Kehangatan Keluarga di Taman 65

Kue ulang taun di meja kecil itu dikelilingi sekitar 30 orang. Umur mereka beragam. Ada yang masih digendong, ada juga yang berjalan tertatih karena umur yang uzur. Mereka semua bergembira. Ada yang berteriak, “Cium. Cium. Cium..” Lalu semua mengikuti teriakan itu. Dengan malu-malu, ibu yang merayakan ulang tahun ke-50 malam itu mencium pipi suaminya. Semua tergelak. Tertawa.

Sebelum kue dipotong ada yang berbicara. Ada sanjungan. Ada pujian. Ada terima kasih. Continue reading “Kehangatan Keluarga di Taman 65”

I Nyoman Sadra Meneruskan Kesederhanaan Gandhi

-dimuat 18 Maret 2007 di Media Indonesia-

Sang Pionir,
I Nyoman Sadra Meneruskan Kesederhanaan Gandhi

Berada di Candi Dasa membuat Ashram Gandhi seperti oase. Tempat belajar agama Hindu ini dikepung hotel, bungalow, restoran, dan bar. Ashram Gandhi mengajarkan kesederhanaan ketika tempat lain menyajikan kesenangan duniawi. Penghuni Ashram Gandhi memilih beryoga, berpuja, dan berdoa ketika turis asing menikmati pantai atau sekadar bersantai di ketenangan kawasan wisata ternama di Bali timur tersebut.

Jumat tengah hari lalu misalnya empat orang duduk di balai tempat yoga di ashram yang masuk wilayah Kecamatan Manggis, Karangasem itu. Mereka menggumamkan puja dan doa dalam bahasa Sansekerta. Selesai berdoa, makan siang disajikan di balai yang sama. Menunya vegetarian. Inilah kesederhanaan yang dilakukan Ashram Gandhi Candi Dasa. Ini pula yang diteruskan pengasuh Ashram Candi Dasa saat ini I Nyoman Sadra. Continue reading “I Nyoman Sadra Meneruskan Kesederhanaan Gandhi”

Musibah Garuda itu Jadi Liputan Eksklusif Wayan

Wayan Sukarda menggelar pesta syukuran di rumahnya di Perum Nuansa Udayana Jimbaran Senin (12/3) lalu. Wayan salah satu korban kecelakaan Garuda di Yogyakarta Rabu pekan lalu. Tak hanya selamat, kontributor stasiun TV swasta Lativi dan sejumlah media TV Australia itu pun membuat liputan eksklusif kecelakaan yang menewaskan 22 orang, termasuk empat warga negara Australia tersebut.Syukuran itu sederhana. Undangan, hampir seluruhnya wartawan teman Wayan sehari-hari liputan, duduk di kursi plastik di garasi. Makanan disajikan di teras rumah. Ada ikan bakar, ayam goreng, ayam betutu, dan tentu saja babi guling. Continue reading “Musibah Garuda itu Jadi Liputan Eksklusif Wayan”

Perjalanan Menantang Kematian Ketika Pulang

Perjalanan pulang dari Denpasar ke Lamongan ibarat perjalanan menantang kematian. Begitu pula ketika kembali ke Bali.

Kecemasan pertama berawal ketika bis Bali Buana Artha yang kami tumpangi baru meninggalkan terminal Ubung Denpasar Rabu pekan lalu sekitar pukul 19.30 wita. Bukan bisnya itu sendiri. Tapi ulah salah satu penumpang di kursi kanan luar sekitar tiga kursi di belakangku. Continue reading “Perjalanan Menantang Kematian Ketika Pulang”

Pulang Marilah Pulang. Pulang Bersama Bani

Ternyata rencanaku berubah. Seharusnya Rabu ini aku udah di Lamongan. Menikmati terik matahari atau hujan badai di sana -Cailah!. Tapi eng ing eng. Rencana berubah. Pas ke rumah mertua untuk pamit Senin sore kemarin ternyata mertua tidak ada di rmah. Mereka juga pulang kampung ke Karangasem, sekitar 75 km dari Denpasar. Ada otonan ponakan dan odalan di pura keluarga. Pamitan pun tidak jadi.

Tapi rencananya tetap ke Lamongan Selasa sore. Continue reading “Pulang Marilah Pulang. Pulang Bersama Bani”

Pulang Marilah Pulang. Mari Pulang Bersama-sama..

Ini sesuatu yang tak biasa. Tiga kakakku nelpon berturut-turut Minggu kemarin. Pagi banget Kak Hid yang jualan ayam goreng di Bengkalis telepon. Kakak nomer tiga ini memang paling rajin telepon, terutama pagi-pagi. Soalnya memanfaatkan fasilitas telepon murah oerator Simpati. Karena itu kalau telepon dia ke nomor telp istriku. Isinya tanya kabar, bagaimana kerjaan, anak, istri, dst. Sekitar pukul 8, gantian Yuk Tim yang guru ngaji di Lamongan. Kakak kedua ini jarang telepon. Paling tiga bulan sekali. Isinya tanya kabarku, anak, dan istri. Sekitar pukul 11 gantian Kak Alhan, yang guru di Jakarta juga telepon. Isinya mengejutkan: dia barusan wisuda magister manajemen pendidikan di Universitas Islam Jakarta. Wah, selamaat…

Ditelpon kakak bukan hal yg luar biasa. Tapi ditelpon berturut-turut pada hari yang sama jelas langka. Apalagi semalem sebelumnya aku juga abis telpon Bapak Ibu di Lamongan. Kabarnya Bapak Ibu lagi sakit. “Nek iso mbok muleh,” kata Ibuku. Permintaan yg sama juga dibilang tiga kakakku pas nelpon kemarin. Continue reading “Pulang Marilah Pulang. Mari Pulang Bersama-sama..”

Setelah Usulan Itu Gak Tembus

Usulan ke Playboy Indonesia yg ditolak itu. Ini usulan ketiga yang ditolak. Sebelumnya ada soal operasi dada di kalangan waria dan seni rupa “pinggiran” Bali. Alasan ditolak sih karena tema2 ini gak nyambung sama visi PB yg embracing life.

Hmm, harus pinter2 cari tema kalo gini. Dan, semoga ga patah semangat. :)) Continue reading “Setelah Usulan Itu Gak Tembus”

Pegawai Perpustakaan yang Tak Menyenangkan

Dulu, pas baru awal-awal di Bali, hampir tiap hari aku ke Perpustakaan Daerah Bali. Perpustakaan terbesar di Bali ini memang tidak jauh dari tempat kosku di Jl Pulau Ambon Sanglah. Paling jauh 500 meter. Pulang kuliah juga aku gak ada kerjaan. Jadi ya sampe kos, naruh tas, lalu naik sepeda gayung ke perpus di Jl Teuku Umar ini. Kalau pas Sabtu, bisa berjam-jam di sana.

Salah satu buku yang aku inget banget tuh soal novel karya Knut Hamsun -bener ga ya nulisnya?- berjudul Lapar terbitan Yayasan Obor Indonesia. Ceritanya soal orang kelaparan. Menyentuh. Banyakan buku yg aku baca waktu itu memang karya sastra. Continue reading “Pegawai Perpustakaan yang Tak Menyenangkan”

Lamo Nian Tak Besuo

Ah, lama banget ga nulis sesuatu yg sangat personal di blog ini. Kemarin abis ngobrol ma Kang Arif Budiman, Matamera yang punya somebali2love.blogspot.com, aku jadi inget blog ini. Tiga empat posting terakhir hanya tulisan2 feature.

Ya ga ada salahnya sih. Tapi kurang asik aja kalo ga ada sesuatu yg personal.

Jadi ya semoga bisa rajin posting lagi. :))