Bosnia Bagian 1: FvCK! SIALAN!!

0 , , Permalink 0
Mengejar pesawat di Bandara Internasional Turki. Foto Anton Muhajir.

Firasatku sudah tidak enak karena waktu keberangkatan molor.

Menurut jadwal, penerbangan dari Jakarta ke Istanbul itu seharusnya pukul 21.05 WIB. Kami akan tiba di Istanbul, berdasarkan informasi di tiket, pukul 05.00 waktu setempat. Lalu, aku akan melanjutkan penerbangan dari Istanbul, Turki ke Sarajevo, Bosnia pukul 07.30.

Continue Reading…

Jejak Abadi Keberagaman Warisan Wali

0 , Permalink 0
Menara Kudus memadukan budaya Hindu, Islam, dan Jawa dalam bangunannya.

Keterlambatan kami tiba justru menjadi berkah.

Petang menjelang ketika kami sampai di Menara Kudus pada Jumat pekan lalu. Gelap sudah mulai turun pelan-pelan. Namun, suasana justru terasa lebih syahdu. Bercampur antara visual dan spiritual.

Continue Reading…

Kegagapan ala Orang Viet di Selatan

3 , , Permalink 0

Dari jendela Thai Airways, ironi itu terlihat.

Di bawah sana, dari pesawat yang membawa kami dari Bangkok, Thailand ke Hanoi, Vietnam rumah-rumah terlihat menjulang tinggi. Di Bali, tinggi rumah rata-rata tak boleh lebih tinggi dari pohon kelapa. Tapi di Vietnam tidak. Rumah atau gedung tingginya sekitar 15-20 meter.

Dari jendela yang sama menjelang pesawat mendarat di Noi Bai Hanoi, terlihat pembangunan jalan tol ataupun gedung-gedung. Selain para pekerja, mesin penderek (crane) bisa menjadi penanda betapa Vietnam sekarang sedang menggeliat dalam pembangunan.

Namun, rumah-rumah menjulang tinggi dan mesin penderek adalah dua hal yang bertolak belakang. Inilah yang menyambutku ketika tiba di Vietnam hari ini.

Continue Reading…

Ironi di Balik Sejahteranya Singapura

25 , , Permalink 0

“Singapura bukan tempat yang enak buat hidup.”

Jawaban senada itu datang dari empat orang berbeda di tempat berbeda dan dalam waktu berbeda pula. Amat mengejutkan bagiku.

Empat orang itu dua orang Indonesia, satu warga Singapura sendiri, dan satu lagi orang Belanda. Keempatnya memberikan jawaban senada. Bagi mereka, Singapura itu memang tertib, aman, sejahtera. Namun, terlalu banyak aturan di negeri ini. Biaya hidup juga amat mahal. Makanya terasa mengekang dan membosankan.

Tapi, aku nyatakan sejak awal, pendapat ini amat umum karena hanya berdasar pada obrolan santai. Juga mengandalkan pengamatan selama tiga hari di sana.

Continue Reading…