Blog

Tiba-tiba, Laki-laki itu Menghentikanku!

Aku kaget. Kemarin, tiba-tiba orang itu menghentikanku! Aku sedang pulang dari Pulau Serangan setelah liputan soal terumbu karang. Aku agak ngebut ketika orang berdiri di pinggir jalan itu melambai-lambaikan tangan. Kulihat sekilas lewat spion. Tidak ada siapa-siapa di belakang. Pasti dia menyuruhku. Aku segera berhenti, meski telah melewatinya.

“Kenapa, Pak?” tanyaku.

“Numpang, nggih. Tiang (aku, dalam bahasa Bali halus) mau ke Sesetan,” jawabnya.

Aku tidak bisa berpikir panjang. Aku diam belum ngasi jawaban ketika laki-laki itu sudah duduk di belakangku.

“Tiang pake udeng aja, ya. Biar gak ditangkep polisi,” katanya setelah duduk.

“Ya, terserahlah,” batinku. Polisi di Bali memang toleran pada umat beragama. Kalau ada pengendara motor pake udeng atau kopiah memang tidak ditilang. Jadi, kadang-kadang bisa pura-pura pake udeng atau kopiah biar tidak ditilang, padahal memang lupa bawa helm. 🙂

Kami melaju. Laki-laki berkamen (sarung) biru, berbaju hitam, dan berudeng hitam itu ngomong dalam bahasa Bali logat Serangan. Aku tidak terlalu mengerti. Dia bilang mau melayat orang mati di Sesetan. Aku konsentrasi siap-siap jika dia melakukan sesuatu padaku. Ya, aku kan gak kenal dia sama sekali. Omongannya agak kacau. Gak jelas. Tampangnya juga serem. Dan, dia berada di belakangku persis.

“Gimana kalau dia tiba-tiba menusukkan belati ke pinggangku lalu membawa lari motorku,” pikirku curiga.

Jalanan sepi. Sesekali aku melihat orang itu dari spion. Tangannya seperti mengambil sesuatu. Motorku sampai bergoyang. Aku tambah deg-degan.

Kami semakin mendekati Denpasar. Jalana ramai. Paling tidak, aku tidak terlalu deg-degan. Kalau ada apa-apa kan banyak yang lihat. Aku tinggal teriak.

“Sesetan mana, Pak?” tanyaku.

“Jalan saja, ntar tak tunjukin,” katanya.

Aku semakin curiga. Ya, sudahlah. Karena dia tidak mau nyebut pasti. Biarlah dia ikut aku saja. “Tapi gimana kalo nanti dia ternyata orang gila yang mau saja ikut aku. Gawat juga,” pikirku.

Kami sudah sampai Sesetan. Tapi orang itu tidak jelas mau ke mana. Akhirnya aku bawa ke jalan kecil yang dia tunjuk. “Be, Pak. Dini gen tuun,” kataku. Maksudnya: Sudah, Pak. Sini saja turun. Laki-laki itu ternyata mau. Aku segera pergi. Ketika sudah jalan, aku lihat lewat spion. Laki-laki itu juga menghentikan orang lain. Tapi yang dicegat tidak mau, malah ngebut. Aku semakin jauh dan gak melihatnya lagi.

-Ya, jelek juga sih negatif thinking ma orang lain. But, gak ada salahnya jaga-jaga. Jangan-jangan dia memang mau jahat ma aku. Toh, dauh tak turutin apa maunya-

Tali Kasih Menuai Protes

Meski diwarnai protes dari kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM), DPRD Buleleng tetap bagi-bagi uang tali kasih. Mereka juga jalan-jalan ke Indiia hingga 15 Maret mendatang.

Kepastian adanya uang tali kasih (demikian namanya) tersebut berdasarkan rapat paripurna DPRD Buleleng dan Bupati Buleleng pada Kamis dua pekan lalu. Bupati Buleleng Putu Bagiada menyampaikan bahwa Pemkab Buleleng memberikan uang tali kasih sebesar Rp 85 juta per orang.

Continue reading “Tali Kasih Menuai Protes”

Bayarlah Visa Begitu Tiba

Meski diwarnai kekhawatiran kalangan pariwisata, Visa on Arrival akhirnya diterapkan pemerintah. Sebagian besar turis tidak keberatan selama jelas informasinya.

Senin, 2 Februari 2004 siang di Terminal Kedatangan Internasional Bandara Ngurah Rai, Tuban, Bali lalu beberapa turis yang baru turun dari pesawat terlihat bengong. Sebab kedatangan mereka “disambut” kunjungan Ketua DPRD Bali IBP Wesnawa, Kepala Dinas Pariwisata Bali Gede Nurjaya, Kepala Cabang Bandara Ngurah Rai IGM Dhordhy, Kepala Cabang Imigrasi I Gede Widhiarta, serta puluhan pejabat lainnya.

Hari itu merupakan hari kedua pelaksanaan Visa on Arrival (VoA). Para pejabat itu mengecek langsung bagaimana pelaksanaan VoA tersebut. Ketua DPRD misalnya melihat ke beberapa loket di tempat penarikan sedangkan Kepala Dinas Pariwisata bertanya ke beberapa turis.

Sejak 1 Februari pukul pemerintah Indonesia memang mulai memberlakukan VoA tersebut untuk wisatawan mancanegara kecuali dari Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei, Filipina, Vietnam, Hongkong, Makao, Maroko, Peru, dan Chile. Besarnya VoA tersebut US$ 10 untuk mereka yang tinggal 1-3 hari dan US$ 25 bagi mereka yang tinggal 4-30 hari. Untuk mereka yang tinggal lebih dari 30 hari akan diberikan denda US$ 20 per hari.

Pemberlakukan VoA tersebut tetap dilakukan pemerintahdi tengah gencarnya protes pihak pariwisata. Alasan yang disampaikan pelaku wisata tersebut diantaranya karena kondisi pariwisata Indonesia yang belum sepeuhnya pulih akibat bom Bali, Perang Irak, maupun penyakit radang saluran pernafasan akut (SARS). Karena itu, pemberlakukan VoA dianggap bisa memperlemah daya jual pariwisata Indonesia.

Toh, kebijakan itu sudah diterapkan sejak awal Februari lalu. Di Indonesia, Bandara Ngurah Rai merupakan salah satu tempat yang dipergunakan untuk penerapan VoA tersebut. Sejak Minggu lalu itu pun turis asing harus membayar di terminal kedatangan. Di Bandara Ngurah Rai Bali, loket itu terbagi di dua tempat yaitu pintu kedatangan 7 dan 8. Total ada 10 loket untuk imigrasi dan empat loket untuk pembayaran (bank) dalam hal ini adalah BNI.

Tiap turis terlebih dahulu membayar visa tersebut sesuai berapa lama dia akan tinggal kemudian mereka mendapatkan semacam kuitansi pembayaran, merah untuk yang US$ 25 dan hijau untuk US$ 10. Tanda lunas visa itu kemudian diperlihatkan kepada petugas di loket imigrasi yang akan mencocokkan biodata turis itu dengan paspor. Setelah itu, turis tersebut baru mendapat stiker telah membayar visa dari perugas imigrasi yang ditempel di paspor.

Di Bandara Ngurah Rai, 42 penumpang pesaat GA 711 dari Darwin yang mendarat pada pukul 09.45 wita merupakan turis pertama yang mendapat pelayanan VoA. Setelah itu, ratusan turis lain dari Australia, Jerman, Inggris, Taiwan, Jepang, maupun negara lain pun menyusul.

Dalam pantauan GATRA, beberapa turis masih belum tahu dengan adanya pemberlakukan VoA tersebut sehingga mereka tetap nyelonong ketika sudah dikasi tahu petugas. Pada hari pertama pelaksanaan VoA, setidaknya ada 1.800 turis yang harus membayar. Menurut Kacab Bandara Ngurah Rai IGM Dhordy, jumlah itu tidak jauh berbeda dengan hari biasanya.

General Manager Garuda Cabang Bali Kriston Rasmanto pun menyatakan hingga hari kedua pelaksanaan VoA tersebut, jumlah penumpang pesawat Garuda dari berbagai negara tujuan Garuda tetap stabil. “Kalau kita melihat pengaruh penerapan visa on arrival itu dalam satu dua hari ini ya belum bisa,” katanya.

Namun Kriston memberikan gambaran, jumlah penumpang Garuda tetap berkisar antara 60-70%. Saat ini, Garuda Indonesia masih melayani penerbangan internasional ke Perth, Melbourne, Sydney, Darwin, Auckland, Tokyo, Osaka, Nagoya, Singapura, dan Kuala Lumpur.

Ketua Bali Tourism Board Putu Antara yang selama ini getol menolak VoA juga mengatakan belum bisa melihat pengaruh pemberlakuan VoA terdahap pariwisata Bali dalam satu minggu ini. Beberapa hotel yang dihubungi GATRA juga menyatakan hal sama. “Namun kami terus memantau bagaimana penerapannya di lapangan,” kata Antara.

Pemantauan itu dilakukan untuk melihat apakah turis dipersulit atau petugas kewalahan dalam melayani visa tersebut. Kadiparda Bali yang baru dilantik Gede Nurjaya juga memberikan komentar sama. “Kita akan evaluasi sambil berjalan,” katanya.

Umumnya turis mengaku tidak mempermasalahkan adanya VoA tersebut. Mat Fagan, 20 tahun, turis asal Melbourne mengaku sudah diberitahu travel agennya di Australia bahwa sejak 1 Februari ini dia harus membayar visa. Maka, ketika sampai di Bali dia tidak kaget dengan penerapan itu. Selain itu, pemberitahuan juga dilakukan di pesawat sesaat sebelum mendarat. “Saya rasa US$ 25 tidak terlalu mahal,” katanya. Mat datang bersama seorang temannya. Mereka akan tinggal di Bali selama dua minggu.

Toh, beberapa turis juga ada yang keberatan. Seorang turis dari Jerman sampai mengumpat-umpat kepada petugas karena tidak mau bayar visa. Turis itu hendak tinggal di Bali selama 40 hari. Kepada GATRA dia mengaku sebelum ke Indonesia dia pernah mendengar adanya isu penerapan VoA. Maka dia menanyakan hal tersebut kepada Konjen RI di Hamburg, tempat dia tinggal.

Oleh petugas di Konjen dikatakan bahwa karena dia berangkat dari Jerman pada tanggal 31 Januari maka dia tidak usah bayar visa. Nyatanya, dia tetap harus bayar US$ 25. Namun hal paling memberatkan baginya adalah karena dia harus membayar denda US$ 20 per hari setelah lewat 30 hari. “Kalau begini, siapa yang mau datang lagi ke Indonesia,” kata laki-laki bertubuh tambun yang beristri owang Indonesia itu. Sayang, dia tidak mau menyebutkan nama.

Kepala Cabang Imigrasi Ngurah Rai Gede Widhiarta mengaku tidak mengerti alasan orang Jerman tersebut. Sebab hal tersebut sudah keputusan menteri. “Kalau informasi di Konjen salah ya bukan berarti dia tidak bayar,” katanya. [#]

Khusyu di Riuh Tahun Baru

Ashram Canti Dasa khusyu dalam refleksi dan doa ketika tempat wisata di sekelilingnya riuh merayakan tahun baru.

Tepat waktu pergantian tahun di Ashram Canti Dasa, Desa Candi Dasa, Karangasem Bali. Lampu-lampu telah dimatikan. Suasana gelap. Dipimpin Agung Harimurti Bagus Oka, putra pendiri Ashram Canti Dasa Gedong Bagoes Oka, 18 warga ashram (semacam pesantren) di bibir pantai itu melantunkan doa dari Kitab Bagwadgitha.

Lima warga negara asing dari Amerika Serikat dan Belanda diantara mereka juga mengikuti. “Om Tiauhu Sintihe. Om Tiauhu Sintihe..” Selama sekitar 15 menit, dengan khusyu mereka melantunkan doa memohon kedamaian.

Continue reading “Khusyu di Riuh Tahun Baru”

Kosongnya Kandang Ayam Kami

“Kalau semua ayam sudah mati, lalu saya mau buruh ke siapa?” tanya I Kadek Yoga seperti bergumam. Buruh peternakan ayam itu melihat ke arah dua kandang di depannya.

Satu kandang hanya tersisa tak sampai sepuluh ekor. Satunya lagi malah kosong melompong. Tiga ekor ayam tergeletak di tanah bercampur kotoran ayam. Siang itu, Kadek Yoga hanya bersarung dan bertelanjang dada. Sejak pagi, dia mempersiapkan diri untuk balik ke kampungnya.

Continue reading “Kosongnya Kandang Ayam Kami”

Infeksi Multiorgan pada si Kecil

Seorang bayi di Denpasar karena infeksi multiorgan. Kini dia juga terkena penyakit yang lebih mematikan, infeksi kelenjar otak.

Anak kedua dari pasangan Made Sudarsana dan Ni Ketut Wati itu lahir pada pertengahan November tahun lalu. Dia lahir di rumah sakit Sanglah Denpasar melalui operasi cesar dengan berat 2,5 kg dan panjang 47 cm. Operasi dilakukan karena air ketuban ibu kurang. Selesai melahirkan, ibunya menjalani perawatan di RSUP Sanglah selama lima hari untuk kemudian pulang.

Tujuh hari setelah di rumah, bayi yang belum punya nama itu muntah-muntah. Oleh orangtuanya, bayi tersebut dibawa ke bidan yang kemudian memberikan obat sehingga sakitnya berkurang. Namun, ketika bayi berumur 25 hari, dia tiba-tiba muntah sehingga dibawa ke Puskesmas Abiankasa. Dokter di puskesmas tersebut merujuknya ke RS Wangaya, Denpasar.

Melalui pemeriksaan diketahi bahwa bayi itu mengalami dehidrasi dan sesak napas. Sebagai pengobatan diberikan cairan antibiotika sehingga sesak berkurang dan mulai bisa menyusu. Untuk mengetahui bagian dalam bayi, dia difoto thorax. Dari foto itulah diketahui bahwa bayi itu mengalami infeksi paru-paru dan darah. Menurut I Wayan Reta, dokter spesialis anak di RS Wangaya, bayi tersebut terkena infeksi multiorgan (sepsis neonatorom).

Infeksi neonatorom ini menurut Retayasa bisa terjadi karena beragam sebab antara lain bayi tidak mau menyusu serta bayi tersebut loyo, panas, dan dingin. Disebut infeksi multiorgan karena infeksi tersebut dapat menyerang organ-organ penting pada bayi tersebut seperti paru-paru, darah, otak, hati, ginjal, usus, dan paling parah menyerang otak.

Bisa menyerang ke seluruh organ maupun beberapa diantaranya. Penyebabnya adalah bakteri pseudomonas aeruginosm. Kalau menyerang paru-paru, penderita akan mengalami sesak napas dan wajahnya membiru. Sedangkan kalau darahnya terinfeksi, bayi itu akan mengalami kekurangan darah (anemia) dan gangguan pembekuan darah.

Ketika GATRA melihatnya akhir Desember lalu, bayi tersebut terlihat lemas, terus menangis, dan membiru di bagian kakinya. Pada tubuhnya masih terdapat beberapa selang cairan antibiotik. Menurut ibunya Ni Ketut Wati, sepulang dari perawatan di RS Sanglah Denpasar bayi tersebut memang selalu menangis, tidak mau menyusu, dan muntah-muntah.

Sebelum anaknya lahir, istri dari pegawai di Universitas Udayana Bali ini tidak pernah merasakan hal yang aneh. Dia juga tidak ngidam yang aneh-aneh. Dia hanya mengkonsumsi kalsium setiap hari ketika kandungan berumur 6-9 bulan. Namun dia mengaku bahwa kelahiran anaknya memang lebih lambat hampir sebulan dari yang seharusnya. Padahal, anak pertamanya yang kini berumur enam tahun lahir biasa saja.

Kelahiran yang terlambat ini, menurut Retayasa, bisa jadi salah satu penyebab kekurangan air ketuban ketika melahirkan sehingga ketuban itu pecah dini lalu airnya mengalir dari plasenta ibu ke darah anak. Akibatnya, darah anak pun tercemar kuman yang dibawa air ketuban tersebut. Mudahnya kuman masuk dan menyerang organ bayi ini karena sel-sel untuk membunuh bayi dan kekebalan badan belum terbentuk.

Selain melalui saluran darah ibu ketika melahirkan, tambah Retayasa, kuman juga bisa karena faktor lingkungan yang kurang bersih atau ibunya yang sakit. Lingkungan tempat lahir bayi itu di Jl Sakura Denpasar juga terlihat rapi. Tidak ada tempat kotor seperti selokan terbuka. Namun ketika pulang dari RS Sanglah setelah persalinan, Ketut Wati mengaku sakit pilek, meski hanya 2-3 hari.

Infeksi multiorgan sendiri termasuk penyakit yang rentan terjadi pada bayi. Menurut Retayasa, yang juga Kepala Bagian Perinatologi RS Wangaya, dari 2.500 kelahiran, sekitar 50 bayi bisa terinfeksi multiorgan. Padahal akibatnya bisa sangat berbahaya. Tingkat kematiannya 25 persen hingga 50 persen tergantung pada perawatan.

Kalau menyerang jantung, denyut jantung bayi tidak akan normal menjadi lebih cepat atau lambat. Pada jantung akan membuat hati bengkak dan sekujur tubuh menjadi kunig. Pada ginjal mengakibatkan bayi tidak bisa kencing. Pada usus akan mengakibatkan perut kembung, muntah, dan berak darah. Paling parah, kalau menyerang otak, bayi itu akan kaku tubuh atau kejang-kejang.

Dan, bayi itu kini mengalami infeksi yang paling berbahaya tersebut. Ketika dihubungi GATRA Minggu pekan ini, Retayasa mengatakan bahwa bayi itu juga positif terkena infeksi selaput otak (meningitis). Infeksi pada selaput otak ini baru diketahui dua hari lalu melalui kultur pembiakan cairan sumsum otak. Hasil pemeriksaan memang memerlukan waktu yang cukup lama sehingga baru diketahui bahwa pada cairan sumsum bayi itu terdapat bakteri krepsiela, penyebab meningitis. Resiko kematian akibat meningitis ini, kata Retayasa, lebih dari 50%.

Bakteri ini cukup resisten terhadap antibiotik sehingga antibiotik golongan ceptacidin dan cephalosphorin yang selama ini diberikan kepada bayi itu tidak dapat membunuh bakteri tersebut. Sebagai pengobatan, saat ini diberikan antibiotika golongan ampicilin dan amikasin sebagai pengganti. Untuk mengobati anemia, bayi itu juga diberikan darah jenis O dari bapaknya selama tiga hari masing-masing 28 cc. Saat ini, kalau dilihat sekilas, kondisinya makin membaik. Beratnya 3 kg. Sehari-hari dia sudah menyusu, suhu badannya normal, namun kadang-kadang kejang. Ubun-ubun yang dulu menonjol pun kini datar kembali.

Retayasa mengatakan terinfeksinya kelenjar otak itu dikarenakan pengobatan yang terlambat diberika kepada bayi. Bayi itu baru dibawa ke RS Wangaya pada 9 Desember padahal sudah sakit sejak 26 November. “Tiga belas hari lumayan cepat untuk perkembangbiakan bakteri di dalam otaknya,” kata dokter lulusan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Udayana Bali ini.

Orangtua si bayi sendiri hanya bisa pasrah. Wati tidak mau menyebutkan berapa biaya yang telah dihabiskan. “Saya berharap anak saya bisa sembuh secepatnya,” kata ibu dua anak ini. namun, Wati masih harus menunggu lebih lama lagi. Sebab, untuk mengetahui bagaimana hasil pengoatan terhadap anaknya itu, dokter memerlukan injeksi selama 21 hari.

Karena sudah berjalan 14 hari, Wati harus menunggu seminggu lagi. Itu pun belum tentu langsung sembuh. Selesai injeksi perlu dilihat apakah bayi panas atau tidak. Kalau suhu badan normal, masih perlu dilakukan CT scan untuk mengetahu apakah memang seluruh bakteri di otak si bayi sudah mati. [#]

Need Help: Sanggar Baca Kita

Ternyata susah juga mau bikin usaha. Rencananya aku mau bantuin Lode, cewekku, bikin sanggar baca. Kami udah ngobrolin ini sejak dua bulan lalu. Kami juga udah bikin survey kecil-kecilan dimana tempatnya dan apa saja bukunya. Hasilnya? Tempatnya ngambil salah satu kamar di rumah Lode di samping garasi. Sedangkan bukunya mau ambil segala macam bacaan untuk anak-anak dan remaja.

Beberapa hari ini Lode udah nyari buku ke penyewaan dan toko buku. But, belum ada hasil yang menyenangkan. Pak Selamet, pemilik persewaan Prastiwi di Jl Waturenggong dan Prima di Jl Gunung Batukaru mau menjual tapi harganya masih kemahalan. Masa, buku lama dijual hampir sama dengan harga toko. Padahal kami butuh banyak buku sedangkan modal cuma dua jutaan untuk beli buku saja.

Continue reading “Need Help: Sanggar Baca Kita”

Idul Fitri, Hari untuk Berbasa-basi

Jumat. Sabtu. Minggu. Hm, lebaran tinggal tiga hari lagi. Mereka, -eh, aku juga ding!- yang akan merayakan udah pada kembali ke keluarga. Berkumpul dengan orang tua, saudara, keluarga besar, maupun tetangga. Pas hari H, kita akan sholat ied dan abis itu silaturahmi, main ke rumah keluarga dan tetangga.

Aku jadi inget. Biasanya aku ngumpul sama sepupu-sepupu. Ada yang dari Malang, Yogya, Surabaya. Asik banget. –Dan bener memang keluarga itu candu-. Soalnya, lebaran jadi terasa kurang lengkap kalau tidak kumpul dengan mereka. Kami jalan bareng keliling kampung. Dulu sih hampir semua. Sekarang karena jarang di rumah ya pilih beberapa saja. Toh, jarang ketemu mereka (tetangga kampung maksudnya). Jadi, tidak punya dosa sama mereka. 🙂

Continue reading “Idul Fitri, Hari untuk Berbasa-basi”

(Jangan-jangan) Keluarga Itu Candu?

Denpasar terasa agak sepi. Sudah jarang ada yang jual gorengan, atau martabak, atau penjual di pinggir jalan lainnya. Sepertinya karena sebagian warganya -yang ngrayain lebaran- pada mudik. Sebab, lebaran tinggal lima hari lagi. Banyak orang mulai berbenah, siap2 mudik.

Tradisi mudik ini memang dilakukan banyak orang menjelang hari raya keagamaan. Umat Islam menjelang lebaran. Umat Nasrani menjelang natal. Umat Hindu menjelang Nyepi. Dst. Kalo gak salah, Amrik pun mengenal Thanksgiving Day, dimana mereka biasanya kumpul, selain natal tentu saja.

Continue reading “(Jangan-jangan) Keluarga Itu Candu?”