Banyuwangi yang Kini Melampaui Imajinasi

1 , Permalink 0

Tetangga Bali ini dulunya dipandang dengan mata merem.

Dia seolah-olah tidak ada. Banyuwangi? Membayangkan saja sudah sepertinya jauh sekali. Di ujung timur Pulau Jawa.

Aku mengunjunginya pertama kali ketika kuliah di Bali. Pertama ketika main ke rumah Nur Kiblat Wijaya, teman di Akademika. Hal yang aku ingat ketika itu justru ketakutan.

Waktu itu aku ke sana ketika lagi panas-panasnya isu santet. Tegang di mana-mana. Satu kali kami naik motor berboncengan dengan dua teman lain malam-malam. Aku sampai terus membawa batu selama perjalanan. Buat ngantemin orang jika mendadak ada yang menghentikan kami.

Selebihnya hanya ketakutan dag-dig-dug-der selama perjalanan malam itu.

Kunjungan kedua sama teman satu fakultas, Agung Eka Dani. Aku ingat rumahnya di Glenmore. Dari rumahnya, kami menuju Alas Purwo dan Pantai Grajagan alias G Land.

Hal yang aku ingat waktu itu, jauh dan jeblok.

Dari rumah Agung, kami perlu waktu kalau tak salah satu jam untuk sampai di Alas Purwo. Dari pintu masuk kawasan taman nasional itu, kami harus naik jip. Sewa untuk sampai di Pantai Grajagan melewati jalan berlumpur yang menenggelamkan ban mobil 4×4 sewaan kami.

Namun, semua berita tentang Banyuwangi dua tahun terakhir teramat menggoda. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, meroket namanya dengan beragam upaya menaikkan citra kabupatennya. Beberapa teman juga rajin menggoda dengan status dan foto di media sosial mereka.

Nyepi tahun ini, kami pun tergoda. Setelah gagal sejak tahun lalu, akhirnya kami pun ke sana. Liputan sambil jalan-jalan. Topiknya, bagaimana ekowisata Banyuwangi berguna juga untuk pelestarian lingkungan.

Ada lima tempat utama yang kami kunjungi yaitu Kalibaru Cottages, perkebunan di Desa Glenmore, Wisata Pinus Songgon, Karo Adventure, dan Bangsring Underwater (Bunder). Niat kami untuk juga mengunjungi perkebunan kopi terpaksa dibatalkan karena waktunya tak cukup.

Hal menarik dari lima tempat itu adalah betapa besar gairah warga Banyuwangi untuk terlibat dalam pengelolaan ekowisata. Kecuali Kalibaru Cottages dan PT Perkebunan Glenmore yang sudah jauh lebih dulu, tempat-tempat lain relatif baru. Warga membuka kegiatan wisata berbasis alamnya dengan modal sendiri. Setelah berhasil, baru muncul dukungan dari pemerintah. Setidaknya begitu versi para penggeraknya.

Wisata Pinus Songgon misalnya, menjual rimbun hutan pinus di kaki Gunung Raung. Yunus, penggerak warga setempat, memberikan sentuhan dengan payung, rumah pohon, jalur treking, lokasi swafoto, dan seterusnya.

Sebagian warga yang semula mencuri kayu hutan untuk sumber penghidupan keluarga, kini beralih pekerjaan. Mereka hidup dari ekowisata sehingga harus menjaganya. Kini mereka juga melakukan konservasi.

Di sebelah Wisata Pinus Songgon juga ada kegiatan wisata yang sudah lebih duluan, Karo Adventure. Mereka memanfaatkan deras arus sungai di kampungnya yang semula dibiarkan begitu saja. Kini, turis-turis lokal dari kota lain berduyun-duyun menikmati tantangan terbawa arus di atas ban karet.

Hal serupa juga terjadi di Bangsring, desa di sisi timur Banyuwangi. Nelayan yang dulu mengebom dan meracun ikan, sekarang bahkan membuat larangan memancing ikan demi melindungi sumber penghidupan mereka. Ketika ikan dan terumbu karang kembali hidup, turis pun datang.

Semua tempat itu keren. Jauh lebih keren dari apa yang aku sendiri bayangkan. Anak-anak pun sangat menikmati meskipun kegiatannya di alam semua.

Di semua tempat itu, kami bertemu orang-orang bersahaja. Orang-orang kampung nan sederhana tapi membuat perubahan di masing-masing desanya.

Cuma memang masih ada celah yang harus diwaspadai. Aku sendiri melihat belum ada standar jelas di masing-masing lokasi itu sebagai sebuah ekowisata. Memang sih semua sudah berkomitmen untuk mengutamakan lingkungan daripada wisata, tapi jika tak ada batasan jelas, bisa-bisa nanti kebablasan.

Lingkungan malah jadi korban karena begitu banyak kunjungan.

Itulah pekerjaan rumah yang harus mulai dipikirkan pelaku ekowisata di Banyuwangi. Membuat batas dan standar yang jelas dalam pengelolaan ekowisata. Mumpung belum telanjur jauh seperti pulau tetangganya, Bali.

1 Comment
  • Gusti Nyoman Arnawa
    June 22, 2017

    Banyuwangi maju dengan bupati barunya, semoga banywangi makin maju dunia pariwisatanya

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *