It’s All About Money, Honey..

Maka, kami pun bertemu malam itu, di antara ramai halaman depan Robinson, Denpasar. Teman itu tidak jauh berbeda. Terlihat lebih gemuk saja. Aku tidak ingat jelas kebiasaan berpakaian dia sebelumnya. Tapi sekarang terlihat lebih rapi dengan kemeja meski masih celan jeans. Kami lalu ngobrol sebentar sambil nyeruput kopi hangat dan Coca Cola dingin di sana.

“Orang Komunis itu ada di mana-mana,” katanya sambil menghisap Marlboro Menthol. Ehm! Dia merujuk pada dirinya sendiri, mantan aktivis PRD dan kini bekerja sama dengan beberapa jenderal dan tokoh penting negeri ini yang dulu mengejar-ngejar mereka pada zaman Orde Baru.

Continue reading “It’s All About Money, Honey..”

Factory workers, journalists unite for May Day rally

Jakarta Post – May 2, 2008

Dicky Christanto, Denpasar – Protesters at a May Day rally held in Denpasar on Thursday accused the government of failing to protect Indonesians working longer hours for no extra pay.

The alliance of organizations commemorating the May 1 International Workers’ Day displayed dozens of banners while activists gave speeches about how “unfriendly” government policies had jeopardized workers’ lives.

Continue reading “Factory workers, journalists unite for May Day rally”

May Day dan Cerita Miris tentang Jurnalis

Tiap 1 Mei, kaum buruh sedunia memperingati hari buruh internasional yang akrab disebut May Day. Sejarah May Day berawal dari Amerika Serikat ketika buruh di negara industri itu mulai sadar untuk menolak eksploitasi berlebihan terhadap tenaga mereka. Saat itu, pada 1889, melalui perjuangan heroik dan berdarah-darah, buruh di Amerika bisa memperjuangkan agar mereka bisa bekerja maksimal hanya delapan jam tiap hari.

Hasil perjuangan berdarah ini kemudian adalah diterapkannya delapan jam kerja tiap hari sebagai standar perburuhan internasional. Maka, sejak 1 Mei 1890, kaum buruh sedunia pun menjadikan hari itu sebagai momentum untuk merayakan hasil perjuangan itu. Pada perjalanannya, May Day kemudian juga menjadi waktu untuk meneriakkan tuntutan agar buruh mendapat imbalan yang layak atas jerih payah mereka.

Continue reading “May Day dan Cerita Miris tentang Jurnalis”

Perusakan atas Nama Pembangunan

Minggu-minggu ini berita tentang perusakan lingkungan di Bali terus menggangguku. Di danau Buyan, Bedugul banyak villa sedang di bangun. Padahal Buyan adalah salah satu dari empat danau terbesar di Bali yang tidak hanya mengaliri sawah-sawah di sekitarnya. Buyan juga tempat di mana petani Bali Hindu menghaturkan sembah pada penguasa air.

Lalu di Wongaya Betan, Tabanan juga baru saja diletakkan batu pertama pembangunan villa atas nama pariwisata. Villa yang katanya untuk terapi spiritual itu dibangun di kawasan hijau. Tidak hanya tempat petani bercocok tanam, tapi juga tempat masyarakat Bali menggantungkan sumber pangan selain Jatiluwih.

Continue reading “Perusakan atas Nama Pembangunan”

Jangan Baca Berita dengan Tanda (*)

jangan-baca-1.jpg

Gerakan ini didedikasikan untuk pembaca surat kabar yang telah dibodohi karena membaca tulisan pesanan. Perhatikan tiap berita yang mencoba memanipulasi pembaca dengan menyertakan tanda bintang (*) di akhir artikel.

Makin banyak media yang berani menurunkan berita pesanan (yang bisa dibeli) tanpa memberi tanda bahwa itu advertorial atau berita iklan. Bahkan, berita itu tidak biberi garis api-tanda tegas untuk membedakan iklan dan berita.

Continue reading “Jangan Baca Berita dengan Tanda (*)”

AJI Denpasar, Nasibmu Kini..

SMS dari Ervi pagi ini mengusikku. Ervi, teman di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar itu mengabarkan tentang kegiatan Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) Bali di Hotel Niki Denpasar hari ini. “Acr PJI hr ini dihadiri bnyk sekali wartawan Bali. Nada2nya, AJI Dps bakal kehilangan anggota ni. Ketua PJI Bali, Justin. Panitinya jug org2 AJI. Weleh2.”

Hari ini pengurus PJI Bali dilantik di hotel Niki Denpasar. Sebagai sesama jurnalis, ini menyenangkan bagiku. Makin banyak organisasi wartawan semoga akan membuat wartawan makin sadar bahwa berorganisasi itu penting. Nantinya juga semoga makin meningkatkan kualitas jurnalis ataupun media itu sendiri.

Continue reading “AJI Denpasar, Nasibmu Kini..”

Waduh, Anda Tidak Perlu Bayar

“Maaf, tapi saya harus bayar berapa untuk ditulis?” tanya suara di ujung telepon sana.

“Waduh, Anda tidak usah bayar. Malah kalau memang saya tidak dikasih gratis, saya akan bayar,” jawabku.

“Oh, begitu ya. Saya pikir saya harus bayar,” katanya.

Hmm, ini kali kesekian aku jadi korban salah paham. Ketika akan menulis sesuatu yang memang bersifat promotif, aku pasti dipikir akan meminta bayaran atau setidaknya aku dipikir akan mengharap sesuatu. Begitu pula hari ini.

Continue reading “Waduh, Anda Tidak Perlu Bayar”

Kronologis Pengadilan Bersihar Lubis

Karena ada beberapa teman yang menanyakan kronologi kasus Bersihar Lubis, maka aku posting kronologi kasus tersebut di blog ini. Semuanya aku ambil dari milis Pantau Komunitas.

Kronologis Pengadilan Bersihar Lubis

Oleh Bersihar Lubis
Menulis itu, Kapok Sambal (Untuk Rekan Bonnie Triyana dan kawan-kawan)

Belum seratus hari saya bekerja di Majalah B-Watch pada awal Maret 2007 itu. Majalah Berita Dwimingguan MEDIUM, tempat saya bekerja sebelumnya, tak lagi terbit sejak awal 2006. Majalah ini sudah “megap-megap” sejak 2005. Biasalah. Soal modal, dan sebagainya, “bahaya laten” yang selalu mengintai penerbitan pers. Apa yang bisa saya kerjakan hanya menulis, dan menulis.

Saya sudah menjadi wartawan sejak 1970, menjadi reporter koran Medan, Mercu-Suar dan Mingguan Taruna Baru.  Jadinya, saya “dungu” – dan ini bukan dosa — untuk bekerja di bidang lain. Misalnya membuka kedai kopi, atau menjadi pedagang ikan di kampungku, Sibolga yang pantai pasir putih dan rimbunan pohon kelapanya molek di pantai barat Sumatera Utara. Saya juga “dungu” soal nuklir. Yang Maha Tahu segalanya, hanya DIA.

Continue reading “Kronologis Pengadilan Bersihar Lubis”

Sensasi Fakta di Media Massa

Semua ide di kepalaku untuk menulis masalah lain langsung hilang setelah baca media-media lokal Bali hari ini. Semuanya menulis di headline bahwa ada ledakan dahsyat di Denpasar yang mengakibatkan dua mobil hancur. Dua contoh berita ini dari NusaBali da Bali Post. Aku ambil versi online.

DENPASAR, NusaBali
Rabu, 06 Pebruari 2008
Meski tak ada korban jiwa, ledakan itu menghancurkan dua mobil dan meninggalkan lubang di gudang parkir yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto I Gang XVII No 3, tepatnya Banjar Tegeh Sari, Denpasar itu.

Continue reading “Sensasi Fakta di Media Massa”

Tidak Perlu Tetek Bengek Blogging

Daripada malas tidak jelas, aku nulis sesuatu yang beda saja. Kali otakku perlu peralihan sebentar dari soal perjalanan ke Flores dan Jawa seminggu penuh kemarin. Maka, kali ini aku nulis soal standar ngeblog saja. Ini juga pikiran sudah lama. Tapi karena si tukang malas ini tidak nemu mood untuk nulis, jadi ya tertunda terus.

Mood untuk nulis soal standar ngeblog itu tiba-tiba muncul pas aku blogwalking ke beberapa semeton belogger. Membaca blog orang lain selalu memunculkan ide atau sesuatu untuk ditulis. Blowalking memang salah satu cara untuk mencari inspirasi. Jadi kalau ada orang bingung mesti menulis soal apa, tentu saja aneh bagiku. Kan bisa saja dia nulis soal kebingungan dia. Tidak ada informasi bisa jadi informasi itu sendiri. *Nah kan nglantur maneh?*

Continue reading “Tidak Perlu Tetek Bengek Blogging”