Mengunjungi Bu Sayuti Warung Langganan Kami

0 Permalink 1

bu-sayuti

Runcing beling itu terlihat menakutkan.

Dia dipasang berderet di atas tembok pembatas belakang Kampus Sudirman Universitas Udayana Denpasar. Yakin deh. Tidak ada yang berani memanjat di atasnya.

Padahal, 10-15 tahun lalu, tembok itu biasa kami panjat. Tak peduli cewek ataupun cowok, kalau sudah waktunya makan siang, kami akan naik ke atas tembok untuk turun ke warung.

Tembok setinggi kira-kira dua meter itu pembatas kampus dengan kampung di belakangnya. Jika tidak meloncat tembok, mereka yang lewat harus jalan kaki memutar kira-kira 200 meter. Jauh.

Persis di belakang pagar pembatas itu ada ada beberapa warung makan enak dan murah. Warung Bu Sayuti salah satunya. Karena itu, kami para anggota Pers Mahasiswa Akademika termasuk pelanggan warung itu.

Tidak cuma kami. Ada juga anak-anak unit kegiatan mahasiswa lain, seperti Kesenian, Korps Suka Rela (KSR) PMI dan Menwa. Kami bertetangga dan sama-sama jadi pelanggan Bu Sayuti.

Saat itu kami biasanya memanjat tembok itu ramai-ramai. Karena temboknya tinggi kami kadang saling membantu untuk naik. Lalu, gedebuk! loncat turun dan masuk warung.

Mirip maling. Hehehe..

Warung Bu Sayuti termasuk pilihan utama. Dengan harga sepiring nasi Rp 1.500, warung Bu Sayuti memang murah sekali. Juga enak. Salah satu menu paling nikmat pada saat itu adalah ikan tongkol bumbu tomat. Duh, rasanya sampai meleleh air lur pas mengenangnya lagi.

Selain warung Bu Sayuti, tempat lain yang enak sebenarnya nasi padang di Jalan Dr Goris. Sayangnya sekarang sudah cabut entah berjualan di mana.

Entah kesambet setan dari mana, Bunda kemarin tiba-tiba ngajak mampir ke Warung Bu Sayuti. Setelah aksi solidaritas jurnalis Bali dan diskusi sebentar di kantor Ombudsman Bali, kami mampir lagi ke Warung Bu Sayuti untuk makan siang.

Aku sendiri sampai lupa kapan terakhir kali aku mampir sana karena saking lamanya.

Secara fisik, tak banyak yang berubah dari Warung Bu Sayuti. Rumahnya masih berdinding seperti semipermanen. Warungnya masih berupa ruangan berukuran tak lebih dari 3 x 4 meter. Hanya rak makanannya terlihat lebih kecil. Makanannya juga makin sedikit.

Bu Sayuti, perempuan berusia 60-an tahun, kelahiran Sidemen, Karangasem juga masih terlihat segar. Aku ingat emak di kampung. Mereka sepantaran dan serupa. Begitu pula dengan ibu mertua yang sama-sama jualan nasi.

Menu di Warung Bu Sayuti juga masih sama seperti 10-15 tahun lalu. Nasi, ayam suwir, tempe, dan sayur asam. Dulu sih seingatku banyak. Ada pindang, telur dadar, dan aneka kuah-kuahan.

Tak ada satu pun pelanggan ketika kami tiba di sana. “Sekarang tidak ada lagi mahasiswa makan di sini,” kata Bu Sayuti.

Agak ngenes juga melihat sepinya warung Bu Sayuti. Tak ada lagi mahasiswa (sok kere) seperti kami yang dulu rajin makan di warung-warung di dekat kampus. Gaya mahasiswa sekarang mungkin beda sama kami dulu. Begitu pula dengan cara pandang kampus terhadap tetangga mereka.

Kalau dulu, tembok dibiarkan apa adanya, sekarang temboknya makin tinggi dan berisi beling. Kampus mungkin melihat tetangga mereka sebagai hal yang harus ditakuti.

Padahal, bagi kami, orang-orang seperti Bu Sayuti itulah yang menghidupi zaman kami jadi mahasiswa. Karena makanan enak dan murah di warung mereka, kami bisa betah di kampus. Sesekali bisa pula berutang jika kiriman tak kunjung datang.

Warung-warung di dekat kampus, bagi kami seperti keluarga sendiri. Maka, 15 tahun berlalu, kami masih merasa dekat seperti dulu.

Di balik makin sepinya warung Bu Sayuti, mungkin juga ada makin jauhnya jarak mahasiswa dengan orang-orang kampung di sekitar kampusnya. Beling di atas tembok itu mempertegasnya.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *