Jangan Globalwarmingkan Tulisan Ini

Sore tadi ada diskusi di Sloka sama Hira Jhamtani, aktivis Third World Network, dan Harry Surjadi, Direktur Eksekutif Society of Indonesian Environtmental Journalist (SIEJ). Diskusi ini tindak lanjut pasca-Konferensi Tingkat Tinggi tentang Perubahan Iklim di Nusa Dua 3-14 Desember lalu.

Kami ngobrol soal bagaimana sih media memberitakan UNFCCC dan apa yang bisa ditulis media pasca konferensi yang membuat Bali layaknya darurat militer saking banyaknya petugas keamanan tersebut. Ada sekitar 13 orang aktivis dan wartawan yang ikut diskusi lesehannya Walhi Bali, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar, dan Sloka Institute ini. Eh, ada empat blogger anggota Bali Blogger Community juga ding.

Continue reading “Jangan Globalwarmingkan Tulisan Ini”

Hantu Blok M dalam Sejarah Tempo

Kesimpulan yang langsung muncul di otakku setelah baca buku ini adalah: membaca buku ini sama dengan bercinta. Bagian paling enak (orgasme) ada di akhir. Begitu pula buku ini.

Setelah membaca delapan bab ditambah Prolog dan Pengantar, aku merasa bagian paling enak dari buku ini ternyata ada di Bab 9. Bab berjudul Hantu Belau ini menampilkan fakta yang belum pernah aku tahu sebelumnya dari mana pun. Bahwa pernah ada hantu bernama Blok M dalam sejarah majalah ikon kebebasan pers di Indonesia ini.

Continue reading “Hantu Blok M dalam Sejarah Tempo”

Tanggapan terhadap Hak Jawab soal Bali Post

Kritikku terhadap jual beli berita oleh Bali Post ternyata lumayan membuat repot. Tapi ini menyenangkan. Mendapat kritik sama menyenangkannya dengan menulis itu sendiri. Kata William Shakespeare, ”Tanpa kritik, kita bukanlah apa-apa.”

Makanya aku sampai nulis berhari-hari -cailah!- untuk bikin tanggapan terhadap tanggapan dua penanggap seperti di tulisan-tulisan sebelumnya. Jadi ini sudah kayak zaman Piala Dunia kemarin. Ada pemain, ada komentator, ada pengomentar komentator, ada lagi orang yang mengomentari komentar dari orang yang mengomentari komentator. Bingung kan? 🙂

Continue reading “Tanggapan terhadap Hak Jawab soal Bali Post”

Nyepi Sehari untuk Mengurangi Emisi

Mari melihat Nyepi sebagai kearifan lokal untuk memberi bumi sejenak beristirahat. Meski hanya sehari, itu jelas sangat berarti. Maka, marilah dukung usaha agar Nyepi bisa jadi momen internasional meski tidak harus serempak, meski tidak harus ala Bali.

Mari melihatnya dari sudut pandang bumi yang kian letih. Usaha ini pula yang dilakukan melalui delegasi resmi kawan-kawan NGO Bali maupun kelompok lain di KTT Perubahan Iklim di Nusa Dua Bali yang sedang berlangsung. Ini pula yang kawan-kawan teriakkan pada Parade Budaya 8 Desember lalu.

Continue reading “Nyepi Sehari untuk Mengurangi Emisi”

Seandainya Saja Pacar Koming Pakai Kondom

Sejak awal saya tahu kalau Koming, tetangga saya di Denpasar, memang tidak terlalu “normal”. Saya tidak tahu persis bagian mana dari perilakunya yang menunjukkan “ketidaknormalan” itu. Saya hanya bisa merasakan, tidak bisa menjelaskan. 

Meski begitu, saya tetap kaget ketika melihat perilaku Koming, cewek berumur 20 tahun, itu tiba-tiba berubah. Tatapan matanya kosong. Ketika saya sapa, dia diam saja. Raut wajahnya sama sekali bukan Koming yang saya kenal sebelumnya. Muram. Bahkan ketika ketemu dengan anak saya, yang biasa membuatnya tertawa lalu menyorongkan tangan untuk menggendong, dia tak bereaksi apa pun.

Continue reading “Seandainya Saja Pacar Koming Pakai Kondom”

Bali Serasa Darurat Militer

Konferensi PBB tentang perubahan iklim (UNFCCC) resmi dibuka hari ini di Nusa Dua. Ini narasi besar tentang pemanasan global. Dan, yang terjadi di lapangan hanyalah ketidaknyamanan.

Aku mulai merasakannya minggu-minggu ini. Paling terasa sih di Sanur pas habis mandi di pantai sama anak istri kemarin. Agak aneh juga melihat polisi bersenjata lengkap berdiri siaga menghadap ke jalan di perempatan Jl Hang Tuah – Jl By Pass Ngurah Rai. Bukannya ini tempar bersantai. Tapi kok polisi bermuka serem itu berdiri dengan tegaknya di sana? Bagiku sih tidak menimbulkan rasa nyaman, malah sebaliknya: perasaan seperti terancam.

Continue reading “Bali Serasa Darurat Militer”

Terus Berjuanglah, Semua Teman

Hari AIDS Sedunia tiba kembali. Hmm, lalu apa ya yang menarik dari momen tahun ini. Temen-temenku yang positif HIV, atau malah sudah pada fase AIDS, atau bahkan yang sudah kena infeksi oportunistik belum banyak berubah. Mereka masih saja bertarung dengan masa depan yang suram. Belum banyak harapan.

Rey, teman paling dekat, baru minggu lalu bertemu. Tubuhnya makin kurus. Dia harus lebih banyak istirahat karena ketahanan tubuhnya makin rendah. Rambutnya mulai rontok. Aku lihat tubuhnya juga makin lemah dengan cahaya mata makin redup meski aku tahu dia berusaha terus menunjukkan semangat.

Continue reading “Terus Berjuanglah, Semua Teman”

Film Maksa Jakarta Undercover

Lama tidak nonton. Mungkin tiga bulan lalu terakhir sewa VCD di Zeenemax yang sekarang sudah tidak ada di Jl Gatsu Timur yang dekat rumahku. Apalagi nonton di Wisata 21. Ah, dua tahun lebih mungkin tidak main ke Wisata Jl Thamrin.

Minggu-minggu ini aku berniat sewa VCD. Tapi lupa terus.. Maka ketika hari ini istriku sewa tiga VCD, aku senang bukan kepalang. Malam ini kami nonton Jakarta Undercover. Dan, totally, film ini mengecewakan..

Film ini nipu. Di tagline film ditulis kalau film ini based on #1 best seller by Moammar Emka dengan judul yang sama. Nyatanya materi film ini sama sekali tidak nyambung dengan isi buku cah Tuban lulusan pondok pesantren yang lebih suka dugem daripada ngaji tersebut.

Continue reading “Film Maksa Jakarta Undercover”

Ada Uang, Anda Masuk Koran

Oke. Oke. Akhirnya toh aku harus menulis juga soal “dosa-dosa” Bali Post di mataku. Ingat, ini di mataku. Belum tentu di mata orang lain. Pikiran soal ini sudah lama banget. Tapi aku tahan-tahan terus. Ya jelas saja karena tidak enak hati dan tidak berani. Lha wong Bali Post gitu loh..

Tapi lama-lama aku takut jadi bisul di otak lalu meledak -hahaha- kalau disimpen terus. Makanya yowislah. Ditulis saja. Kata orang bijak, kebenaran tetap harus disampaikan meski menyakitkan. -Hatjing!-Jadi ya aku tulis saja.

Continue reading “Ada Uang, Anda Masuk Koran”

Rebutan Wacana di Rumah Tangga

Sebenarnya hari ini aku berniat posting tentang Bali Post. –Aduh, kok aku sentimen banget sih sama mereka?-. Tapi karena ada diskusi “gawat” di rumah pagi ini, maka aku pikir hasil diskusi atau diskusinya itu sendiri lebih menarik untuk ditulis. Kali ini soal rebutan wacana di rumah tangga.

Pagi ini, ketika aku menikmati sarapan dengan menu ayam suwir, tempe goreng, dan oseng-oseng kangkung, Lode, istriku, tiba-tiba nyeletuk, “Kenapa sih tidak banyak orang yang mau membicarakan isu dapur. Padahal kan ini isu yang penting juga. Sekali-kali kek tanya tentang bagaimana prosesnya, apa susahnya masak, bla-bla-bla.”

Intinya ada dua hal yang diprotes istriku.

Continue reading “Rebutan Wacana di Rumah Tangga”