Blog

Rambut Keriting Bukan Kejahatan!

Pas aku lagi baca koran pagi tadi, tetangga sebelah ngobrol. Suaranya agak kenceng jadi aku bisa dengar dengan jelas. Topik bahasannya soal rambut.

Ceritanya ada dua anak kecil, ponakan tetangga, yang datang ke kos. Kakak beradik. Cowoknya adik, ceweknya kakak. Si kakak rambutnya lurus, sedangkan adiknya berambut agak keriting. Lalu datang ibu, tetangga yang lain, dan bilang ke tetanggaku itu.

“Kok yang cowok rambutnya brekele.”

Continue reading “Rambut Keriting Bukan Kejahatan!”

Jangan-jangan Remaja Hanya Kambing Hitam pada Masalah Narkoba

Tadi pagi ngobrol ma psikolog soal narkoba. Mengalir begitu saja sih. Hingga pada satu titik dia bilang kalau masalah narkoba itu terjadi karena remaja sedang dalam masa pencarian identitas . Akibatnya, remaja pun berusaha mencoba-coba, termasuk narkoba.

Aku tanya dia. Apa benar sebagian besar pengguna narkoba adalah remaja? Jangan-jangan hanya mitos? Atau malah kambing hitam?

Continue reading “Jangan-jangan Remaja Hanya Kambing Hitam pada Masalah Narkoba”

Mencolek Cewek adalah Pelecehan!

Kemarin ketika dalam perjalanan ke Jimbaran.

Pas lagi asik ngebut, aku ngeliat dua orang kurang ajar. Mereka naik Honda Supra Dk 3507 CA ke arah yang sama. Jalan By Pass Ngurah Rai yang menghubungkan Denpasar – Nusa Dua memang relatif besar. Sehingga naik kendaraan bisa ngebut. Termasuk dua orang yang berboncengan itu. Beberapa kali aku salip-salipan dengan mereka. Tumben-tumben aja sih.

Entah kenapa mereka lalu mengurangi laju motornya. Gak tau juga, kok aku juga ikut pelan. Feeling aja. Aku di belakang mereka. Tak lama kemudian kami hampir menyalip pengendara motor yang lain. Aku gak ingat persis apa motornya dan nomor polisinya. Keduanya cewek. Karena di belakang mereka, aku bisa melihat dengan leluasa.

Dua cowok seumuranku yang sempat salip-salipan sama aku itu mepet dua cewek yang berboncengan. Aku pikir sih temannya. Soalnya dua cowok itu sempet ngajak ngobrol meski motornya melaju. Mereka jalan agak pelan. Dan aku tetap di belakang mereka.

Tiba-tiba cowok yang dibonceng mengarahkan tangannya ke dada cewek yang nyetir motor. Karena aku pikir temannya, aku sih gak pikir macem-macem. Eh, cowok itu mau nyolek lagi. Si cewek berkelit. Lalu marah-marah. Wah, gawat. Ternyata pikiranku salah. Cowok itu ternyata bukan temannya. Dan cowok itu memang berniat mengganggu. Sebab setelah itu mereka ngebut kembali. But sebelum ngebut, sempat di depan motor dua cewek itu lalu mengata-ngatai dan menunjukkan jempol lalu jempol itu dibalik ke bawa. Isyarat bahwa cowok itu memang mengejek.

Huh, aku geregetan lihat cowok itu. Sempat aku mau tanya dua cewek yang dilecehkan itu. But, kalo aku jalan pelan juga, pasti gak bisa lihat nopol dan kedua orang itu. Aku langsung perhatiin nomor polisi motor dua cowok kurang ajar itu.

Aku kejar keduanya. “Kurang ajar kalian! Nyolek-nyolek cewek. Itu pelecehan!” Maunya sih aku bilang gitu, tapi pas tak pikir lagi gak jadi. Pikirku kalo aku gituin mereka, bisa jadi ntar malah panjang urusannya. Ya kalau si cewek itu ngerasa dilecehkan, lha kalau tidak? Atau ya kalau polisi mau ngurusi laporanku, lha kalau tidak?

Akhirnya aku cuma bisa ngedumel dalam ati.

Setelah Shoutbox, Sekarang Foto2ku yang Hilang..

Aku senang banget pas kompiku akhirnya berubah, dari Windows 98 jadi Windows XP. Jadi lebih cepat, stabil, dan gak usah nginstall kalo ada hardware baru.

But, aku belum begitu familiar.

Salah satunya soal shortcut. Dokumenku jadi ada dua, di desktop dan drive D. Aku pikir itu akan ngabisin dua kali memori. Aku tanya temenku yang ngerti komputer juga bilang gitu. Solusinya, hapus saja dokumen di desktop.

Pas 1 April kemarin, dengan polosnya aku hapus beberapa folder di desktop yang “tidak terlalu penting” dan banyak ngehabisin memori. Salah satunya folder gambar2 yang berisi foto2ku. Ada foto keluarga, perjalanan, liputan, figur, teman, dll. Aku pikir ya cuma di desktop yang ilang. Di drive D tetap ada. Parahnya aku langsung shift+del. Jadinya foto itu langsung ilang, tanpa ke recycle bin dulu.

Pas aku cek, ternyata foto di D juga ilang. Aku panik. Tak cari-cari tetap gak ada!

God! Ternyata benar foto2ku ilang. Sampe seharian aku cuma mikir itu. Otak-atik pake Scavenger juga tetap gak bisa. Memang bisa recovery tapi foto itu gak bisa dilihat lagi.

Huh, foto-fotoku ilang. Sampe malem aku tetep berharap akan muncul tulisan “APRIL MOP!” lalu foto2ku balik lagi. But, hiks, fotoku tetap gak balik..

Dor! Dan Matilah Preman itu di Depan Mataku..

Lima laki-laki bertampang sangar menghajar dua anak SMU. Mereka jelas lawan yang tidak seimbang. Anak SMU itu pun jadi bulan-bulanan. Keduanya ditendang, dipukul, hingga jatuh ke tanah.

Namun lima laki-laki itu terus menghajar.

Aku menahan nafas. Kasian melihat kedua anak SMU, yang dihajar lima preman tersebut.

Lalu, muncul cowok berkepala plontos. Diraihnya pistol di balik pinggang. Lalu, DOR! Tembakannya tepat di jidat kepala preman yang mengeroyok dua temannya. Preman itu pun mati. Terkapar..

Ehm, maaf itu hanya cerita pas aku nonton film Mengejar Matahari akhir pekan ini. 🙂

But, bukan itu cerita lengkapku.

Kali ini soal blog. Gak kerasa udah setahun ini aku punya blog. Awalnya aku kenal blog dari sireum hideung (setan.bbv.or.id). -Btw, kumaha kabar, Teh?- Itu pun tak sengaja. Kami ketemu pas lagi chatting. Itu juga pas aku lagi iseng chatting. Padahal sebelumnya gak pernah chatting.

Lalu, aku pun punya blog. Ternyata asik banget. Aku jadi biasa nulis pengalaman, perasaan, atau apalah yang ada di diriku lebih spontan. Lebih santai. Gak harus mikir soal cover both side, check and recheck, dan tetek bengek aturan lain kaya pas nulis berita.

Dan, mengalir begitu saja. Aku jadi kenal AANN, Andi, Bang Latief, Sherly, Uyet, dst. -Maaf gak bisa nyebut satu per satu. Kan bisa diliat di link. :)-

Smuanya jadi referensi dalam perjalanan hidup. Ehm, jadi melankolis gini ya?

Ya, begitulah. Thanks alot untuk semua yang udah mau kenalan. Meski itu cuma di dunia maya..

Ada Gunanya juga Jadi Wartawan…

Seorang ibu menelpon ke redaksi Kulkul, tabloid bulanan yang khusus membahas tentang HIV/AIDS dan narkoba. Aku sedang asik memelototi monitor komputer pas telpon itu berdering. Sudah sekitar pukul empat sore. Cuma ada aku di dalam ruangan. Jadi ya mau gak mau aku yang ngangkat.

Kulkul termasuk media baru. Bulan ini baru edisi kedua. Aku bantu-bantu di sana. Ya, sambil cari-cari suasana baru. Sekalian cari sampingan selain majalah mingguan tempatku kerja selama ini. –Aku berenecana untuk posting pengalaman baru ngliput soal HIV/AIDS dan narkoba ini. But sampe sekarang belum juga. Lupa terus-

“Kulkul tuh terbiat setiap apa, Pak?” tanya ibu itu.

“Tiap bulan, Bu.”

“Kapan ya terbit lagi?”

“Rencana sih hari ini. Tapi sampe sekarang belum datang. Mungkin masih dicetak.”

“Terus siapa yang bikin?”

“KPAD dan BNP Bali, Bu.”

“Apa ya itu?”

Aku agak heran. Kalau ibu itu tidak tahu tentang Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) dan Badan Narkotika Provinsi (BNP), mungkin dia orang baru kenal soal HIV/AIDS dan narkoba. Sebab, setauku semua orang yang berhubungan dengan dua masalah itu di Bali pasti tau tentang dua lembaga pemerintah tersebut.

Aku jelasin aja. Sekalian bertanya bagaimana dia tahu tentang Kulkul. Sebab, media ini memang hanya di kalangan pegiat penanggulangan HIV/AIDS dan narkoba.

Ibu itu bilang kalau dia tahu dari salah satu dokter konsultan soal narkoba.

“Kok ibu tertarik soal narkoba?” tanyaku.

Ibu itu diam sebentar. Aku mendengar dia menghela nafas panjang. Seperti menahan sesuatu untuk ngomong.

“Anak saya mulai pake narkoba. Saya mau dia baca-baca tulisan soal akibat kalau make narkoba. Saya baca di Kulkul ada tulisan soal itu. Saya mau kasih anak saya. Biar dia tahu akibatnya.”

Setelah bilang terima kasih, ibu itu menutup telpon..

Aku tertegun. Baru kali ini aku mengalami langsung ada orang yang mengaku bahwa media tempatku bekerja berguna bagi dia. Empat tahun jadi wartawan, baru kali ini aku merasa berguna bagi orang lain. Jadi terharu..

Perjalanan ke Alas Purwo Banyuwangi

Ketika ada teman yang mengajak liburan ke Banyuwangi, aku mengiyakan saja. Kenapa tidak? Kalo gak salah sudah tiga tahun ini aku Nyepi di Bali. Terakhir aku keluar Bali pas Nyepi sekitar 2001 lalu. Waktu itu ke Lombok. Menikmati Senggigi, Kute, Narmada, Sesaot, Gili Meno, juga ayam bakar Taliwang. Hm, pedesnya siapa tahan..

So, Nyepi ini aku ikut saja ke Banyuwangi. Toh, biasanya juga hanya lewat. Itu juga kalo perjalananku ke Jawa lewat jalur selatan. Setiap tempat baru biasanya membuatku bersemangat. Mumpung liburan tiga hari. Jadi refreshing bentarlah.

Kamis sore kami sampai Ketapang. Wowok, temanku itu ngajak nginep di tempat om-nya. Jumat pagi kami baru dijemput Agung, teman kuliah yang sudah lulus. Sekarang dia kerja di Petrokimia Gresik untuk wilayah Banyuwangi. Nama tempat temenku tuh asik juga, Glenmore. Mirip2 bahasa Inggris atau Belanda. Kata Agung sih memang dari bahasa Belanda. Kurang lebih artinya dataran tinggi. Dulu banyak Londo tinggal di Glenmore untuk ngurus kebun. Daerah ini memang banyak perkebunan sampai sekarang.

Continue reading “Perjalanan ke Alas Purwo Banyuwangi”

Sepinya Denpasar pas Galungan

SELAMAT GALUNGAN, NYEPI, DAN KUNINGAN
BUAT YANG NGRAYAIN..
MAKE PEACE NOT WAR!

Sejak Senin lalu Denpasar terasa lebih sepi dibanding biasanya. Padahal hari-hari ini dalam suasana hari raya. Rabu kemarin, umat Hindu di Bali merayakan Galungan. Hari raya tiap enam bulan sekali ini bermakna kemenangan dharma atas adharma atau kebaikan atas kejahatan. Ya, kurang lebih begitulah maknanya. Aku tanya beberapa temen yang ngrayain dibilang begitu soalnya.

Seperti halnya kota besar lain, sebagian besar warga Denpasa juga kaum urban yang sudah menetap. Mereka datang dari daerah-daerah lain di sekitar Denpasar. Jadi ketika hari raya gini mereka pada mudik. Karena itulah Denpasar terasa lebih sepi. Apalagi Galungan sekarang berdekatan dengan Nyepi, hari raya (terbesar kali ya) umat Hindu.

Denpasar relatif agak sepi sejak Senin lau karena umat Hindu sedang mempersiapkan diri menjelang Galungan. Maklum rentetan menjelang dan sesudah Galungan memang lumayan banyak. Dua hari menjelang Galungan, krama (umat) terlebih dulu membuat kue-kue untuk sarana persembahan. Bahasa Bali-nya Penyajaan Galungan. Dari kata jaja (dibaca jaje) yang berarti jajan atau kue. Jaja Bali ini misalnya begina, jaja uli, dan dodol. Semuanya terbuat dari beras atau ketan.

Selain membuat jaja, ibu-ibu dan cewek-cewek juga mejejaitan atau membuat sarana upacara dari janur. Ada yang diseut banten, gegantungan, canangsari, sodan, dan gebogan. Banten dan canang sari berbentuk kotak kecil yang biasa dipakai tiap hari ketika sembahyang. Gegantungan semacam pernak-pernik kecil yang digantung di pura pribadi (sanggah). Sedangkan gebogan dan sodan itu tempat sesajen berupa buah yang biasa dibawa di kepala ibu-ibu. Kaya yang di foto-foto atau TV-TV itu..

Hari selanjutnya disebut Penampahan Galungan, yang berasal dari kata nampah atau motong hewan. Ini pekerjaan cowok-cowok atau bapak-bapak biasanya. Hewan yang dipotong itu pada umumnya babi. Namun ada pula yang memotong ayam atau bebek. Kalo sapi setauku tidak boleh. Sedangkan kambing juga tidak. Entar dipikir nyaingin Idul Adha lagi. 🙂

Selain motong hewan, pada H-1 ini juga mulai dipasang penjor. Tapi kadang-kadang dua hari sebelumnya juga sudah dipasang. Penjor itu bentuknya seperti umbul-umbul tapi tanpa kain. Pada bambu kecil yang melengkung ujungnya itu diberi berbagai hasil bumi seperti kelapa, janur, buah-buahan, dan semacamnya. Penjor ini dipasang di pintu masuk halaman rumah. Setahuku ciri khas Galungan dan Kuningan ya penjor ini. Maknanya sebagai ucapan terima kasih pada sang pencipta.

Finally pada hari H. Hari ini diawali dengan sembahyang di pura rumah masing-masing. Awalnya sendiri-sendiri lalu sekeluarga. Setelah itu dilanjutkan sembahyang di pura tempat beraktivitas sehari-hari. Bisa di kantor, kampus, sekolah, pasar, atau tempat lain. Setiap orang bisa sembahyang di beberapa tempat. Lalu dilanjut sembahyang di pura publik. Di Denpasar misalnya adalah Pura Jagatnatha di dekat Lapangan Puputan Badung. Sembahyang juga dilakukan di pura leluhur atau di kampung. Hampir sehari penuh umat Hindu bersembahyang ke berbagai pura ini. Karena itulah ketika Galungan, Bali sepi aktivitas. Kantor pada tutup. Jadi yang tidak merayakan bisa liburan hampir seminggu.

Seba ritual saat Galungan masih berlanjut sehari setelah Galungan. Pada hari yang disebut Manis Galungan ini biasanya umat Hindu saling berkunjung. Silaturahmilah sama keluarga, teman, atau semacamnya. Saat Manis Galungan ini biasanya Denpasar mulai rame dengan aktivitas orang jalan-jalan ke pantai, mall, atau yang lain.

But, kali ini masih sepi. Bisa jadi karena Galungan kali ini berdekatan dengan Nyepi Jumat besok. Jadi sebagian besar krama justru sibuk siap-siap menyambut Nyepi. But, asik juga kalo Denpasar sepi gini.. 🙂