Belajar Islam Saat Odalan

17 , , , , Permalink 0

Sembahyang saat Odalan di Bali

Menjadi menantu orang Hindu Bali membuat saya juga harus bertoleransi pada upacara-upacara yang diadakan keluarga. Bukan hanya keluarga kecil seperti mertua atau saudara ipar tapi juga keluarga besar. Salah satu ciri khas Bali kan karena kuatnya ikatan di antara keluarga besar terutama saat upacara agama.

Saya tidak terlalu sering ikut upacara seperti pawiwahan (pernikahan), mepandes (potong gigi), atau odalan (perayaan enam bulanan pura keluarga atau desa). Biasanya sih alasannya karena sok sibuk atau karena memang agak malas juga. Bayangkan saja kalau odalan itu diadakan tiap enam bulan sekali di masing-masing keluarga. Kalau ada enam saudara yang mengadakan odalan, berarti bisa tiap bulan saya ikut upcara.

Continue Reading…

Mereka Pembunuh, Bukan Mujahid!

47 , , , , Permalink 0
Tulisan ini aku buat ketika baru usai chatting sama Erwin, teman yang bekerja sebagai kameraman untuk salah satu TV Australia. Erwin sedang meliput di Tenggulun, Lamongan terkait rencana eksekusi Amrozi CS.

Desa berjarak sekitar 15 km dari rumahku di Lamongan itu tempat lahir tiga bersaudara terpidana kasus bom Bali 2002: Amrozi, Ali Ghufron, dan Ali Imron. Amrozi dan Ali Ghufron bersama terpidana lain, Imam Samudra, dipidana mati. Ketiganya akan segera dieksekusi. Maka, para wartawan pun berburu berita ke desa nan gersang itu. Erwin satu di antaranya.

Continue Reading…

Kupatan, Naik Gunung Sambil Bermaafan

4 , , , , Permalink 0

Bulan Syawal masih tersisa 15 hari lagi. Jadi masih bolehlah kalau menulis soal lebaran. Kali ini tentang kupatan, tradisi merayakan lebaran seminggu setelah hari H. Aku tidak tahu jelas apakah tradisi kupatan ini hanya ada di Jawa Timur, Jawa, atau semua orang Indonesia yang merayakan Lebaran.

Sebatas yang aku tahu sih tidak ada tradisi kupatan di Bali. Di Jakarta juga tidak ada. Padahal di Mencorek, kampung halamanku di pesisir utara Lamongan, Jawa Timur, kupatan selalu jadi pelengkap lebaran. Bagi anak-anak, kupatan malah lebih meriah dibanding lebaran itu sendiri.

Continue Reading…

Emak, Generasi Terakhir Penjual Garam

4 , , Permalink 0

Asin garam adalah air susu dalam bentuk yang lain bagiku. Oleh asin garam aku dibesarkan, disekolahkan, dikuliahkan, diajarkan tentang bagaimana hidup. Bukan hanya untukku, asin garam itu pula sumber penghidupan bagi tujuh saudaraku. Bahkan sejak belum lahir, kami semua sudah akrab oleh asinnya.

Emak kami yang mengalirkan asin itu ke keseharian kami. Dia pembuat garam olahan. Dari butir-butir kristal kecoklatan bercampur tanah hasil bertani di tambak, garam itu dilarutkan di atas persegi empat dari seng sebagai tempat mengolah. Malam-malam kami selalu diisi dengan gemertak kayu bakar untuk mendidihkan garam tersebut.

Continue Reading…

Rezeki Berjuta dari Makanan Desa

6 , , , , Permalink 0
Sambil mudik, makan-makan tetap harus jalan. Karena itu, mudik Lebaran tahun ini kami gunakan juga untuk cari makanan khas di sekitar desa. Lamongan punya banyak makanan khas. Kalau di Bali sih yang paling banyak ya Sari Laut Lamongan. Tak hanya di Bali. Aku yakin di tiap kota ada warung tenda khas yang kadang-kadang merusak pemandangan kota ini. Hehe..

Aku dan Bunda pun mencuri waktu satu hari untuk mencari makanan-makanan khas desa ini. Sebenarnya mungkin tidak benar-benar khas. Bisa jadi ada juga di tempat lain namun dengan nama beda. Oke. Kalau gitu aku sebut saja sebagai makanan paling terkenal di daerahku.

Continue Reading…

Perjalanan Panjang ke Kampung Halaman

5 , , , , Permalink 0
Baiklah. Mari kita mulai lagi menulis semua cerita. Meski bawaan liburan masih saja terasa, jadi ada alasan untuk males nulis, menulis toh tetep harus dilakukan. Kalau tidak, semuanya akan menguap begitu saja.

Sebagai awalan, aku nulis soal mudik pas Lebaran kemarin saja. Pertama soal perjalanan saja dulu. Besok-besok lanjut soal kampung halaman, potensi ekonomi, petani garam, dan tradisi Kupatan.

Continue Reading…