Ketika Rekayasa Masuk dalam Berita

Obrolan sebentar dengan Ayu, wartawan Kompas, hari ini mengingatkanku soal hal sudah berulang kali aku pikirkan, “Etiskah wartawan mengatur narasumber sesuai kemauan wartawan? Bagaimana sebenarnya etika jurnalisme TV?”

Pertanyaan itu muncul kembali setelah aku baca tulisan Ayu di Kompas hari ini tentang istri almarhum Anak Agung Prabangsa yang merasa terganggu oleh wartawan TV. Lalu siang tadi aku ngobrol sama Ayu dan Ervi, dua teman wartawan di Bali, tentang bagaimana perlakuan wartawan salah satu TV nasional pada istri almarhum Prabangsa.

Continue reading “Ketika Rekayasa Masuk dalam Berita”

Sepuluh Negara Berbahaya untuk Blogger

Akhir April lalu, Committe to Protect Journalist (CPJ), lembaga independen yang bergerak di bidang kebebasan pers, menerbitkan laporan tentang sepuluh negara berbahaya bagi blogger. Sebatas yang aku tahu, ini pertama kalinya CPJ menerbitkan laporan negara berbahaya bagi blogger.

Biasanya tiap tahun lembaga yang berpusat di New York, Amerika Serikat ini hanya memberi laporan tentang jurnalis, bukan blogger. Tapi tahun ini ternyata berbeda. Aku lihat di website mereka, lembaga ini tak hanya membuat laporan tentang negara berbahaya bagi blogger. Mereka juga menulis banyak hal terkait dengan blogger.

Continue reading “Sepuluh Negara Berbahaya untuk Blogger”

Gubernur pun Pusingkan Bintang

Aaah, akhirnya ada juga pejabat yang mengkritik Bali Post secara terbuka soal banyaknya berita bintang di koran ini. Bukan sekadar pejabat, tapi orang terpenting di Bali saat ini, Gubernur Bali! Salut buat Pak Mangku Pastika..

Ini beritanya diambil dari Kompas Online Sabtu (25/4/2009) yang ditulis Ayu Sulistyowati. Salut juga buat Bu Ayu yang sudah mau nulis soal ini. Hehehe..

Continue reading “Gubernur pun Pusingkan Bintang”

Masa Depan Media Ada di Internet

Fakta memang tidak bisa berbohong. Dan inilah yang terjadi. Akhir bulan lalu, satu lagi koran di Amerika Serikat yang bangkrut. Kali ini terjadi pada Chicago Sun-Times. Awal bulan lalu, hal lebih tragis terjadi pada The Christian Science Monitor, salah satu koran terkemuka di Amerika. Koran yang sudah berumur 100 tahun ini menutup edisi cetaknya untuk fokus pada edisi online.

Kebangkrutan itu menambah daftar panjang berakhirnya media cetak di Amerika. Kompas menulis bahwa sebelum itu ada Seattle Post-Intelligencer yang mengakhiri edisi cetak setelah terbit selama 146 tahun. Juga koran Rocky Mountain News tutup pada Februari lalu. Sejumlah kelompok surat kabar lain, seperti Tribune Co, pemilik Los Angeles Times dan Chicago Tribune, telah mengajukan proses kebangkrutan demi menyiasati kerugian selama bertahun-tahun.

Continue reading “Masa Depan Media Ada di Internet”

Hujan Bintang di Koran Lokal

Keisengan ini muncul pekan lalu. Ketika itu ada Wayan Artana, salah satu teman di Bali Blogger Community (BBC), berkomentar di milis BBC tentang maraknya berita iklan apalagi pas musim kampanye menjelang Pemilihan Umum 2009 ini. Hari itu juga aku lalu ingat soal berita bertanda bintang di Bali Post.

Berita iklan menjelang kampanye tidak hanya di Bali Post, media tertua, terbesar, dan paling berpengaruh di Bali. Semua koran pasti ada. Penelitian I Gusti Putu Artha, yang sekarang jadi anggota Komisi Pemilihan Umum, di S2 Kajian Budaya Universitas Udayana di tiga media terbesar di Bali menunjukkan adanya berita-berita pesanan dari calon bupati Badung menjelang pemilihan bupati sekitar tiga tahun lalu.

Continue reading “Hujan Bintang di Koran Lokal”

Berbagi Komitmen untuk Citizen Journalism

Rabu sore lalu, dua naskah di balebengong.net mulai dimuat di U Report Vivanews. Artinya kerjasama antara dua lembaga pelaksana jurnalisme warga ini sudah mulai berjalan. Tulisan ini semoga menjadi penjelasan mengenai kerjasama tersebut.

Sejak lahirnya, Bale Bengong adalah sebuah blog yang memperjuangkan adanya jurnalisme warga di Bali. Secara sederhana jurnalisme warga didefinisikan sebagai jurnalisme yang memberikan kesempatan pada warga tidak hanya sebagai pembaca tapi juga pembuat berita itu sendiri. Begitu pula di Bale Bengong di Bali.

Continue reading “Berbagi Komitmen untuk Citizen Journalism”

Mempertanyakan Nasib Para Tuyul

Ada istilah baru yang kutahu saat Kongres Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Sanur minggu lalu, “jurnalisme tuyul”. Dalam rekomendasinya, AJI meminta agar perusahaan media massa juga tidak meneruskan praktik jurnalisme tuyul ini. Poin ini masuk salah satu bagian selain perlunya semua pihak menjaga kebebasan pers, menolak kriminalisasi pers, dan pentingnya profesionalisme.

Jurnalisme tuyul sebenarnya istilah yang sarkastis, sangat kasar. Istilah ini mengacu pada praktik mempekerjakan orang lain tanpa status yang jelas. Praktik ini biasa terjadi di kalangan wartawan TV. Koresponden atau kontributor tetap di salah satu stasiun TV mengajak orang lain untuk membantunya dalam liputan. Resminya orang yang diajak tersebut disebut stringer.

Continue reading “Mempertanyakan Nasib Para Tuyul”

Bahkan, Anggota DPR pun Tak Tahu

Kami duduk berenam Sabtu kemarin di Art Cafe Jl Hayam Wuruk Denpasar. dr Oka, Mas Rofiqi, Bodrek, Bunda, Agung, dan Bani. Bli Popo datang ketika diskusi hendak berakhir. Keprihatinan terhadap media di Bali yang mempertemukan kami sore itu.

Tanpa mengecilkan peran media di Bali selama ini, kami mencatat masih ada beberapa masalah terkait kualitas media di Bali. Terutama soal makin hilangnya hak publik di media lokal saat ini.

Continue reading “Bahkan, Anggota DPR pun Tak Tahu”

Enaknya Bekerja untuk Media Asing

Rabu lalu, honorku pun dikirim. Aah, inilah enaknya bekerja untuk media asing. Kerja sebentar, duitnya buesar. Kirim honornya juga hanya perlu waktu seminggu.

Kali ini aku kerja untuk kontributor Financial Times. Kontributornya di Jakarta tiba-tiba kirim SMS ke aku sekitar seminggu sebelumnya. Dia bilang dapat kontakku dari teman di Al-Jazeera di Jakarta. Teman baru ini minta tolong aku bantu untuk cari informasi tentang rencana pembangunan lapangan golf di Desa Bugbug dan Perasi, Karangasem.

Semula dia mengatakan akan memberi honor Rp 2 juta untuk pekerjaan ini. Eh, ternyata kemudian nambah jadi Rp 3 juta. Aku kerja tak lebih dari tiga hari: satu hari riset, satu hari wawancara per telepon, satu hari reportase lapangan. Laporan yang aku buat, dalam bahasa Inggris acak adut, sekitar enam halaman.

Continue reading “Enaknya Bekerja untuk Media Asing”

Undangan Perayaan Setahun Balebengong

Diambil dari balebengong.

Tidak terasa, Juli ini balebengong.net berumur satu tahun. Meski masih hanya dikerjakan di antara waktu luang, blog tentang Denpasar khususnya dan Bali pada umumnya ini lumayan bisa jadi referensi alternatif tentang Bali. Ini bisa dilihat dari banyaknya email atau komentar yang masuk untuk sekadar memberi tahu bahwa pembaca menemukan informasi tentang Bali seperti yang mereka cari.

Sampai Selasa (15/07/08) ini, ada 547 artikel yang sudah dipublikasikan di blog ini. Artikel-artikel itu dibuat oleh sekitar 31 kontributor aktif maupun yang hanya sesekali menulis. Ada pula beberapa tulisan yang diambil dari beberapa blogger, wartawan, atau penulis lain kemudian dimuat di balebengong.net dengan izin yang bersangkutan.

Continue reading “Undangan Perayaan Setahun Balebengong”