Blog

Tan Malaka – Yang Terlupakan

Dibanding Soekarno, Hatta, Soedirman, atau pahlawan nasional lain, nama Tan Malaka bukanlah apa-apa. Dia tidak terlalu dikenal publik. Dulu, tiap orang termasuk mahasiswa yang mengagumi perjuangannya bahkan harus berhadapan dengan aparat. Bagi penguasa Orde Baru (Orba), Tan Malaka adalah momok. Setiap orang yang mengaguminya harus dicurigai

Empat tahun sebelum terjadi Sumpah Pemuda, enam tahun sebelum Hatta menulis brosur “Mencapai Indonesia Merdeka” pada 1930, atau bahkan delapan tahun sebelum Soekarno menulis brosur “Ke Arah Indonesia Merdeka” pada 1932, Tan Malaka telah menulis “Naar de Republik Indonesia” yang berarti “Menuju Republik Indonesia”. Ketika tulisan tersebut muncul, belum pernah ada tulisan yang mengulas cita-cita kemerdekaan Indonesia. Artinya, Tan Malaka adalah pemikir dan pejuang politik pertama di Indonesia yang mengajukan konsep negara Republik Indonesia (RI).

Namun, terlalu sedikit orang yang mengerti tentang Tan Malaka. Subjektivitas plus politisasi sejarah ala Orba membuahkan gambaran gelap tentang peran Tan Malaka bagi perjuangan republik ini. Akhirnya, Diponegoro, Imam Bonjol, Soekarno, Hatta, Soedirman, dan sederet nama pahlawan nasional lain juga lebih glamour dibanding Tan Malaka. Di antara nama-nama tersebut, Tan Malaka bukanlah apa-apa.

Tan Malaka adalah sosok misterius pada kancah pahlawan nasional. Bahkan keberadaannya tergolong kontroversial. Seorang muslim taat yang turut melahirkan Partai Komunis Indonesia, yang dikenal sebagai partai orang-orang atheis. Seorang pendukung Soekarno untuk menjadi presiden pertama RI, namun dia adalah orang pertama yang melawan ketika Soekarno mulai menerapkan demokrasi terpimpinnya.

Lalu apa menariknya membicarakan Tan Malaka saat ini? Hal yang pasti adalah bahwa Tan Malaka berjuang tanpa pamrih. Dalam sejarahnya, Tan Malaka tak pernah menduduki jabatan-jabatan birokrat, seperti Soekarno ataupun Hatta. Perjuangan politik Tan Malaka lebih diwarnai pembangkangan terhadap penguasa. Demikian juga, kehidupannya bahkan lebih terkenal dari penjara ke penjara. Ketika zaman imperialisme Belanda, dia harus mendekam di penjara. Ketika Jepang berkuasa, dia harus dipenjara, bahkan ketika Indonesia telah merdeka pun Tan Malaka harus dipenjara. Dia selalu jadi pembangkang penguasa. Perjuangannya tidak pernah diakhiri suatu jabatan publik. Nyaris tanpa pamrih. “Siapa ingin merdeka, harus berani di penjara,” teriaknya. Bahkan, ketika telah mati pula, Tan Malaka harus menjadi nama yang terpenjara.

Bangsa ini tak pernah mengakui keluarbiasaan ide Tan Malaka. Namanya lebih dikenal dengan tokoh antagonis dalam sejarah pahlawan nasional. Setidaknya, nama Tan Malaka dianggap sebagai momok bagi sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa karena ideologi politiknya yang “kiri”. Keberpihakannya pada perjuangan pada tataran grass root, dengan melibatkan pada pengorganisasian petani dan buruh melahirkan kecurigaan oleh kelompok mapan.

Tan Malaka lebih terkenal karena pikiran-pikirannya. Dia lebih banyak berjuang melalui ide-ide. Inilah barangkali salah satu alasan kenapa bangsa ini tidak terlalu menganggap penting perjuangannya. Selama ini, orang mendominasikan peran pahlawan-pahlawan yang berjuang melalui perang. Tan Malaka memilih berjuang dengan caranya sendiri, bukan dengan senjata. Orang pun, diakui atau tidak, akhirnya terjebak pada pola pandang kebenaran, materialis. Mengukur bentuk perjuangan dari sejauh bentuk fisik yang telah terbangun. Pejuang bertempur dengan penjajah. Sekian nyawa penjajah hilang. Atau pada konteks kekinian, sejauh mana pembangunan yang telah dilakukan seorang pejabat.

Tak heran pejabat akhirnya berlomba membangun prasasti, mengenang hasil perjuangan melalui kebendaan. Maka, wajar apabila Marx mengukur sejarah manusia pun melalui materi. Logika pikir kebanyakan orang terbentur pada materialisme. Logika pikir semacam ini lalu lari ke arah penghargaan perjuangan secara fisik. Seorang atlet mendapat penghargaan lebih dibanding seorang peneliti. Ide telah dikalahkan fisik. Padahal Jalaluddin Rahmat pernah mengatakan bahwa revolusi pun berawal dari sebuah gagasan. Artinya, perubahan sekecil apapun pasti diawali ide, pikiran. Lalu kenapa orang lalu menganaktirikan “pejuang ide”? Tan Malaka misalnya.

Dalam perjuangan mewujudkan ide inilah, kadang-kadang jabatan jadi alat. Dan, Tan Malaka konsisten dengan itu. Inilah hal luar biasa yang cenderung menjadi barang langka saat ini. Jabatan, status yang merupakan alat mematerialkan ide justru telah menjadi tujuan, meskipun terjadi distorsi antara tujuan ide dengan kondisi alat.Dari sinilah menjadi menarik jika dianalogikan dengan kondisi politik negeri ini. Kritik Amien Rais terhadap Gus Dur barangkali adalah pengingatan bahwa jabatan presiden bukanlah tujuan untuk mendukung Gus Dur dalam SU setahun lalu. Dukungan Amien Rais untuk menaikkan Gus Dur jadi presiden pada SU bisa jadi adalah untuk mewujudkan tujuan reformasi. Gus Dur jadi presiden bukan tujuan, tetapi alat. Dan, ketika Gus Dur belum juga mampu menjawab cita-cita penggulingan rezim Soeharto, barangkali Amien Rais bermaksud mengingatkan.

Tetapi, itu mungkin, karena Amien Rais pun bukan Tan Malaka. Bisa jadi ada tendensi di balik kritik penurunan Gus Dur. Bisa jadi Amien Rais pamrih, mengharap sesuatu dengan kritiknya. Dan, itu bukan hanya Ketua MPR tersebut. Bisa jadi Akbar Tandjung, Megawati, dan semua pemimpin di negeri ini, atau bahkan kita. Ironisnya, inilah gambaran “pahlawan-pahlawan” sekarang. Negeri ini telah didominasi orang-orang pamrih yang mengharap keuntungan dari apa pun yang dilakukan. Meskipun untuk tujuan itu, mereka mengorbankan rakyat kecil.

-pernah dimuat Bali Post-

"The Deep": Menyelam di Kedalaman

Dunia laut disajikan dengan informasi futuristik di dalam akuarium raksasa. Kita bisa menyelamatkan Bumi di sana.

Ketika mendekati Sungai Hull, Inggris, dari Laut Utara Eropa, terlihat bangunan yang berbeda dari bangunan lain di sekitarnya. Bentuknya sekilas mirip berlian dengan cahaya berkilauan. Warnanya kebiruan dan persis terletak di bibir laut yang airnya kecokelatan karena dekat dengan sungai tersebut.

Bangunan itu bernama The Deep yang di brosur-brosur pariwisata setempat disebut The World’s only Submarium. The Deep pun selalu berada di urutan nomor satu pada brosur-brosur di kota kecil di Inggris. Posternya berada di beberapa tempat publik, seperti stasiun kereta api atau pelabuhan yang saya singgahi. The Deep seperti menjadi maskot kota pantai berjarak sekitar tiga jam perjalanan kereta api dari London tersebut.

Bentuk yang sebenarnya, ketika berada dekat dengannya, ternyata lebih mirip kapal. Bagian mirip berlian itu adalah haluan mengerucut yang ujungnya berjendela kaca. Sedangkan buritan, atau bagian belakangnya, datar biasa berwarna hitam setinggi sekitar 25 meter yang juga terdapat beberapa jendela kaca. Dari “buritan” inilah kita akan masuk, menyelam di kedalaman The Deep.

Sebelum masuk akuarium raksasa ini, setelah membeli tiket 6,5 pounds atau sekitar Rp 94.000, pengunjung disambut lima lukisan pada kaca seukuran masing-masing 1,5 m x 3 m. Pada tiap lukisan di dinding berwarna biru laut itu digambarkan peradaban laut masa lampau. Misalnya tentang gambar perempuan-perempuan di kapal layar yang bergandengan dengan awak kapal. Di antara lukisan-lukisan itu terdapat tulisan dari Anne Sterenson yang ditulis di Laut Utara pada tahun 1977, The sea is as near as we come to another world….

Dan, kehidupan laut itu memang begitu dekat dan akrab. Sebab kita bisa menyelam di kedalamannya tanpa harus menggunakan kaki katak (fin), BCD, logam pemberat, kaca mata, dan peralatan menyelam lainnya. Kita tinggal menyusuri seluruh bagian The Deep yang berurutan berdasarkan waktu kehidupan.

Proses kelahiran planet

Bagian pertama bernama Ocean Cradle. Bagian ini menampilkan informasi kehidupan pada sebuah TV layar datar berukuran sekitar 1,5 m x 0,5 m persegi dilengkapi suara dan tulisan di bawahnya. Di tiap informasi juga terdapat permainan yang melibatkan kita. Pada bagian ini, setelah dikenalkan pembagian samudra di dunia yang terbagi antara lain Samudra Pasifik, Samudra Selatan, Samudra Hindia, Samudra Atlantik, dan Samudra Utara, kita bisa melihat proses kelahiran planet.

Diceritakan bahwa saat planet Bumi lahir sekitar 4.600 juta tahun hingga 3.500 juta tahun lalu adalah masa pembentukan dan perubahan laut. Perubahan bentuk samudra ini dijelaskan sebagai berikut. Lempengan raksasa membawa daratan dan samudra terhanyut menyeberangi permukaan Bumi. Lempengan itu kemudian menjadi dasar samudra. Karang-karang tua juga turut membantu perubahan bentuk samudra ini. Adapun permainan yang ada pada bagian ini adalah mengurut planet dari yang terdekat hingga yang terjauh dari Matahari.

Pada 600 juta tahun lalu barulah mulai ada makhluk hidup yang diawali oleh ubur-ubur. Makhluk bernama latin Aurelia aurita ini berada di sebuah tabung bening yang bisa kita lihat. Warnanya putih dengan tekstur tubuh yang sepertinya sangat lentur dan berlendir. Seratus tahun kemudian baru muncul ikan yang pertama. Ikan pada masa 500 juta tahun lalu ini tidak punya rahang sehingga hanya dapat mengisap atau menusuk mangsanya. Berturut-turut selanjutnya adalah 270 juta tahun lalu mulai muncul reptil di laut seperti iguana dan buaya laut; dan 55 juta tahun lalu muncul mamalia laut seperti paus.

Pada 130 ribu tahun lalu barulah manusia mengenal kehidupan laut. Pada bagian ini diperlihatkan bagaimana manusia membuat perahu untuk bergerak dari satu pulau ke pulau lain. Juga bagaimana manusia kemudian merusaknya, salah satunya dengan aktivitas menyelam. Menariknya, pada informasi ini juga diperlihatkan jumlah manusia di bumi yang terus bertambah. Hanya sekitar semenit di tempat ini sudah bertambah dari 6.234.887.688 menjadi 6.234.887.704.

Oya, bagian dari awal lahirnya bumi hingga manusia mengenal laut tersebut berada pada ruangan memanjang bertingkat dua. Kita harus menyusuri jembatan selebar 2,5 m sepanjang sekitar 20 m. Tiap informasi berada di bagian kiri jembatan. Ketika pada informasi mulainya kehidupan mamalia laut, di dindingnya terdapat fosil-fosil makhluk seperti dinosaurus yang berwarna putih dengan dinding biru laut dan lampu temaram.

Keluar dari Ocean Cradle ini kita berada pada ruangan bernama Lagoons of Light. Tempat ini mirip habitat terumbu karang, seperti salah satu titik menyelam di Pulau Menjangan, Bali Utara. Airnya bening dengan kaca setinggi 2 m dan air 1,5 m. Suhunya berkisar antara 23-25 derajat Celsius.

Menurut salah satu staf yang menjaga, ada 115 spesies ikan yang sebagian besar kecil ukurannya. Misalnya ikan neon yang berukuran sebesar ibu jari kaki orang dewasa. Ikan berwarna biru ini sangat mencolok karena seperti mengeluarkan cahaya. Atau ikan badut yang dikenal sebagai ikan nemo (Amphiprion ocellaris) di film animasi Finding Nemo. Mereka bergerombol berdasarkan jenisnya masing-masing. Pasir di tempat ini putih dengan koral berwarna-warni. Informasi di tempat ini adalah bahwa ombaklah yang membawa makanan bagi terumbu karang.

Masih di Lagoons of Light, pada tempat terpisah terdapat penjelasan masing-masing ikan yang hidup di bagian ini. Antara lain ikan bernama latin Chaeredon fasciatus, Zebrasoma flavercens, Centropyge bicolor, serta Pseudanthias squamipinnis. Ikan yang terakhir itu unik sebab mereka berwarna mirip terumbu karang. Warna ikan yang berwarna-warni ini untuk memudahkan mereka mengenali teman atau musuh.

Selesai di habitat terumbu karang ini, kita kemudian masuk ruangan Endless Ocean di mana terdapat ikan-ikan besar seperti pari, tongkol, hingga hiu. Ada juga jack fish (Caran sexfasciatus). Ikan mirip tongkol ini menarik sebab bergerombol dalam jumlah ratusan. Mereka berenang perlahan ke arah kaca akuarium raksasa. Namun, ketika ada hiu lewat, mereka berpencar dengan cepat lalu kembali pada gerombolan awal. Karena ada hiu ini pula maka diberi pembatas rantai besi antar pengunjung dengan kaca kolam. Seorang penjaga juga selalu berdiri dekat kaca seperti selalu waspada.

Selain akuarium raksasa sebesar kelas itu, di Endless Ocean juga terdapat akuarium-akuarium kecil dengan kekhasan spesies masing-masing. Antara lain jenis Living Together, Hide and Seek, Inteligence, Armed and Dangerous, Ocean Garden, hingga Father Care. Ikan yang cerdas itu misalnya cumi-cumi, sedangkan spesies yang peduli itu adalah kuda laut. Ikan lainnya antara lain ikan beo, roditence, mola-mola, stringray, gorgonian, serta sea fans. Berada di tempat ini serasa sedang menyelam di Tulamben, Karangasem, Bali Timur.

Selesai menyelami kehidupan laut di akuarium dengan 2,5 juta liter air dan 87 ton garam tersebut kita kemudian masuk bagian Kingdom of Ice. Sebelum masuk ruangan dingin ini, kita bisa istirahat di pintu gua. Asyiknya kita tetap bisa melihat berbagai macam ikan, termasuk hiu, berenang di sekeliling kita, bahkan tepat di atas kita. Sebab, kita berada di terowongan berdinding akuarium.

Pengaruh cuaca global

Masuk Kingdom of Ice kita disambut meja bulat yang berisi peringatan tentang pengaruh cuaca global terhadap keadaan Bumi. Setelah itu, ternyata tempat ini memang hanya terowongan es yang membawa kita ke tempat lain. Kali ini adalah arena permainan bernama Deep Blue 1.

Masuk area ini kita disambut tulisan futuristik, Deep Blue 1 was opened by President of The World Federation States on International Ocean Day 2042. Ruangan ini berisi sepuluh jenis permainan yang seluruhnya berkaitan dengan kehidupan laut. Selain itu, ada tiga layar sekitar 3 m x 2,5 m yang menyajikan informasi tentang Sungai Amazon yang memang berpengaruh besar terhadap kehidupan laut di Bumi.

Adapun permainan seluruhnya berupa misi menyelematkan Bumi. Salah satunya adalah dengan bagaimana kita bisa mempertahankan jumlah air di Bumi sementara jumlah manusia semakin bertambah. Penyajian permainan ini sangat modern layaknya misi luar angkasa atau perang antar galaksi di film-film futuristik.

Di Deep Blue 1 penyelaman berakhir. Sebab, setelah itu, kita naik ke permukaan dengan lift. Asyiknya, lift lambat ini melewati tengah-tengah akuarium raksasa dan berhenti setiap 15 detik. Jadi kita masih tetap bisa menikmati kedalaman The Deep hingga permukaan. Begitu kita keluar dari lift, eh, tau-tau kita sudah berada di tempat penjualan souvenir yang seluruhnya bertema kehidupan laut. Dengan modal tak sampai 5 pounds kita bisa milih kartu pos tiga dimensi, pulpen, diari, kalender, serta souvenir lain untuk kenang-kenangan setelah “menyelam”.

-dimuat Kompas-

Lagu, Produk Budaya

BELUM lama ini, Susanto Pudjomartono, wartawan senior di Indonesia, menulis hal menarik tentang lagu “Indonesia Raya”. Menjelang proklamasi kemerdekaan, sesaat setelah memilih Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai presiden dan wakil presiden di awal republik ini berdiri, para pejuang intelektual itu menyanyikan lagu karangan Wage Rudolf Supratman tersebut. Tujuannya, meneguhkan kembali komitmen bersama untuk mendirikan sebuah republik bernama Indonesia. Pada zaman-zaman itu, lagu bisa menjadi alat efektif untuk menggugah nasionalisme. Lagu-lagu perjuangan semacam “Indonesia Raya”, “Padamu Negeri”, “Satu Nusa Satu Bangsa”, dalam konteksnya sendiri telah turut membentuk bangsa ini.

Kemudian apa yang bisa didiskusikan dari lagu-lagu pada saat ini? Lirik sebuah lagu kadang erat kaitannya dengan suasana psikologis seseorang. Ketika jatuh cinta, secara psikologis, bahkan kadang-kadang tidak disadari, orang akan sangat menyukai lagu-lagu bertema jatuh cinta. Hal yang sama berlaku ketika orang patah hati. Lagu-lagu mendayu tentang patah hati, putus cinta, akan sangat mendominasi perasaan kita.

Tahun 1980-an orang mengenal penyanyi macam Betharia Sonata, Tommy J Pisa (almarhum), Rita Sugiarto, dan sederet penyanyi yang melagukan lagu-lagu bertemu kesedihan, patah hati, dan sejenisnya. Pada masa itu, lagu-lagu bertema sama bisa dikatakan mendominasi perkembangan musik di Indonesia.

Banyaknya lagu-lagu yang menyajikan ketidaksemangatan, kesedihan, dan semacamnya itu bahkan pernah melahirkan adanya larangan terhadap lirik lagu seperti itu. Alasan pemerintah ketika itu karena lirik-lirik lagu tersebut tidak membuat orang optimis. Bahasa gampangnya, lagu kok hanya bisa bikin orang bertambah sedih.

***

Lirik lagu memang bisa jadi pembawa pesan moral yang efektif. Pada masa lahirnya flower generation di Amerika Serikat pada 1960-an, lagu-lagu di negeri adidaya itu lebih banyak bertema cinta. Masa itu adalah masa protes generasi muda Amerika terhadap perang Vietnam yang dianggap hanya melahirkan banyak korban. Slogan mereka yang legendaris ketika itu adalah “Make Love, Not War”. Ya, bukankah memang lebih baik bercinta daripada perang?

Intervensi negara terhadap lirik lagu ini juga pernah terjadi di Indonesia pada 1965 pada awal lahirnya Orde Baru. Lagu “Potong Bebek” dianggap sebagai lagunya kaum komunis. Sebab, lagu itu oleh kaum komunis dianggap sebagai perayaan pembunuhan. Tepatnya pada lirik “potong bebek masak di kuali, nona minta dansa, dansa empat kali, serong ke kiri, serong ke kanan.” “Serong ke kiri” dulu, baru “kanan” inilah yang dianggap sebagai pesan moral kaum komunis. Kenapa harus serong ke kiri dulu baru ke kanan?

***

Sebagai produk kebudayaan, lagu memang tidak bisa dibiarkan berdiri sendiri. Lagu dengan beragam jenisnya lahir sebagai entitas kebudayaan manusia dari masa ke masa. Lagu menyampaikan pesan di dalamnya yang kadang tidak disadari oleh konsumen lagu.

Itu dia, kalau menyanyi dianggap sebagai praktik konsumsi budaya, maka benarlah yang disampaikan Michel de Certeau. Sebagai produk kebudayaan, lagu tidak semata-mata dipakai menyatakan sesuatu, tapi juga secara aktif dan simultan melakukan sesuatu. Contohnya, ketika Rhoma Irama menyanyikan lirik, “begadang jangan begadang, begadang tiada artinya”, maka pada saat yang sama Rhoma Irama juga tengah menasihati orang lain agar tidak begadang. Rhoma tidak hanya menyanyi, tapi juga secara aktif sedang menasihati orang lewat lagunya.

Namun kadang-kadang lagu dinikmati sebatas lagu. Ada ilustrasi menarik perihal ini. Penikmat lagu Rhoma Irama yang judulnya “Begadang’ tersebut ternyata sebagian besar adalah orang yang suka begadang. Lirik lagu itu sendiri pada intinya berisi larangan agar orang tidak begadang sebab bisa merusak kesehatan. Nyatanya, penikmat lagu ini tetap saja begadang. Lagu dinikmati sebatas lagu. Pesan moralnya itu urusan belakang.

Lihatlah lagi misalnya pada lagu-lagu India atau Mandarin yang mengalami booming hingga saat ini. Tanyalah pada mereka yang menyanyikan lagu-lagu itu. Pasti atau yakinlah bahwa sebagian besar tidak tahu apa arti lagu-lagu itu. Sebab, urusan lirik kemudian menjadi tidak penting bagi konsumen lagu, ini kalau menyanyi kita anggap sebagai praktik konsumsi. Selama lagu itu dinyanyikan F4 — boyband asal Hongkong itu, konsumen yang memang ngefans dengan F4 pasti akan mencari-carinya.

Tak hanya konsumen lagu. Bahkan, ini yang kadang ironis, apa yang dilakukan penyanyi pun kontradiktif dengan lirik lagu yang disampaikan. Pada film-film India, artis yang sedang bersedih pun berjoget ketika menyanyikan lagu sedih tersebut. Klip-klip lagu Indonesia pun setali tiga uang. Meski lirik lagu yang sedang dinyanyikan adalah tentang patah hati dan semacamnya itu tadi, intinya orang yang sedang bersedih, toh penyanyi lagu itu dengan cueknya berjoged. Ini juga berlaku di panggung-panggung. Orang sedih kok menari-nari. Apa ya logis?

Bali Post Minggu, 10 Agustus 2003

Setelah Sehari Keliling Malang

Sudah hampir tengah malam di Malang. Aku di Z-Net Jl Jakarta Malang, tidak jauh dari Jl Garut 6 Malang, kantor YEPE, organisasi pecinta alam. Besok, kami mau ke Ranupane, dekat pintu masuk Gunung Bromo untuk ngresmiin rumah contoh di desa kecil tersebut.

Sehari tadi jalan-jalan keliling Malang. Dan, totally, Malang membuatku nyaman. Kota yang tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Tata kotanya masih rapi. Pedagang kaki lima mendapat tempat dan tidak mengganggu. Suasana hijau. Dingin. Nah, terakhir itu yang agak jadi masalah bagiku. Hampir seharian, aku lebih banyak pake syal. Ya, lumayanlah mengusir dingin. Maklum, aku memang punya sedikit masalah dengan cuaca dingin. Kadang-kadang menggigil gak karuan. Syukurnya sehari tadi tidak sama sekali.

Syukurnya lagi, meski seharian mendung, tidak turun hujan bahkan gerimis sekalipun. Kata temanku yang wartawan TEMPO, Malang memang selalu mendung. So, jadilah perjalanan hari ini benar-benar bisa dinikmati.

Setelah ngenet di Jl Tlogomas, aku ke Candi Singosari. Candi ini terletak di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Malang. Ya, sekitar 11 km utara kota. Dari Terminal naik angkot LA alias Lawang-Arjosari. Murah, kok. Cuma seribu perak. Lalu naik ojek dua ribu. Candi ini peninggalan Kerajaan Singosari yang dibangun sekitar 1300 M. Namun pada 1930an direstorasi pemerintah Belanda. Yang mengesankan, aku bertemu dua orang pake kopiah putih, ngakunya sih santri pondok, sedang melihat-lihat candi. Siti Khotimah, penjaga berjilbab berumur 45 tahun, bilang kalo candi ini pun kadang-kadang dipake untuk semedi atau sembahyang umat Hindu.

Tidak jauh dari candi makam Raja Kertanegara ini juga ada dua arca pengawal. Aku sempat makan bakso di gubuk kecil di area arca ini. Asik juga sambil ngobrol dengan Sugiono, yang sudah menjaga 24 tahun lalu. Wah, hampir seumurku. Aku mendengar adzan asar ketika cabut dari lokasi ini.

Dalam perjalanan balik, di perempatan Karanglo, aku melihat seorang bapak sedang bikin kuda lumping. Pikirku, kenapa gak sekalian aja ngobrol ma orang itu. Kali aja bisa bikin tulisan. Aku pun turun meski sudah agak jauh. Bapak berumur 60 tahun itu bernama Marimin. Dia sudah membuat kuda lumping dari anyaman bambu itu sejak 1998. Sebelumnya sejak 1989, bapak tiga anak itu bikin kelompok Turonggo Mudo.

Kini dia bikin peralatan untuk kesenian kuda lumping. Di gubuknya, beratap seng berdinding gedek, dia membuat berbagai alat musik seperti kendang, terompet, gamelan, gong, dan topeng. Untungnya tidak banyak. “Kita ndak komersil tapi lebih untuk melestarikan budaya,” akunya.

‘N then, abis ngobrol ma Pak Marimin, aku ketemu temenku, wartawan TEMPO di Malang. Ada pula teman wartawan Media Indonesia. Sekitar dua jam kami ngopi di Kedai Kopi AGP di Jl Bendungan Sutami tak jauh dari kampus ITN. Wah, kenapa ya Denpasar tidak punya tempat kaya gini? Padahal di Makassar ada. Di Ambon juga ada. Asik banget ngopi sambil ngobrol di sana.

Usai ngopi, perjalanan petang beranjak malam pun dilakukan. Kami menyusuri beberapa tempat. Jl Ijen, ada yang menyebut Ijen Boulevard, merupakan kawasan cagar budaya. Dulu, tempat ini merupakan kawasan elit orang Belanda. Rumah-rumah di tempat ini dibuat dengan arsitektur seragam. Dan, sampai sekarang rumah-rumah itu masih demikian. Ada sih yang udah diubah, tapi sangat sedikit. Pemkot Malang membuat aturan soal itu. Saat ini mereka yang tinggal di kawasan ini adalah pejabat atau mantan pejabat, termasuk Rudini, mantan menteri zaman orba dulu.

Di sekitar Ijen Boulevard ada pula Jl Semeru dan Jl Bromo. Di kawasan ini pun bangunan-bangunan tua masih dijaga. Rata-rata sih toko. But, ada pula yang ngerusak. Eh, ternyata malah kantor Radar Malang. Ironis juga..

Masih di sekitar Ijen Boulevard, ada Jl Tugu. Di jalan ini ada beberapa tempat penting yaitu Kantor Walikota dan Kantor DPRD Malang. Keduanya bersebelahan. Makanya tempat ini jadi tempat favorit untuk demo. Apalagi di depan kedua kantor ini ada bunderan. Jadilah tempat ini mirip bunderan Hotel Indonesia di Jakarta. Di tempat ini, bertambah satu lagi teman perjalanan. Kali ini wartawan radio Mas (?) Malang.

Ketika aku lewat bunderan Tugu, hari sudah agak malam. Ternyata kalo malam, tempat ini jadi tempat ngedate. Hampir di setiap pojok, ada sepasang cewek cowok lagi berduaan. Ada yang duduk biasa. Ada yang mepet. Ada yang pelukan. Ada pula yang… gak usah diterusin lah..

Perjalanan berlanjut ke depan Museum Brawijaya. Aku tidak ingat persis berapa kali lewat di depannya sebelum kemudian berhenti di situ. Karena malam, museum senjata perang ini sudah tutup. Tapi di depannya ada tiga senjata: meriam satu laras, tank, dan meriam dua laras yang masing-masing berada di semacam monumen setinggi semeter. Sayang tidak ada keterangan apa jenis senjata tersebut. Keterangan yang ada cuma: DILARANG NAIK! 🙂

Selanjutnya, kami menyusuri Jl Pulosari. Keterangan di tempat ini sih Kawasan Wisata dan Budaya. Tapi yang ada cuma puluhan tempat makan. Di tempat ini, dulunya ada gedung olahraga. Dulunya gedung ini dipakai juga untuk kegiatan kesenian. Kini sudah diubah jadi pusat perbelanjaan. Ah, siapalah yang bisa menolak kuasa modal? Kasian amat..

Aku juga sempat lewat alun-alun dan beberapa tempat lain. Ah, aku lupa mengingatnya satu per satu. Sedikit yang aku ingat, ternyata banyak juga gereja di Malang. Di alun-alun bahkan gereja ini berdiri sebelahan dengan masjid. Damai banget kan? Bangunan-bangunan tua juga tetap terjaga. Aku jadi inget Surabaya yang bangunan tuanya sudah banyak tak terurus. Bahkan Jembatan Merah yang bersejarah itu pun kini tak terurus. Setidaknya itu yang aku liat pekan lalu ketika lewat di sana. Malang masih menjaga bangunan-bangunan tua itu.

Dan, tak lupa tadi lewat sekitar stasiun. Liat bencong. Di stadiun, yang katanya banyak bencong ternyata gak ada. Yang ada malah orang pacaran mulu. Pada sibuk lagi. 🙂

Finally, kami makan di Cafe Keong, lagi-lagi dekat ITN. Tempat ini juga tak jauh dari Univ Brawijaya atau kampus lain. Makan nasi goreng. Minum teh anget. Apalagi diiringi musik. Wah, gimana gak asik kalau kuliah di Malang. Pendidikan banyak. Hiburan ada. Lengkaplah..

Malang Mendung Terus

Mendung menggantung sejak sore kemarin aku sampe Malang. Aku tidak terlalu nyaman dengan cuaca dingin. Kulingkarkan syal di leher ketika baru turun dari bus. Kusedekapkan tangan, barangkali bisa mengusir dingin. Toh, bulu kudukku masih berdiri. Cuaca ini tidak terlalu akrab bagiku.

Beberapa hari ini aku memang hanya menemui cuaca mendung. Barangkali tidak hanya kita, alam pun tengah berduka dengan apa yang terjadi di Aceh dan Sumatera Utara.

-Semoga semua korban bencana itu; di Aceh, Sumatera Utara, India, Phuket, Srilanka, dst mendapat tempat semestinya di surga-

Tadi pas lewat depan Kampus III Universitas Muhammadiyah Malang, puluhan mahasiswa sedang melakukan aksi solidaritas untuk Aceh. Beberapa pasang mahasiswa sedang berdiri di tengah jalan sambil membawa kardus terbuka, meminta sumbangan. Hm, seharusnya aku juga melakukan hal yang sama kalau tidak sedang melakukan perjalanan ini.

Continue reading “Malang Mendung Terus”

Balita Bali Diduga Terinfeksi

Seorang bayi di bawah lima tahun (balita) di Bali diduga terinfeksi penyakit avian influenza (AI) yang lebih dikenal dengan nama flu burung. Anak berumur 3,5 tahun bernama Kadek Heri Darmaputra tersebut merupakan putra kedua pasangan I Kadek Adnyana, 29 tahun, dan Ni wayan Sumiati, 28 tahun, warga Banjar Senganan Kangin, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali.

Dugaan bahwa Kadek Heri terinfeksi flu burung diketahui Minggu (25/1) lalu. Pada hari Manis Kuningan (sehari setelah hari raya Kuningan di Bali) tersebut, Kadek Heri belum juga sembuh setelah sakit sejak dua minggu sebelumnya. Balita yang belum sekolah itu menderita panas sampai 39 derajat celcius, pilek, dan kejang atau step. Padahal Kadek Heri sudah dibawa ke bidan, mantri, maupun puskesmas setempat. Tiga kali berobat, Kadek sudah diberi sirup penurun panas. “Tapi kondisi anak tiang tidak berubah,” kata Sumiati.

Continue reading “Balita Bali Diduga Terinfeksi”

Makan Ayam Tolak Flu Burung

Meski relatif sedikit, flu burung juga menyerang Bali. Dikhawatirkan berdampak ke pariwisata.

Hari-hari ini, ada pekerjaan tambahan yang mesti dipikirkan I Gusti Made Alit Ekaputra. Kepala Dinas Peternakan Provinsi Bali itu punya agenda tambahan yang sebenarnya bukan wilayah kerjanya. Untuk itu, Alit Ekaputra mesti berurusan dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Pariwisata Bali. Rencananya, Rabu besok, dinas yang dipimpinnya akan mengundang puluhan wartawan dan turis di Bali untuk… makan ayam!

Acara makan-makan itu, tambah Alit, dilakukan sebagai bagian dari kampanye bahwa hingga saat ini masih aman mengkonsumsi ayam goreng, ayam panggang, maupun jenis masakan ayam lainnya di Bali. Targetnya, warga Bali dan terutama turis tidak akan terganggu isu internasional yang saat ini menghantui beberapa negara yaitu flu burung. “Dengan demikian, Bali masih layak dikunjungi turis,” katanya.

Continue reading “Makan Ayam Tolak Flu Burung”

Akhir Perjalanan Tukang Obat

Warga Sierra Leone pembawa heroin ditangkap di Bali. Modusnya dengan memasukkan ke perut.

Selama pemeriksaan dia sering memegang perut dan mengelusnya. Matanya merem sejenak lalu melihat kembali ke arah petugas yang mengajaknya bicara. Ekspresi wajahnya lesu sambil mulutnya mengeluarkan erangan kecil seperti mengaduh. “Saya masih sakit,” katanya kepada GATRA Jumat pekan lalu.

Laki-laki berkulit gelap bernama Emmanuel O. Ihejerika itu menjadi tersangka karena membawa 461,7 gram heroin. Seluruh heroin terbungkus dalam 31 bungkusan berbentuk kapsul yang disimpannya di dalam perut. Untuk mengeluarkan seluruh heroin tersebut, warga Republik Sierra Leone, Afrika Barat itu harus membuang hajat selama 11 jam terus menerus. Maka, ketika diperiksa petugas, fisiknya masih terlihat lemah.

Continue reading “Akhir Perjalanan Tukang Obat”

Cerita tentang Bunga Kematian

Sejak tiga hari lalu, tiba-tiba aku agak terobsesi dengan bunga kamboja. Aku gak tau kenapa. Aku ngerasa ada sesuatu yang membuatku tiba-tiba suka banget sama bunga itu. Dan aku juga gak tau persis “sesuatu” itu apa.

Pohon bunga kamboja, bahasa latinnya Plumeria alba, ada di depan kosku. Orang Bali menyebutnya bunga jepun. Dan itu sama dengan nama ibu kosku, juga nama ibu mantan cewekku. 🙂 Pohonnya tinggi, sekitar 3 meter, dengan banyak cabang. Daunnya hijau terbagi dua, seperti daun pohon pisang tapi ukurannya jauh lebih kecil. Bunganya putih dengan ruas-ruas membentuk lingkaran, mirip terompet. Tapi ya ukurannya lebih kecil. Baunya harum tapi nyiumnya harus deket.

Continue reading “Cerita tentang Bunga Kematian”