Bersembahyang Sambil Jalan-jalan ke Menjangan

Pulau Menjangan

Seekor menjangan berdiri di pasir menyambut kami ketika baru berlabuh di dermaga selatan Pulau Menjangan Rabu (14/10) kemarin. Hewan seukuran anjing besar itu sepertinya masih muda. Sebab selain wajahnya yang masih imut-imut juga karena dia belum bertanduk sama sekali.

Menjangan itu berdiri di atas pasir putih. Dia sesekali melihat ke arah kami. Dia terlihat mencari air untuk minum karena berkali-kali memasukkan mulutnya ke air laut. Hewan pemakan rumput itu terlihat agak aneh di antara pasir, karang, dan air membiru di pulau yang sedang kering kerontang karena enam bulan tanpa hujan tersebut.

Continue reading “Bersembahyang Sambil Jalan-jalan ke Menjangan”

Bertemu Pejuang Bali Keturunan Israel

Ashram Landih, Kintamani

Makan siang Selasa kemarin benar-benar sempurna. Menunya nasi putih dengan lauk ikan mujahir goreng dan kuah basa genep berisi daging ayam kampung. Sayurnya plecing kacang panjang. Ikan mujahir gorengnya yang gurih dan kriuk-kriuk benar-benar dahsyat. Aku sampai makan tiga potong ikan mujahir berwarna kecoklatan karena dugoreng kering ini.

Namun bagian paling enak dari menu kemarin adalah suasana dan lokasinya. Suhu dingin, berkisar belasan derajat, dengan kabut tipis membuat makanan yang tersaji hangat itu terasa sangat nikmat. Lalu kami menikmati menu itu di tepi tebing. Ada ngarai di bawah kami dan tebing lain di seberang ngarai tersebut. Pohon dan perdu menghijau di sekeliling.

Continue reading “Bertemu Pejuang Bali Keturunan Israel”

Belajar Islam Saat Odalan

Sembahyang saat Odalan di Bali

Menjadi menantu orang Hindu Bali membuat saya juga harus bertoleransi pada upacara-upacara yang diadakan keluarga. Bukan hanya keluarga kecil seperti mertua atau saudara ipar tapi juga keluarga besar. Salah satu ciri khas Bali kan karena kuatnya ikatan di antara keluarga besar terutama saat upacara agama.

Saya tidak terlalu sering ikut upacara seperti pawiwahan (pernikahan), mepandes (potong gigi), atau odalan (perayaan enam bulanan pura keluarga atau desa). Biasanya sih alasannya karena sok sibuk atau karena memang agak malas juga. Bayangkan saja kalau odalan itu diadakan tiap enam bulan sekali di masing-masing keluarga. Kalau ada enam saudara yang mengadakan odalan, berarti bisa tiap bulan saya ikut upcara.

Continue reading “Belajar Islam Saat Odalan”

Lomba Blog BBC untuk Kuta Karnival

Memeriahkan Kuta Karnival 2009 sekaligus menghidupkan kembali semangat ngeblog yang makin redup, Bali Blogger Communty (BBC) mengadakan Lomba Ngeblog untuk Umum. Lomba ini bertujuan untuk mengembangkan citizen journalism (jurnalisme warga) sebagai media informasi alternatif. Tulisan harus disertai foto, karena foto juga akan dinilai. Lomba terbuka bagi siapa saja yang berminat menulis . Adapun tema tulisan adalah tentang Kuta Karnival 2009.

Untuk mengikuti lomba blog kali ini, Peserta cukup mengirimkan link tulisan atau bisa mengirimkan tulisan melalui email : lombablogbbc2009@gmail.com.

Continue reading “Lomba Blog BBC untuk Kuta Karnival”

Ritualistic battle honors the ancestors

Anton Muhajir, Contributor, Tenganan | Thu, 06/18/2009 1:19 PM |  Surfing Bali

With a tiny safety pin, 13-year-old Kadek Juliantara picked the sharp thorns out of the scratches carved into the shoulder of his best friend, 12-year-old Kadek Anjasmara. He did it with carefully, gently, so as not to cause any pain.

Yet these same wounds were inflicted by none other than Juliantara himself during the Perang Pandan battle held earlier in the morning. As always, best friends Juliantara and Anjasmara took opposite sides in the annual event.

As Juliantara carefully cleaned Anjasmara’s wounds, the other Tenganan youths gathered nearby amused themselves by teasing 8-year-old Bagus Saptana. Saptana looked a bit nervous: It would be his first time participating in the fight, known locally as mageret pandan or makare-kare. Naturally, the prospect of hurting his opponent or being hurt had shaken the boy up a little bit. And the older kids weren’t going to miss a chance to frighten the boy a bit more.

Continue reading “Ritualistic battle honors the ancestors”

Bersimbah Darah Menghormati Leluhur

Untuk pertama kalinya aku nonton Perang Pandan di Tenganan Pegeringsingan Rabu, tiga hari lalu. Ternyata asik juga. Sayangnya sih aku tidak bisa nonton dari awal sampai selesai. Hanya sekitar tiga jam di sana.

Tapi tidak apalah. Lumayan juga kok buat foto-foto sisi lain dari perang tiap tahun ini. Ini sebagian di antara foto-foto itu..

Peralatan perang pandan terdiri dari satu ikat daun pandan dan tameng terbuat dari anyaman daun ata.

Continue reading “Bersimbah Darah Menghormati Leluhur”

Perjalanan Lukman Menembus Batas

Pameran Lukman

Berjudul “The Journey”, saya membayangkan pameran foto Lukman S Bintoro, fotografer lepas yang juga teman saya, ini akan berisi foto-foto hasil perjalanannya ke berbagai tempat. Dalam perjalanan, hal yang menarik biasanya adalah tempat, manusia, peristiwa, atau sekadar suasana yang dialami.

Apalagi ketika sebulan lalu saya membantunya membuat blog untuk pameran foto-foto yang diperlihatkan adalah perjalanannya ke dua negara, Kamboja dan Timor Leste. Makanya saya yakin banget bahwa Lukman akan memamerkan foto-foto hasil perjalanannya ke dua negara itu dan berbagai tempat lain yang pernah dikunjunginya.

Continue reading “Perjalanan Lukman Menembus Batas”

Mencari Tempat Diskusi di Denpasar

Pekan lalu, Ana, teman yang baru tinggal di Bali mengeluh tentang ketertinggalannya soal wacana film. Teman itu lahir dan besar di Jakarta. Dia pernah bekerja di Timor Leste sebelum bekerja di Bali sejak sekitar Oktober lalu. Obrolan kami terjadi ketika kami diskusi kecil soal Slumdog Millionare, film pemenang delapan kategori di Oscar tahun ini.

Ketertinggalan wacana itu, kata Ana, karena kurangnya tempat diskusi di Denpasar. Dia sih membandingkan kondisi Bali dengan Jakarta. Kalau di Jakarta, ceritanya, mau diskusi soal seni misalnya bisa di Taman Ismail Marzuki (TIM). Atau, contoh lain, soal peluncuran buku bisa di Aksara, Kemang. Dan seterusnya..

Continue reading “Mencari Tempat Diskusi di Denpasar”

Candidates take their campaigns online

Anton Muhajir,  The Jakarta Post,  Denpasar | Mon, 02/02/2009 4:06 PM | Bali

Rather than displaying their faces on billboards and banners, several Bali legislative candidates have decided to take their campaigns online.

I Gusti Agung Putri Astrid Kartika is one of them. For the past six months, the candidate from the Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI-P) has been counting on her two Facebook profiles and her blog page to promote her candidacy.

“One person left a comment, saying that a legislative candidate shouldn’t be drinking,” she said, referring to her recent Facebook profile update that she was “enjoying a beer”.

Continue reading “Candidates take their campaigns online”

Bali temple hall moonlights as makeshift classroom

Anton Muhajir, Contributor, Denpasar | Wed, 01/28/2009 3:25 PM | The Archipelago

Eight-year-old Manik Manu Harani likes studying on the floor of the Dharmayana Kongco temple hall in Kuta.

“It is just more relaxing to study here” she said Thursday.

Manik is one of the 25 third-grade students from the state elementary school SDN 1 in Kuta studying at the hall on Thursday afternoons. They all agree that this hall has become a favorite spot for after-school lessons.

Continue reading “Bali temple hall moonlights as makeshift classroom”