Sudah sekitar sebulan ini pola tidurku berubah.
Sebelumnya, kami selalu tidur lebih awal. Tubuhku bahkan sudah nempel kasur pukul 8 malam. Tak lama kemudian mendengkur mendahului yang lain.
maka, menulislah untuk berbagi, agar ceritamu abadi.
Sudah sekitar sebulan ini pola tidurku berubah.
Sebelumnya, kami selalu tidur lebih awal. Tubuhku bahkan sudah nempel kasur pukul 8 malam. Tak lama kemudian mendengkur mendahului yang lain.

Buat kalian yang sedang merindukan Soeharto.
Sini aku ceritain sedikit betapa tidak enaknya hidup di zaman itu. Apa-apa mahal. Tidak ada kebebasan. Yang murah saat itu hanya satu, nyawa kalian yang berani menentang si Bapak Pembangunan.
Hingga 20 tahun lalu, buku bukanlah barang murah bagiku.
Aku hanya membacanya di perpustakaan umum, entah milik sekolah, kampus, ataupun pemerintah. Harga buku terlalu mahal bagiku.
Continue reading “Karena Membeli Buku Lebih Mudah daripada Membacanya”
Curhat ini dibuat ketika meliput Sidang Umum Interpol ke-85.
Liputannya sejak kemarin pagi. Acaranya sampai Kamis nanti. Lumayan, empat hari penuh, dari pukul 9 pagi hingga 5 di Nusa Dua. Membosankan.
Continue reading “Alasan Kenapa Liputan Interpol jadi Membosankan”
Setelah empat bulan di bengkel, mobil kami akhirnya keluar juga.
Selasa kemarin, aku dan kakak ipar mengambil Suzuki Ertiga itu dari bengkel di Jalan Teuku Umar Barat, Denpasar. Bagian luar mobil terlihat mulus lagi. Mesinnya juga baru. Continue reading “Menghapus Pungli, Semoga Bukan Cumi”
Apa yang sudah aku siapkan tiba-tiba menguap entah ke mana.
Di depan ratusan orang, aku mendadak seperti gagap. Lupa dengan kalimat-kalimat penuh semangat yang sempat aku ingat. Tak ada kata-kata indah yang sudah aku siapkan.
Continue reading “Setelah Sloka Institute jadi Korban Perburuan”
Runcing beling itu terlihat menakutkan.
Dia dipasang berderet di atas tembok pembatas belakang Kampus Sudirman Universitas Udayana Denpasar. Yakin deh. Tidak ada yang berani memanjat di atasnya.
Continue reading “Mengunjungi Bu Sayuti Warung Langganan Kami”
Lebaran sudah berlalu. Sekarang tinggal menghitung utang.
Hehehe. Tidak segitunya juga sih. Tapi Lebaran memang selalu membuatku mengelus dada. Prihatin.
Tak ada lagi harapan tahun ini.
Dua lamaran beasiswa terakhir ke Belgia akhirnya memberikan hasil seleksinya. Aku tidak lolos keduanya. Padahal, keduanya menjadi harapan terakhir hingga saat ini. Sedih. Continue reading “Akhirnya Harus Pasrah (Sementara) karena Kalah”
Tulisan di bagian belakang itu menusuk banget. Jleb!
Aku dan Bani melihatnya ketika Sabtu pekan lalu kami berboncengan naik motor dari rumah ke Renon. Kami membacanya di punggung pengendara lain.
Continue reading “Menikmati Hidup di Antara Terang dan Redup”