Menikmati Hidup ala Kartu Tarot

Heran. Ternyata ramalan ini ada benarnya juga.

Padahal, selama ini aku tak terlalu percaya pada urusan ramal meramal. Apalagi kalau aku yang diramal orang lain. Cuma kok ya kali ini seperti ada benarnya ramalan itu.

Tapi, ini bukan ramalan kali ya. Lebih tepat kalau “penerawangan”. Hehehe..

Continue reading “Menikmati Hidup ala Kartu Tarot”

Generasi Penulis di Keluarga Kami

Diam-diam ada tradisi baru di keluarga besar kami, menulis.

Keluarga besar ini adalah aku, saudara-saudara, sepupu-sepupu, dan keturunannya. Kami biasa menyebut keluarga besar ini Bani Taqrib, mengacu pada nama kakek kami, Taqrib.

Kakek nenek kami melahirkan lima anak. Empat di antaranya masih hidup. Mereka tinggal di desa di pesisir Lamongan, Jawa Timur di mana hampir semua di antara kami lahir. Ibuku anak tertua di antara mereka.

Lahir di kampung sama, kini para sepupu ini menyebar di banyak tempat. Mesir, Singapura, Batam, Bengkalis, Jakarta, Malang, Surabaya, dan Bali. Ada yang kuliah, kerja, atau memang sudah menetap di masing-masing tempat tersebut.

Continue reading “Generasi Penulis di Keluarga Kami”

Merasakan Beban Ganda Anak-anak ODHA

Rasanya pengen nangis lihat anak-anak itu.

Sebenarnya, mereka biasanya ceria. Setidaknya begitu kata teman-teman yang menemaniku liputan hari ini. Namun, pas aku ke sana, ternyata dua anak ini lagi sakit.

Anak pertama, sebut saja Putu Bagus, berusia 7 tahun. Bapaknya sudah meninggal. Murid  kelas I ini tinggal dengan ibu dan kakek neneknya di Desa Kesiut, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, sekitar 65 km utara Denpasar.

Dia baru pulang sekolah ketika aku dan kawan-kawan Yakeba tiba di rumahnya. Dia terlihat tanpa gairah. Tatapan matanya kosong. Wajahnya tanpa senyum sama sekali. Suhu tubuhnya lebih panas ketika aku meraba dahinya.

Continue reading “Merasakan Beban Ganda Anak-anak ODHA”

Tetap Pede Motret Meski Amatir

Sampai detik ini, aku tetap tak ngerti urusan teknis memotret.

Meski sudah pernah belajar, tapi ya memang tak serius, aku tetap saja tak memahami soal bukaan, kecepatan (speed), dan tetek bengek urusan fotografi. Sumpah. Teknik ini, bagiku kok menghambat sekali. Berkali-kali belajar tetap saja tak mengerti.

Continue reading “Tetap Pede Motret Meski Amatir”

Ironi di Balik Sejahteranya Singapura

“Singapura bukan tempat yang enak buat hidup.”

Jawaban senada itu datang dari empat orang berbeda di tempat berbeda dan dalam waktu berbeda pula. Amat mengejutkan bagiku.

Empat orang itu dua orang Indonesia, satu warga Singapura sendiri, dan satu lagi orang Belanda. Keempatnya memberikan jawaban senada. Bagi mereka, Singapura itu memang tertib, aman, sejahtera. Namun, terlalu banyak aturan di negeri ini. Biaya hidup juga amat mahal. Makanya terasa mengekang dan membosankan.

Tapi, aku nyatakan sejak awal, pendapat ini amat umum karena hanya berdasar pada obrolan santai. Juga mengandalkan pengamatan selama tiga hari di sana.

Continue reading “Ironi di Balik Sejahteranya Singapura”

Google, Antara Privasi dan Partisipasi

Raksasa internet ini menawarkan keduanya, privasi dan partisipasi.

Dua hal itu yang aku pelajari selama sekitar tiga jam diskusi bersama tim Google di kantor mereka di Singapura Kamis lalu. Dua staf Google, Robin Moroney dan Mike Orgill, bercerita tentang bagaimana Google memberikan keduanya pada pengguna internet.

Continue reading “Google, Antara Privasi dan Partisipasi”

Kesenangan yang Transparan di Kantor Google

Tak ada ruang kerja di kantor Google Asia Pasifik ini.

Hanya ruang bersenang-senang di mana-mana. Tak perlu sekat antar-ruangan, sesuatu yang amat lazim ditemui di perkantoran ala Indonesia. Karena terbuka, jadi setiap orang bisa lihat apa saja yang dikerjakan teman di sebelahnya. Amat transparan.

Continue reading “Kesenangan yang Transparan di Kantor Google”

Singapura, Negeri Penuh Mata dan Denda

Puluhan mata waspada menyambut begitu kami turun dari kereta.

Mata-mata itu diwakili close circuit television (CCTV) yang ada di setiap pojok. Bahkan, di stasiun Kallang, tempat di mana kami turun hari ini, CCTV itu seperti mengintimidasi. Persis di depan pintu saat kami baru turun dari kereta.

Continue reading “Singapura, Negeri Penuh Mata dan Denda”

Teman Lelaki Kecil Bernama Bani

Alarm belum berbunyi ketika Bani membangunkanku pagi itu.

Jam di Galaxy S masih pukul 04.50 Wita. Alarm di ponsel pintar ini aku atur berbunyi pada pukul 05.00. Namun, Bani sudah menggoyang-goyang tubuhku. “Ayah. Bangun. Sepakbolanya sudah mau main,” kata Bani sambil menarik selimutku.

Dengan mata masih berat aku bangun. Cuci muka. Ambil selimut lagi. Lalu duduk manis di ruang tamu bareng Bani. Di luar masih gelap pada dini hari yang dingin itu. Tapi, kami sudah siap menikmati pertandingan Barcelona lawan Real Madrid.

Selama sekitar dua jam kemudian, kami sama-sama bersemangat memberi dukungan pada Barcelona. Kami sama-sama pendukungnya. Hingga akhir pertandingan kemudian sih skor akhirnya 2-2 setelah Barcelona sempat menang 2-0 hingga akhir babak pertama.

Continue reading “Teman Lelaki Kecil Bernama Bani”