor komputer datar tersebut. Bedanya dengan di bawah, di lantai dua ini juga ada TV tabung. Jadi kami punya pilihan antara TV LED/LCD atau TV tabung.

Kami bimbang antara memilih di antara keduanya. Kalau LED lebih seksi. Gambar jauh lebih tajam. Tapi harganya lebih mahal. Sedangkan TV tabung hanya menang harga. Toh kami kemudian memilih TV tabung dengan alasan lain, keamanan.

Yap keamanan. Inilah bagi kami yang tidak ada pada TV LED.

Bentuk TV jenis ini memang seksi. Sangat menggoda. Warna hitam pada fisik TV dengan layar datar serta ukuran yang relatif lebar bahkan sampai 36 inchi. Tampilan gambar yang sangat tajam. Tebal TV yang lebih mirip monitor komputer jinjing (laptop). Semuanya menggoda.

Cuma ya itu tadi, TV jenis ini kurang aman. Kami baru menyadarinya ketika penjaga toko yang bilang ke kami. “Agak bahaya kalau punya anak kecil di rumah. Soalnya layar TV ini rentan kalau sering dipegang anak kecil,” kata mbak tersebut.

Ada benarnya juga. Bani, anak kami yang belum genap tiga tahun, kadang-kadang suka menyentuh layar TV. Itu salah satu alasan kami memindahkan TV di ruang utama ke tempat yang lebih tinggi, agar Bani tak sering menyentuhnya.

Nah kalau ternyata kami jadi beli TV jenis LED tersebut, kami agak khawatir juga Bani akan sering memegangnya. Apalagi kami memang berencana meletakkan TV itu di tempat lebih rendah dari sebelumnya.

Bunda kemudian meyakinkanku lagi bahwa TV jenis LED ini memang rentan rusak. Akhir-akhir ini dia baca di media nasional tentang keluhan konsumen TV jenis ini. Misalnya, masih masa garansi, rusak tapi tidak bisa diperbaiki gratis karena kerusakan akibat pemakaian.

Salah satunya soal goresan yang membuat TV LED rentan rusak. Maklum, agar tipis, bahan layar monitornya kan liquid. Beda dengan TV tabung yang lebih perkasa kena gesekan.

Dengan alasan keamanan itulah, maka kami membatalkan membeli TV Samsung LED. Kami pilih saja jenis lain, UltraSlim 21 inchi. Memang TV ini tak seseksi TV LED atau LCD. Tapi bagi kami tampilan fisik jadi urusan ke sekian. Paling penting adalah keamanan.

TV Samsung UltraSlim toh tetap menggoda. Meski tak seramping TV LED, tampilannya masih mempesona. Layar datar, warna hitam, dan frame layar yang tipis. Satu hal yang paling penting, dia punya keamanan yang tak ditawarkan TV LED. Mirip pasangan seks, TV yang lebih montok ini menawarkan daya tahan. Dia lebih hot! Kepuasan kan tidak ditentukan oleh bentuk badan atau besarnya ukuran, tapi seberapa lama dia mampu bertahan. Hehehe..

9 Comments
  • tri
    June 1, 2009

    Beli TV LED… lebih mahal, tapi…. layar lebih sejuk dan tidak melelahkan mata, penggunaan energi listrik jauh lebih kecil dibanding TV konvensional/CRT, bisa diletakkan dimana-mana nempel di tembok diatas rak TV de el el….

    Beli TV Slim… lebih murah, tapi… kebalikannya TV LED…

    Tapi juga… beberapa bulan yang lalu waktu rumah kena petir… dilema saya sama dengan bli anton…
    akhirnya saya juga memilih TV merk Samsung yang slim juga… dengan pertimbangan harga lebih murah, service center ada, jaminan spareparts bila suatu saat terjadi penggantian (kata pegawai tokonya), suara lebih bagus dibandingkan TV yang harganya sama dan yang terakhir tentu tampilannya menarik, maksudnya lebih stylish…
    … ini bukan iklan lho bli… fakta membuktikan… 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • kojaque
    June 1, 2009

    tapi sumpah mas…enakan yg langsing 😛

    ReplyReply

    [Reply]

  • Wira Santosa
    June 1, 2009

    Wah… wah… memang ya, seleranya Mas Anton ndak jauh-jauh dari yang montok-montok… 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • pushandaka
    June 1, 2009

    Kalo tivi okelah, lebih enak dilihat yang langsing. Tapi sekali “ngambek” ndak jamin deh, kalau yang langsing lebih enak.

    ReplyReply

    [Reply]

  • .gungws
    June 3, 2009

    toss!saia setuju ma mas anton!biar jamannya flat, yg berlekuk emang lebih indah!hohohoho..eh,ngomongin apa nih??

    ehm…oia, mas anton,dan kawan2 bbc…dmn sia bisa tau tematis postingnya??

    ReplyReply

    [Reply]

  • luh de
    June 3, 2009

    Gud…gud…

    ReplyReply

    [Reply]

  • luh de
    June 3, 2009

    Saya sering baca keluhan konsumen LCD TV di koran-koran. Kebanyakan kasus adalah kerusakan di monitornya. Misalnya ada garis-garis yang muncul di gambar atau bahkan ga bisa memantulkan gambar.

    Menakutkan juga, masa beli tv ga ada gambarnya. Yang bikin ragu-ragu lagi adalah keruskaan ini kadang tidak masuk dalam tanggungan garansi produsennya. Bukan karena masa garansi habis, tapi penyebab kerusakan karena kita sendiri.

    Ndak tahu persis sih, apakah LCD sama rentannya dengan LED ya??

    ReplyReply

    [Reply]

  • sugeng
    June 3, 2009

    klo aku sich senangnya yang montok dan berisi, jadi bisa merasakan nikmatnya. halah….. koq nyaplier gini komentnya :D. Tapi bener mas, TV ku di rumah memang jarang aku sentuh, paling klo sudah nyampe rumah dan santai PC jadul ini yang aku hidupkan sambil ketik apa saja. jadinya tidak terlalu mengikuti model TV.

    ReplyReply

    [Reply]

  • SILVERF0X
    June 10, 2009

    emang, montok lebih HOT…wakakaka, bisa aja nih angkat topik dan menhubung2kan nya

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *