Satu per Satu Semua Berlalu

Kabar duka datang sore kemarin. Pas lagi nunggu beberapa teman untuk ngobrol tentang pelatian meliput masalah pariwisata, tiba2 adik di kampung telpon. Yang ngomong Tu An, sepupuku. “Kak Ton. Bapak wis ga onok. Njaluk doane, yao..” Suara sepupuku yg ngajar di Surabaya itu agak tersendat-sendat. “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un..” kataku. Telpon ditutup. Lalu hening.

Aku tidak terlalu dekat dengan paman itu. Dia suami dari saudara ibuku. Meski rumah kami dekat, tapi memang Pak Lik Yar, yang meninggal itu, tak terlalu dekat sama aku. Kami jarang ngobrol. Paling hanya say hello kalo aku pulang kampung. But, kabar meninggalnya tetap saja meninggalkan sedih. Mataku tiba2 panas. Lalu berkaca2. Aku turut merasakan kehilangan..

Setelah Libur Panjang

Senin lagi. Kayaknya hari2 cepet banget. Perasaan baru kemarin liputan menjelang Nyepi, eh tau2 hari Nyepi sudah berlalu empat hari lalu.

Senin lagi. Ini hari pertama setelah liburan Nyepi. Di Bali, praktis seminggu lalu libura panjang amat terasa. Senin lalu aja Denpasar udah sepi. PNS banyak yang libur. Orang Denpasar, yang sebagian beasr juga kaum urban, pada mudik ke Karangasem, Singaraja, Negara, dan daerah lain di Bali.

Continue reading “Setelah Libur Panjang”

Gimana Kalau Dunia Nyepi? Sehari Aja..

Nyepi udah dua hari lalu. Meski telat, tetap saja selamat melaksanakan catur brata penyepian untuk yg ngrayain.

Ini Nyepi pertama setelah married. Biasanya aku pilih keluar Bali kalo ada waktu, dan duit tentu saja. Kali ini di rumah aja. Berdua sama nyonya.

Sehari menjelang Nyepi, namanya Pengerepukan, aku ketawa2 sendiri ngeliat anak2 kecil semangat banget bawa ogoh2. Ogoh2 tuh patung besar berwujud raksasa jahat. Tapi sekarang wujudnya bisa macam2. Taun ini ada berwujud anak punk. Tahun 2003 lalu malah ada yang berwujud Amrozi. :)) Ya, sama jahatnya lah dia sama betarakala. Cuma kalo anak punk dianggap jahat juga, ah, itu mah setereotype.

Continue reading “Gimana Kalau Dunia Nyepi? Sehari Aja..”

Chomsky, Bush, dan Indonesia

Kemarin abis baca buku Chomsky untuk Pemula. Belinya di Gramedia minggu lalu pas lagi nyari buku tentang Ajeg Bali. Mumpung pas ada duit, sekalian aja beli. Karena Chomsky juga karena yang nerbitin Resist Book yang bukunya murah dan bagus.

Baca buku tentang Chomsky menarik. Dia salah satu pemikir yg banyak dikutip saat ini karena ide-idenya tentang linguistik, media, dan Amerika Serikat. Tidak terlalu baru sih ide-ideen di buku itu. Cuma jadi lebih tau tentang dia aja.

Continue reading “Chomsky, Bush, dan Indonesia”

Satu Teman Lagi Masuk Penjara

“Aku baru saja mau mulai hidup baru. Tiba-tiba saja bruk!” kata Sara, temanku. Ketika ngomong dia mengangkat tangan lalu menurunkannya dengan cepat. Mungkin jatuh seperti nasibnya sekarang.

Sara, temanku itu, baru kukenal seminggu ini. Kami sama2 jadi peserta Pelatian Relawan Sobat Orang dengan HIV/AIDS (Odha) pekan lalu. Selama seminggu dalam ruangan dan tema sama membuat kami cepat akrab. Sara waria. Dan dia cerita lumayan soal kisah hidupnya. Seperti pada umumnya waria di Indonesia, Sara juga dapat diskriminasi luar biasa.

Continue reading “Satu Teman Lagi Masuk Penjara”

Bani Nawalapatra

Hari ini terakhir ikut pelatihan relawan sobat setelah mulai dari Senin lalu. Tiap hari dateng dari jam 9 smp jam 5 sore di dalam kelas terus kecuali utk dua kali break dan sekali makan siang. Melelahkan.. Tapi sykurlah kelar juga. Pelatian ini utk tahu bagaimana jadi sobat bagi orang dengan HIV/AIDS (Odha). Yang ngadain pelatian, Bali+ lembaga support untuk Odha di Bali. Ya, itu ajalah soal kegiatan minggu ini.

Sekarang udah Jumat. Selalu menyenangkan kalo akhir pekan gini. Paling ga Sabtu+Minggu bisa sedikit santai meski masih ada tulisan yang belum kelar. Now lagi buka2 imel+blog. Ada yang menarik di jiwamerdeka.blogspot.com dan electronposts.blogspot.com. Dua milis yg lumayan menambah spirit melawan otoritarian yg makin parah di negara ini: soal RU APP.

Oya, semalem udah dapat nama. Anak kami -kata dokter sih akan lahir sekitar Oktober- udah kami siapin nama: Bani Nawalapatra.

Udah, ah. Istirahat dulu..

RUU APP yang Begitu Menggelisahkan

Akhirnya bisa juga posting. Udah sejam buka2 blogspot ga bisa2 juga. Syukurlah akhirnya bisa.

Minggu2 ini melelahkan secara fisik+psikis. Minggu lalu liputan keluar Denpasar terus: Karangasem, Klungkung, Negara. Lumayan jauh2 lagi. Udah gitu liputan belum kelar tapi udah ada tugas lagi, dan kerjaan lain. Di rumah, ngurus istri hamil juga jadi beban pikiran meski ga berat2 amat. Tapi ya tetep aja kepikiran.

Lalu sekarang buka milis pantau-komunitas@yahoogroups.com. Salah satu yang menarik bagiku adalah posting dari Fauzan Al-Anshari, orang Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Dia posting somasi terhadap penolakan Bali pada Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Poinnya antara lain: bahwa alasan pariwisata sebagai penolakan pada RUU APP adalah hal yang naif, secara substansial pakaian adat Bali juga sudah menutup aurat sehingga tak bertentangan dg isi RUU APP, dan ancaman Bali memisahkan diri dari Indonesia kalau RUU ditetapkan merupakan bentuk tirani minoritas dan arogansi bernuansa SARA.

Continue reading “RUU APP yang Begitu Menggelisahkan”

Menunggu: Pekerjaan Paling Membosankan!

Pagi2 aku udah ninggalin rumah. Ada janji jam 7 mau ke Negara, sekirar 150 km dari Denpasar, untuk liputan tentang bakso babi. Aku mau nulis hubungan bakso babi dengan masalah identitas di Bali. Karena jauh, maka harus pagi2. Rencananya berangkat bareng ma teman fotografer.

Jam 7 lebih dikit aku udah nyampe. Nunggu. 30 menit. satu jam. Ga jelas. Aku SMS kalo udah nunggu. Baru teman itu bales, sori baru bangun kesiangan. Juga ngajak berangkat jam 11 aja.

PARAH! Ini udah kali ketiga janjian dan selalu telat. Males aja kalo gini terus..

Cerita Indonesia Memutari Lingkaran

Tadi sore nonton VCD Gie. Film ini kalo ga salah mendapat penghargaan sebagai film terbaik dalam Festival Film Indonesia taun lalu. Sebenarnya pengen nonton di Wisata 21 waktu itu. But karena susah, jadinya ya nunggu VCD aja. Thx God akhirnya hari nonton juga.

Gie bercerita tentang Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa angkatan 60an. Dia hidup di zaman Soekarno. Waktu itu gerakan mahasiswa juga terpecah dalam ikatan2 primordial kaya HMI, PMKRI. Bahkan mereka [HMI+PMKRI+GMNI] berantem ketika kampanye pemilihan ketua senat. Lucu juga.

Continue reading “Cerita Indonesia Memutari Lingkaran”