“Mbok ya Bani mulai diajari mengaji dan sholat. Biar ngerti agama,” kata emak yang lagi main ke Bali menengok dua cucunya, Bani dan Satori.
Author: a!
Merayakan Sunatnya Bani dan Aqiqah Satori
Kami setengah putus asa. Hampir saja membatalkannya.
Bani menangis sampai meronta-ronta. Padahal dia sudah telentang di kasur serta membuka sarung dan celana. Dia siap disunat.
Continue reading “Merayakan Sunatnya Bani dan Aqiqah Satori”
Teknologi yang Menurunkan Kualitas Jurnalisme
Teknologi memang serupa belati.
Ide menulis tentang tema ini muncul begitu saja ketika ngobrol dengan Mas Rofiqi Hasan beberapa waktu lalu. Dia cerita soal makin banyaknya wartawan di Denpasar yang suka kloning berita. Kami ngobrol santai pas selesai diskusi tentang jurnalisme warga di Denpasar.
Continue reading “Teknologi yang Menurunkan Kualitas Jurnalisme”
Maka, Biarkan Balian yang Menyembuhkan
Ke Bidan Saja. Lebih Cepat dan Murah.
Tak perlu antre sama sekali.
Kami bisa langsung mendapatkan pelayanan dari bidan Ni Wayan Darsini ketika sampai di rumahnya Kamis sore lalu. Padahal, kalau di dokter anak, kami harus antre setidaknya satu jam.
Irshad Manji dan Perlunya Dukungan pada LGBT
Penolakan terhadapnya mengingatkan kepada teman-teman LGBT.
Tak hanya di Jakarta, diskusi Irshad Manji di Yogyakarta pun diserbu kelompok intoleran berkedok agama. Tak ada alasan jelas kenapa kelompok ini terus saja membubarkan diskusi bersama Irshad Manji.
Continue reading “Irshad Manji dan Perlunya Dukungan pada LGBT”
Susahnya Mencari Data Pengguna Internet di Bali
Bahkan, instansi pemerintah pun tak punya.
Padahal Dinas Perhubungan, Informasi, dan Komunikasi (Dishub Infokom) Bali ini harapan terakhir kami untuk mendapatkan data. Ternyata, menurut Gus Tulank, lembaga ini pun tak memiliki data yang kami butuhkan, jumlah pengguna internet dan jejaring sosial di Bali.
Continue reading “Susahnya Mencari Data Pengguna Internet di Bali”
Surat Cinta, eh, Protes dari Bani
Sepucuk surat protes menyambutku begitu sampai rumah.
Bani memberikan surat itu begitu aku membuka pintu rumah sekitar pukul 8.30 malam pas baru pulang kerja. Hari ini tak hanya jam kerja seperti biasa, pukul 8 pagi sampai 5 sore, aku juga ada wawancara untuk riset soal jurnalisme warga di Bali.
Semula, narasumber dari Asosiasi Pengusaha Jasa Internet Indonesia (APJII) Bali tersebut bilang bisa wawancara pukul 4.30 Wita. Eh, ndilalah ternyata dia molor sampai sekitar pukul 6 petang baru bisa. Apa boleh buat. Daripada batal.



