Artinya, Pelanggaran HAM Diperbolehkan dengan Alasan Tertentu?

“Lalu kenapa kalau melanggar HAM?” bupati itu balik bertanya. Kami diam. Aku baru hendak menjawab, dia sudah menambah lagi. “Saya kan berhak melindungi masyarakat saya dari ancaman HIV/AIDS.” HAM yang sedang kami bicarakan tentu saja hak asasi manusia, bukan HAM-burger apalagi HAAAM, apa ya? :p Aku dan teman sedang liputan soal HIV/AIDS di Jembrana, kabupaten paling barat Bali selama dua hari kemarin.

Ceritanya, 13-14 Januari lalu Pemkab Jembrana melakukan sweeping kartu tanda penduduk (KTP) bagi warga pendatang. Ini sih hal yang biasa dilakukan di daerah urban seperti Denpasar, Jakarta, Batam, atau kota lain. Persoalannya, pemeriksaan bukti sebagai warga negara yang baik itu dilakukan dengan tendensi pencegahan HIV/AIDS.

Dua hari sebelumnya, bupati menerima proposal lokakarya tentang HIV/AIDS. Di dalam proposal yang dibuat Dinas Kesehatan setempat itu disebutkan bahwa saat ini ada lima warga Jembrana positif HIV/AIDS. Data berdasar pada hasil serosurvey yang rutin dilakukan dinas kesehatan. Serosurvey itu tes darah secara unlink dan anonymus, artinya tidak diketahui darah siapa yang positif HIV/AIDS. Lokasinya di daerah beresiko tinggi (resti) seperti lokalisasi (terbuka maupun terselubung) dan cafe-cafe.

Nah, begitu tahu soal data tersebut, bupati terkesan panik. Apalagi, data tersebut juga dimuta media-media lokal di Bali. Bupati yang juga dokter gigi itu segera membuat tim gabungan dari satpol PP -yang selalu menangkap orang-orang kecil-, polisi -yang beraninya juga cuma penjahat kecil-, anggota DPRD -yang tidak berani digaji kecil ;p-, dan lain-lain. Tim gabungan itu ditugaskan melaksanakan pemantauan, pembinaan, dan penertiban kependudukan pada 13-31 Januari. Tim ini dibuat per 12 Januari 2005.

Dilihat dari tanggal proposal masuk, tanggal pembentukan tim gabungan, serta waktu operasi, jelas terlihat kalo operasi itu khusus nangkepin orang yang dicurigai positif HIV/AIDS. Maka, sasaran operasi pun daerah-daerah resti seperti lokalisasi (tertutup) di Gilimanuk dan kafe-kafe di pantai Delodberawah. Hasilnya, 11 orang dibawa ke kantor Satpol PP. Mereka lalu dites darah untuk mengetahui positif HIV/AIDS apa tidak.

Ini masalahnya! Selama ini, untuk tahu orang itu positif HIV/AIDS atau tidak tuh dilakukan dengan VCT alias tes darah sukarela. Tidak boleh dipaksa. Namun kali ini mereka dipaksa. Kata kepala dinasnya sih itu bukan VCT tapi serosurvey. Tapi serosuvery pun tidak boleh dilakukan secara paksa. Ini sudah standar penanganan masalah HIV/AIDS internasional. Hasilnya sendiri semuanya negatif.

Tes darah secara paksa inilah yang dikategorikan melanggar HAM. Tudingan itu datang dari kalangan aktivis HIV/AIDS di Bali maupun nasional. HIV/AIDS tidak mengenal identitas. Semua bisa tertular. Eh, bupati yang cerdas itu malah dengan santainya bilang kaya gitu tadi. Jadi heran aja. Padahal dia kan juga profesor di salah satu universitas swasta di Denpasar. Kalau memang mau menanggulangi HIV/AIDS, tidak bisa dong dengan cara-cara melanggar hak asasi penjaja seks komersial dan cewek kafe itu. Kan seperti lagu Seurius, “Cewek juga manusia. Punya mata punya hati..” 🙂

Ah, Masa Harus Ngancurin Berhala Kaya' Ibrahim?

-huh, akhirnya bisa juga posting catatan pas Idul Adha ini. beberapa kali mau posting, ada aja masalah soale-

Soal khotbah Idul Adha yang bagiku tidak menarik. Secara body language. Dari awal hingga akhir khotbah, khotib itu terus saja melihat catatan yang dipegangnya. Mukanya aku lihat selalu menunduk. Padahal ribuan umat yang hadir di Masjid Agung Sudirman Denpasar itu melihat ke arahnya. Mbok ya sekali-kali melihat ke arah kami, kek. Biar keliatan gimana mimiknya.

Selain wajah, tangannya juga terus menerus memegang catatan. Jadi, tidak ada gerakan atau bahasa tubuh yang bisa membuat kami -atau cuma aku ya?- menikmati khotbahnya. Monoton. Boring!

But, paling parah justru materi khotbahnya. Selama sekitar 30 menit, khotib itu melulu ngomong soal bagaimana perintah berqurban bisa turun. Perintah ini tidak lepas dari sejarah Ibrahim, yang kemudian melahirkan keturunan pembawa Yahudi, Nasrani, dan Islam. -Iya ya, padahal satu kakek, kok kebanyakan penganut tiga agama ini sering gontok-gontokan-. Sejak kecil, Ibrahim sudah berani melawan keyakinan orang tuanya. Salah satunya dengan menghancurkan berhala-berhala di tempat kelahirannya. Lalu, kapak yang dipake untuk menghancurkan itu dikalungkan pada leher berhala paling besar. “Kita harus meneladani keberanian Ibrahim melawan keyakinan orang tuanya,” kata khotib itu.

Khotib itu tidak menjelaskan bagaimana “melawan” itu. Cuma aku pikir, masa iya sih melawan dengan cara sekasar itu. Secara frontal. Menghancurkan. Juga, masa harus menghilangkan keyakinan orang lain? Aduh-aduh, hari gini kok masih ada khotib kaya gitu.

Lalu, berlanjut soal bagaimana Ibrahim mengurbankan Ismail untuk disembelih sebagai tanda cinta kepada Tuhan. Dengan kuasa Tuhan, Ismail diganti qibas -ya, mungkin di Indonesia semacam kambinglah-. But aku heran kenapa khotib itu kok tidak memberi sesuatu yang kontekstual ya. Biar kita bisa mengambil hikmah dari khotbah itu.

Tidak usah berat-beratlah. Paling baru kan ada soal Aceh. Kenapa tidak nyinggung soal bagaimana harus membangun solidaritas. Atau mengorbankan sesuatu untuk kemanusiaan di tempat lain-lain. Khotib itu cuma cerita tentang sejarah. Tapi tidak memberikan sesuatu yang bisa dicontoh. Jadi, tidak ada bedanya dengan cerita guruku pas masih di SD.

Lalu, Kenapa Media Itu Mati Satu per Satu?

Rekan-rekan,

Jika Anda perhatikan, sudah 2 bulan terakhir ini (Desember 2004 dan Januari 2005), halaman khusus “Bentara” di harian Kompas yang biasanya hadir Rabu pertama setiap bulan, tidak terbit. Kabar yang saya terima dari beberapa rekan di Kompas, bahwa halaman khusus itu akan dihentikan penerbitannya. Tak ada alasan yang jelas dan pasti. Sementara sejumlah rekan, penulis esai, penyair, pengamat seni-budaya, seniman, mahasiswa, yang selama ini rajin mengikuti pertukaran pemikiran di dalam “Bentara”, merasa kehilangan.

Selama 4 tahun kehadirannya, “Bentara” telah menjadi ruang latihan intelektual yang berharga bagi kita untuk mengembangkan kemampuan mengemukakan pendapat dan pemikiran dalam bentuk esai. Juga ruang yang berharga di mana puisi masih mendapat tempat penting sebagai bagian perkembangan kesenian di negeri ini. Ia juga jadi etalase bagi ilustrasi atau foto karya seni rupa agar bisa tampil ke hadapan publik yang lebih luas.

Sebagai salah seorang yang awalnya terlibat ‘urun gagasan’ penerbitan “Bentara” tentu saja saya sangat berharap lembar khusus itu bisa terus terbit di Kompas.

Untuk itu, saya mengajak rekan-rekan mengirim e-mail kepada rekan-rekan di Kompas yang selama ini menjadi penjaga rubrik “Kebudayaan” termasuk “Bentara”–untuk mempertanyakan hal ini, sekaligus memberi dukungan dan dorongan agar lembar khusus “Bentara” segera terbit kembali.

Harapan saya, semua e-mail itu bisa jadi semacam ‘mosi dukungan’ bagitim editor “Bentara” untuk diajukan kepada Dewan Redaksi Kompasyang “entah apa alasannya” telah menghentikan penerbitan “Bentara”. Mohon sebarluaskan permintaan dukungan ini. Dan, segeralah berkirim e-mail ke:

Bre Redana: don@k…

Efix Mulyadi: efix@k…

Salomo Simanungkalit: sal@k…

Terima kasih.

Enin Supriyanto

==========================

-Aku dapet email itu dari milis pantau-komunitas@yahoogroups.com. Kaget juga tahu bahwa Kompas, media yang selalu jadi ukuran kemapanan media di Indonesia, ternyata terancam rugi juga. Buktinya ya Bentara, rubrik yang berbobot itu tutup juga. Padahal, Bentara memang sesuatu yang sangat berbeda di tengah “kedangkalan” informasi di Indonesia.

Dan, kemarin aku juga ngobrol sama teman wartawan Latitudes, majalah budaya di Bali yang terbit dalam bahasa Inggris, bahwa medianya juga akan tutup. Padahal Latitudes termasuk media yang mendapat tempat di kalangan pecinta budaya, entah yang pop, tradisional, maupun yang lain. Buktinya, Goenawan Muhamad, Adrian Vickers, Ayu Utami, Clifford Geertz, Maria Hartiningsih, dan penulis bagus lainnya pernah nulis di media yang berdiri lima tahun lalu tersebut.

Dan, baru kemarin rasanya aku baca berita bahwa Far Eastern Economic Review -berpusat di Hongkong- juga tutup. Dua media di Singapura yaitu Channel U News TV dan koran Streats, milik Singapore Press Holding, yang nerbitin The Straits Time, juga tutup.

Ah, kenapa semakin banyak saja media bermutu yang mati. Padahal, baru tadi pagi aku baca tulisan di buku Lifestyle Ecstasy, bahwa abad ini adalah abad informasi. Lalu kenapa satu per satu penyedia informasi itu mati?

Soal Keberanian, Uang, dan Pilihan

Seorang teman, juga senior, hari ini ngobrol dengan agak sinis. Bahkan, ketika ngobrol bibirnya terlihat bergetar. Entah karena marah atau karena memendam sesuatu yang dia sendiri tidak bisa menyampaikan persis lewat kata-kata yang disampaikan padaku. Kami bertemu di cafe, tempat yang biasanya identik dengan hal-hal santai. Jadi, agak ironi juga.

Soal keberanian. Tiba-tiba dia menyalahkanku karena aku dianggap tidak berani bekerja di media lokal. Tak hanya itu dia juga menyalahkan pers mahasiswa di mana aku pernah belajar. Juga, organisasi jurnalis yang saat ini aku ikut di dalamnya. -Eh, dia juga ikut di situ, ding. Bahkan dia yang mendirikan-

Bermula dari obrolan soal media yang dia didirikan sekitar sebulan ini. Tabloid mingguan dengan topik umum. Laporan utamanya sih selalu politik.Tapi isinya ada juga seni, berita nasional, juga tokoh. Aku pernah diajak masuk. But ku tolak. Ketika ngobrol itu aku baru tahu bahwa tiga wartawan tabloid itu sudah keluar. “Ah, mereka memang tidak sanggup dengan ritme kerjanya,” kata teman itu. Lalu dia menyalahkan kenapa tidak ada alumni pers mahasiswa tempatku yang tidak mau masuk di medianya. Juga mengatakan bahwa alumni pers mahasiswa itu tidak berani kritis.

Aku sebutkan dua nama alumni yang di Komisi Pemilihan Umum Provinsi Bali dan di Bali Corruption Watch.

“Itu kan dulu. Yang sekarang mana?”

Lalu dia nyerocos soal pilihan yang kuambil. “Kamu masuk media mingguan nasional hanya karena mau enaknya. Karena kamu tidak mau susah bekerja di harian lokal.”

“Ya, itu soal pilihan. Kalau ada pilihan enak, kenapa harus cari yang susah.”

“Karena kamu hanya mikir soal duit.”

“Itu hanya salah satu faktor. Sebab lainnya karena soal waktu. Kerja di harian lokal sangat memeras waktu sementara duit kecil.”

“Kalau begitu tidak usah ngomong soal anti amplop dan serikat pekerja. Kalau kamu tidak bekerja di media lokal, berarti kamu tidak berani untuk melakukan itu semua. Bla bla bla..”

Banyak banget omongannya. Semua menyudutkanku. Menyalahkanku.

Melihat wajahnya yang memerah dan omongan yang semakin meninggi. Aku diam saja. Lalu pembicaraan usai.

Lokal, Global, Gombal!

Sore tadi ikut nimbrung ngobrol santai sama David T Hill dan Krishna Sen. Mereka suami istri dari Australia. Si Suami adalah profesor kajian Asia Tenggara Univ Murdoch sedangkan istrinya profesor kajian Media di Asia. Krishna, katanya, masih punya hubungan keluarga dengan Amartya Sen, pemenang nobel di bidang ekonomi. Aku lupa tahun berapa.

Diskusinya santai banget. Sekitar 20 orang duduk mengitari dua meja sambil minum teh anget. Juga, pisang goreng dll. Pesertanya ada mahasiswa, wartawan, aktivis, dosen, juga penulis.

Obrolan seputar politik media lokal. But, obrolan agak mentok di definisi media lokal. Hari gini masihkah ada yang lokal. Atas dasar apa? Segmen pembaca? Materi berita? Jangkauan? Kalau toh ada definisi itu, lalu untuk keperluan apa? Ekonomis? Politis?

Lokal, apakah harus yang bersifat kedaerahan? Kalau toh di daerah, tidakkah lambang-lambang yang global itu juga semula hanya lokal. Meski agak beda konteks, KFC pun hanya resep ayam goreng dari sebuah kota bernama Kentucky. Lalu, dengan kekuatan promosi dia menjadi besar. Jadilah sesuatu yang identik dengan globalisasi. Juga di dunia mode. Tidakkah ada penyeragaman style dari lokal banget kemudian dipublikasikan sehingga kemudian jadi sesuatu yang melintas batas kelas atau ras atau apalah. Bla..bla..bla..

Atau, di dunia media, cobalah kita ambil contoh Jawa Pos. Tidakkah dia semula hanya sesuatu yang bersifat lokal. Bahkan sampai sekarang pun kantor pusatnya masih di Surabaya, kota yang juga masih identik dengan “daerah”. But, siapa sih yang tidak tahu Jawa Pos? Dia menggurita dengan Radar yang hampir ada di tiap daerah di Indonesia.

Lokal, global, jangan-jangan sesuatu yang gombal. -Ih, maksa banget , ya?-

Benar-benar Perjalanan di Atas Awan…

-catatan perjalanan pekan lalu-

Jumat, 31 Desember 2004. Pukul 09.30 wib di Jl Garut No 6 Malang. Kami berdoa terlebih dahulu sebelum berangkat. Rombongan terdiri dari 28 orang yang berasal dari tiga kelompok: alumni Encompass Trust, anggota YEPE Malang, dan Gladi Yogyakarta. Hari ini kami akan melakukan perjalanan ke desa Ranupane di kaki gunung Semeru, gunung tertinggi di Jawa. -kalau gak salah malah tertinggi di Indonesia-

Kami akan meresmikan contoh rumah sehat di desa perbatasan Malang-Lumajang tersebut. Rumah ini dibangun oleh tiga organisasi yaitu Yayasan Agadhipa, Encompass Trust, serta YEPE Malang. Aku dan teman alumni Encompass yang lain diundang untuk hadir di peresmian itu. Sekalian jalan-jalan tahun baru kenapa tidak?

Rombongan dibagi jadi dalam lima mobil. Tiga mobil Land Rover punya Gladi yang warnanya seragam, oranye. Dua yang lain di Kijang dan Panther. Aku dan lima tujuh teman lain naik di Land Rover panjang bernopol BG 1070 KA. Ini memang mobil paling panjang. Karena itu penumpang dan bawaannya pun paling banyak. Biar bisa saling kontak, tiap mobil Land Rover itu dilengkapi radio Orari. Jadi inget tahun 80-an pas Orari ngetrend di kampungku. 🙂

Ketika sampai di Tumpang, dua mobil “baik-baik” (Kijang dan Panther) berganti dengan Hard Top hitam nyewa di penduduk setempat. Beberapa warga Tumpang memang menyewakan mobil untuk dipakai ke Ranupane. Harganya sekitar Rp 150 ribu sekali jalan.

Keluar Tumpang, kami mulai melewati beberapa desa penghasil apel. Asik banget lihat langsung kebun apel dengan buah yang dibungkus kertas putih. Maklum, selama ini kan aku jarang liat pohon apel. Jadi pas lihat itu ya seneng banget. Kaya orang gunung liat pantailah.. Di desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo ratusan hektar kebun apel itu berada di kanan kiri jalan. Beberapa orang sedang memetik apel. Ada pula tumpukan apel di dalam keranjang yang siap dijual. Maunya sih kami membeli dari mereka. But, ga enak sama rombongan. Jadi ya liatin aja.

Setelah itu perjalanan semakin mendaki. Jalan masih beraspal meski tidak sebagus sebelumnya. Di kanan kiri kami mulai terlihat jurang dengan kedalaman ratusan meter. Ngeri campur takjub. Dingin pun mulai terasa di tengkuk. Syal Khmer yang semula kuikat di kepala mulai kuturunkan di leher. Jaket dieratkan.

Jurang semakin dalam dan mengerikan, juga menakjubkan setelah itu. Jalan tak lagi beraspal tapi berpaving. Kadang-kadang rusak. Di satu point, jalanan yang kami lalui sangat kecil, hanya cukup untuk satu mobil dan di kanan kirinya persis ada jurang. Tikungan juga semakin tajam. Aku merasa ngeri. Takut bagaimana kalau mobil yang kami tumpangi tergelincir jatuh ke bawah sana. Ih, ngeri..

Kengerian semakin bertambah ketika mobil yang aku tumpangi terlihat mulai kurang beres. Kadang-kadang mati. Paling parah terjadi sekitar tiga jam perjalanan dari Malang. Ketika jalanan mendaki, tiba-tiba mobil mati. Di kiri kami hanya jurang. Secara refleks, kami turun lalu menahan mobil agar tidak mundur. But, mobil masih mundur meski sudah diganjal. Jantung berdegup kencang.

Parahnya lagi, mobil bener-bener gak mau hidup. Akhirnya didorong dengan mobil di belakangnya. But, jalanan semakin mendaki. Tajamnya bahkan sampai 45 derajat kali. Selain itu juga berkelok. Alhasil, mobil yang mogok pun ditinggal. Beberapa penumpang pindah ke mobil lain. Juga barang bawaannya.

Untungnya tak lama abis itu mesin mau hidup setelah disiram pake air segala. Penumpang berganti. Kali ini semuanya cowok. Posisinya pun semuanya siap loncat sewaktu-waktu mobil mogok. Semua juga bawa satu penahan ban entah batu, kayu, atau benda lain. Eh, ternyata abis itu mobil melaju dengan lancar. Padahal jalanan tetap semakin mendaki, kelokan semakin banyak, dan tambah rusak.

Kami malah menyalip beberapa mobil yang lain. Lalu kami berada paling depan. Sampai di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, mobil berhenti. Inilah satu-satunya desa yang kami temui dalam perjalanan setelah masuk kawasan Taman Nasional Tengger Bromo Semeru. Petani di desa ini bertanam di tanah yang miring banget. Gimana mereka bisa berdiri di tempat miring begitu? Gila juga, pikirku.

Sekitar pukul 1.30 siang, kami sampai di point Jemplang. Di tempat ini ada dua tempat istirahat. Sayangnya penuh coretan. Kabut menyelimuti kami. Ketika bernafas, asap keluar dari mulut kami. Wah, serasa di luar negeri pas musim dingin. 🙂

Point Jemplang merupakan pertigaan. Kalau terus akan mengarah ke Ranupane sedangkan kalau belok kiri akan mengarah ke gunung Bromo. Ada lembah yang terbentuk dari lingkaran gunung Widodaren. Di bawah sana, hamparan semak menjadi pemandangan menarik. Awan berarak di bawah sana. Kami di atas awan! Udara jauh lebih dingin. Mungkin sekitar 5 derajat celcius.

Usai melepas penat, perjalanan dilanjutkan. Hingga dua jam kemudian tiba di Ranupane. Desa kecil ini merupakan desa terakhir sebelum mendaki Semeru. Katanya sih perlu waktu tiga hari untuk sampai di puncak Semeru dari tempat ini. Mau nyoba? Kalau aku sih kapan-kapan aja. 🙂

Ranupane masuk Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. But, jalan paling cepat ya lewat jalanan yang aku lewati tadi. Petani di desa ini menanam bawang prei, kubis, dan sayur lain. Penduduknya sekitar 300 orang dengan rumah yang terpencar. Ada satu SD, satu puskesmas, satu masjid, dan satu… pura! Pura itu hanya berjarak sekitar 100 meter dari masjid. Wah, mereka ternyata hidup berdampingan dengan damai meski beda agama. Hm, kali banyak orang harus belajar soal toleransi ke desa ini.

Setelah istirahat bentar, acara peresmian rumah sehat itu dilakukan. Ya, seremonial gitulah. Rumah itu diharapkan jadi contoh rumah sehat bagi warga lain. But, aku juga tidak melihat sesuatu yang berbeda kecuali perapian yang dipindah ke ruang tamu dan kamar mandi yang terpisah. That’s all.

Sore itu pula kami kembali. Aku berganti mobil. Ternyata perjalanan pulang jauh lebih menyenangkan. Mungkin karena sudah tahu medannya. Juga karena jalanan lebih banyak turun. Semburat merah matahari tenggelam membuat sore itu begitu menakjubkan. Di kanan kiri kabut. Dan di depan sana cakrawala itu merekah begitu indah. Cakrawala dan kabut itu lebih rendah dari tempatku berada. Lagi-lagi, aku benar-benar berjalan di atas awan..

Tan Malaka – Yang Terlupakan

Dibanding Soekarno, Hatta, Soedirman, atau pahlawan nasional lain, nama Tan Malaka bukanlah apa-apa. Dia tidak terlalu dikenal publik. Dulu, tiap orang termasuk mahasiswa yang mengagumi perjuangannya bahkan harus berhadapan dengan aparat. Bagi penguasa Orde Baru (Orba), Tan Malaka adalah momok. Setiap orang yang mengaguminya harus dicurigai

Empat tahun sebelum terjadi Sumpah Pemuda, enam tahun sebelum Hatta menulis brosur “Mencapai Indonesia Merdeka” pada 1930, atau bahkan delapan tahun sebelum Soekarno menulis brosur “Ke Arah Indonesia Merdeka” pada 1932, Tan Malaka telah menulis “Naar de Republik Indonesia” yang berarti “Menuju Republik Indonesia”. Ketika tulisan tersebut muncul, belum pernah ada tulisan yang mengulas cita-cita kemerdekaan Indonesia. Artinya, Tan Malaka adalah pemikir dan pejuang politik pertama di Indonesia yang mengajukan konsep negara Republik Indonesia (RI).

Namun, terlalu sedikit orang yang mengerti tentang Tan Malaka. Subjektivitas plus politisasi sejarah ala Orba membuahkan gambaran gelap tentang peran Tan Malaka bagi perjuangan republik ini. Akhirnya, Diponegoro, Imam Bonjol, Soekarno, Hatta, Soedirman, dan sederet nama pahlawan nasional lain juga lebih glamour dibanding Tan Malaka. Di antara nama-nama tersebut, Tan Malaka bukanlah apa-apa.

Tan Malaka adalah sosok misterius pada kancah pahlawan nasional. Bahkan keberadaannya tergolong kontroversial. Seorang muslim taat yang turut melahirkan Partai Komunis Indonesia, yang dikenal sebagai partai orang-orang atheis. Seorang pendukung Soekarno untuk menjadi presiden pertama RI, namun dia adalah orang pertama yang melawan ketika Soekarno mulai menerapkan demokrasi terpimpinnya.

Lalu apa menariknya membicarakan Tan Malaka saat ini? Hal yang pasti adalah bahwa Tan Malaka berjuang tanpa pamrih. Dalam sejarahnya, Tan Malaka tak pernah menduduki jabatan-jabatan birokrat, seperti Soekarno ataupun Hatta. Perjuangan politik Tan Malaka lebih diwarnai pembangkangan terhadap penguasa. Demikian juga, kehidupannya bahkan lebih terkenal dari penjara ke penjara. Ketika zaman imperialisme Belanda, dia harus mendekam di penjara. Ketika Jepang berkuasa, dia harus dipenjara, bahkan ketika Indonesia telah merdeka pun Tan Malaka harus dipenjara. Dia selalu jadi pembangkang penguasa. Perjuangannya tidak pernah diakhiri suatu jabatan publik. Nyaris tanpa pamrih. “Siapa ingin merdeka, harus berani di penjara,” teriaknya. Bahkan, ketika telah mati pula, Tan Malaka harus menjadi nama yang terpenjara.

Bangsa ini tak pernah mengakui keluarbiasaan ide Tan Malaka. Namanya lebih dikenal dengan tokoh antagonis dalam sejarah pahlawan nasional. Setidaknya, nama Tan Malaka dianggap sebagai momok bagi sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa karena ideologi politiknya yang “kiri”. Keberpihakannya pada perjuangan pada tataran grass root, dengan melibatkan pada pengorganisasian petani dan buruh melahirkan kecurigaan oleh kelompok mapan.

Tan Malaka lebih terkenal karena pikiran-pikirannya. Dia lebih banyak berjuang melalui ide-ide. Inilah barangkali salah satu alasan kenapa bangsa ini tidak terlalu menganggap penting perjuangannya. Selama ini, orang mendominasikan peran pahlawan-pahlawan yang berjuang melalui perang. Tan Malaka memilih berjuang dengan caranya sendiri, bukan dengan senjata. Orang pun, diakui atau tidak, akhirnya terjebak pada pola pandang kebenaran, materialis. Mengukur bentuk perjuangan dari sejauh bentuk fisik yang telah terbangun. Pejuang bertempur dengan penjajah. Sekian nyawa penjajah hilang. Atau pada konteks kekinian, sejauh mana pembangunan yang telah dilakukan seorang pejabat.

Tak heran pejabat akhirnya berlomba membangun prasasti, mengenang hasil perjuangan melalui kebendaan. Maka, wajar apabila Marx mengukur sejarah manusia pun melalui materi. Logika pikir kebanyakan orang terbentur pada materialisme. Logika pikir semacam ini lalu lari ke arah penghargaan perjuangan secara fisik. Seorang atlet mendapat penghargaan lebih dibanding seorang peneliti. Ide telah dikalahkan fisik. Padahal Jalaluddin Rahmat pernah mengatakan bahwa revolusi pun berawal dari sebuah gagasan. Artinya, perubahan sekecil apapun pasti diawali ide, pikiran. Lalu kenapa orang lalu menganaktirikan “pejuang ide”? Tan Malaka misalnya.

Dalam perjuangan mewujudkan ide inilah, kadang-kadang jabatan jadi alat. Dan, Tan Malaka konsisten dengan itu. Inilah hal luar biasa yang cenderung menjadi barang langka saat ini. Jabatan, status yang merupakan alat mematerialkan ide justru telah menjadi tujuan, meskipun terjadi distorsi antara tujuan ide dengan kondisi alat.Dari sinilah menjadi menarik jika dianalogikan dengan kondisi politik negeri ini. Kritik Amien Rais terhadap Gus Dur barangkali adalah pengingatan bahwa jabatan presiden bukanlah tujuan untuk mendukung Gus Dur dalam SU setahun lalu. Dukungan Amien Rais untuk menaikkan Gus Dur jadi presiden pada SU bisa jadi adalah untuk mewujudkan tujuan reformasi. Gus Dur jadi presiden bukan tujuan, tetapi alat. Dan, ketika Gus Dur belum juga mampu menjawab cita-cita penggulingan rezim Soeharto, barangkali Amien Rais bermaksud mengingatkan.

Tetapi, itu mungkin, karena Amien Rais pun bukan Tan Malaka. Bisa jadi ada tendensi di balik kritik penurunan Gus Dur. Bisa jadi Amien Rais pamrih, mengharap sesuatu dengan kritiknya. Dan, itu bukan hanya Ketua MPR tersebut. Bisa jadi Akbar Tandjung, Megawati, dan semua pemimpin di negeri ini, atau bahkan kita. Ironisnya, inilah gambaran “pahlawan-pahlawan” sekarang. Negeri ini telah didominasi orang-orang pamrih yang mengharap keuntungan dari apa pun yang dilakukan. Meskipun untuk tujuan itu, mereka mengorbankan rakyat kecil.

-pernah dimuat Bali Post-

"The Deep": Menyelam di Kedalaman

Dunia laut disajikan dengan informasi futuristik di dalam akuarium raksasa. Kita bisa menyelamatkan Bumi di sana.

Ketika mendekati Sungai Hull, Inggris, dari Laut Utara Eropa, terlihat bangunan yang berbeda dari bangunan lain di sekitarnya. Bentuknya sekilas mirip berlian dengan cahaya berkilauan. Warnanya kebiruan dan persis terletak di bibir laut yang airnya kecokelatan karena dekat dengan sungai tersebut.

Bangunan itu bernama The Deep yang di brosur-brosur pariwisata setempat disebut The World’s only Submarium. The Deep pun selalu berada di urutan nomor satu pada brosur-brosur di kota kecil di Inggris. Posternya berada di beberapa tempat publik, seperti stasiun kereta api atau pelabuhan yang saya singgahi. The Deep seperti menjadi maskot kota pantai berjarak sekitar tiga jam perjalanan kereta api dari London tersebut.

Bentuk yang sebenarnya, ketika berada dekat dengannya, ternyata lebih mirip kapal. Bagian mirip berlian itu adalah haluan mengerucut yang ujungnya berjendela kaca. Sedangkan buritan, atau bagian belakangnya, datar biasa berwarna hitam setinggi sekitar 25 meter yang juga terdapat beberapa jendela kaca. Dari “buritan” inilah kita akan masuk, menyelam di kedalaman The Deep.

Sebelum masuk akuarium raksasa ini, setelah membeli tiket 6,5 pounds atau sekitar Rp 94.000, pengunjung disambut lima lukisan pada kaca seukuran masing-masing 1,5 m x 3 m. Pada tiap lukisan di dinding berwarna biru laut itu digambarkan peradaban laut masa lampau. Misalnya tentang gambar perempuan-perempuan di kapal layar yang bergandengan dengan awak kapal. Di antara lukisan-lukisan itu terdapat tulisan dari Anne Sterenson yang ditulis di Laut Utara pada tahun 1977, The sea is as near as we come to another world….

Dan, kehidupan laut itu memang begitu dekat dan akrab. Sebab kita bisa menyelam di kedalamannya tanpa harus menggunakan kaki katak (fin), BCD, logam pemberat, kaca mata, dan peralatan menyelam lainnya. Kita tinggal menyusuri seluruh bagian The Deep yang berurutan berdasarkan waktu kehidupan.

Proses kelahiran planet

Bagian pertama bernama Ocean Cradle. Bagian ini menampilkan informasi kehidupan pada sebuah TV layar datar berukuran sekitar 1,5 m x 0,5 m persegi dilengkapi suara dan tulisan di bawahnya. Di tiap informasi juga terdapat permainan yang melibatkan kita. Pada bagian ini, setelah dikenalkan pembagian samudra di dunia yang terbagi antara lain Samudra Pasifik, Samudra Selatan, Samudra Hindia, Samudra Atlantik, dan Samudra Utara, kita bisa melihat proses kelahiran planet.

Diceritakan bahwa saat planet Bumi lahir sekitar 4.600 juta tahun hingga 3.500 juta tahun lalu adalah masa pembentukan dan perubahan laut. Perubahan bentuk samudra ini dijelaskan sebagai berikut. Lempengan raksasa membawa daratan dan samudra terhanyut menyeberangi permukaan Bumi. Lempengan itu kemudian menjadi dasar samudra. Karang-karang tua juga turut membantu perubahan bentuk samudra ini. Adapun permainan yang ada pada bagian ini adalah mengurut planet dari yang terdekat hingga yang terjauh dari Matahari.

Pada 600 juta tahun lalu barulah mulai ada makhluk hidup yang diawali oleh ubur-ubur. Makhluk bernama latin Aurelia aurita ini berada di sebuah tabung bening yang bisa kita lihat. Warnanya putih dengan tekstur tubuh yang sepertinya sangat lentur dan berlendir. Seratus tahun kemudian baru muncul ikan yang pertama. Ikan pada masa 500 juta tahun lalu ini tidak punya rahang sehingga hanya dapat mengisap atau menusuk mangsanya. Berturut-turut selanjutnya adalah 270 juta tahun lalu mulai muncul reptil di laut seperti iguana dan buaya laut; dan 55 juta tahun lalu muncul mamalia laut seperti paus.

Pada 130 ribu tahun lalu barulah manusia mengenal kehidupan laut. Pada bagian ini diperlihatkan bagaimana manusia membuat perahu untuk bergerak dari satu pulau ke pulau lain. Juga bagaimana manusia kemudian merusaknya, salah satunya dengan aktivitas menyelam. Menariknya, pada informasi ini juga diperlihatkan jumlah manusia di bumi yang terus bertambah. Hanya sekitar semenit di tempat ini sudah bertambah dari 6.234.887.688 menjadi 6.234.887.704.

Oya, bagian dari awal lahirnya bumi hingga manusia mengenal laut tersebut berada pada ruangan memanjang bertingkat dua. Kita harus menyusuri jembatan selebar 2,5 m sepanjang sekitar 20 m. Tiap informasi berada di bagian kiri jembatan. Ketika pada informasi mulainya kehidupan mamalia laut, di dindingnya terdapat fosil-fosil makhluk seperti dinosaurus yang berwarna putih dengan dinding biru laut dan lampu temaram.

Keluar dari Ocean Cradle ini kita berada pada ruangan bernama Lagoons of Light. Tempat ini mirip habitat terumbu karang, seperti salah satu titik menyelam di Pulau Menjangan, Bali Utara. Airnya bening dengan kaca setinggi 2 m dan air 1,5 m. Suhunya berkisar antara 23-25 derajat Celsius.

Menurut salah satu staf yang menjaga, ada 115 spesies ikan yang sebagian besar kecil ukurannya. Misalnya ikan neon yang berukuran sebesar ibu jari kaki orang dewasa. Ikan berwarna biru ini sangat mencolok karena seperti mengeluarkan cahaya. Atau ikan badut yang dikenal sebagai ikan nemo (Amphiprion ocellaris) di film animasi Finding Nemo. Mereka bergerombol berdasarkan jenisnya masing-masing. Pasir di tempat ini putih dengan koral berwarna-warni. Informasi di tempat ini adalah bahwa ombaklah yang membawa makanan bagi terumbu karang.

Masih di Lagoons of Light, pada tempat terpisah terdapat penjelasan masing-masing ikan yang hidup di bagian ini. Antara lain ikan bernama latin Chaeredon fasciatus, Zebrasoma flavercens, Centropyge bicolor, serta Pseudanthias squamipinnis. Ikan yang terakhir itu unik sebab mereka berwarna mirip terumbu karang. Warna ikan yang berwarna-warni ini untuk memudahkan mereka mengenali teman atau musuh.

Selesai di habitat terumbu karang ini, kita kemudian masuk ruangan Endless Ocean di mana terdapat ikan-ikan besar seperti pari, tongkol, hingga hiu. Ada juga jack fish (Caran sexfasciatus). Ikan mirip tongkol ini menarik sebab bergerombol dalam jumlah ratusan. Mereka berenang perlahan ke arah kaca akuarium raksasa. Namun, ketika ada hiu lewat, mereka berpencar dengan cepat lalu kembali pada gerombolan awal. Karena ada hiu ini pula maka diberi pembatas rantai besi antar pengunjung dengan kaca kolam. Seorang penjaga juga selalu berdiri dekat kaca seperti selalu waspada.

Selain akuarium raksasa sebesar kelas itu, di Endless Ocean juga terdapat akuarium-akuarium kecil dengan kekhasan spesies masing-masing. Antara lain jenis Living Together, Hide and Seek, Inteligence, Armed and Dangerous, Ocean Garden, hingga Father Care. Ikan yang cerdas itu misalnya cumi-cumi, sedangkan spesies yang peduli itu adalah kuda laut. Ikan lainnya antara lain ikan beo, roditence, mola-mola, stringray, gorgonian, serta sea fans. Berada di tempat ini serasa sedang menyelam di Tulamben, Karangasem, Bali Timur.

Selesai menyelami kehidupan laut di akuarium dengan 2,5 juta liter air dan 87 ton garam tersebut kita kemudian masuk bagian Kingdom of Ice. Sebelum masuk ruangan dingin ini, kita bisa istirahat di pintu gua. Asyiknya kita tetap bisa melihat berbagai macam ikan, termasuk hiu, berenang di sekeliling kita, bahkan tepat di atas kita. Sebab, kita berada di terowongan berdinding akuarium.

Pengaruh cuaca global

Masuk Kingdom of Ice kita disambut meja bulat yang berisi peringatan tentang pengaruh cuaca global terhadap keadaan Bumi. Setelah itu, ternyata tempat ini memang hanya terowongan es yang membawa kita ke tempat lain. Kali ini adalah arena permainan bernama Deep Blue 1.

Masuk area ini kita disambut tulisan futuristik, Deep Blue 1 was opened by President of The World Federation States on International Ocean Day 2042. Ruangan ini berisi sepuluh jenis permainan yang seluruhnya berkaitan dengan kehidupan laut. Selain itu, ada tiga layar sekitar 3 m x 2,5 m yang menyajikan informasi tentang Sungai Amazon yang memang berpengaruh besar terhadap kehidupan laut di Bumi.

Adapun permainan seluruhnya berupa misi menyelematkan Bumi. Salah satunya adalah dengan bagaimana kita bisa mempertahankan jumlah air di Bumi sementara jumlah manusia semakin bertambah. Penyajian permainan ini sangat modern layaknya misi luar angkasa atau perang antar galaksi di film-film futuristik.

Di Deep Blue 1 penyelaman berakhir. Sebab, setelah itu, kita naik ke permukaan dengan lift. Asyiknya, lift lambat ini melewati tengah-tengah akuarium raksasa dan berhenti setiap 15 detik. Jadi kita masih tetap bisa menikmati kedalaman The Deep hingga permukaan. Begitu kita keluar dari lift, eh, tau-tau kita sudah berada di tempat penjualan souvenir yang seluruhnya bertema kehidupan laut. Dengan modal tak sampai 5 pounds kita bisa milih kartu pos tiga dimensi, pulpen, diari, kalender, serta souvenir lain untuk kenang-kenangan setelah “menyelam”.

-dimuat Kompas-