Garuda Wisnu Kencana, a neglected mega project

Anton Muhajir, Contributor, Jimbaran

The 50 or so visitors milling around the 20-hectare Garuda Winsu Kencana cultural park in Jimbaran looked small in comparison to their surroundings.

“It’s like visiting a cemetery,” said a young girl watching the sunset from the park, which sits on a hill south of Denpasar.

The beautiful and serene park, overlooking Jimbaran Bay, was originally meant to be the best cultural park in Indonesia, and maybe, one day, the world.

Continue reading “Garuda Wisnu Kencana, a neglected mega project”

Dampak Konsentrasi Kepemilikan Media di Bali

Catatan: Laporan ini adalah bahan yang saya kumpulkan untuk buku Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) tentang peta media di Bali.

Tak bisa dipungkiri, mengguritanya Kelompok Media Bali Post memberikan dampak positif bagi Bali. Dampak positif itu misalnya menghilangkan budaya koh ngomong, mendorong keterlibatan warga dalam penggunaan media massa sekaligus mengawasi kinerja pemerintah, serta mendorong semangat kewirausahaan orang Bali.

Budaya Koh Ngomong adalah sikap dan perilaku orang Bali yang enggan mengurusi masalah orang lain. Karena itu tabu bagi orang Bali untuk saling kritik apalagi disiarkan secara terbuka. Sikap seperti ini bisa terjadi karena pada masa Orde Baru, sikap kritis memang sengaja dimatikan. Di sisi lain, kemajuan pariwisata yang berakibat pada meningkatnya pendapatan Bali, memang membutuhkan suasana “harmonis”. Konflik secara tertutup maupun terbuka harus didiamkan.

Akibat budaya Koh Ngomong ini, orang Bali cenderung apolitis dan bersikap Nak Mula Keto, atau memang begitu adanya.

Continue reading “Dampak Konsentrasi Kepemilikan Media di Bali”

Kerajaan Media Bali Post

Catatan: Laporan ini adalah bahan yang aku kumpulkan untuk buku Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) tentang peta media di Bali.

Media Cetak
Meski keran demokratisasi media telah dibuka, nyatanya bisnis media di Bali tetap saja dikuasai empat pemain utama: Bali Post Group, Radar Bali, NusaBali, dan Warta Bali. Saat ini memang masih ada harian lain seperti Fajar Bali, Patroli Post, dan Koran Bali –yang konon akan terbit kembali dengan saham terbesar dimiliki wakil bupati Badung saat ini, Ketut Sudikerta. Namun tiga media itu bisa disebut hanya sebagai figuran. Sedangkan di antara empat harian utama itu Bali Post jelas masih bisa disebut sebagai raja lokal.

Dalam penawaran pemasangan iklannya Bali Post menyebut oplah mereka mencapai 100.000 eksemplar. Data ini jelas lebih besar dari data sesungguhnya karena untuk kepentingan bisnis iklan. Sebagai bandingan majalah SWA edisi 20 Agustus 2003 menulis oplah harian Bali Post mencapai 90.000 eksemplar atau senilai Rp 64,8 milyar per tahun. Sedangkan menurut penelitian Santra (2006) oplah harian Bali Post sebanyak 87.500 eksemplar pada 2006 lalu.

Besarnya Bali Post tidak bisa dilepaskan dari Ketut Nadha sebagai pendiri sekaligus pemilik modal awal. Mendirikan koran bernama Suara Indonesia pada 1948, saat revolusi bersenjata masih terjadi, jelas bukan hal mudah apalagi dilihat dari sisi bisnis. Namun Nadha bersama dua rekannya bisa membuat Suara Indonesia bertahan. Terbit dalam bentuk majalah dan dicetak handset, Suara Indonesia pun terbit tidak tentu.

Continue reading “Kerajaan Media Bali Post”

Sekilas Peta Media Cetak di Bali

Tulisan ini adalah sebagian hasil “riset kecil”, -saya sebut kecil karena lebih banyak pakai sumber sekunder daripada sumber primer-, pada Maret 2007 lalu. Ada beberapa perubahan, terutama tentang lahirnya kembali Koran Bali yang sempat mati. Riset saya lakukan untuk membantu Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Jakarta yang akan menerbitkan buku tentang peta kepemilikan media di Indonesia.

Ada beberapa isu menarik, misalnya soal kebijakan Kelompok Media Bali Post untuk meminta uang iklan dari narasumber. Kata Widminarko, pemimpin umum tabloid Tokoh, salah satu anak penerbitan Bali Post, mereka memang menggunakan prinsip Journalist is Marketing. Ini prinsip yang aneh memang. Banyak narasumber yang senang dengan kebijakan ini karena mereka pasti bisa masuk koran kalau punya uang. But, lebih banyak lagi orang yang sedih karena kebijakan itu. Terutama mereka yang tidak punya uang tentu saja. Continue reading “Sekilas Peta Media Cetak di Bali”

Sejarah Perkembangan Media di Bali

 Catatan: Laporan ini adalah bahan yang aku kumpulkan untuk buku Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) tentang peta media di Bali.

Zaman Kolonial Belanda
Untuk memahami sejarah media di Bali tidak bisa dilepaskan dari adanya sistem kasta di Bali. Putra Agung (2001) menyebut pelapisan masyarakat di Bali pada abad XX sangat ditentukan oleh sistem kasta, meski saat ini kasta itu sudah tidak sepenuhnya berlaku dalam hubungan sosial sehari-hari. Pada dasarnya stratifikasi sosial itu terbagi jadi empat kasta. Brahmana sebagai kasta tertinggi untuk mereka yang jadi pemuka agama. Ksatria untuk golongan bangsawan. Wesia untuk kalangan birokrat. Tiga kelompok ini disebut tri wangsa. Dia luar tri wangsa ada jaba untuk warga masyarakat biasa.

Sejarah media di Bali dimulai pada 1923 dengan lahirnya Shanti Adnyana dalam bentuk kalawarta (newsletter). Menurut Kembar Karepun, dalam manuskrip untuk buku tentang pertentangan kasta di Bali, Shanti Adnyana, berarti Pikiran Damai, itu berupa majalah bulanan yang diterbitkan organisasi Shanti. Organisasi yang berpusat di Singaraja, Bali utara ini bergerak di bidang sosial dan pendidikan, termasuk penerbitan. Pendirinya dari semua kasta.

Continue reading “Sejarah Perkembangan Media di Bali”

Bayar Murah, Pelayanan Tak Ramah

Setelah terus ngeles dari istri, akhirnya malam ini aku ke dokter. Dengan bersweater untuk menutup dingin udara malam itu –alah, ini kayak bikin puisi- aku ke rumah sakit tak jauh dari rumah, dan pasti murah meriah: Bhakti Rahayu.

Batukku makin menjadi. Sudah tiga mingguan ini batuk tak sembuh-sembuh. Padahal sudah minum obat. Pernah sih berhenti sebentar. Tapi Kamis pekan lalu mendadak kumat. Malah badanku panas. Kepala juga pusing banget. Continue reading “Bayar Murah, Pelayanan Tak Ramah”

Bali farmer discovers benefits of going organic

– July 20, 2007

Anton Muhajir, Contributor, Tabanan

When I Gede Hanjaya’ wife Franziska Rapp was suddenly diagnosed with breast cancer, her doctor suggested she undergo surgery and avoid foods with chemical additives.

Hanjaya, a successful garment manufacturer, changed his life to do so. Leaving his business, he developed an organic farming site in his hometown of Tabanan regency, around 70 kilometers west of Denpasar.

“I wanted to produce healthy food for my family,” he said.

For the last 10 years, Hanjaya and his family have consumed fresh, chemical- and pesticide-free produce, with good results.

Continue reading “Bali farmer discovers benefits of going organic”

Enaknya Pakai Free Wifi

Sejak Minggu kemarin, aku di dalam ruangan hotel Ramada Bintang Bali Jl Kartika Plaza Kuta. Lagi bantu notulensi workshop Millenium Development Goals (MDGs) Kemitraan Jogjakarta sampai Rabu besok.

Enaknya adalah: meski lagi kerja, bisa sambil online! Soale di ruangan ini ada free wifi. Ya mungkin tidak free, sih. Bisa jadi panitia bayar ke pihak hotel biar ruangan ini ada wifinya. Tapi karena aku tidak bayar, it’s mean free. :))

Kualitas sambungannya excellent. Jadi cepet banget. Continue reading “Enaknya Pakai Free Wifi”

Melihat Narat sang Pengingat

Dengan perasaan agak canggung, saya masuk areal pura itu. Ya, meskipun sudah memakai pakaian adat Bali: kamen (sarung), saput, udeng (ikat kepala), baju putih, dan selendang, tetap saja saya merasa sebagai orang luar. Saya datang ke sana sore itu, sekitar pukul 15.00 Wita bersama Ketut Ariana, kakak ipar saya. Di pura itu ada pula paman, bibi, ponakan, mertua, dan hampir semua keluarga besarr saya dari istri. Namun tetap saja ada perasaan was-was.

Ini mungkin sesuatu yang alami dan manusiawi. Ketika masuk komunitas “lain”, betapa pun komunitas itu dekat dengan kita, tetap saja ada perasaan sebagai outsider, seseorang yang di luar komunitas itu sendiri. Mungkin tidak perasaan sebagai orang luar itu sendiri. Bisa jadi juga karena khawatir akan diketahui sebagai orang “lain” lalu jadi masalah bagi orang lain. Ini ketakutan yang kadang-kadang berlebihan.

Tapi saya harus melawan rasa canggung itu. Ada sesuatu yang, seperti dikatakan bapak mertua dan keluarga saya lainnya, menarik untuk dilihat.

Manis Galungan, sehari setelah umat Hindu Bali merayakan Galungan, adalah odalan di pura desa di Desa Ngis, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, sekitar 100 km timur Denpasar. Maka ketika keluarga besar saya pulang kampung, mereka tidak hanya merayakan Galungan. Mereka juga merayakan odalan di pura desa.

Ada sesuatu yang selalu ditunggu tiap odalan di pura desa: daratan. Tradisi warga adat setempat ini dilakukan dengan agak mengerikan. Warga laki-laki dalam kondisi trance (tidak sadar) membawa keris untuk ditusuk-tusukkan ke dada seperti halnya ngurek yang umum dilakukan di Bali. Bedanya ketika narat, melakukan tradisi daratan, laki-laki itu juga memukul-mukulkan sisi keris. Jadi mirip orang menebas sesuatu.

Bagi saya ini tidak lazim. Keris adalah senjata berujung lincip dan tajam karena memang ujung ini yang dipakai untuk menusuk, bukan memukul atau membacok. Tapi dalam tradisi daratan, kedua sisi keris ini dipakai. Bisa dengan tangan kanan, bisa dengan tangan kiri. Bergantian memukul lengan.

Dan, sore itu saya ke pura untuk menyaksikan bagaimana daratan dilakukan. Berkali-kali rencana saya melihat daratan gagal karena beragam alasan. Maka sore itu saya meyakinkan diri untuk tidak melewatkannya. Toh, ketika sampai pura perasaan agak canggung itu muncul juga.

Suara gamelan Bali bertempo cepat terdengar. Saya masuk areal madya (tengah) mandala pura. Di areal ini daratan akan dilakukan. Di tengahnya dua kelompok laki-laki sedang menari. Sekitar 50 anak muda betelanjang dada di sisi utara dan orang tua berpakaian lengkap dengan jumlah seimbang di sisi selatan. Mereka saling berhadapan. Semuanya membawa keris di pinggang. Tarian itu persiapan untuk menggelar daratan.

Nada-nada riang mereka lantunkan. Meski saya tidak tahu jelas apa maksudnya, mereka seperti saling meledek. Ketika kelompok orang tua maju, kelompok anak muda mundur. Dan sebaliknya. Tiap maju mundur itu diakhiri mengangkat tangan ke udara dan berseru, “Haa!” Lalu mereka tertawa. Sesekali tiga pemangku berpakaian putih memberi tirta (air untuk upacara) ke mereka.

Saya hanya berdiri di pinggir areal, bergabung dengan ratusan pemedek (umat Hindu yang sembahyang, semacam jemaah dalam Islam atau jemaat dalam Nasrani), melihat tarian itu. Melihat keceriaan sore itu, pelan-pelan canggung saya mulai hilang.

Komang Ardana, kakak ipar yang lain, mendatangi saya ketika melihat saya di sana. Dia minta kamera saya lalu maju mendekati para menari. Ketika Komang memotret, para penari saling berebut di depan agar bisa dipotret. Mereka tertawa-tawa.

Hanya tujuh kali jepret, Komang mundur. Dia kembali ke tempat saya mengembalikan kamera. Melihat keceriaan para penari dan suasana guyub di antara mereka, saya tak tahan lagi. Saya maju membawa bawa kamera itu. Saya dekati mereka. Jepret. Jepret. Saya mulai memotret. Hilang sudah semua canggung itu kalau sudah begini. Saya dekati mereka lagi. Sebab makin dekat dengan objek, makin jelas apa yang kita potret. Saya di tengah di antara para penari itu. Berbaur dengan mereka.

Sekitar 10 menit kemudian, pemain gamelan memainkan nada-nada makin cepat. Suara gamelan makin kencang. Dua kelompok pelan-pelan bubar. Mereka kini membentuk satu barisan memanjang ke belakang. Mereka semua berlari mengitari pura itu tiga kali sambil mengangkat kerisnya tinggi-tinggi.

Satu dua laki-laki memisah dari barisan panjang itu. Mereka membuka baju, bertelanjang dada. Dengan keris diacungkan di depan dada, mereka menari-nari. Maju mundur, maju mundur. Belum ada gerakan yang menakutkan.

Tiba-tiba satu laki-laki menyeruak maju. Masih berpakaian adat lengkap, dia membuka selubung keris, lalu mengacungkannya tinggi-tinggi. Empat pecalang mendekatinya. Laki-laki itu seperti kejang-kejang. Dia mulai kerauahan. Dia membuka baju. Lalu ikut menari-nari seperti yang lain.

Beberapa penari di areal pura itu mulai ada yang narat. Mereka memukul-mukulkan keris ke lengannya yang terlihat memerah karena darah. Ada garis-garis bekas luka di sana.

Ketika kulkul dibunyikan, ratusan pemedek lain yang mengusung berbagai sesaji berjalan mengeliling pura tiga kali. Bedanya kali ini ada bapak, ibu, anak-anak ikut mengelilingi. Jalannya juga pelan-pelan, bukan berlari.

Di tengah lapangan, para penarat seperti tidak peduli. Mereka terus menari. Menghunus keris sendiri-sendiri. Memukul lengan, menusuk dada dengan keris itu. Gamelan makin cepat nadanya. Jreng. Jreng. Jreng. Para penari makin bersemangat.

Satu orang berlari dari bagian inti (utama mandala) pura. Dia menuju ke depan pemain gamelan. Lalu memukul-mukul lengannya sekuat tenaga. Ekspresinya tidak jelas. Seperti sakit. Seperti tidak sadar.

“Kita tidak bisa menghindar. Kerauhan itu datang begitu saja pada siapa pun,” kata bapak di sebelah saya.

Makin lama, makin banyak laki-laki yang kerauhan. Dalam waktu bersamaan ada sekitar sepuluh laki-laki sedang narat. Gerakannya seragam. Menggenggam keris lalu memukul lengan mereka dengan keris itu. Selesai memukul lengan, mereka menggenggam keris dengan dua tangan lalu menusukkan ke dada sekuat tenaga. Tak setetes darah pun jatuh. Peluh membasahi wajah dan tubuh mereka. Wajah mereka seperti kesakitan.

Daratan terus berlangsung seperti halnya tiap odalan yang dilakukan di desa sekitar 10 km barat Candidasa ini. Para lelaki terus memainkan keris: memukul lengan, menusuk dada. Sesekali mereka mendekati pemedek untuk diajak menari. Tidak boleh ada yang menolak ajakan itu. Sebab, daratan itu jadi semacam wakil betara yang menunjukkan bahwa masih ada yang salah pada orang itu.

Bukan hanya ada orang tertentu tapi juga pada ritual yang sedang berlangsung. Jika ada yang kurang, orang yang narat akan mengajak pemangku dan mengatakan apa saja yang kurang. Daratan jadi semacam pengingat apa saja yang terlewat atau belum dilakukan dalam upacara itu.

Saya mulai deg-degan. “Jangan-jangan nanti aku juga kerauhan,” pikir saya. Orang yang duduk persis di sebelah saya tiba-tiba tubuhnya bergetar. Dia berdiri, membuka baju, dan menarik keris dari sarungnya. Lalu dia pun larut dalam irama gamelan dan melakukan kegiatan mengerikan itu.

Para daratan bergerak ke sana-ke mari seperti ada yang menuntunnya. Beberapa daratan memutari sesajen yang telah diletakkan di masing-masing tugu dan yang digelar di atas tanah. Dengan keris menghunus, kadang-kadang disertai gerak tari mereka menarik salah satu pemangku untuk memeriksa apakah sesaji yang dipersembahkan telah lengkap.

Tak terdengar jelas kata-kata yang diucapkan mereka ketika meminta pemangku untuk memeriksa sesaji itu. Kadang yang terdengar hanya rintihan dan gumaman dari mulut mereka. Walau demikian, pemangku yang ditunjuk bisa mengerti apa yang diperintahkan para daratan itu.

Akhir dari ritual itu adalah ketika seorang daratan menggigit seekor ayam hitam. Ayam hitam itu adalah persembahan bagi dewa di pura desa tersebut. Setelah itu keriangan pun terlihat di wajah-wajah para daratan ketika seluruh rangkaian upacara berjalan dengan semestinya dan seluruh sesaji lengkap telah dihaturkan.

Irama gamelan melambat, kemudian secara perlahan satu persatu daratan duduk bersila di depan tugu pemujaan. Pemangku memberikan sarana persembahyangan seperti bunga dan dupa untuk mereka. Dengan khusyuk mereka segera larut dengan doa-doa pemujaan. Terakhir, pemangku memercikkan tirta, air suci ke kepala dan tubuh mereka. Sepercik air tirta dan bunga-bunga yang digosokkan ke tubuh mereka pun menjadi obat ampuh setelah tubuh mereka dirajam oleh keris.

“Tidak, tidak terasa sakit sedikit pun. Malah saya merasa puas,” ujar salah satu daratan sambil mengusapkan bunga kamboja ke lengan kirinya. Goresan-goresan akibat hujaman keris pun tak berwarna merah lagi itu. Dia mengaku tidak mengerti dengan perubahan yang dialaminya ketika mulai narat. [+++]

Merayakan Galungan dengan Jotan

Saya baru selesai sholat maghrib ketika pintu gerbang rumah seperti digeser orang. Kamar tempat saya sholat sekitar 10 meter dari pintu dari besi itu. Jadi saya bisa mendengar jelas ketika ada orang masuk rumah.

Dadong Devita, tetangga saya, yang mengetuk pintu. Dadong adalah sebutan untuk nenek di Bali. Devita mengacu pada nama cucunya.

Saya membuka pintu. Dadong masuk membawa sekeranjang buah dan kue. Ada apel, pir, pisang, jeruk, dan rambutan. Kuenya ada begina semacam kerupuk, jaja uli, tape ketan, dan krupuk melinjo.

Sekitar 15 menit sebelumnya, Gede, Bu Wayan, dan Made membawa kue dan buah yang sama. Buah dan kue di meja makan kami semakin penuh ketika Bu Mega juga membawa roti ke rumah malam itu.

Rumah kami di gang kecil pinggiran Denpasar utara. Sepanjang sekitar 50 meter gang itu tinggal aneka rupa keluarga dan berbeda agama.

Di ujung gang, persis di pinggir sungai, Bu Jeani dan Pak Anton tinggal bersama tiga anak mereka Jeani, William, dan Andrew. Pasangan ini beda agama. Bu Jeani muslim asli Padang. Pak Anton Katolik asli Timor Timur, yang kemudian jadi Timor Leste, dan kini warga Denpasar.

Keluarga saya sendiri muslim. Kami sekuler. Tidak ada tanda apa pun yang identik dengan agama apa pun di rumah kami. Bagi kami agama biarlah jadi urusan kami. Bukan untuk diperlihatkan pada orang lain. Istri saya orang Bali dan jadi muallaf ketika menikah dengan saya. Cerita ini sama dengan tetangga kami, Pak Sutir dan Bu Risma, yang kini punya dua anak.

Selebihnya, selain tiga keluarga itu, delapan keluarga lain beragama Hindu. Dan, besok tetangga-tetangga kami ini merayakan Galungan. Tapi, meski tidak beragama Hindu, kami ikut merayakan. Ya, lewat buah dan kue yang dibawa ke rumah kami petang tadi.

Tradisi membawa kue dan buah menjelang hari raya itu disebut ngejot. Tidak hanya menjelang Galungan tapi juga pada upacara lain seperti pernikahan, otonan (peringatan hari lahir), dan seterusnya. Ngejot sebenarnya biasa dilakukan pada tiap tetangga tanpa melihat agama atau suku apa pun. Namun karena tetangga yang Hindu juga merayakan, dan berarti punya buah dan kue yang sama, jadilah ngejot ini lebih banyak untuk yang beragama lain.

Tapi ini tidak mutlak. Kadang-kadang yang sama-sama merayakan Galungan pun berbagi kue atau buah terutama kue yang tidak mereka punyai. Misalnya memberi kue bolu pada tetangga yang tidak punya.

Ngejot, bagi saya, adalah wujud dari toleransi antar-tetangga. Bhinneka Tunggal Ika, kata Mpu Prapanca. Ini kalau dilihat dari perspektif agama. Tapi ngejot bisa juga adalah praktik dari sosialisme. Bukan sosialisme ideologis yang agak berat ala Hugo Chavez, Evo Morales, dan seterusnya, tapi cukup sosialisme sebagai praktik bertetangga, saling membagi apa yang kami punya.

Karena itu ngejot tidak melulu milik orang Hindu. Ketika merayakan lebaran Oktober tahun lalu, kami pun ngejot dengan membagi kue lebaran. Tidak hanya pada tetangga tapi juga pada keluarga di Padangsambian, Oongan, Jl Kenyeri, dan tentu saja mertua di Jl Banteng.

Ketika Natal pun kami mendapat jotan berupa nasi kotak dari Pak Anton, tetangga kami yang juga pegawai negeri tersebut.

Bagi sebagian orang mungkin ini terlalu romantik. Memang ada ketegangan-ketegangan hubungan antar warga akibat perbedaan itu. Namun ngejot bisa jadi salah satu upaya untuk mengingatkan warga bahwa kami bisa saling menghargai dan mengormati di antara perbedaan itu. Ngejot juga perlu terus dibiasakan karena ini soal perut juga. Kalau sudah tentang makanan kan paling gampang untuk mengajak orang.

Selain itu ngejot juga perlu diajarkan pada anak-anak. Biar mereka tidak salah paham lalu bilang, “Awas ada suster ngejot..” Eh, itu suster ngesot ya. he.he [+++]