Awas Tertipu Warung Nusa Lembongan

Ketika keluar dari kantor di daerah Yangbatu, Denpasar, saya sebenarnya berpikir untuk makan soto ayam di Jl Teuku Umar. Lama tidak makan di sana. Mendung dan sesekali gerimis sejak pagi membuat saya ingin menikmati makan siang dengan kuah hangat. Hmm, sepertinya pas untuk mengusir dingin.

Tapi begitu keluar dari Jl Letda Kajeng masuk Jl Cok Agung Tresna, saya mulai merasa terlalu jauh makan di Jl Teuku Umar. Otak saya bergerak. “Makan apa ya yang kira-kira berkuah hangat, ada di daerah Renon, dan bisa dinikmati dengan cepat?” Continue reading “Awas Tertipu Warung Nusa Lembongan”

Bali Shanti Shanti Shanti

Di lapangan rumput Renon Denpasar, dengan cahaya temaram ketika gelap merayap, sekitar pukul 18.30 Wita, Kepala Dinas Pariwisata Bali Gede Nurjaya menjelaskan peluncuran merk dagang –bahasa kerennya brand, yang artinya sama saja: merk- pada wartawan. Nurjaya berdiri sambil sesekali menunjuk ke layar putih memperlihatkan merk dagang baru itu. Di samping mantan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemprov Bali itu berdiri sebagian anggota tim yang merumuskan merk tersebut.

Wartawan duduk lesehan melihat agak mendongak bergantian, ke Nurjaya, ke layar putih itu. Puluhan pengunjung lapangan Renon petang itu berdiri di belakang wartawan ikut melihat bagaimana merk baru yang dikerjakan sejak akhir 2006 tersebut. Continue reading “Bali Shanti Shanti Shanti”

Oleh-oleh Perjalanan Mendadak ke Karangasem

Pertama-tama, Selamat Hari Lingkungan Sedunia. Banyak agenda menarik sebenarnya hari ini. Iwan, teman di WWF, mengajak ke Taman Nasional Bali Barat untuk kegiatan underwater clean up di sekitar Pulau Menjangan. Menariknya lagi ada pecaruan dan pekelem, ritual pembersihan lingkungan. Sepertinya menarik kalau ikut ke sana. Lama juga aku tidak ke sana. Menikmati terumbu Pulau Menjangan dan –hmmmm- ayam betutu Gilimanuk. Agenda lain, Aik Walhi tadi juga SMS ngasih tahu ada aksi damai di Lapangan Renon. Sepertinya asik juga.

But, semua undangan harus diabaikan. Ini Selasa, hari untuk kerja di VECO. Biasalah Senin, Selasa, Rabu full day dari pukul 8 sampai 5 sore aku harus jadi anak manis yang duduk di belakang meja.he.he. Kalau tidak ada agenda penting banget, aku harus masuk kantor. Continue reading “Oleh-oleh Perjalanan Mendadak ke Karangasem”

Nasi Goreng Organik Rasa Bayar

Wah, lama juga tidak posting apa pun ke blogku setelah soal profesor yang disensor. He.he Kali ini soal liputan di Batukaru saja lah. Meski udah lewat, teep saja harus disimpan. Suatu saat pasti ada gunanya.

Liputan ke pegunungan Batukaru, Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Tabanan, sekitar 70 km barat daya Denpasar, ku lakukan Rabu minggu lalu. Liputan ini untuk menambahi artikel tentang Subak di SALAM yang ditulis DNK Widnyana. Tulisan staf Pengairan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bangli itu terlalu teoritis. Ketika aku telepon untuk menambahi artiel dengan kisah nyata, dia bilang tidak ada waktu. Selain itu, menurutnya, kemauan redaksi SALAM agak berbeda dengan maunya dia. Continue reading “Nasi Goreng Organik Rasa Bayar”

Soto Karangasem, Weteng Wareg Gumi Ajeg

Soto karangasem menambah kekayaan kuliner Bali. Tak hanya mapan secara ekonomi, pedagangnya pun bisa jadi tuan di tanah sendiri. Mereka punya slogan weteng wareg gumi ajeg.

Di bawah bangunan semi permanen beratap dan berdinding seng, Wayan Sukanada, 44 tahun, melawan stereotip bahwa orang Bali malu bekerja di sektor informal. Sejak 1980 pria asal Desa Ngis, Kecamatan Manggis, Karangasem itu berdagang soto sapi di pinggir jalan raya di daerah Oongan, Denpasar timur. Tiap hari dia melayani pelanggan yang rata-rata karyawan swasta di sekitar tempat mangkalnya.

Buka sejak pukul 6.30 Wita hingga sekitar pukul 12.30 Wita, Sukanada menghabiskan paling sedikit 6 kg daging sapi untuk soto dan 1 kg untuk sate. Sedangkan beras rata-rata 10 kg per hari. Dengan jumlah tersebut dia bisa memperoleh pendapatan kotor sekitar Rp 500 ribu per hari.

Maka, bukan hanya secara sosial ekonomi dia mapan, misalnya bisa menyekolahkan tiga anaknya. Urusan ritual pun dia berbangga karena bisa melakukan upacara penghormatan leluhur yang dianggap paling besar di desanya, Nawur Sanjana. Upacara itu hanya dilakukan sekali seumur hidup oleh sebuah keluarga yang merasa diberkahi secara ekonomi. Kalau ada orang yang tidak bisa melakukannya, maka keturunannya tetap harus melaksanakan upacara itu.

Tidak setiap orang bisa melaksanakan karena mahalnya biaya upacara ini. Misalnya, Sukanada dan empat saudaranya harus mengorbankan sepuluh sapi untuk upacara itu.

“Kan bangga ya dari jual soto saja bisa melaksanakan upacara itu,” kata Sukanada.

Ketika tiba upacara di desanya, sekitar 100 km timur Denpasar, Sukanada bisa menunjukkan keberhasilannya berdagang soto sapi. Tak hanya dia tapi juga keluarga, bahkan desanya. Soto karangasem memang jadi salah satu kebanggaan desa tetangga Candi Dasa tersebut.

Sukanada hanya satu dari puluhan pedagang soto karangasem di Denpasar. Mereka tersebar di Kreneng, Oongan, Tainsiat, Pasar Badung, Tonja, dan tempat lain di Denpasar. Semua pedagang itu berasal dari satu keluarga, atau setidaknya satu desa.

Terkenalnya soto karangasem di Denpasar diawali Nengah Widana, 55 tahun. Pak Ngah, demikian panggilannya, mulai menjual soto pada 1968 di Pekambingan, Denpasar. Dia bekerja di warung soto milik Nengah Karta, yang juga asal Karangasem.

Dari Pak Ngah inilah soto karangasem jadi terkenal. Sempat berganti pekerjaan, dengan menjual rokok dan minuman serta kursus menjahit, Pak Ngah memilih jual soto sendiri sejak 1974. Dia memulai dengan gerobak dorong di belakang Pasar Kumbasari. Saat itu dia menjual satu mangkuk soto dan satu piring nasi seharga Rp 35.

Mengandalkan pembeli yang sebagian besar kuli pembangunan Pasar Badung, jualan Pak Ngah laris. Buktinya dia bisa membeli tanah seluas 2,5 are di Amlapura, kota kabupaten Karangasem hanya lima bulan setelah mulai berdagang soto.

Pada 1982 Pak Ngah pindah ke Pasar Badung yang baru selesai dibangun. Jualannya makin laris. “Setelah itu saya berpikir untuk membuka warung di tempat lain,” kata bapak empat anak ini. Mantan Kelian Adat Banjar Taman Sari ini kemudian memilih tempat di Jl Patimura, tak jauh dari rumahnya. Tiap bulan dia bisa mendapat untung sekitar Rp 2,5 juta.

Keuntungan berdagang soto sapi itu digunakan membeli tanah. “Karena beli tanah kan tidak mungkin rugi,” katanya. Pak Ngah melawan anekdot bahwa orang Bali menjual tanah untuk beli bakso. Dia justru menjual soto untuk beli tanah.

Pelan-pelan usahanya makin banyak mendapatkan keuntungan. Selesai beli tanah di daerah Oongan, dia membangun rumahnya jadi tingkat dua. Padahal ketika pertama kali ditempati, rumah di Jl Banteng tersebut itu hanya berdinding bedek.

Meski usaha makin berkembang, Pak Ngah tak ingin menikmatinya sendiri. “Saya mulai ngajak adik-adik. Biar mereka juga bisa bekerja dan mandiri,” kata anak pertama dari lima bersaudara ini.

Kakek lima cucu ini pun mulai mengajak adik-adiknya berjualan satu per satu. Salah satunya Wayan Sukanada. “Saya dulu belajar juga sama Pak Ngah,” kata Sukanada. Pak Ngah memang hanya mengajari, bukan menjadikan mereka sebagai anak buah. Maka ketika dianggap sudah mampu, adik-adiknya pun membuka usaha dagang soto sendiri.

Adik-adik yang sudah mampu itu ada yang mengajak sepupu atau tetangga desa. Setelah sepupu atau tetangga itu bisa, mereka membuat usaha dagang soto sendiri.

Dari situ, soto karangasem menyebar ke berbagai tempat di Denpasar. Tidak ada data pasti. Namun sebagai gambaran, dari keluarga Pak Ngah saja ada sekitar 14 pedagang soto sapi. Contoh lain sepanjang di Jl Nangka Denpasar saja saat ini ada sekitar sembilan. “Tapi semua pasti pernah bekerja di dagangan saya sendiri atau keluarga saya,” kata Pak Ngah.

Karena berasal dari satu akar itulah, maka semua soto karangasem punya ciri dan cita rasa yang sama. Semua menggunakan daging sapi dipotong kecil-kecil mirip dadu. Kuahnya pakai aneka rempah seperti bumbu bawang putih, jahe, seledri, bawang goreng, cabe, merica, dan penyedap rasa. Sebagai tambahan, dan ini biasanya tergantung pedagang masing-masing, bisa ditambah lengkuas, bumbu rajang, ketumbar, dan pala. Kuah dan daging sapi segar ini kadang-kadang juga ditambah sate.

Pak Ngah sendiri sampai saat ini masih berjualan di Pasar Badung. Namun sudah tak banyak ikut campur sebab kini istrinya, Nengah Ariani, yang jualan sendiri di pasar terbesar di Bali tersebut. Dia hanya mengantar ketika berangkat ke pasar pukul tiga pagi dan menjemput pukul 16.30 wita.

Dari hasil jualan tersebut, Pak Ngah dan istrinya bisa membangun rumah untuk empat anaknya. Dia pun bisa beli tanah untuk simpanan serta menyama braya dengan bebas kapan pun dia mau. “Kalau ada tetangga upacara, kami bisa libur kerja dan mengikutinya dengan leluasa. Kalau pegawai (negeri maupun swasta) kan susah,” katanya.

Namun ada yang lebih membuat Pak Ngah bangga. “Kami bisa membuat makanan yang jadi ciri khas desa,” katanya. Soto karangasem identik dengan Karangasem, seperti juga ayam betutu identik dengan Gilimanuk atau serombotan identik dengan Klungkung. Soto karangasem menambah kekayaan kuliner Bali.

Meski demikian, Sukanada dan Pak Ngah masih menyimpan kegalauan. Menurut mereka keberhasilan soto karangasem seharusnya memacu orang Bali untuk berani melakukan pekerjaan yang selama ini dianggap menurunkan gengsi, seperti halnya berdagang kaki lima di pinggir jalan. “Saya lihat orang Bali masih sedikit yang punya semangat kerja berdagang kaki lima,” ujar Pak Ngah.

Kalau toh ada yang punya usaha dagang kaki lima, lanjut Pak Ngah, kemampuan mereka untuk mengelola usaha masih kurang. Misalnya kurang promosi, kurang bersih, hingga kurang ramah dengan pelanggan. “Kalau usahanya serius dan tahan banting, kita pasti berhasil. Kalau sudah berhasil kan pasti bisa beli tanah. Jadi bukannya malah jual tanah untuk bisa hidup,” katanya.

Dalam bahasa Pak Ngah, kalau perut sudah kenyang, maka tanah milik mereka tidak akan terjual. Bahasa balinya, weteng wareg gumi ajeg. Sukanada dan pedagang soto lain tak hanya menjadikannya sebagai slogan. Mereka telah membuktikan. [+++]

Gung Alit Mewujudkan Perdagangan Berkeadilan

-tulisan ini dimuat Media Indonesia, kalo ga salah Sabtu dua pekan lalu. ada kesalahan fatal: FOTO TERTUKAR antara Gung Alit sama Bodrek!! ini sih kesalahan orang yg naruh foto di MI. he.he. juga data ttg omzet yg Rp 5 milyar per tahun, tp aku tulis di MI Rp 5 milyar per bulan. “Aku jadi dikejar2 orang Dinas Pajak,” kata Gung Alit.-

Sang Pionir
Gung Alit Mewujudkan Perdagangan Berkeadilan

Bisnis tidak harus semata urusan mencari keuntungan secara ekonomi. Bagi Agung Alit, Direktur PT Teduh Mitra Utama, perusahaan sekaligus eksportir kerajinan di Bali, hal yang lebih penting adalah membangun kesadaran terhadap kemanusiaan. Agung Alit mengutamakan kejujuran. Misalnya menyampaikan berapa harga yang dia beli dari produsen dan berapa keuntungan yang dia dapat. Usaha miliknya juga mengutamakan karyawan perempuan, tidak mempekerjakan anak-anak, peduli lingkungan, dan membuat sistem pembayaran di muka. Continue reading “Gung Alit Mewujudkan Perdagangan Berkeadilan”

Soto Karangasem, Weteng Wareg Gumi Ajeg

-aku kirim ke The Jakarta Post utk Surfing Bali. tp belum dimuat sampe hari ini-

Soto karangasem menambah kekayaan kuliner Bali. Tak hanya mapan secara ekonomi, pedagangnya pun bisa jadi tuan di tanah sendiri. Mereka punya slogan weteng wareg gumi ajeg.

Di bawah bangunan semi permanen beratap dan berdinding seng, Wayan Sukanada, 44 tahun, melawan stereotip bahwa orang Bali malu bekerja di sektor informal. Sejak 1980 pria asal Desa Ngis, Kecamatan Manggis, Karangasem itu berdagang soto sapi di pinggir jalan raya di daerah Oongan, Denpasar timur. Tiap hari dia melayani pelanggan yang rata-rata karyawan swasta di sekitar tempat mangkalnya. Continue reading “Soto Karangasem, Weteng Wareg Gumi Ajeg”

Konglomerasi Media dan Penunggalan Opini di Bali

Huh, akhirnya kelar juga laporan yang ku kerjakan sekitar dua bulan ini. Awal Februari lalu, Mas Hanif, teman di LSPP Jakarta minta tolong bantu bikin riset tentang dampak konsentrasi kepemilikan media di Bali. LSPP akan membuat buku tentang peta kepemilikan media penyiaran di Indonesia. Salah satu bagiannya adalah bagaimana dampak konsentrasi kepemilikan media penyiaran itu. Bagian ini mengambil contoh kasus di Bali.

Ketika ditelpon pertama aku mikir riset itu bener-bener riset. Aku mikir sih ya mungkin mirip bikin skripsi dengan sumber utama riset pustaka. Mikir soal riset, otakku langsung kebayang soal yang ribet. Nyatanya komposisi sumber riset itu sekitar 50 persen riset pustaka, 50 persen wawancara. Continue reading “Konglomerasi Media dan Penunggalan Opini di Bali”

Taman 65, Ketika Rumah jadi Pusat Kebudayaan

-ini hasil ngobrol kemarin sama Termana alias Kingkong apa Lekong ya? he.he. aku kirim ke Jakarta Post. semoga dimuat besok. kalo ga besok, semoga Kamis depan. kalo ga dimuat juga, paling tidak aku muat sendiri di blog ini. :))-

Setelah melewati pintu utama, tiap orang yang masuk areal di daerah Denpasar timur tersebut, akan disambut lukisan. Sepanjang koridor itu lima lukisan dipajang. Dengan warna dominan merah, lukisan-lukisan itu langsung menyita perhatian. Namun lukisan-lukisan itu tidak tergantung di dinding galeri atau museum. Lukisan itu ditempelkan “hanya” di dinding rumah. Ya, bener-bener rumah tempat tinggal. Continue reading “Taman 65, Ketika Rumah jadi Pusat Kebudayaan”