Derita Korban Pengeboman

0 No tags Permalink 0

Dua cerita tentang korban bom Bali 12 Oktober 2002.

Korban: I Nyoman Mawa, 43 tahun

Tatapan mata Ni Made Kitik, 38 tahun, mengarah mendatar ke depan. Seperti melihat sesuatu yang kosong. Sesuatu yang jauh dan tak bisa diambil. Dari wajahnya, ibu dua anak itu seperti memikirkan hal berat. Suasana duka di rumahnya masih kental terasa. Di teras rumahnya masih ada sesajen punjung, yang dipersembahkan pada arwah orang yang baru meninggal. Ada foto suaminya, yang hingga kini tidak jelas keberadaannya, I Nyoman Mawa, 42 tahun.

Kamis (17/10) ketika ditemui GATRA di kediamannya, Kitik membuatkan rujak untuk arwah suaminya. “Dia datang pada mimpi saya semalam. Minta dibuatkan rujak,” katanya. Hingga saat ini, Kitik masih merasa suaminya belum meninggal. Perempuan kelahiran Pedungan, Denpasar Selatan ini mngaku sering didatangi suaminya ketika malam. “Saya masih merasa dia ada dan mendatangi kami,” ujarnya lirih. Mimiknya mencoba tersenyum, getir.

Hingga saat ini, jasad suaminya, I Nyoman Mawa belum ditemukan. Laki-laki yang berprofesi sebagai sopir sewaan itu turut menjadi korban peledakan bom di Legian, Kuta, Bali Sabtu malam lalu.

Malam itu, Kitik dan dua anaknya tidak punya firasat apapun. Dia dan anak pertamanya Ni Luh Januarini, 18 tahun, bahkan sudah tidur. Anak keduanya I Made Agus Antara, 17 tahun masih belum pulang. Biasanya dia berkumpul dengan kawan-kawannya. Biasalah, malam Minggu. Kitik dan anak-anaknya tinggal satu rumah dengan dua keluarga dengan jumlah keluarga 11 orang. Namun tiba-tiba pada pukul sekitar 23.30 wita, rumah mereka digedor. “Katanya ada bom di tempat adik saya biasa mangkal,” kata I Wayan Dugul, 53 tahun, kakak tertua Nyoman Mawa.

Agus Antara pun datang dan memberitahu bahwa ada peledakan bom di Kuta. Lokasinya di Sari Club (SC) dan Paddy’s, dua pub yang biasanya dipenuhi turis bule. Setiap malam, Nyoman Mawa selalu mangkal di depan SC. Agus langsung menuju Kuta untuk mencari bapaknya. Di lokasi kejadian, mobil kijang yang biasa dipakai bapaknya sudah hangus. Tinggal rongsokan. Dicar-cari, Agus tidak menemukan bapaknya.

Agus ditemani pamannya, mencari bapaknya ke rumah sakit-sumah sakit yang menampung korban peledakan. Di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah tidak ada. Di RS Graha Asih, Kuta, tidak ada. Di RS Wongaya, RS Angkatan Darat (RSAD), dan RS sakit lain, jasad Mawa tidak juga ditemukan. Kitik langsung pingsan mendengar kabar itu. Esoknya pencarian jasad Mawa masih dilakukan di RS lain di luar Denpasar seperti Mengwi dan Gianyar. Toh, tetap saja nihil.

Kitik pun menanyakan ke balian (semacam dukun) tentang keberadaan suaminya. Toh tetap saja tidak ditemukan. Karena sudah dianggap meninggal, mereka melakukan upacara ngulap (pemanggilan roh) dengan harapan bakal menemukan jasad Mawa. Tetap saja nihil. Jasad Mawa tetap tidak ditemukan.

Hingga kini, Kitik masih belum bisa menerima kematian dengan cara seperti itu. “Saya tidak terima karena suami saya meninggal dengan cara seperti itu,” akunya. Mengenakan baju kaos kuning, dengan kamen (sarung) dominan hitam, mengharapa pelaku pengeboman secepatnya ditangkap.

Mawa selama ini dikenal sebagai bapak yang bertanggungjawab. Dia sudah berprofesi sebagai sopir sewaan sejak 18 tahun lalu. Dari pekerjaan itulah Mawa bisa menghidupi dua keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya. Biasanya dia berangkat kerja pada pukul 19.00 wita. Tempat mangkalnya di depan SC. Pada pukul 05.00 wita, Mawa baru datang. Setelah itu tidur. Meski jarang tertawa dan pendiam, Mawa dikenal sebagai anggota banjar yang rajin ikut pada kegiatan-kegiatan banjarnya. Mawa dan Kitik menikah pada 1983. Hingga saat ini dikaruniai dua anak seperti yang ditulis di depan.

Karena sudah tidak ada orang yang selama ini menghidupi keluarga, Kitik mengaku gagap menghadapi hari depan. Bagaimana menghidupi keluarga. Sebab Mawa satu-satunya yang mencari biaya hidup. Lebih pedih lagi karena hingga saat ini jasad suaminya belum ditemukan. Dugul pun mengaku akan merasa lebih baik kalau jasad adiknya sudah ditemukan. “Biar kami bisa memperlakukan sebagaimana mestinya jasad orang mati diperlakukan,” kata Dugul.

==========

Korban : Fathurrahman, 35 tahun, karyawan PT Indoguna Indonesia

“Bapak dipanggil Allah,” kata Rahmat Hidayat, 4 tahun ketika ditanya kemana bapaknya. Sore itu, ketika ditemui GATRA, Kamis pekan ini, Rahmat tidak memperlihatkan mimik sedih sedikit pun. Dia masih bermain-main dengan dua sepupunya. Padahal pada Sabtu malam lalu, bapaknya menjadi salah satu korban peledakan bom di Legian Kuta.

Sore itu, sebelum terjadi Tragedi Legian, Fathurrahman berpamitan kepada istrinya, Parti. “Katanya mau mengantar bos dari Jakarta,” kata Parti. Menjelang pergi, perempuan kelahiran Tuban, Jawa Timur itu bahkan sempat berkaraoke dengan suaminya, hal yang kadang-kadang dilakukannya bersama suami pada Sabtu sore. Selesai berkaraoke, Fathurrahman sholat ashar lalu berpamitan akan mengantar bosnya ke Kuta. Parti mengaku tidak jelas untuk keperluan apa. Mereka menggunakan mobil boks Haagen Daz, distributor potongan es kecil yang biasanya digunakan untuk minuman.

Malam, ketika peristiwa itu terjadi, Parti dan anaknya Rahmat Hidayat tidur di rumahnya di Kepaon, Denpasar Selatan. Mereka tinggal hanya betiga, tidak jauh dari keluarga besar Fathurrahman yang lahir dan besar di desa tersebut. Malam itu, ketika peledakan bom terjadi, Haji Muhammad Harun, orang tua Fathurrahman juga tidak tahu apa yang terjadi. Meski di luar terdengar suara ribut-ribut, ketika dia sedang istirahat, laki-laki berumur 60 tahun itu masih berlum beranjak dari tempat tidurnya. “Ramai-ramai seperti itu sudah hal yang biasa, apalagi malam Minggu,” akunya.

Hingga sekitar satu jam kemudian, ada orang datang ke rumahnya. Tamu itu mengabarkan bahwa ada peledakan bom di Kuta. “Ada mobil kantor Fathur,” kata Harun. Setelah dicek ke rumahnya, Harun memang membawa mobil tersebut. Kepanikan pun melanda keluarga Fathurrahman. Fathurrahim, adik korban segera mencari ke RS Sanglah, tempat para orban dilarikan. Namun hingga pagi, jasad anaknya tidak juga ditemukan. Esoknya, barulah jasad anak pertama dari delapan bersaudara itu ditemukan. Hanya tubuh, tanpa kepala. Namun Fathurrahman yakin bahwa jasad tersebut adalah anaknya. Ini dilihat dari kakinya, tangan kanannya yang pernah patah, dan baju yang dikenakan korban.

Sorenya, ketika jam shola ashar, Fathurrahman disholati. Dia dikuburkan di pemakaman Islam Kepaon Denpasar.

Fathurrahman adalah salah satu korban peledakan bom di Kuta. Malam itu dia sedang mengantar bosnya dari Jakarta ke Kuta. Ayah satu putra itu bekerja sebagai distributor PT Indoguna yang memproduksi es Haagen Daz. Fathur sudah bekerja di perusahaan ini sejak enam tahun lalu. Di perusahaan yang sama, Fathur pernah bertugas di Jakarta selama tiga tahun. Tiga tahun terakhir dia di Bali.

Parti mengaku sangat terpukul dengan kepergian suaminya itu. Apalagi karena hal yang tidak mereka ketahui. “Kami tidak ngerti politik-politikan, lalu kenapa suami saya jadi korban,” kata Parti. Karenanya, dia sangat berharapa pelaku pengeboman segera ditangkap. Terlepas dari apa agama, kewarganegaraan, maupun motivasi pelaku pengeboman itu.

Kini dia tinggal satu rumah dengan keluarga besar suaminya. Selanjutnya dia belum bisa memikirkan apa yang akan dilakukannya untuk menghidupi keluarga. Sebab selama ini Fathur lah yang menjadi penyangga kehidupan keluarga.

0 Comments