Jurnalisme Warga adalah Jawabannya

Siang ini kami berdiskusi di kantor Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali di Jl Melati Denpasar. Ada sekitar –aduh, kok lupa ngitung ya?- 15 orang yang datang. Kecuali dua project officer (PO) KPA Bali, semuanya alumni Klinik Jurnalistik, pelatihan jurnalistik bagi aktivis penanggulangan AIDS di Bali.

KJ sudah diadakan dua kali pada Agustus tahun lalu dan April tahun ini. Tujuannya melatih kemampuan dasar jurnalistik bagi mereka agar lebih mudah menyampaikan isu-isu HIV/AIDS lewat media. Aku sendiri bantu mendesain pelatihan sekaligus fasilitator. Ketika pelatihan sih pada semangat. Meski ngerjain tugas sampai dini hari, mereka masih juga semangat. Continue reading “Jurnalisme Warga adalah Jawabannya”

Balebengong, Tempat Denpasar Berbagi Kabar

Seribu langkah selalu dimulai dari satu langkah. [Pepatah China]

Begitu pula blog www.balebengong.net. Dia lahir dari kegelisahan. Kok sepi sekali suara dari Denpasar (dan Bali) kalau diskusi tentang hiruk pikuk dunia maya maupun jurnalisme warga? Padahal, setahu saya, makin banyak blogger di Denpasar dan banyak pula kabar yang bisa dibagi lewat dunia maya melalui jurnalisme warga.

Maka, sesuatu harus dilakukan. Sebab, ide tanpa aksi hanya jadi mimpi. Lahirlah http://thebalebengong.blogspot.com sebagai sebuah rintisan. Meski hanya rintisan, ide ini mendapat apresiasi dan dukungan semangat maupun tulisan dari Pak Darma Putra dan Kang Arief Budiman. Mereka berdua memberi saya keyakinan bahwa membuat portal jurnalisme warga bukanlah sesuatu yang mustahil. Terima kasih, Pak Darma dan Kang Ayip.. Continue reading “Balebengong, Tempat Denpasar Berbagi Kabar”

Media Watch untuk Demokratisasi Media

-ini sebagian notulensinya-

Focus Grop Discussion
Penguatan Media Watch untuk Mendukung Demokratisasi Media
Kemitraan – LSPP Jakarta – LeSPI Semarang
Hotel Horison Semarang, 12 Juni 2007

Hari – LSPP
Kodisi media di Indonesia saat ini secara kuantitas memang ada penambahan. Tapi ada masalah dengan kualitas.

Triyono – Komunikasi Undip
Pasar lebih dominan dan negara mengalami kemerosotan. Masyarakat hanya sebagai pembeli, bukan sebagai entitas yang punya peran. Parahnya lagi ada swastanisasi lembaga penyiaran publik. Continue reading “Media Watch untuk Demokratisasi Media”

Mari Memproduksi Informasi Sendiri

Media massa yang disebut sebagai media mainstream (media arus utama) kurang memberi tempat bagi kelompok-kelompok marjinal. Lihatlah TV, maka kita lebih sering melihat wajah-wajah penguasa modal politik, ekonomi, maupun sosial. Bacalah koran maka nama-nama sama juga yang kita temukan. Kelompok-kelompok yang tak punya cukup modal hanya diposisikan sebagai konsumen media, bukan produsen, atau setidaknya dilibatkan.

Namun kelompok tak cukup modal politik, ekonomi, dan sosial itu punya kekuatan lain yaitu komunalisme. Mereka dipersatukan oleh kesamaan latar belakang sosial maupun geografis. Bermodal komunalisme ini ternyata mereka bisa meninggikan posisi tawar dalam praktik penyebaran informasi. Mereka tak lagi hanya mengonsumsi informasi, tapi memproduksinya.

Continue reading “Mari Memproduksi Informasi Sendiri”

Konglomerasi Media dan Penunggalan Opini di Bali

Huh, akhirnya kelar juga laporan yang ku kerjakan sekitar dua bulan ini. Awal Februari lalu, Mas Hanif, teman di LSPP Jakarta minta tolong bantu bikin riset tentang dampak konsentrasi kepemilikan media di Bali. LSPP akan membuat buku tentang peta kepemilikan media penyiaran di Indonesia. Salah satu bagiannya adalah bagaimana dampak konsentrasi kepemilikan media penyiaran itu. Bagian ini mengambil contoh kasus di Bali.

Ketika ditelpon pertama aku mikir riset itu bener-bener riset. Aku mikir sih ya mungkin mirip bikin skripsi dengan sumber utama riset pustaka. Mikir soal riset, otakku langsung kebayang soal yang ribet. Nyatanya komposisi sumber riset itu sekitar 50 persen riset pustaka, 50 persen wawancara. Continue reading “Konglomerasi Media dan Penunggalan Opini di Bali”

Musibah Garuda itu Jadi Liputan Eksklusif Wayan

Wayan Sukarda menggelar pesta syukuran di rumahnya di Perum Nuansa Udayana Jimbaran Senin (12/3) lalu. Wayan salah satu korban kecelakaan Garuda di Yogyakarta Rabu pekan lalu. Tak hanya selamat, kontributor stasiun TV swasta Lativi dan sejumlah media TV Australia itu pun membuat liputan eksklusif kecelakaan yang menewaskan 22 orang, termasuk empat warga negara Australia tersebut.Syukuran itu sederhana. Undangan, hampir seluruhnya wartawan teman Wayan sehari-hari liputan, duduk di kursi plastik di garasi. Makanan disajikan di teras rumah. Ada ikan bakar, ayam goreng, ayam betutu, dan tentu saja babi guling. Continue reading “Musibah Garuda itu Jadi Liputan Eksklusif Wayan”

Setelah Usulan Itu Gak Tembus

Usulan ke Playboy Indonesia yg ditolak itu. Ini usulan ketiga yang ditolak. Sebelumnya ada soal operasi dada di kalangan waria dan seni rupa “pinggiran” Bali. Alasan ditolak sih karena tema2 ini gak nyambung sama visi PB yg embracing life.

Hmm, harus pinter2 cari tema kalo gini. Dan, semoga ga patah semangat. :)) Continue reading “Setelah Usulan Itu Gak Tembus”

Resistensi HIV Ancam ODHA Bali

-dimuat The Jakarta Post [8/2]-

Resistensi HIV Ancam ODHA Bali

Anton Muhajir
Kontributor/Denpasar

Tak hanya mata, masa depan Agung sebagai ODHA pun makin gelap.

Pandangan Agung, 34 tahun, makin samar. Mata kanannya sudah tak bisa dipakai melihat sama sekali. Mata kirinya makin dipenuhi titik hitam. Padahal pekerjaan bapak satu anak ini tergantung pada mata, selain kemampuan menyetir. Tiap hari Agung mengemudikan truk tangki bensin 5000 liter dari Pesanggaran, Denpasar Selatan ke berbagai industri pelanggannya. Tapi melihat benda berjarak lebih dari lima meter pun kini dia tak bisa melakukannya dengan baik. Dua bulan lalu dia pindah ke kursi sebelah, sebagai kernet. “Itu pun sering tak masuk,” katanya. Continue reading “Resistensi HIV Ancam ODHA Bali”

Prayitno, Mewujudkan Museum Topeng Indonesia

Sang Pionir:
Prayitno, Mewujudkan Museum Topeng Indonesia

Mimpi Prayitno untuk mewujudkan museum topeng tinggal selangkah lagi. Di salah satu ruangan rumah seni di Banjar Tengkulak Tengah, Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali Prayitno menyimpan hampir seribu topeng dari berbagai daerah. Topeng-topeng itu disusun berdasarkan daerah asal topeng tersebut. Mulai Madura, Jawa, Bali, Lombok, Batak, Kalimantan, hingga Papua.

Saat ini, selain masih berburu topeng dari daerah-daerah lain maupun jenis tertentu, pria kelahiran Bojonegoro, 23 Juli 1946 ini juga menyiapkan referensi masing-masing topeng. Keterangan tentang jenis, asal, dan bagaimana pembuatan topeng itu nantinya digunakan melengkapi tiap topeng yang akan dipamerkan di musem. “Agar mereka yang berkunjung bisa tahu informasi tentang topeng yang dilihat,” katanya. Bagi Pak Prayit, panggilan akrabnya, museum topeng itu nanti tak hanya sebagai media konservasi tapi juga edukasi. Continue reading “Prayitno, Mewujudkan Museum Topeng Indonesia”