Blog

Multi Level Marketing tuh Penghisapan!

Baiklah, aku tuliskan kembali. Aku hanya mengutip dari Manifesto Partai Komunis, -buku fotokopian usang bersampul hijau dengan stiker Marlboro di tengahnya. Ironis! Salah satu pinggirnya rusak dimakan rayap, seperti komunisme yang semakin usang itu kali-.

Sebanding dengan berkembangnya borjuasi, yaitu kapital, maka dalam perbandingan yang sama berkembang jugalah proletariat, kelas pekerja modern, yaitu suatu kelas buruh yang hanya hidup selama mereka mendapat pekerjaan dan mendapat pekerjaan selama kerja mereka mendambah besar kapital (hal 32).



Prosesnya kurang lebih demikian. Buruh menjual tenaga untuk memproduksi barang di pabrik yang milik pemodal. Lalu barang itu dijual dengan keuntungan tertentu untuk kemudian diambil pemodal. Dari situ pemodal mendapat untung, dan lalu menggaji buruh. Semakin besar modal, semakin besar untung yang didapat. Buruh akan tetap dipertahankan kalau mereka menghasilkan untung. Maka, tidak ada pilihan lain selain kerja, kerja, kerja, kerja,…. Menurut logika ekonomi, kata Adam Smith, itu wajar.

Tentu saja itu tidak adil. Dan, memang itulah sisi buruk kapitalisme. Sisi baiknya, sih banyak juga. Seperti aku bisa nulis di komputer, kirim surat lewat email, bikin blog, juga posting tulisan ini. :p

But, soal kapitalisme, aku pikir juga bener kata Ichlasul Amal ketika masih jadi rektor UGM Yogya. “Emang kita mau hidup di planet asing (lalu lari dari kapitalisme?),” katanya ketika diwawancarai majalah Balairung. Kali ini soal multi level marketing (MLM).

Seorang bekas teman, -lucu juga ya, bekas teman?- sekarang ikut MLM. Kalau cuma ML aja sih enak :p, but ini soal MLM. Padahal dulunya dia getol ngomong soal anti penghisapan dan seterusnya. Rak bukunya juga penuh dengan buku “kiri” seperti karya Semaoen, Tan Malaka, Karla Marx, Antonio Gramsci, dan seterusnya. Ya, kali soal pilihan hidup. Tapi apa yang dicari: Duit? Kebahagiaan?

MLM, apa bedanya dengan sisi gelap kapitalisme itu? Dia menghisap jauh lebih sadis pada tenaga orang lain. Langgengnya kapitalisme karena adanya modal berupa uang, entah pinjam atau warisan. Tapi MLM, modalnya apa? Jelas sangat sedikit uang lalu selebihnya adalah omong kosong. Anda harus membeli produk tertentu dengan harga yang jauh lebih mahal, bisa sampai puluhan kali lipat dari barang sejenis di pasar.

Barangnya bisa mulai sabun, pemutih kulit –ehm!-, minyak wangi –yang menyemprot mahasiswa layaknya gas air mata-, dan barang-barang tersier alias barang yang tidak ada pun kita gak bakal mati.

Bukan soal mutu, tapi soal citra. Barang dengan harga mahal itu belum tentu lebih bagus dari barang sejenis di pasar. Tapi citranya itu lho. Karena lebih mahal, seolah-olah barang itu lebih bagus. Padahal itu omong kosong. Ongkos omong kosong itu harus ditebus pembeli dengan harga yang tinggi. Dari omong kosong itulah seseorang bisa dapat untung.

Lalu dia memberi pada up line atau apalah istilahnya, pokoknya pada orang yang posisinya lebih tinggi karena sudah mengajaknya masuk dalam bisnis tersebut. Orang di atasnya akan memberi keuntungan lagi pada orang yang lebih tinggi. Sistemnya mirip piramida. Terus bertumpuk. Orang di bawah bawahan Anda akan otomatis memberikan keuntungannya pada Anda, meski Anda tidak mengenalnya. Sebab dia ikut bisnis lewat bawahan Anda. Namanya downline.

Nah, dengan modal omong kosong itu Anda bisa dapat untung tanpa bekerja karena down line-down line Anda akan terus memberikan keuntungan. Sekali lagi, Anda hanya butuh modal omong kosong. Lalu uang itu akan datang dengan sendirinya. Anda tinggal duduk santai di rumah atau baca blog ini sambil menghisap rokok. Sama halnya dengan menghisap kerja keras down line Anda.

Tertarik?

Ketika Polisi Belagak Jadi Koboi

Anggota Poltabes Denpasar punya tugas tambahan. Mereka tidak hanya menangkap penjahat atau menilang pelanggar lalu lintas. Sejak Senin kemarin, mereka juga harus memantau sapi-sapi liar di Denpasar. Perintah itu disampaikan Kapoltabes Denpasar Kombes Made Dewa Parsana pada anak buahnya. Menurut Parsana, sapi-sapi liar di Denpasar rentan mengakibatkan kecelakaan.

Esoknya, perintah itu langsung dilaksanakan. Selasa kemarin, dua peleton polisi melakukan operasi di daerah Ubung yang memang banyak sapi liarnya. Dua pasukan itu masih dibantu beberapa intel berpakaian preman serta babinsa setempat. Beberapa warga juga membantu.

Berbekal tambang, layaknya koboi, mereka mencoba menangkap sapi-sapi tanpa KTP itu.

Kejar-kejaran di tanah terbuka itu pun terjadi. “Seharusnya kita pakai jaring. Kalau pakai tambang, takutnya nanti disepak,” kata salah satu polisi. Hasilnya, eh, tak satu pun sapi yang mereka dapat. Walhasil, operasi penertiban akan terus dilakukan..

Artinya, Pelanggaran HAM Diperbolehkan dengan Alasan Tertentu?

“Lalu kenapa kalau melanggar HAM?” bupati itu balik bertanya. Kami diam. Aku baru hendak menjawab, dia sudah menambah lagi. “Saya kan berhak melindungi masyarakat saya dari ancaman HIV/AIDS.” HAM yang sedang kami bicarakan tentu saja hak asasi manusia, bukan HAM-burger apalagi HAAAM, apa ya? :p Aku dan teman sedang liputan soal HIV/AIDS di Jembrana, kabupaten paling barat Bali selama dua hari kemarin.

Ceritanya, 13-14 Januari lalu Pemkab Jembrana melakukan sweeping kartu tanda penduduk (KTP) bagi warga pendatang. Ini sih hal yang biasa dilakukan di daerah urban seperti Denpasar, Jakarta, Batam, atau kota lain. Persoalannya, pemeriksaan bukti sebagai warga negara yang baik itu dilakukan dengan tendensi pencegahan HIV/AIDS.

Dua hari sebelumnya, bupati menerima proposal lokakarya tentang HIV/AIDS. Di dalam proposal yang dibuat Dinas Kesehatan setempat itu disebutkan bahwa saat ini ada lima warga Jembrana positif HIV/AIDS. Data berdasar pada hasil serosurvey yang rutin dilakukan dinas kesehatan. Serosurvey itu tes darah secara unlink dan anonymus, artinya tidak diketahui darah siapa yang positif HIV/AIDS. Lokasinya di daerah beresiko tinggi (resti) seperti lokalisasi (terbuka maupun terselubung) dan cafe-cafe.

Nah, begitu tahu soal data tersebut, bupati terkesan panik. Apalagi, data tersebut juga dimuta media-media lokal di Bali. Bupati yang juga dokter gigi itu segera membuat tim gabungan dari satpol PP -yang selalu menangkap orang-orang kecil-, polisi -yang beraninya juga cuma penjahat kecil-, anggota DPRD -yang tidak berani digaji kecil ;p-, dan lain-lain. Tim gabungan itu ditugaskan melaksanakan pemantauan, pembinaan, dan penertiban kependudukan pada 13-31 Januari. Tim ini dibuat per 12 Januari 2005.

Dilihat dari tanggal proposal masuk, tanggal pembentukan tim gabungan, serta waktu operasi, jelas terlihat kalo operasi itu khusus nangkepin orang yang dicurigai positif HIV/AIDS. Maka, sasaran operasi pun daerah-daerah resti seperti lokalisasi (tertutup) di Gilimanuk dan kafe-kafe di pantai Delodberawah. Hasilnya, 11 orang dibawa ke kantor Satpol PP. Mereka lalu dites darah untuk mengetahui positif HIV/AIDS apa tidak.

Ini masalahnya! Selama ini, untuk tahu orang itu positif HIV/AIDS atau tidak tuh dilakukan dengan VCT alias tes darah sukarela. Tidak boleh dipaksa. Namun kali ini mereka dipaksa. Kata kepala dinasnya sih itu bukan VCT tapi serosurvey. Tapi serosuvery pun tidak boleh dilakukan secara paksa. Ini sudah standar penanganan masalah HIV/AIDS internasional. Hasilnya sendiri semuanya negatif.

Tes darah secara paksa inilah yang dikategorikan melanggar HAM. Tudingan itu datang dari kalangan aktivis HIV/AIDS di Bali maupun nasional. HIV/AIDS tidak mengenal identitas. Semua bisa tertular. Eh, bupati yang cerdas itu malah dengan santainya bilang kaya gitu tadi. Jadi heran aja. Padahal dia kan juga profesor di salah satu universitas swasta di Denpasar. Kalau memang mau menanggulangi HIV/AIDS, tidak bisa dong dengan cara-cara melanggar hak asasi penjaja seks komersial dan cewek kafe itu. Kan seperti lagu Seurius, “Cewek juga manusia. Punya mata punya hati..” 🙂

Ah, Masa Harus Ngancurin Berhala Kaya' Ibrahim?

-huh, akhirnya bisa juga posting catatan pas Idul Adha ini. beberapa kali mau posting, ada aja masalah soale-

Soal khotbah Idul Adha yang bagiku tidak menarik. Secara body language. Dari awal hingga akhir khotbah, khotib itu terus saja melihat catatan yang dipegangnya. Mukanya aku lihat selalu menunduk. Padahal ribuan umat yang hadir di Masjid Agung Sudirman Denpasar itu melihat ke arahnya. Mbok ya sekali-kali melihat ke arah kami, kek. Biar keliatan gimana mimiknya.

Selain wajah, tangannya juga terus menerus memegang catatan. Jadi, tidak ada gerakan atau bahasa tubuh yang bisa membuat kami -atau cuma aku ya?- menikmati khotbahnya. Monoton. Boring!

But, paling parah justru materi khotbahnya. Selama sekitar 30 menit, khotib itu melulu ngomong soal bagaimana perintah berqurban bisa turun. Perintah ini tidak lepas dari sejarah Ibrahim, yang kemudian melahirkan keturunan pembawa Yahudi, Nasrani, dan Islam. -Iya ya, padahal satu kakek, kok kebanyakan penganut tiga agama ini sering gontok-gontokan-. Sejak kecil, Ibrahim sudah berani melawan keyakinan orang tuanya. Salah satunya dengan menghancurkan berhala-berhala di tempat kelahirannya. Lalu, kapak yang dipake untuk menghancurkan itu dikalungkan pada leher berhala paling besar. “Kita harus meneladani keberanian Ibrahim melawan keyakinan orang tuanya,” kata khotib itu.

Khotib itu tidak menjelaskan bagaimana “melawan” itu. Cuma aku pikir, masa iya sih melawan dengan cara sekasar itu. Secara frontal. Menghancurkan. Juga, masa harus menghilangkan keyakinan orang lain? Aduh-aduh, hari gini kok masih ada khotib kaya gitu.

Lalu, berlanjut soal bagaimana Ibrahim mengurbankan Ismail untuk disembelih sebagai tanda cinta kepada Tuhan. Dengan kuasa Tuhan, Ismail diganti qibas -ya, mungkin di Indonesia semacam kambinglah-. But aku heran kenapa khotib itu kok tidak memberi sesuatu yang kontekstual ya. Biar kita bisa mengambil hikmah dari khotbah itu.

Tidak usah berat-beratlah. Paling baru kan ada soal Aceh. Kenapa tidak nyinggung soal bagaimana harus membangun solidaritas. Atau mengorbankan sesuatu untuk kemanusiaan di tempat lain-lain. Khotib itu cuma cerita tentang sejarah. Tapi tidak memberikan sesuatu yang bisa dicontoh. Jadi, tidak ada bedanya dengan cerita guruku pas masih di SD.

Lalu, Kenapa Media Itu Mati Satu per Satu?

Rekan-rekan,

Jika Anda perhatikan, sudah 2 bulan terakhir ini (Desember 2004 dan Januari 2005), halaman khusus “Bentara” di harian Kompas yang biasanya hadir Rabu pertama setiap bulan, tidak terbit. Kabar yang saya terima dari beberapa rekan di Kompas, bahwa halaman khusus itu akan dihentikan penerbitannya. Tak ada alasan yang jelas dan pasti. Sementara sejumlah rekan, penulis esai, penyair, pengamat seni-budaya, seniman, mahasiswa, yang selama ini rajin mengikuti pertukaran pemikiran di dalam “Bentara”, merasa kehilangan.

Selama 4 tahun kehadirannya, “Bentara” telah menjadi ruang latihan intelektual yang berharga bagi kita untuk mengembangkan kemampuan mengemukakan pendapat dan pemikiran dalam bentuk esai. Juga ruang yang berharga di mana puisi masih mendapat tempat penting sebagai bagian perkembangan kesenian di negeri ini. Ia juga jadi etalase bagi ilustrasi atau foto karya seni rupa agar bisa tampil ke hadapan publik yang lebih luas.

Sebagai salah seorang yang awalnya terlibat ‘urun gagasan’ penerbitan “Bentara” tentu saja saya sangat berharap lembar khusus itu bisa terus terbit di Kompas.

Untuk itu, saya mengajak rekan-rekan mengirim e-mail kepada rekan-rekan di Kompas yang selama ini menjadi penjaga rubrik “Kebudayaan” termasuk “Bentara”–untuk mempertanyakan hal ini, sekaligus memberi dukungan dan dorongan agar lembar khusus “Bentara” segera terbit kembali.

Harapan saya, semua e-mail itu bisa jadi semacam ‘mosi dukungan’ bagitim editor “Bentara” untuk diajukan kepada Dewan Redaksi Kompasyang “entah apa alasannya” telah menghentikan penerbitan “Bentara”. Mohon sebarluaskan permintaan dukungan ini. Dan, segeralah berkirim e-mail ke:

Bre Redana: don@k…

Efix Mulyadi: efix@k…

Salomo Simanungkalit: sal@k…

Terima kasih.

Enin Supriyanto

==========================

-Aku dapet email itu dari milis pantau-komunitas@yahoogroups.com. Kaget juga tahu bahwa Kompas, media yang selalu jadi ukuran kemapanan media di Indonesia, ternyata terancam rugi juga. Buktinya ya Bentara, rubrik yang berbobot itu tutup juga. Padahal, Bentara memang sesuatu yang sangat berbeda di tengah “kedangkalan” informasi di Indonesia.

Dan, kemarin aku juga ngobrol sama teman wartawan Latitudes, majalah budaya di Bali yang terbit dalam bahasa Inggris, bahwa medianya juga akan tutup. Padahal Latitudes termasuk media yang mendapat tempat di kalangan pecinta budaya, entah yang pop, tradisional, maupun yang lain. Buktinya, Goenawan Muhamad, Adrian Vickers, Ayu Utami, Clifford Geertz, Maria Hartiningsih, dan penulis bagus lainnya pernah nulis di media yang berdiri lima tahun lalu tersebut.

Dan, baru kemarin rasanya aku baca berita bahwa Far Eastern Economic Review -berpusat di Hongkong- juga tutup. Dua media di Singapura yaitu Channel U News TV dan koran Streats, milik Singapore Press Holding, yang nerbitin The Straits Time, juga tutup.

Ah, kenapa semakin banyak saja media bermutu yang mati. Padahal, baru tadi pagi aku baca tulisan di buku Lifestyle Ecstasy, bahwa abad ini adalah abad informasi. Lalu kenapa satu per satu penyedia informasi itu mati?

Soal Keberanian, Uang, dan Pilihan

Seorang teman, juga senior, hari ini ngobrol dengan agak sinis. Bahkan, ketika ngobrol bibirnya terlihat bergetar. Entah karena marah atau karena memendam sesuatu yang dia sendiri tidak bisa menyampaikan persis lewat kata-kata yang disampaikan padaku. Kami bertemu di cafe, tempat yang biasanya identik dengan hal-hal santai. Jadi, agak ironi juga.

Soal keberanian. Tiba-tiba dia menyalahkanku karena aku dianggap tidak berani bekerja di media lokal. Tak hanya itu dia juga menyalahkan pers mahasiswa di mana aku pernah belajar. Juga, organisasi jurnalis yang saat ini aku ikut di dalamnya. -Eh, dia juga ikut di situ, ding. Bahkan dia yang mendirikan-

Bermula dari obrolan soal media yang dia didirikan sekitar sebulan ini. Tabloid mingguan dengan topik umum. Laporan utamanya sih selalu politik.Tapi isinya ada juga seni, berita nasional, juga tokoh. Aku pernah diajak masuk. But ku tolak. Ketika ngobrol itu aku baru tahu bahwa tiga wartawan tabloid itu sudah keluar. “Ah, mereka memang tidak sanggup dengan ritme kerjanya,” kata teman itu. Lalu dia menyalahkan kenapa tidak ada alumni pers mahasiswa tempatku yang tidak mau masuk di medianya. Juga mengatakan bahwa alumni pers mahasiswa itu tidak berani kritis.

Aku sebutkan dua nama alumni yang di Komisi Pemilihan Umum Provinsi Bali dan di Bali Corruption Watch.

“Itu kan dulu. Yang sekarang mana?”

Lalu dia nyerocos soal pilihan yang kuambil. “Kamu masuk media mingguan nasional hanya karena mau enaknya. Karena kamu tidak mau susah bekerja di harian lokal.”

“Ya, itu soal pilihan. Kalau ada pilihan enak, kenapa harus cari yang susah.”

“Karena kamu hanya mikir soal duit.”

“Itu hanya salah satu faktor. Sebab lainnya karena soal waktu. Kerja di harian lokal sangat memeras waktu sementara duit kecil.”

“Kalau begitu tidak usah ngomong soal anti amplop dan serikat pekerja. Kalau kamu tidak bekerja di media lokal, berarti kamu tidak berani untuk melakukan itu semua. Bla bla bla..”

Banyak banget omongannya. Semua menyudutkanku. Menyalahkanku.

Melihat wajahnya yang memerah dan omongan yang semakin meninggi. Aku diam saja. Lalu pembicaraan usai.

Lokal, Global, Gombal!

Sore tadi ikut nimbrung ngobrol santai sama David T Hill dan Krishna Sen. Mereka suami istri dari Australia. Si Suami adalah profesor kajian Asia Tenggara Univ Murdoch sedangkan istrinya profesor kajian Media di Asia. Krishna, katanya, masih punya hubungan keluarga dengan Amartya Sen, pemenang nobel di bidang ekonomi. Aku lupa tahun berapa.

Diskusinya santai banget. Sekitar 20 orang duduk mengitari dua meja sambil minum teh anget. Juga, pisang goreng dll. Pesertanya ada mahasiswa, wartawan, aktivis, dosen, juga penulis.

Obrolan seputar politik media lokal. But, obrolan agak mentok di definisi media lokal. Hari gini masihkah ada yang lokal. Atas dasar apa? Segmen pembaca? Materi berita? Jangkauan? Kalau toh ada definisi itu, lalu untuk keperluan apa? Ekonomis? Politis?

Lokal, apakah harus yang bersifat kedaerahan? Kalau toh di daerah, tidakkah lambang-lambang yang global itu juga semula hanya lokal. Meski agak beda konteks, KFC pun hanya resep ayam goreng dari sebuah kota bernama Kentucky. Lalu, dengan kekuatan promosi dia menjadi besar. Jadilah sesuatu yang identik dengan globalisasi. Juga di dunia mode. Tidakkah ada penyeragaman style dari lokal banget kemudian dipublikasikan sehingga kemudian jadi sesuatu yang melintas batas kelas atau ras atau apalah. Bla..bla..bla..

Atau, di dunia media, cobalah kita ambil contoh Jawa Pos. Tidakkah dia semula hanya sesuatu yang bersifat lokal. Bahkan sampai sekarang pun kantor pusatnya masih di Surabaya, kota yang juga masih identik dengan “daerah”. But, siapa sih yang tidak tahu Jawa Pos? Dia menggurita dengan Radar yang hampir ada di tiap daerah di Indonesia.

Lokal, global, jangan-jangan sesuatu yang gombal. -Ih, maksa banget , ya?-

Benar-benar Perjalanan di Atas Awan…

-catatan perjalanan pekan lalu-

Jumat, 31 Desember 2004. Pukul 09.30 wib di Jl Garut No 6 Malang. Kami berdoa terlebih dahulu sebelum berangkat. Rombongan terdiri dari 28 orang yang berasal dari tiga kelompok: alumni Encompass Trust, anggota YEPE Malang, dan Gladi Yogyakarta. Hari ini kami akan melakukan perjalanan ke desa Ranupane di kaki gunung Semeru, gunung tertinggi di Jawa. -kalau gak salah malah tertinggi di Indonesia-

Kami akan meresmikan contoh rumah sehat di desa perbatasan Malang-Lumajang tersebut. Rumah ini dibangun oleh tiga organisasi yaitu Yayasan Agadhipa, Encompass Trust, serta YEPE Malang. Aku dan teman alumni Encompass yang lain diundang untuk hadir di peresmian itu. Sekalian jalan-jalan tahun baru kenapa tidak?

Rombongan dibagi jadi dalam lima mobil. Tiga mobil Land Rover punya Gladi yang warnanya seragam, oranye. Dua yang lain di Kijang dan Panther. Aku dan lima tujuh teman lain naik di Land Rover panjang bernopol BG 1070 KA. Ini memang mobil paling panjang. Karena itu penumpang dan bawaannya pun paling banyak. Biar bisa saling kontak, tiap mobil Land Rover itu dilengkapi radio Orari. Jadi inget tahun 80-an pas Orari ngetrend di kampungku. 🙂

Ketika sampai di Tumpang, dua mobil “baik-baik” (Kijang dan Panther) berganti dengan Hard Top hitam nyewa di penduduk setempat. Beberapa warga Tumpang memang menyewakan mobil untuk dipakai ke Ranupane. Harganya sekitar Rp 150 ribu sekali jalan.

Keluar Tumpang, kami mulai melewati beberapa desa penghasil apel. Asik banget lihat langsung kebun apel dengan buah yang dibungkus kertas putih. Maklum, selama ini kan aku jarang liat pohon apel. Jadi pas lihat itu ya seneng banget. Kaya orang gunung liat pantailah.. Di desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo ratusan hektar kebun apel itu berada di kanan kiri jalan. Beberapa orang sedang memetik apel. Ada pula tumpukan apel di dalam keranjang yang siap dijual. Maunya sih kami membeli dari mereka. But, ga enak sama rombongan. Jadi ya liatin aja.

Setelah itu perjalanan semakin mendaki. Jalan masih beraspal meski tidak sebagus sebelumnya. Di kanan kiri kami mulai terlihat jurang dengan kedalaman ratusan meter. Ngeri campur takjub. Dingin pun mulai terasa di tengkuk. Syal Khmer yang semula kuikat di kepala mulai kuturunkan di leher. Jaket dieratkan.

Jurang semakin dalam dan mengerikan, juga menakjubkan setelah itu. Jalan tak lagi beraspal tapi berpaving. Kadang-kadang rusak. Di satu point, jalanan yang kami lalui sangat kecil, hanya cukup untuk satu mobil dan di kanan kirinya persis ada jurang. Tikungan juga semakin tajam. Aku merasa ngeri. Takut bagaimana kalau mobil yang kami tumpangi tergelincir jatuh ke bawah sana. Ih, ngeri..

Kengerian semakin bertambah ketika mobil yang aku tumpangi terlihat mulai kurang beres. Kadang-kadang mati. Paling parah terjadi sekitar tiga jam perjalanan dari Malang. Ketika jalanan mendaki, tiba-tiba mobil mati. Di kiri kami hanya jurang. Secara refleks, kami turun lalu menahan mobil agar tidak mundur. But, mobil masih mundur meski sudah diganjal. Jantung berdegup kencang.

Parahnya lagi, mobil bener-bener gak mau hidup. Akhirnya didorong dengan mobil di belakangnya. But, jalanan semakin mendaki. Tajamnya bahkan sampai 45 derajat kali. Selain itu juga berkelok. Alhasil, mobil yang mogok pun ditinggal. Beberapa penumpang pindah ke mobil lain. Juga barang bawaannya.

Untungnya tak lama abis itu mesin mau hidup setelah disiram pake air segala. Penumpang berganti. Kali ini semuanya cowok. Posisinya pun semuanya siap loncat sewaktu-waktu mobil mogok. Semua juga bawa satu penahan ban entah batu, kayu, atau benda lain. Eh, ternyata abis itu mobil melaju dengan lancar. Padahal jalanan tetap semakin mendaki, kelokan semakin banyak, dan tambah rusak.

Kami malah menyalip beberapa mobil yang lain. Lalu kami berada paling depan. Sampai di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, mobil berhenti. Inilah satu-satunya desa yang kami temui dalam perjalanan setelah masuk kawasan Taman Nasional Tengger Bromo Semeru. Petani di desa ini bertanam di tanah yang miring banget. Gimana mereka bisa berdiri di tempat miring begitu? Gila juga, pikirku.

Sekitar pukul 1.30 siang, kami sampai di point Jemplang. Di tempat ini ada dua tempat istirahat. Sayangnya penuh coretan. Kabut menyelimuti kami. Ketika bernafas, asap keluar dari mulut kami. Wah, serasa di luar negeri pas musim dingin. 🙂

Point Jemplang merupakan pertigaan. Kalau terus akan mengarah ke Ranupane sedangkan kalau belok kiri akan mengarah ke gunung Bromo. Ada lembah yang terbentuk dari lingkaran gunung Widodaren. Di bawah sana, hamparan semak menjadi pemandangan menarik. Awan berarak di bawah sana. Kami di atas awan! Udara jauh lebih dingin. Mungkin sekitar 5 derajat celcius.

Usai melepas penat, perjalanan dilanjutkan. Hingga dua jam kemudian tiba di Ranupane. Desa kecil ini merupakan desa terakhir sebelum mendaki Semeru. Katanya sih perlu waktu tiga hari untuk sampai di puncak Semeru dari tempat ini. Mau nyoba? Kalau aku sih kapan-kapan aja. 🙂

Ranupane masuk Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. But, jalan paling cepat ya lewat jalanan yang aku lewati tadi. Petani di desa ini menanam bawang prei, kubis, dan sayur lain. Penduduknya sekitar 300 orang dengan rumah yang terpencar. Ada satu SD, satu puskesmas, satu masjid, dan satu… pura! Pura itu hanya berjarak sekitar 100 meter dari masjid. Wah, mereka ternyata hidup berdampingan dengan damai meski beda agama. Hm, kali banyak orang harus belajar soal toleransi ke desa ini.

Setelah istirahat bentar, acara peresmian rumah sehat itu dilakukan. Ya, seremonial gitulah. Rumah itu diharapkan jadi contoh rumah sehat bagi warga lain. But, aku juga tidak melihat sesuatu yang berbeda kecuali perapian yang dipindah ke ruang tamu dan kamar mandi yang terpisah. That’s all.

Sore itu pula kami kembali. Aku berganti mobil. Ternyata perjalanan pulang jauh lebih menyenangkan. Mungkin karena sudah tahu medannya. Juga karena jalanan lebih banyak turun. Semburat merah matahari tenggelam membuat sore itu begitu menakjubkan. Di kanan kiri kabut. Dan di depan sana cakrawala itu merekah begitu indah. Cakrawala dan kabut itu lebih rendah dari tempatku berada. Lagi-lagi, aku benar-benar berjalan di atas awan..