Storify, Menangkap Riwayat yang Terlewat

Ada yang lebih menarik daripada keberhasilan Huffington Post menang Pulitzer.

Huffington Post, koran online atau dalam jaringan (daring), itu mendapat hadiah jurnalisme prestisius tersebut di kategori berita nasional. David Wood, penulis senior Huffington yang puluhan tahun meliput perang, menulis hingga 10 seri tentang para prajurit yang cacat usai berperang di Irak dan Afghanistan.

Continue reading “Storify, Menangkap Riwayat yang Terlewat”

Mementingkan Faktualitas Dibanding Aktualitas

Mana yang lebih penting, aktualitas atau faktualitas?

Salah satu peserta Pelatihan Jurnalistik untuk Humas Balai Karantina se-Indonesia bertanya kepada Nyoman Darma Putra. Aku lupa dari mana pesertanya. Aku cuma ingat pertanyaan menarik tersebut ketika menjadi salah satu pemateri pelatihan tersebut bersama Pak Darma, panggilan akrabku ke dosen Fakultas Satra Universitas Udayana yang juga wartawan kantor berita ABC di Bali ini.

Continue reading “Mementingkan Faktualitas Dibanding Aktualitas”

Bijak Memilih dan Memilah Serakan Informasi

BLUR_110117_003 “Gempa” susulan pun terjadi di linimasa.

Begitu gempa 8,5 Richter mengguncang kawasan barat Sumatera, termasuk Daerah Istimewa Aceh dan Sumatera Utara dua hari lalu, informasi di Twitter pun berseliweran. Seperti biasa, gempa di linimasa ini membuat warga lebih panik dibanding gempa sesungguhnya.

Aku sendiri pernah merasakannya ketika ada gempa di Bali selatan Oktober 2011 lalu. Pas aku lagi di Flores, Bali kena gempa. Lalu di Twitter pun informasi berseliweran. Karena hanya baca di Twitter, ketakutanku kok amat terasa. Padahal ya tak segawat yang ada di linimasa.

Continue reading “Bijak Memilih dan Memilah Serakan Informasi”

Melanjutkan Mimpi Media Watch di Bali

Keinginan sih ada. Modalnya yang tak ada.

Oleh karena itu, hingga saat ini kami belum bisa menjadikan Sloka Institute sebagai lembaga pemantau media (media watch). Kami belum melakukan pemantauan dan pelaporan secara berkala tentang bagaimana materi media-media di Bali.

Continue reading “Melanjutkan Mimpi Media Watch di Bali”

Label Media makin Menyuburkan Stigma

Sebagian media kembali memberitakan pembunuhan berantai.

Lalu, gay kembali jadi pihak terpojokkan. Mujianto, pelaku pembunuhan berantai di Nganjuk, Jawa Timur tersebut berorientasi seks homoseksual. Korban-korbannya pun gay. Kelompok ini pun kembali mendapat stigma.

Continue reading “Label Media makin Menyuburkan Stigma”

Kumpulan Pengalaman Jurnalisme Warga

Di tengah langkanya referensi tentang jurnalisme warga, buku ini serasa pelepas dahaga.

Buku yang diterbitkan Peter Lang, New York tahun 2009 ini memberikan gambaran bagaimana praktik jurnalisme warga tak hanya diterapkan tapi juga bisa mendorong perubahan di banyak negara. Melalui contoh-contoh di Irak, China, Amerika Serikat, India, Australia, dan negara-negara lain, para penulis menegaskan bahwa perubahan warga sekaligus sebagai pewarta bukanlah hal mustahil.

Continue reading “Kumpulan Pengalaman Jurnalisme Warga”

Pledoi Menggugat Bredel, Melawan Lupa

Pergulatan manusia melawan kekuasaan adalah pergulatan ingatan lupa.

Goenawan Mohamad, pendiri dan (mantan) pemimpin redaksi TEMPO, menyitir pernyataan Milan Kundera tersebut di pengantar buku ini. GM, mengingatkan bahwa kekuasaan selalu berupaya menciptakan ingatan tunggal, termasuk terhadap sesuatu yang dianggap subversif. Ingatan tunggal biasa diiringi dengan tafsir tunggal pula terhadap sejarah tersebut.

Continue reading “Pledoi Menggugat Bredel, Melawan Lupa”

Bali Post dan Gubernur Bali, Berdamailah..

Dua penguasa Bali ini pun resmi bersengketa secara terbuka.

Kamis kemarin, sidang perdana gugatan Gubernur Bali, Made Mangku Pastika terhadap Bali Post pun digelar di Pengadilan Negeri Denpasar. Pastika resmi menggugat media tertua dan terbesar di Bali tersebut karena dianggap menulis hal tidak benar tentang dirinya.

Continue reading “Bali Post dan Gubernur Bali, Berdamailah..”

Suara Sumbang pun Harus Diberi Ruang

Sambil lesehan usai pelatihan, kami mengevaluasi perjalanan Bale Bengong.

Seingetku ini pertama kalinya kami mengevaluasi Bale Bengong sebagai blog jurnalisme warga. Setahun lalu sih pernah tapi waktu itu lebih pada keterlibatan teman-teman alumni Kelas Menulis Jurnalisme Warga dan kontributor.

Continue reading “Suara Sumbang pun Harus Diberi Ruang”

Menulis Perjalanan, Belajar tentang Keragaman

Jalan-jalan bersama membuat kelas jurnalisme warga kali ini berbeda.

Kelas Menulis Jurnalisme Warga, biasa kami singkat Kamis, Desember ini adalah angkatan ke-11. Tak terasa. Sudah dua tahun kami melaksanakan pelatihan menulis jurnalisme warga ini sejak awal 2010 lalu. Continue reading “Menulis Perjalanan, Belajar tentang Keragaman”