Blog antara Adsense, Narsis, dan Isi

Lagi males nulis panjang. Jadi masukin saja hasil diskusi kecil di milis pantau-komunitas@yahoogroups.com. Diskusi ini dipicu tulisan Imam Shofwan di PANTAU. Sayangnya aku lagi males juga utk membuat link ke tulisan itu. Kapan2 aja deh aku bikin link ke sana. Sekarang aku masukin diskusi kecil ini saja. Ya, sekadar ngungkapin kegelisahan soal perkembangan blog di Indonesia, termasuk Bali. Sekaligus utk bernarsis ria itu tadi. :p

Membaca banyak tulisan di media massa soal Pesta Blogger kemarin, sepertinya memang masih ada soal yang belum terjawab: seberapa seriuskah blogger Indonesia menulis secara kritis?

Continue reading “Blog antara Adsense, Narsis, dan Isi”

Transkrip Jeruk Minum Jeruk

Prodita Sabarini, wartawan The Jakarta Post, hari ini wawancara aku per telepon. Temanya tentang blogging di Bali. Ini ibarat jeruk (J1) minum jeruk (J2) alias wartawan wawancara wartawan. Jadi ya narasumber pun membuat transkip wawancara tersebut. Kurang lebih, ini transkripnya.

Jeruk 1: Sejak kapan ngeblog?
Jeruk 2: Sekitar Maret atau April 2004

J1: Gimana ceritanya?
J2: Waktu itu kenal blog dari teman di Bandung yang ketemu di internet. Dia yang ngajarin aku untuk bikin blog. *Thx, Sireum..* Setelah itu keterusan sampe sekarang.

Continue reading “Transkrip Jeruk Minum Jeruk”

Kenapa Aku Tak Bisa Mengambil Punyaku?

Beberapa hari ini aku kepikiran untuk ngumpulin tulisanku yang pernah terbit dalam basa Inggris. Meski tidak banyak, adalah beberapa tulisan di The Jakarta Post. Biar gampang, aku pun search di Google pake namaku. TJP kan punya online jg. Jadi biar gampang ya cari saja di sana. Ada beberapa tulisan yang muncul.

Ada beberapa situs yang muncul. Lalu aku klik yang nyambung. Situs itu terbuka dengan tulisanku di sana. Aku klik. Lho, kok aku harus masukin username dan password. Kan aneh. Aku saja tidak pernah nyuruh orang untuk masukin username segala macem untuk baca tulisan2ku. Kok ini malah orang lain nyuruh aku untuk masukin username ketika aku mau baca tulisanku sendiri.

Ini memang konsekuensi revolusi teknologi informasi: tidak ada lagi batas ruang. Milik kita, bisa saja ada di tangan orang lain yang kita tidak pernah kenal sebelumnya. That’ fine. Tapi jangan dong kemudian orang lain itu memakainya sehingga kita sendiri pun tak bisa memakainya. Dasar!

Kenyataan Entah yang keberapa

Aku kaget ketika pagi tadi baca tiga berita di tiga media berbeda tentang aksi solidaritas untuk Myanmar. Semuanya bener-bener di luar dugaan. Tidak hanya di luar dugaan, tapi malah berbeda dari kenyataan.

Ya, memang begitulah media. Dia tidak hanya menyampaikan kenyataan kedua dari kenyataan sebenarnya. Sering kali media malah memberitakan kenyataan entah yang keberapa.

Dampak Konsentrasi Kepemilikan Media di Bali

Catatan: Laporan ini adalah bahan yang saya kumpulkan untuk buku Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) tentang peta media di Bali.

Tak bisa dipungkiri, mengguritanya Kelompok Media Bali Post memberikan dampak positif bagi Bali. Dampak positif itu misalnya menghilangkan budaya koh ngomong, mendorong keterlibatan warga dalam penggunaan media massa sekaligus mengawasi kinerja pemerintah, serta mendorong semangat kewirausahaan orang Bali.

Budaya Koh Ngomong adalah sikap dan perilaku orang Bali yang enggan mengurusi masalah orang lain. Karena itu tabu bagi orang Bali untuk saling kritik apalagi disiarkan secara terbuka. Sikap seperti ini bisa terjadi karena pada masa Orde Baru, sikap kritis memang sengaja dimatikan. Di sisi lain, kemajuan pariwisata yang berakibat pada meningkatnya pendapatan Bali, memang membutuhkan suasana “harmonis”. Konflik secara tertutup maupun terbuka harus didiamkan.

Akibat budaya Koh Ngomong ini, orang Bali cenderung apolitis dan bersikap Nak Mula Keto, atau memang begitu adanya.

Continue reading “Dampak Konsentrasi Kepemilikan Media di Bali”

Kerajaan Media Bali Post

Catatan: Laporan ini adalah bahan yang aku kumpulkan untuk buku Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) tentang peta media di Bali.

Media Cetak
Meski keran demokratisasi media telah dibuka, nyatanya bisnis media di Bali tetap saja dikuasai empat pemain utama: Bali Post Group, Radar Bali, NusaBali, dan Warta Bali. Saat ini memang masih ada harian lain seperti Fajar Bali, Patroli Post, dan Koran Bali –yang konon akan terbit kembali dengan saham terbesar dimiliki wakil bupati Badung saat ini, Ketut Sudikerta. Namun tiga media itu bisa disebut hanya sebagai figuran. Sedangkan di antara empat harian utama itu Bali Post jelas masih bisa disebut sebagai raja lokal.

Dalam penawaran pemasangan iklannya Bali Post menyebut oplah mereka mencapai 100.000 eksemplar. Data ini jelas lebih besar dari data sesungguhnya karena untuk kepentingan bisnis iklan. Sebagai bandingan majalah SWA edisi 20 Agustus 2003 menulis oplah harian Bali Post mencapai 90.000 eksemplar atau senilai Rp 64,8 milyar per tahun. Sedangkan menurut penelitian Santra (2006) oplah harian Bali Post sebanyak 87.500 eksemplar pada 2006 lalu.

Besarnya Bali Post tidak bisa dilepaskan dari Ketut Nadha sebagai pendiri sekaligus pemilik modal awal. Mendirikan koran bernama Suara Indonesia pada 1948, saat revolusi bersenjata masih terjadi, jelas bukan hal mudah apalagi dilihat dari sisi bisnis. Namun Nadha bersama dua rekannya bisa membuat Suara Indonesia bertahan. Terbit dalam bentuk majalah dan dicetak handset, Suara Indonesia pun terbit tidak tentu.

Continue reading “Kerajaan Media Bali Post”

Sekilas Peta Media Cetak di Bali

Tulisan ini adalah sebagian hasil “riset kecil”, -saya sebut kecil karena lebih banyak pakai sumber sekunder daripada sumber primer-, pada Maret 2007 lalu. Ada beberapa perubahan, terutama tentang lahirnya kembali Koran Bali yang sempat mati. Riset saya lakukan untuk membantu Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Jakarta yang akan menerbitkan buku tentang peta kepemilikan media di Indonesia.

Ada beberapa isu menarik, misalnya soal kebijakan Kelompok Media Bali Post untuk meminta uang iklan dari narasumber. Kata Widminarko, pemimpin umum tabloid Tokoh, salah satu anak penerbitan Bali Post, mereka memang menggunakan prinsip Journalist is Marketing. Ini prinsip yang aneh memang. Banyak narasumber yang senang dengan kebijakan ini karena mereka pasti bisa masuk koran kalau punya uang. But, lebih banyak lagi orang yang sedih karena kebijakan itu. Terutama mereka yang tidak punya uang tentu saja. Continue reading “Sekilas Peta Media Cetak di Bali”

Sejarah Perkembangan Media di Bali

 Catatan: Laporan ini adalah bahan yang aku kumpulkan untuk buku Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) tentang peta media di Bali.

Zaman Kolonial Belanda
Untuk memahami sejarah media di Bali tidak bisa dilepaskan dari adanya sistem kasta di Bali. Putra Agung (2001) menyebut pelapisan masyarakat di Bali pada abad XX sangat ditentukan oleh sistem kasta, meski saat ini kasta itu sudah tidak sepenuhnya berlaku dalam hubungan sosial sehari-hari. Pada dasarnya stratifikasi sosial itu terbagi jadi empat kasta. Brahmana sebagai kasta tertinggi untuk mereka yang jadi pemuka agama. Ksatria untuk golongan bangsawan. Wesia untuk kalangan birokrat. Tiga kelompok ini disebut tri wangsa. Dia luar tri wangsa ada jaba untuk warga masyarakat biasa.

Sejarah media di Bali dimulai pada 1923 dengan lahirnya Shanti Adnyana dalam bentuk kalawarta (newsletter). Menurut Kembar Karepun, dalam manuskrip untuk buku tentang pertentangan kasta di Bali, Shanti Adnyana, berarti Pikiran Damai, itu berupa majalah bulanan yang diterbitkan organisasi Shanti. Organisasi yang berpusat di Singaraja, Bali utara ini bergerak di bidang sosial dan pendidikan, termasuk penerbitan. Pendirinya dari semua kasta.

Continue reading “Sejarah Perkembangan Media di Bali”

Anda Bertanya, BaleBengong Menjawab

Apa itu BaleBengong?

BaleBengong adalah portal yang dibangun untuk sebagai tempat berbagi informasi apa saja tentang Denpasar maupun Bali pada umumnya. Situs ini dikelola secara partisipatif oleh siapapun yang peduli dan ingin berbagi informasi tersebut. BaleBengong sekaligus bagian dari upaya mewujudkan jurnalisme warga di Denpasar maupun Bali.

Apa itu jurnalisme warga? Continue reading “Anda Bertanya, BaleBengong Menjawab”