Blog

AHMAD WAHIB AWARD 2005

-pengennya sih posting yang lain. but, belum ada. jadi ya ini aja. dikirimi seorang temen. kali aja ada yg tertarik-

Forum Mahasiswa Ciputat (FORMACI), Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Freedom Institute (FINS) menyelenggarakan Sayembara Penulisan Esai “AHMAD WAHIB AWARD 2005”dengan tema “Bergulat dengan Islam” bagi mahasiswa (S1) se-Indonesia, adapun pilihan tema turunan:
1. Mahasiswa Mencari Islam: Sebuah Refleksi Pribadi
2. Fenomena Fundamentalisme di Kalangan Mahasiswa

Hadiah:
Esai terbaik Rp. 30.000.000,-
(Tiga puluh Juta Rupiah)

Dewan Juri:
§ Budhy Munawar-Rachman
§ Hamid Basyaib
§ Lies Marcoes
§ Lily Munir
§ Moeslim Abdurrahman

Ketentuan:
Peserta memilih salah satu dari tema turunan di atas.
Naskah harus asli, bukan terjemahan, bukan saduran, atau mengambil dari karya yang sudah ada.
Naskah belum pernah diterbitkan di media massa dan tidak sedang diikutkan dalam lomba karya tulis apapun.
Naskah yang masuk menjadi hak panitia dan tidak dikembalikan.
Keputusan juri bersifat mutlak, mengikat dan tidak bisa diganggu-gugat.
Perlombaan tidak berlaku bagi panitia.
5 (lima) orang nominator akan diwawancarai oleh Dewan Juri. Pemberitahuan akan diberikan kemudian.
Lomba ini menekankan aspek argumentasi, ketajaman pikiran dan gaya penulisan.

Persyaratan:
Peserta tidak diperkenankan mengirim lebih dari satu naskah.
Naskah dikirim rangkap tiga, diketik di atas kertas kwarto, spasi ganda, menggunakan font Times New Roman dengan ukuran huruf 12, 20-30 halaman.
Lampirkan biografi singkat penulis, fotokopi KTM dan 2 lembar foto berwarna ukuran 3×4. Sertakan alamat lengkap, nomor telepon (sangat penting) dan e-mail.
Naskah dimasukkan ke dalam amplop tertutup dan di sudut kiri atas amplop tulis “Sayembara Penulisan Esai Ahmad Wahib Award”.
Naskah dikirim ke: Panitia Sayembara Penulisan Esai “Ahmad Wahib Award 2005”. Alamat: FORMACI, JL. Semanggi I No. 16 B, Cempaka Putih, Ciputat-Jakarta Selatan, Kode Pos 15412. Telp. 021-9212782.
Panitia juga mengharapkan naskah dalam bentuk file melalui e-mail: ahmadwahib_2@yahoo.com
Naskah dikirim ke panitia paling lambat tanggal 10 Mei 2005 (cap pos).

Pengumuman Pemenang
Tanggal 27 Juni 2005
Pada Malam Anugerah Ahmad Wahib Award 2005
di Wisma Antara

Contact Person:
08151653689 (Muhammad Akib), 081510076848 (Agus Budianto).

Ketika Patrick Terusik Harga BBM yang Naik

-judulnya maksa ya?-

Topik paling rame dibicarakan hari-hari ini adalah soal kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Demo di berbagai tempat kembali marak. Isunya menentang kenaikan harga BBM. Argumentasinya sih karena kenaikan harga BBM akan semakin menyengsarakan rakyat miskin. Trus di koran, TV, majalah, dan media lain juga ribut2 soal kenaikan BBM ini.

Selain kenaikan BBM, ada pula efek samping yang kini asik jadi bahan diskusi. Paling gres sih soal iklan Freedom Institute di (yang aku tau sih hanya) Kompas (Sabtu, 26/2) lalu. Dalam iklan berwarna satu halaman penuh, harganya mungkin ratusan juta, itu Freedom Institute menyatakan beberapa alasan kenapa mereka mendukung kenaikan BBM. Freedom Institute ini didanai Aburizal Bakrie, salah satu menteri pemerintahan saat ini. Beberapa orang di dalamnya adalah Andi Mallarangeng dan Dino Pati Jalal, keduanya juru bicara presiden. Selain itu ada pula beberapa intelek seperti Goenawan Muhamad, Ulil Absar, Frans-Magnins Suseno, dst..

Salah satu alasan yang disampaikan Freedom Institute adalah bahwa selama ini harga minyak di Indonesia terlalu murah dibanding harga di pasar dunia. Aku gak inget persis. Karena selisih ini, pemerintah Indonesia harus mensubsidi sekitar Rp 200 milyar per hari. “Bayangkan berapa banyak rumah sakit atau sekolah yang bisa kita bangun dengan uang segitu,” kurang lebih gitulah iklan mereka.

Di Kompas, perdebatan soal ini sangat seru. Ada yang menuding kelompok intelektual itu sudah melacurkan diri. Meminjam istilahnya Gramsci sudah jadi intelektual organik-nya penguasa. Ada pula yang menuduh pengkhianat. Dst. Selain menuduh soal “perselingkuhan” intelek dengan penguasa, juga ada yang bilang iklan itu seperti komunikasi yang tidak cerdas. Kompas hari ini aku belum baca. Tapi mungkin perdebatan soal itu masih rame.

Waduh, aku jadi nglantur. Padahal cuma mau posting pikiranku soal kenaikan BBM. Soalnya gak asik juga kalau aku gak ikut mikir soal itu. Meski, ya cuma mikir, -dan malu2 posting di blog-. Ya, pengalaman personal aja. Tidak usah dibawa-bawa ke teori segala macam. Anggap saja ini mikirnya Patrick, si bloon di kartun SpongeBob.

Soal harga BBM yang naik, sampe sekarang aku belum terpengaruh. Nasi campur langgananku di Warung Jember Bu Nur masih tiga ribu perak per porsi. Seperti biasa aku masih tambah krupuk satu bungkus dan sekali-kali tambah gorengan. Total jendral empat ribu perak. Aku biasa menjatah sepuluh ribu per hari untuk makan. So, untuk soal ini aku belum terpengaruh.

Pengaruh yang -seharusnya- terasa sih harga bensin yang jadi Rp 2400 per liter dari semula Rp 1850. Tapi ini juga gak kerasa-kerasa amat. Aku tanya beberapa teman, dengan pendapatan yang mungkin tidak berbeda, juga mereka bilang gak terlalu ngaruh. Dengan alasan inilah aku pikir kenaikan BBM dengan alasan untuk pengalihan subsidi ke pendidikan dan kesehatan boleh saja.

Aku inget di kampung, di pesisir utara Jawa Timur. Setahuku di sana juga orang jarang yang pake BBM. Soalnya jarang yang punya motor, apalagi mobil. Mereka mungkin hanya beli minyak tanah untuk masak. But, setahuku harga minyak tanah untuk konsumsi rumah tangga tidak dinaikkan seperti yang lain. Harganya tetep 700 perak per liter. Minyak tanah pun hanya dipakai kadang-kadang. Mereka lebih sering pake kayu bakar. Lebih hemat dan lebih enak.

Masalahnya, justru orang-orang di kampungku jarang yang nerusin sekolah setelah SD, SMP, atau SMU. Aku sih beruntung karena bisa kuliah meski jungkir balik juga karena biaya sendiri. Alasan mereka tidak nglanjutin sekolah karena biayanya mahal. Nah, kalau subsidi itu dialihkan untuk biaya pendidikan, semoga saja semakin banyak orang di kampungku yang bisa sekolah lebih tinggi.

Kampungku hanya satu contoh. Kalau gak salah, sampe sekarang prosentase desa dan kota di Indonesia tetap banyak desa tuh. Artinya kondisi yang sama juga masih banyak terjadi di Indonesia, terutama di luar Jawa.

Selain biaya sekolah yang murah, semoga saja gaji guru juga dinaikin. Biar kakak-kakakku yang jadi guru bisa bertambah pendapatannya. Juga guru-guru yang lain.

Kalau subsidi itu bisa terwujud, waduh, aku sih dengan senang hati dan ikhlas nerima kenaikan harga BBM.

Masalahnya, bagaimana pengawasan agar subsidi itu memang terjadi?

Adakah Tempat untuk Orang-orang Miskin?

Menjelang siang di Jl Waturenggong, Denpasar. Jalan dua arah ini sering banget menyebalkan. Lebarnya cuma cukup untuk tiga mobil berjejer. Tapi banyak banget yang parkir di kanan kiri jalan. Kalo udah gini, bawaannya pasti macet. Motor saling serobot. Mobil saling ngotot. Semrawut! But, mau gak mau aku harus melewatinya tiap hari.

Jalan ini relatif kecil, seperti umumnya jalan raya di Denpasar. Pernah sih ada yang bilang kalau Denpasar memang tidak disiapkan sebagai kota. Karena itu jalannya kecil-kecil, meskipun jalan utama. Untuk tiga mobil berjejer aja jalan udah penuh.

Tapi siang itu jalan relatif lancar. Hanya ada mobil berjalan pelan di depanku. Aku juga ikut pelan.

Tiba-tiba saja mobil itu nglakson kenceng-kenceng. Aku menangkapnya sebagai petanda dia sebal atau marah. Dan benar saja. Mobil itu pelan, ternyata karena ada seorang pemulung barang bekas naik sepeda. Mobil itu mau nyalip, tapi agak susah. Mungkin karena lama nunggu tetap saja gak bisa nyalip, akhirnya dia sebal lalu bunyiin klakson kenceng-kenceng.

Pemulung itu lalu berhenti dan menepi. Pas mobil bisa nyalip, sopirnya bentak-bentak ke arah pemulung. Tentu saja pemulung itu hanya bisa diam. Secara ekonomi dan secara sosial jelas dia kalah. Pengendara mobil itu jelas naik mobil, dia hanya naik sepeda. Secara mental -dalam pengertian berani melawan- pemulung itu juga kalah. Lalu mau apa dia? Melawan?

Mata pemulung itu jelas tidak senang dibentak-bentak. Tapi dia kemudian hanya menunduk. Dia hanya berhenti.

Aku melihatnya, dan hanya bisa menahan nafas. Tidakkah pemulung itu juga punya hak pake jalan tanpa harus dibentak-bentak? Tidakkah semua sarana itu memang dibangun untuk kepentingan bersama, tidak hanya untuk mereka yang punya mobil? Kalau begitu, mereka yang naik mobil juga sekali-kali harus mengalah, dong.

Masa selalu saja orang miskin dan lemah harus dikalahkan?

Iri Juga Melihat Napi Itu Melakukan Yoga…

Jumat ini sepertinya jadi hari yang melelahkan. Aku harus bangun jam enam pagi. Padahal semalem abis nglembur. Liputan lalu nulis laporan soal kontroversi pengangkatan psikiater yang belum ujian nasional sampe pukul 11an. Abis kirim laporan lanjut ngopi di tempat nongkrong baru di Jl Waturenggong sampai setengah satu. Menjelang tidur, masih ngetik feature soal Candi Singasari di Malang untuk majalah The Echo. Deadline-nya hari ini padahal liputan sudah sejak akhir tahun lalu. Syukurlah akhirnya selesai juga pukul setengah tiga pagi.

Jam enam persis alarm HP berbunyi. Huh, padahal mata masih ngantuk banget. Udah capek, eh tidur cuma 3,5 jam. Padahal standarnya kan delapan jam. But, gimana lagi. Sudah resiko kerja tak terikat jam. Mau gak mau toh tetap harus bangun.

Pagi ini aku ke penjara Kerobokan di Kuta Utara. Aku lagi liputan soal narkoba di penjara. Kemarin sih udah ngobrol banyak sama petugas. Juga dikasi tau tentang bagaimana seluk beluk peredarannya dan bagaimana cara masuknya. Gila juga. Penjara ternyata bisa jadi tempat transaksi yang aman. Biar gak cuma ngobrol ma petugas, pagi ini aku masuk ke Blok H, blok khusus untuk napi narkoba. Asiknya lagi, pagi ini ada yoga untuk mereka.

Jadilah pagi ini aku ikut mereka yoga. But, karena belum bisa, jadi ya aku cuma ngeliat lalu foto-foto. He.he. Salut juga, ternyata mereka sangat disiplin. Dengan senang hati mereka bangun ketika dokter dan pemimpin yoganya sudah dateng. Tak sampai 10 menit, mereka semua sudah duduk rapi di aula seluas sekitar 10×10 meter persegi.

Sekitar 48 orang itu duduk bersila beralas kain tipis di ubin. Hampir semuanya buka baju. Ngiri juga melihat tato mereka yang memenuhi tubuh dan bagus-basgus. -Ehm, dari dulu aku pengen nato tubuh, tapi gak cukup berani menahan sakit. Jadi cuma bisa ngiri liat tato bagus-bagus-. Duduk mereka pun tidak perlu diatur-atur lagi karena sudah bisa mencari posisi masing-masing.

Yoga itu sendiri dilakukan untuk mengobati ketergantungan mereka pada narkoba. Kata pemimpinnya sih agar ketika keluar dari penjara, mereka semua bisa hidup lebih baik. Klise memang. But, harapan itu memang ada pada beberapa napi yang ngobrol sama aku. Dan, aku pikir memang demikian adanya. Salah satu buktinya ya mereka begitu disiplin ikut yoga.

Para napi itu pun disiplin mengikuti gerakan-gerakan I Putu Hardiyanto, yang memimpin yoga pagi itu. Dari sekitar setengah delapan sampe setengah sepuluh, mereka begitu biasa melakukan gerakan-gerakan tersebut. Hanya ada satu dua yang sekadarnya, bahkan ada pula yang berhenti karena kepalanya pusing.

Aku, sekali lagi cuma bisa melihat mereka. Juga moto-moto. Ya, lumayanlah buat bahan liputan, stok foto, juga bahan renungan. Aku menikmatinya meski masih sedikit ngantuk. Aku sering banget nguap..

Ogoh-ogoh pun Membawa Jarum Suntik..

Minggu kemarin perempatan Catur Muka Denpasar penuh sesak oleh lautan manusia. Catur muka merupakan patung dengan empat wajah yang ada di perempatan antara Jl Surapati, Jl Veteran, Jl Gajah Mada, dan Jl Sutoyo. Keempat jalan ini penuh dengan manusia. Saking penuhnya aku harus berjalan berhimpitan dengan orang-orang. Jalannya pun pelan banget. Maklum, kemarin adalah hari pertama Lomba Pawai Ogoh-ogoh. Kebetulan juga hari Minggu, jadi banyak orang yang nonton.

Ogoh-ogoh di Bali lahir awal 1980-an. Idenya dari Gubernur Bali saat itu, Ida Bagus Mantra. Ogoh-ogoh menjadi simbol hal buruk berupa patung dari bambu atau kayu dengan wujud raksasa jahat (buta kala). Dulunya, ogoh-ogoh dibuat menjelang Nyepi di hampir tiap banjar. Sehari menjelang Nyepi (disebut pengrupukan), ogoh-ogoh itu diarak ke kuburan terdekat lalu dibakar. Ini sebagai simbol membakar hal-hal buruk sebelum penyucian pas Nyepi yang juga tahun baru dalam kalender Bali.

Dua tahun terakhir, pemerintah Bali melarang adanya arak-arakan ogoh-ogoh. Sebab, kadang-kadang memang terjadi kericuhan ketika membawa ogoh-ogoh. Sepertinya larangan itu berlebihan. But, begitulah adanya. Sejak taun lalu, tidak ada lagi pawai ogoh-ogoh. Sebagai gantinya, pemkot Denpasar ngadain lomba itu tadi. Kali ini dalam rangka ultah Denpasar.

Karena lomba, bentuk ogoh-ogohnya pun tidak lagi konvensional berupa raksasa berwajah jelek. Kemarin misalnya, ada ogoh-ogoh yang berwujud perempuan berpakaian minim membawa jarum suntik dan minuman keras. Ada tulisannya Dewi Kenikmatan Penyakit Masyarakat. Heran juga kenapa harus cewek ya? -Eh, kalo cowok juga mungkin ada yang tanya kenapa cowok ya-.

Minggu kemarin sekitar 55 ogoh-ogoh diarak di perempatan catur muka itu. Tiap desa adat di Denpasar menampilkan ogoh-ogoh berukuran besar. Ada yang bertugas memikul, memainkan musik, menari, atau membawa tulisan. Dari pukul satu siang sampai sembilan malam, satu per satu ogoh-ogoh itu diarak. Bukan menang kalah yang dicari. Tapi bagaimana bisa membuat tradisi itu tetap bertahan. -Hm, karena inilah hidup di Bali sangat menyenangkan. Tiap ritual selalu bernuansa seni-

Property boom can have negative impact on local people

The Jakarta Post , Jakarta | Thu, 02/17/2005 11:27 AM | Life

Anton Muhajir, Contributor, Denpasar

It was drizzling that Saturday, but Ketut Karja and his two friends were still working in their rice field in Legian, on the outskirts of north Kuta. Across the street, several Westerners were seen sitting in the gazebo of a restaurant. They were separated only by several rice fields and a highway known as “”Sunset Road””.

It is a new road that connects Legian, Kerobokan and nearby areas with Nusa Dua, Jimbaran and other tourist areas in the south.

Continue reading “Property boom can have negative impact on local people”

Valentine, Kasih Sayang yang Dikomersialkan…

-catatan pas valentine-

Ketika aku masih kecil, mungkin TK atau SD, keluargaku tidak mengenal Valentine. Mungkin sampe sekarang pun mereka belum mengerti. Maklum, kami tinggal di kampung kecil, lumayan jauh dari kota. Namun, tanpa pernah tau apa itu Valentine, bukan berarti kami tidak mengenal kasih sayang.

Ketika itu, aku sering tidur di pangkuan ibuku kalo malam. Sambil ngobrol di depan rumah, beralas tikar, dan melihat rembulan. –Hm, i really miss it- Atau sekali-kali aku digendong bapakku di punggung menuju sawah atau hanya jalan-jalan. Atau aku makan sepiring bertiga atau berempat dengan kakak-kakakku. Kami semua saling menyayangi tanpa harus diverbalkan dengan bunga atau coklat atau kata-kata.

Ketika kuliah, aku baru tau kalau ada hari khusus untuk memperingati Valentine. Aku pernah baca sih Valentine itu nama seorang santo (?) yang dihukum mati karena berjuang demi cintanya. Atau semacam itulah. Valentine diperingati tiap 14 Februari. Biasanya sih memang dilakukan dengan pasangan misal pacar atau suami atau istri. But, tidak jarang pula dengan orang-orang terdekat.

Sikap orang pada Valentine pun macam-macam. Ada yang menolak karena Valentine identik dengan ajaran agama tertentu. -Ini sih sebenarnya dari kelompok orang yang bawaannya memang curiga melulu dengan agama orang lain-. Ada pula yang menolak merayakan dengan alasan budaya Barat (dengan B besar). Karena itu tidak perlu dirayakan. Toh, banyak juga yang merayakan, terutama mereka yang lagi kasmaran.

Dan semalam, aku melihat betapa banyak orang yang bersiap-siap merayakan Valentine. Di Jl Sutoyo Denpasar, tempat orang jualan bunga, bener-bener macet karena banyaknya orang yang beli mawar. Di Jl Sudirman, tumben-tumben aku lihat orang jualan bunga di pick up dengan tulisan Jual Bunga dan Bingkisan untuk Valentine. Toko pernak-pernik bernama Valentine di Jl Waturenggong dan Jl Diponegoro juga penuh sesak dengan pembeli. Malah pecalang (pengaman desa adat) ikut jadi tukang parkir. Di mall-mall, aku liat pembeli pada ngantri mau membeli pernak-pernik untuk diberi pada orang yang dikasihi.

Hm, begitulah. Selalu saja pasar memang mengambil kesempatan pada setiap perayaan. Tidak hanya pas Idul Fitri, Natal, Nyepi, atau Imlek. Semua momen selalu dijadikan kesempatan untuk melariskan produk. Dan, ketika Valentine, yang dikomersialkan itu kasih sayang. Seolah-olah kita tidak menyayangi orang terdekat kalau tidak memberikan hadiah pada orang tersebut.

Tentu saja, itu hak tiap orang untuk memilih merayakan atau tidak. Tapi aku memilih tidak. Tanpa merayakan Valentine, setiap hari hidup ini sudah penuh dengan kasih sayang. Dan, aku tidak mau jadi korban komersialisasi kasih sayang itu..

Betapa Bermaknanya Angka-angka Itu

Akhirnya tadi pagi aku bisa ambil duit lagi lewat ATM BNI. Soale udah tiga hari aku ingat-ingat dan tetap saja lupa. Semalem aku coba lagi semua angka yang aku ingat. Hasilnya? Tetap saja dibilang PIN ku salah. Lalu, tadi pagi aku coba kembali. Kali ini dengan angka-angka kombinasi 9 1 2 5. Mirip pelajaran Matematika pas SMP. -lucu juga, ternyata aku pernah begitu hobi Matematika ;p- Aku coba saja kombinasi-kombinasi yang mungkin dari angka-angka itu. Yang aku ingat cuma angka terakhir tuh 5. Jadi lebih mudahlah. And… pagi ini berhasil. Langsung aja aku ganti dengan PIN baru. Biar lebih gampang diingat.

Kasus ATM BNI berakhir dengan jalan keluar. But, kasus ATM Niaga-ku berakhir jelek. Sad ending. Ceritanya sudah pekan lalu.

Ketika sudah di depan mesin ATM, aku tiba-tiba lupa berapa nomor PIN-ku. Aku coba-coba 9 1 6 2 6 2. Mesin menjawab PIN salah. Aku coba lagi. 9 1 6 2 6 7. “Rasanya juga salah,” pikirku. Mesin itu kembali menjawab kalau PIN-ku salah. Parahnya, kartu ATM ku malah masuk dan tidak keluar-keluar. Sh*t!

Aku kembali mengingat-ingat. God! Ternyata aku benar-benar lupa. Bagaimana mungkin aku tiba-tiba lupa. Padahal tiap hari aku selalu ingat angka-angka “ajaib” itu. Sebab, tanpa angka-angka itu aku tidak bisa mengambil duit. Tanpa duit, alamaak, kecuali kita hidup di surga (atau neraka) baru kita bisa hidup.

Pada akhirnya, aku benar-benar lupa PIN-ku. Lalu besoknya aku terpaksa ganti kartu.

Hm, ternyata benar. Hidup kita memang hanya terdiri dari angka-angka. Banyak hal pada diri manusia saat ini sudah diberi kode-kode angka agar mudah mengenalinya. Misalnya KTP, SIM, paspor, dan seterusnya. Tanpa angka-angka itu, bisa jadi kita akan menjadi orang asing. Misalnya kita masuk Bali lewat jalur darat. Tanpa KTP, kita akan menjadi orang tidak jelas. Sebab, di Gilimanuk selalu diadakan cek KTP. Tanpa KTP, kita tidak boleh masuk.

Atau misalnya soal duit. Hanya dengan bermain angka, kita bisa tiba-tiba menjadi kaya raya. Bayangkan kita bisa bobol sistem pertahanan salah satu bank dengan nasabah jutaan. Tidak usah repot. Kita cukup pindahkan saja angka rupiah terakhir di tiap rekening ke rekening kita. Tidak banyak kan, cuma satu rupiah?

Tapi gimana kalau nasabah bank itu jumlahnya sampai puluhan juta. Lakukan seminggu sekali atau sebulan sekali. Maka kita bisa dapat puluhan juta hanya bermodal bisa membobol sistem keamanan bank itu. –he.he. ini sih terinspirasi dari Pret, temannya Elektra di Supernova edisi Petir-. Ya, tapi kenyataannya begitu. Angka-angka itu membuat kita tiba-tiba jadi kaya.

Lalu dengan karu Visa Elektron misalnya, kita tinggal membeli barang apa saja selama tabungan cukup. Kita tidak pernah melihat bagaimana wujud uang itu. Uang itu hanya rekaan. Hanya ilusi. Hanya angka-angka. Tapi tiba-tiba angka itu bisa berubah jadi kompi baru, DVD player baru, dan seterusnya.

Dalam skala lebih besar, ketika distatistik, kita juga disederhanakan dalam angka-angka. Dari situlah kemudian kebijakan pemerintah diambil. Pengaruhnya ke apa yang akan dibangun, bagaimana teknisnya, dan seterusnya. Angka-angka itu jadi hal yang sangat menentukan bagaimana hidup kita selanjutnya. Tanpa angka kita bukan apa-apa..

Tahun Baru Imlek Sih Ok. But, Hari Pers Nasional, Nanti Dulu…

Hari ini (Rabu, 9 Februari) hari libur nasional karena tahun baru Imlek. Soal tahun baru Cina, -yang bener pake Cina apa China sih?-, aku juga setuju. Kan kita juga harus menghormati teman-teman yang merayakan taun baru ini dengan suasana yang lebih khidmat. So,


Selamat Taun Baru
untuk Teman-teman yang Ngrayain..

Hari ini juga Hari Pers Nasional (HPN). Di beberapa sudut Denpasar ada spanduk bertuliskan Dirgahayu Pers Nasional Ke-21. Tulisan yang salah. Dirgahayu kan berarti semoga panjang umur. Berarti seharusnya Dirgahayu Pers Nasional gitu aja. Gak usah pake ke-21.

But, bukan itu poinnya. Hari Pers Nasional diperingati setiap 9 Februari karena pada tanggal inilah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) lahir. Kalau memang hari pers, tidakkah seharusnya memakai tanggal terbit koran pertama kali di Indonesia. Ya, meskipun ini juga harus dilihat media tersebut apakah untuk kepentingan penjajah ketika itu atau untuk perjuangan. Mungkin kita bisa minta bantu sejarawan. So, soal 9 Februari sebagai HPN bisa diperbaiki demi sejarah. -Gawat banget ya. Jadi inget soal G30S/PKI-

HPN taun ini diperingati di Pekanbaru Riau. Parahnya, panitia menghabiskan dana sekitar Rp 6 milyar pake APBD Riau. Kegiatannya seperti seminar, pekan olahraga, dan semacamnya. Alamaaak, benar-benar memalukan. Masa wartawan harus make dana pemerintah untuk kegiatan yang gak jelas itu. Kalau udah gitu, gak usah nulis soal korupsi. Soalnya, jangan-jangan mereka (wartawan yang ikut HPN) juga bagian dari korupsi itu.

Minum Larutan Kodok, Eh Tambah Keok..

Wayan Kariasa, sebut saja namanya begitu, dua minggu terakhir kaget. Badannya semakin kurus. Lengannya tidak lagi terlihat gagah. Padahal sebagai laki-laki tulen, jelas Kariasa ingin sekali berbadan kekar. Apa lagi pekerjaannya sebagai kernet jelas mengharuskan tubuhnya tetap sehat. Apa daya, berat badan semakin turun.

Bapak dua anak itu semakin cemas. Selain badannya semakin kurus, bagian tubuh yang lain juga terlihat bercak-bercak seperti cacar. Semakin hari, bercak itu semakin banyak. Kariasa mulai kalut dan takut.

Atas saran bapaknya, warga Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali itu kemudian bertanya pada balian (dukun). Kariasa awalnya menolak. Namun karena semakin hari badannya semakin kurus dan bercak di lengannya semakin bertambah, Kariasa pun akhirnya pergi ke balian. Sebagai ganti biaya, Kariasa membawa rokok Gudang Garam satu bungkus, beras setengah kilogram, dan duit Rp 5000.

Setelah berkonsentrasi sejenak dengan dupa mengepul di depannya, si balian itu berbicara kepada Kariasa. “Adik ini kena penyakit karena sering jalan malam. Sebagai obat, coba adik bawa tiga kodok hijau ke tiang (saya),” kata balian itu.

“Kenapa harus kodok?” tanya Kariasa.

“Adik mau sembuh apa tidak?” balian itu bertanya balik. Kariasa diam saja.

Malamnya, Kariasa pun berburu kodok hijau di selokan belakang rumahnya. Hanya dengan tangan kosong, Kariasa menangkap tidak hanya tiga tapi lima kodok sekaligus. Dibawanya lima kodok itu pada sang balian keesokan harinya.

Di tempat praktik balian, kodok itu dimasak tiga ekor. Sisanya dilepas kembali. Oleh balian, kodok itu direbus lalu airnya diberikan kepada Kariasa. Satu gelas air kecoklatan itu pun dihabiskan Kariasa sekali teguk. “Rasanya kaya air kencing,” kata Kariasa. Namun dengan harapan bisa sembuh, Kariasa tetap minum air tersebut.

Esoknya, Kariasa kembali meminum segelas air saktit tersebut. Namun penyakitnya tidak juga sembuh. Badannya tetap kurus. Bercak-bercaknya tetap saja ada. Bahkan kali ini dia mulai mencret. Kariasa pun mencari balian yang lain dengan biaya lebih besar dua kali lipat dari balian pertama.

Balian lain itu bilang kalau Kariasa kena kutukan. Karena itu harus meminta maaf pada leluhur. Namun, meski sudah melakukan permohonan maaf, Kariasa tetap tidak sembuh dari penyakit “aneh” yang dideritanya. Dia pun pasrah.

Lalu, dia mulai mencari informasi tentang penyakit tersebut. Dari buku yang dibacanya, bapak dua anak itu tahu bahwa dia mengidap gejala HIV/AIDS. Dia pun berkonsultasi ke relawan di Singaraja. Kini, Kariasa terus minum ARV untuk mempertahankan kekebalan tubuhnya. Kariasa tidak mau lagi minum larutan kodok hijau.

“Takut tambah keok,” katanya sambil tertawa..