Blog

Ketika Sekolah Berubah Status

Menteri Agama Said Agil Husi Al-Munawar menegerikan 250 madrasah di Indonesia. Keputusan tersebut tertuang dalam SK No 558 Tahun 2003 yang ditandatangani pada 30 Desember lalu di Jakarta. Alasan yang disampaikan Menag dalam SK adalah untuk meningkatkan mutu madrasah sebagai salah satu jalur pendidikan. Adapun rincian madrasah yang dinegerikan tersebut adalah 89 Madrasah Ibtida’iyah, setingkat Sekolah Dasar (SD), 92 Madrasah Tsanawiyah, setingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), dan 69 Madrasah Aliyah, setingkat Sekolah Menengah Umum (SMU).

Jumlah Madrasah Ibtida’iyah (MI) sebanyak 89 tersebut tersebar di seluruh provinsi. Di Bali sendiri hanya ada dua yaitu MI Al-Mubarok di Gilimanuk Kecamatan Melaya menjadi MIN Gilimanuk dan MI Al-Mu’awanah di Banyubiru, Kecamatan Negara, menjadi MIN Banyubiru. Kedua sekolah dasar ini berada di wilayah Kabupaten Jembrana, sekitar 150 km dari Denpasar ke arah barat laut.

Continue reading “Ketika Sekolah Berubah Status”

Kakek Berulah Setubuhi Bocah

Selasa kemarin, Brown William Stewart resmi ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Amlapura, Karangasem, Bali. Warga Australia berusia 52 tahun itu dinyatakan oleh Polsektif Karangasem telah melakukan pelecehan seksual pada anak di bawah umur (pedofili) kepada dua orang yaitu Artana dan Suryawan (keduanya nama samaran), pelajar salah satu SLTP di Amlapura.

Menurut Kapolsektif Karangasem AKP I Wayan Suparta, tersangka dikenai pasal 292 KUHP tentang pencabulan sesama jenis terhadap anak di bawah umur. Jika terbukti, maka mantan diplomat yang akrab dipanggil Tony itu akan dipenjara selama lima tahun.

Continue reading “Kakek Berulah Setubuhi Bocah”

Tidak Ada Lagi Penulis Nakal Itu..

Pagi yang melelahkan. Setelah semalem nglembur nunggu hasil Munas Golkar di Nusa Dua, pagi ini aku ingin sesuatu yang agak santai. Tidur. Denger musik. Baca hal-hal santai. Aku terlelap, lalu bangun jam 10an karena ada telpon. Minum teh hangat. Satu donat. Lumayan buat ngangetin perut.

Lalu, koran hari ini datang. “Kebetulan hari Minggu. Biasanya beritanya kan santai-santai,” pikirku. Koran pertama, Jawa Pos. Aku baca soal Munas Golkar. Berita lain lewati aja. Ini kan Minggu, ngapain terlalu serius baca koran. Untunglah ada tulisan Ki Slamteg soal My Heart Will Go On, cerita parodi ala film Titanic. Aku senyum-senyum sendiri.

Continue reading “Tidak Ada Lagi Penulis Nakal Itu..”

Tiada Henti Memburu Pelaku Pedofilia

Besar di lingkungan politik, Suryani sempat memilih hanya mengurus keluarga dan pekerjaan. Penolakan pembangunan resort di kawasan Tanah Lot Tabanan menggerakkannya aktif di masyarakat hingga saat ini.

Jarak Denpasar-Amlapura sekitar 100 km atau perjalanan dua jam dengan kendaraan bermotor. Rute jalanan berkelok-kelok dan naik turun bukit. Di beberapa bagian, malah jurang atau lembah menganga di kana kiri jalan. Toh, dengan senang hati perempuan berumur 60 tahun itu menjalani. Rambutnya sebagian memutih, menunjukkan usianya beranjak senja. Perempuan itu, Luh Ketut Suriyani yang lebih biasa dipanggil LK Suryani.

Continue reading “Tiada Henti Memburu Pelaku Pedofilia”

Antek Soeharto Bernama Hartono

“Kita telah mendapat restu dan bimbingan dari Bapak Pembangunan, Bapak Jenderal Haji Muhammad Soeharto,” seru Raden Hartono, Ketua Umum Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB). Sekitar tiga ribu massa partainya menjawab dengan teriakan, “Hidup Pak Harto! Hidup Pak Harto!”

Tiga orang terlihat mengomando massa untuk berteriak sambil mengacungkan kepalan ke arah atas depan, diagonal, bukan ke atas. Hartono diam sejenak ketika massanya terus berteriak. Teriakan itu terdengar bergemuruh riuh.

Continue reading “Antek Soeharto Bernama Hartono”

Aturan Pemilu Ibarat Karet

Panwaslu Bali bertindak ambigu karena aturan yang tidak jelas. Kampanye di pasar dihentikan sedangkan bagi-bagi duit tidak masalah. Kok bisa?

Belum sempat membagi-bagikan satupun brosur di Pasar Badung, kampanye Partai Amanat Nasional (PAN) di Denpasar pada Senin kemarin harus dihentikan. Juru kampanye dipimpin Wakil Ketua DPD PAN Bali Fredi Darmawan malah harus mengikuti pertemuan yang dihadiri Direktur Pasar Badung I Wayan Darsa, Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Bali, Panwaslu Denpasar, dan anggota Komisis Pemilihan Umum (KPU) Bali. Padahal enam kader PAN tersebut membawa setidaknya 3000 brosur untuk dibagikan di pasar terbesar di Bali itu.

Dihentikannya kampanye PAN itu disepakati dalam pertemuan yang berlangsung di lantai dua Pasar Badung. “Kami menerima keputusan ini,” kata Fredi Darmawan kepada wartawan seusai pertemuan tersebut. Toh, PAN tetap melanjutkan kampanye dengan konsep membagi-bagikan brosur bertuliskan “PAN Menyapa Rakyat” tersebut di tempat lain. Setidaknya ada 40 ribu lembar brosur yang disebarkan di seluruh Denpasar pada hari oleh 200 kader PAN di Denpasar.

Sebelumnya sekitar pukul 11.00 Wita sejumlah kader PAN telah bersiap menyebarkan sejumlah brosur yang dibawanya. Beberapa bahkan telah membagi kepada masyarakat di sisi luar Pasar Badung. Sementara sejumlah pengurus DPW PAN Bali mengurus ijin kampanye kepada Direktur Pasar Badung I Wayan Darsa. Pertemuan yang difasilitasi KPU Bali ini menindaklanjuti keputusan Panwaslu Kota Denpasar yang melarang pelaksanaan kampanye di pasar.

Menurut anggota KPU Bali IGP Artha, kampanye di pasar bertentangan dengan pasal 43 SK KPU No 701 Tahun 2003 tentang Kampanye yang melarang peserta Pemilu melakukan kampanye yang dapat mengganggu proses produksi dan distribusi masyarakat.

Hal yang sama dibenarkan Ketua Panwaslu Bali I Wayan Juana. Menurut Juana, kampanye juga tidak boleh dilaksanakan di fasilitas milik pemerintah tanpa kecuali. “Artinya kan di pasar milik pemerintah  juga tidak boleh,” kata Juana kepada GATRA. Pasar Badung memang punya pemerintah, bukan swasta.

Dalam pertemuan tersebut, awlanya Fredi Darmawan ngotot. Sebab, menurutnya, kampanye PAN tidak dilakukan dengan orasi tapi hanya membagi brosur. “Kami juga sambil berbelanja,” kata laki-laki kelahiran Padang, Sumatra Barat itu. Ketika akhirnya menerima, Fredi mengharapkan Panwaslu bisa bertindak adil.

Penghentian kampanye parpol di Pasar Badung juga sebelumnya telah dilakukan Panwaslu Bali terhadap Partai Bulan Bintang Jumat pekan ini. PBB dipimpin salah satu calegnya Farida Zahra juga membagi-bagi brosur kepada pedagang dan pengunjung pasar lainnya.

Oleh Direktur Pasar Badung I Wayan Darsa, kampanye tersebut kemudian dihentikan karena mereka belum mendapatkan ijin. Farida Zahra dan kader PBB lainnya ngotot mereka telah mendapatkan ijin dari Polda Bali. Padahal surat dari Polda tersebut hanya permakluman. Berbeda dengan PAN yang menerima penghentian, pengurus DPD PBB Bali hingga saat ini masih mempermasalahkan. “Padahal mereka juga salah,” kata Juana.

Hingga Selasa pekan ini, beberapa pelanggaran kecil lain juga terjadia di Bali dalam masa kampanye. Karena itu pada Senin kemarin, KPU Bali akhirnya mengirimkan peringatan tertulis kepada tujuh parpol yang melakukan pelanggaran kampanye. Ketujuh parpol tersebut adalah PDI Perjuangan (PDI Perjuangan), PNI Marhaenisme, PNBK, Partai Golkar, Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PIB), Partai Demokrat, dan Partai Bulan Bintang (PBB).

Pelanggaran terbanyak dilakukan PDI Perjuangan yaitu mengenai pemasangan atribut parpol, pelanggaran lalu lintas, melibatkan anak di bawah umur dalam kampanye, dan ada jurkam pejabat tanpa cuti di Kabupaten Badung.

Anggota KPU Bali, Riniti Rahayu menolak mengatakan nama pejabat dimaksud dengan alasan surat keputusan peringatan ini belum ditanda tangani Ketua KPU. Kecuali PBB, kelima parpol lainnya juga melakukan pelanggaran seputar atribut, lalu lintas, dan pelibatan anak di bawah umur. Sementara PBB diberikan peringatan karena melakukan kampanye di pasar tanpa ijin.

Surat peringatan ini diberikan setelah KPU melakukan rapat pleno. “Mereka diminta tidak mengulanginya pada putaran kampanye kedua,” kata Riniti. Riniti mengakui sulit menertibkan parpol agar mematuhi SK KPU No 701 Tahun 2003 tentang Kampanye. Pelanggaran yang sama juga dicatat Panwaslu yang kemudian diteruskan ke KPU dan Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Bali.

Sayangnya, baik KPU maupun Panwaslu terkesan tidak berani menindak pelaku money politic. Dalam kampanye Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) di Buleleng Selasa pekan ini pun, terlihat jelas pengurus PKPB Bali membagi-bagi uang kepada massa.

GATRA melihat sendiri di sekretariat DPC PKPB Buleleng, beberapa pengurus membagikan dua gepok uang seratus ribuan kepada salah seorang pemimpin massa. Setelah itu penerima uang pergi dan menghilang di tengah ribuan massa. Tidak sedikit juga massa yang berbincang dengan kawannya soal belum diterimanya uang dari PKPB.

Toh, ketika dikonfirmasi, I Wayan Juana menjawab santai, “Itu kan uang transportasi untuk massa partai.” Menurut Ketua Panwaslu Bali ini, tidak ada batasan yang jelas tentang money politic. Kalau tidak ada kesepakatan tertulis, katanya, maka pemberian tersebut tidak termasuk money politic.

Maka, hingga saat ini Panwaslu dan KPU Bali “hanya” berani menindak pelanggaran semacam pemasangan atribut parpol tersebut. Pelanggaran pemasangan atribut memang dominan dilakukan parpol.

Dalam pantauan GATRA, saat ini Denpasar semakin hari semakin terlihat sumpek dengan berbagai atribut yang dipasang sembarangan oleh parpol maupun calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Bali. Pamflet ditempel sembarangan di pohon-pohon, marka jalan, tiang listrik, dan kotak telepon umum. Beberapa pohon bahkan terlihat merangas tanpa daun karena bendera-bendera parpol dipasang di puncak pohon. [#]

Kampanye SBY di Bali

Mendung dan rintik hujan turun perlahan di Lapangan Kapten Japa, Denpasar Timur Minggu siang (14/3) kemarin. Lapangan yang masuk wilayah Denpasar Timur itu becek dengan tanah lengket kekuningan. Air menggenang di beberapa bagian lapangan. Toh, sekitar lima ribu massa itu tetap berdiri saling merapat. Mereka meneriakkan singkatan nama Susilo Bambang Yudhoyono. “SBY! SBY! SBY!”

Orang yang namanya diteriak-teriakkan kemudian berdiri dari kursi biru tempat duduknya. Dia melambaikan tangannya ke depan, ke kanan, dan ke kiri. Serentak ribuan massa mengangkat tangan di atas kepala, tetap meneriakkan, “SBY! SBY! SBY!”. Gerimis masih turun, tanah semakin becek, dan noda lumpur membekas di kaki-kaki ribuan massa itu.

Continue reading “Kampanye SBY di Bali”

Wisata Gua di Kota Tua

-oleh2 pas liburan lebaran lalu-

Khusni Alhan, 38 tahun, harus merunduk ketika memasuki salah satu celah kecil dalam gua. Celah seluas sekitar 50 cm x 30 cm tersebut hanya cukup untuk satu orang. Karena itu Alhan harus masuk terlebih dahulu baru kemudian anaknya, Rizqy Muhammad Farhan, 2 tahun. Setelah melewati celah kecil tersebut bapak dan anak warga Duren Sawit, Jakarta Timur tersebut sampai di sebuah ruangan seukuran sekitar 2 m x 4 m setinggi 2,5 m. Gua kecil di dalam gua tersebut bernama Pasepen Kori Sinandhi. Hingga saat ini, kadang-kadang ada orang bermeditasi di dalam gua kecil tersebut. Karena itulah disebut pasepen yang berarti tempat bertapa (meditasi).

Pasepen Kori Sinandhi hanya salah satu gua kecil di dalam Gua Akbar. Gua yang ditemukan pada 1998 ini merupakan gua terbesar di Tuban, Jawa Timur, sekitar 100 km dari Surabaya, ibukota Jawa Timur. Melalui jalur darat perlu waktu sekitar 2 jam. Tuban merupakan kota tua di bibir pantai utara Jawa Timur. Karena letaknya ini, pada 1275, Tuban sudah menjadi pelabuhan bagi saudagar Cina yang datang ke Jawa.

Continue reading “Wisata Gua di Kota Tua”

Soal 9/11, Bush, Bin Laden, dan Perang Iraq

Semalem aku nonton Fahrenheit 911. Film karya Micahel Moore ini ternyata luar biasa. Fakta, data, dan gambar yang diambil memberikan informasi tersembunyi soal tragedi WTC 2001 lalu. Secara garis besar inilah dia.



Fox was the first network to call Florida for Bush. Before that, some other networks had called Florida for Gore, and they changed after Fox called it for Bush.

The man who was in charge of the decision desk at FOX on election night was Bush’s first cousin, John Ellis.

Congressional Black Caucus members tried to object to the election outcome on the floor of the House; no Senator would sign the objections.

“On the day George W. Bush was inaugurated, tens of thousands of Americans poured into the streets of D.C. They pelted Bush’s limo with eggs.”

“In his first eight months in office before September 11, George W. Bush was on vacation, according to the Washington Post, forty-two percent of the time.”

As the attack took place, Mr. Bush was on his way to an elementary school in Florida . When informed of the first plane hitting the World Trade Center, where terrorists had struck just eight years prior, Bush just decided to go ahead with his photo opportunity

When the second plane hit the tower, his chief of staff entered the classroom and told Mr. Bush the nation is under attack.

Mr. Bush just sat there and continued to read My Pet Goat.

The security briefing that was given to him on August 6, 2001, said that Osama bin Laden was planning to attack America by hijacking airplanes.

In the days following September 11th , all commercial and private airline traffic was grounded.

The White House approved planes to pick up the bin Ladens and numerous other Saudis.

At least six private jets and nearly two dozen commercial planes carried the Saudis and the bin Ladens out of the U.S. after September 13th. In all, 142 Saudis, including 24 members of the bin Laden family, were allowed to leave the country.



White House released records in response to Moore’s charge of deserter.

There is one glaring difference between the records released in 2000 and those he released in 2004. A name had been blacked out. In 1972, two airmen were suspended for failing to take their medical examination. One was George W. Bush and the other wasJames R. Bath.

James R. Bath was the Texas money manager for the Bin Laden family.

George W. Bush and James R. Bath had become good friends.

“After they were discharged, when Bush’s dad was head of the CIA, Bath opened up his own aviation business, after selling a plane to a man by the name of Salem bin Laden, heir to the second largest fortune in Saudi Arabia, the Saudi bin Laden Group.”

“George W. Bush founded an oil company, a drilling company, out in west Texas called Arbusto, which was very good at drilling dry holes.”

“Bush’s good friend James Bath was hired by the bin Laden family to manage their money in Texas and invest in businesses. And James Bath himself, in turn, invested in George W. Bush.”



“The Carlyle group is a multinational conglomerate that invests in heavily government-regulated industries like telecommunications, healthcare and, particularly, defense.”

The Bin Laden and Bush families were both connected to the Carlyle Group, as were many of the Bush family’s friends and associates.

“Carlyle Group was holding its annual investor conference on the morning of September 11th in the Ritz Carlton Hotel in Washington, D.C. At that meeting were all of the Carlyle regulars, James Baker, likely John Major, definitely George H. W. Bush, though he left the morning of September 11th. Shafiq bin Ladin, who is Osama bin Laden’s half-brother, and was in town to look after his family’s investments in the Carlyle Group. All of them, together in one room, watching as the uh the planes hit the towers.”

“It owned United Defense, makers of the Bradley armored fighting vehicle. September 11th guaranteed that United Defense was going to have a very good year. Just 6 weeks after 9-11 Carlyle filed to take United Defense public and in December made a one day profit of $237 million dollars.”



“Bush tried to stop Congress from setting up its own 9/11 investigation.… When he couldn’t stop Congress, he then tried to stop an independent 9/11 commission from being formed.”

The White House censored 28 pages of the Congressional 9/11 report.

More than 500 relatives of 9/11 victims filed suit Saudi Royals and others. The lawyers the Saudi Defense Minister hired to fight these 9/11 families was the law firm of Bush family confidant James A. Baker.



And who got a Caspian Sea drilling contract the same day Unocal signed the pipeline deal? A company headed by a man named Dick Cheney, Halliburton.”

Enron stood to benefit from the pipeline.

Kenneth Lay of Enron was Bush’s number one campaign contributor.

“Then in 2001, just five and a half months before 9/11, the Bush administration welcomed a special Taliban envoy to tour the United States to help improve the image of the Taliban government.”

The Taliban were harboring the man who bombed the USS Cole and our African embassies.



“On March 19th, 2003, George W. Bush and the United States military invaded Iraq, which had never attacked or threatened to attack the United States. A nation that had never murdered a single American citizen.”

Nearly 5,000 wounded in the war.

“Out of the 535 members of Congress, only one had an enlisted son in Iraq.”

-sumber www.michaelmoore.com