Bencana [Lagi, Lagi, dan Lagi..]

Kali ini bencana terjadi di pantai selatan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tsunami datang, setelah gempa 6,8 skala Richter di laut selatan Jawa, di pantai Pangandaran dan Parangtritis tiga hari lalu. Hingga tadi pagi aku baca di koran lebih dari 500 orang meninggal.

Tsunami Aceh, gempa di Nias, banjir di Jember, gempa Jogja, lumpur panas di Sidoarjo, banjir di Sulawesi.. Semua datang silih berganti.

Bencana lagi. Bencana lagi. Bencana lagi. Lagi. Lagi…. Kenapa terus terjadi?

Habis Solar Terbit Jatropha

-Konon, Rudolf Diesel mati dibunuh pengusaha minyak. Sebab pencipta mesin Diesel itu sejak awal menciptakan mesin yang menggunakan minyak nabati, kalo ga salah minyak kacang, sebagai bahan bakar. Tak lama kemudian ditemukan minyak bumi. Ada booming. Semua mesin kemudian bergantung pada minyak bumi seperti solar, bensin, dst. Ada korpoarsi besar BP, Exxon, Pertamina, Shell, dst di balik ketergantungan dunia pada minyak bumi. Aku jadi inget buku Confession of Economic Hitman.

Lalu muncul kembali minyak jarak alias Jatropha. Dari kaca mata filosofis ya mungkin ini bagian dari pomodernisme. Gawat banget.. :)). Karena itu laporan utk kantor ini tak posting di blog. Sebab ini sekaligus uji coba pertama di dunia. Kalau kemudian minyak jarak juga jadi bahan bakar penting bagi mesin di masa depan, paling tidak aku pernah liat langsung peristiwa bersejarah itu. “Nanti kita usul ke Depdiknas agar nama kita dimasukkan buku sejarah,” kata Tantyo Bangun. Tentu saja bercanda.-

===========================================================
Ekspedisi Jatropha 2006 membuktikan minyak jarak lebih irit dibanding solar. Cuaca dan gaya menyetir berpengaruh.

Tepat pukul 15.00 wita, tim Jatropha Expedition 2006 tiba di pelabuhan Gilimanuk, Bali Selasa lalu. Jarak sekitar 150 km itu ditempuh dari Sanur, Denpasar tiga jam. Di antara padatnya lalu lintas Denpasar-Gilimanuk, sepuluh mobil itu berkonvoi meliuk-liuk. Meski jalan raya lebih banyak naik turun dan berkelok-kelok, mobil yang saya tumpangi tak terlalu terasa naik turun. Tarikannya stabil. Padahal mobil itu menggunakan bahan bakar minyak jarak (Jatropha curcas L).

Saat mobil berjalan, tidak ada bedanya sama sekali penggunaan solar maupun minyak jarak. Menjelang pelabuhan Gilimanuk misalnya converter di mobil dipencet untuk memindahkan bahan bakar dari minyak jarak ke solar. Mobil tetap berjalan. Bahan bakar pun berganti. Namun laju mobil tetap pada 60 km per jam. Tak terasa tiba-tiba pelan seperti pindah gigi. Ketika kembali menggunakan minyak jarak pun tetap tak terasa. “Kalau pakai minyak curah perpindahannya terasa,” kata Prabowo Kartolaksono, peneliti yang mengotak-atik mesin sebelum digunakan dalam ekspedisi.

Jatropha Expedition merupakan perjalanan ujicoba menggunakan bahan bakar minyak jarak yang diadakan Majalah National Geographic Indonesia bekerja sama dengan Pusat Penelitian Bioteknologi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan perusahaan energi Bio Chem. “Kami ingin membuktikan secara empiris kelayakan minyak jarak sebagai bahan bakar,” kata Tantyo Bangun, pemimpin redaksi National Geographic Indonesia.

Ide ini muncul berawal dari perkenalan Tantyo dengan Robert Manurung, Kepala Puslit Bioteknologi ITB yang intens meneliti penggunaan minyak jarak sebagai bahan bakar. Sejak April 2005 lalu mereka gerilya mengajak pihak lain terlibat termasuk mencari bahan bakar seperti kebutuhan, antara 600 hingga 700 liter. Minyak jarak itu diperoleh dari Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur.

Sebagai perbandingan, selama ekspedisi ada tiga mobil yang diujicoba. Mobil bernopol B 9711 WU yang saya tumpangi merupakan mobil yang menggunakan bahan bakar minyak jarak 100 persen. Mobil lain menggunakan bahan bakar campuran 50 persen minyak jarak dan 50 persen solar. Mobil terakhir menggunakan 100 persen solar. Semua mobil berjenis sama, Mitsubishi Strada Double Cab. Rabu pekan lalu perjalanan dimulai dari Atambua, Nusa Tenggara Timur menuju Bandung.

Tim peneliti dipimpin Prabowo, konsultan di PT Agraprana yang sudah biasa melakukan konversi mesin dari bahan bakar solar berganti minyak nabati termasuk jarak dan minyak curah. Sebelum diuji coba, ketiga mesin itu dikondisikan jadi nol. “Agar ketiga mesinnya sama,” kata Prabowo. Pada mesin berbahan bakar 100 persen minyak jarak dilengkapi converter untuk memindahkan penggunaan bahan bakar dari solar ke minyak jarak.

Menurut Prabowo, converter perlu karena minyak jarak tidak bisa langsung digunakan saat mesin dingin. Kalau menyalakan mesin pertama kali harus menggunakan solar. Saat suhu mesin sudah 50o C baru pindah ke minyak jarak. Kalau langsung jalan ya sekitar 300 meter pertama.

Sepanjang perjalanan dilihat total pemakaian bahan bakar, efek terhadap pelumas dan tenaga, serta kadar emisi. Tapi saat sampai di Denpasar Senin lalu, baru kadar emisi dan penggunaan bahan bakar yang diketahui. “Kesimpulan sementara, secara teknis minyak jatropha sudah menyamai atau malah lebih baik dari solar,” ujar Prabowo.

Ekspedisi menempuh total 3200 km yang terbagi jad dua etape. Etape I Atambua-Sanur, sekitar 1800 km. Etape II Sanur-Bandung, sekitar 1400 km. Pada perhitungan di akhir etape I, penggunaan bahan bakar 100 persen minyak jarak lebih irit yaitu 1 liter untuk 9,4 km. Campuran 50 persen jarak 50 persen solar 1 liter untuk 8,7 km. Sedangkan 100 persen solar menghabiskan 1 liter untuk 8,6 km.

Uji emisi dilakukan saat di Denpasar. Menurut Muhammad Azhari, Manajer After Sale Service Mitsubishi yang menguji, hasil uji emisi semua mobil memenuhi standar emisi DKI Jakarta. Standar emisi dilihat dari kepekatan gas buang (opasitas). Pada 100 persen minyak jarak rata-rata 21,8 persen. Pada 50:50 hasilnya 24,3 persen. Sedangkan pada 100 persen solar hasilnya 19,9 persen. Standar emisi DKI di bawah 40 persen.

Menurut Azhari, wajar jika uji emisi pada 100 persen minyak jarak lebih tinggi. “Sebab mesin yang digunakan menggunakan mesin yang dibuat untuk solar, bukan untuk jarak,” katanya. Karena itu, menurutnya, kalau nanti hasil tes diterapkan secara massal, harus ada studi khusus untuk pabrikan.

Namun, menurut Prabowo, harus diingat bahwa minyak jarak menghasilkan emisi dari tumbuhan tidak seperti solar yang menghasilkan emisi dari minyak bumi lalu dibuang ke atmosfir. Akibatnya karbondioksida pun makin lama makin banyak. “Tapi kalau dari minyak jatropha tidak akan memperbanyak karbondioksida itu,” katanya.

Gas emisi dari penggunaan 100 persen minyak jarak pun tak terlalu berbau. Beda dengan solar yang berbau khas. Saat di Denpasar, beberapa orang malah menaruh tangan pada knalpot untuk mencium bau emisi. “Kayak minyak goreng. Wangi,” kata salah satu turis asing yang ikut mencium. Saat di Denpasar memang dilakukan eksebisi mobil uji coba itu.
Tes lain yang dilakukan adalah uji akselerasi. Uji coba dilakukan Senin tengah malam di Denpasar. Namun hasilnya belum dianalisa. [Tantyo dan Prabowo menjanjikan akan disampaikan saat jumpa pers di Bandung Rabu sore ini]. Akan diukur juga dengan pengukur tenaga (dynamometer) untuk membandingkan apakah terjadi pengurangan atau malah penambahan tenaga.

“Sejauh ini kami masih puas. Tidak ditemukan masalah pada mesin,” kata Prabowo.

Meski hasilnya memuaskan, menurut Tantyo, uji coba ini masih bersifat empiris, bukan sesuatu yang ilmiah. Sebab banyak faktor luar yang juga berpengaruh pada penggunaan bahan bakar tersebut. Misalnya suhu dan gaya menyetir tiap orang.

Saat di sekitar Gunung Kelimutu misalnya suhu luar mencapai sekitar 13o C. Ternyata suhu dinding berpengaruh pada kualitas minyak jarak. Makin dingin suhu luar, minyak jaraknya makin kental. Akibatnya perpindahan panasnya pun tidak lancar. “Pengalaman ini jadi PR untuk memperbaiki kualitas minyak jarak,” kata Tantyo.

Faktor lain yang berpengaruh adalah driving style. Pada saat perjalanan antara Larantuka-Labuan Bajo di NTT terjadi perubahan menyolok. Tiba-tiba konsumsi minyak jarak lebih boros dibanding campuran dan 100 persen solar. Saat itu 1 liter 100 persen minyak jarak hanya untuk 7,4 km. Sedangkan campuran 1 liter untuk 9,06 km dan 1 lieter 100 persen solar untuk 9,07 km. Setelah dicek, ternyata campuran dan solar lebih irit karena sopirnya merokok lalu mematikan AC.

“Memang akan banyak variabel mempengaruhi penelitian sambil berjalan seperti ini. Tapi ini jadi hal menarik,” kata Tantyo.

Birokrasi yang Bikin Makan Ati

Well, setelah menunggu enam bulan lebih, akhirnya aku dapet jawaban soal molornya pengurusan kartu tanda penduduk [KTP] dan kartu keluarga [KK]. Sejak 23 Januari lalu aku dan istri ngurus surat pindah untuk bikin KTP dan KK. Kami serahkan ke pengurus banjar. Katanya sih silakan nanti cek ke Kepala Lingkungan.

Sekitar dua minggu setelah itu cek ke Kepala Lingkungan. Susah banget. Selain karena dia memang jarang ada di rumah pas kami, atau gantian salah satu di antara kami, ke rumahnya. Begitu terus. Pernah ketemu, dia bilang akan cek dulu. Lalu sekitar dua bulan lalu kami tanya lagi. Hasilnya? Tidak jelas!

Kepala lingkungan bilang mungkin masih di pengurus yang waktu itu terima atau sudah di tempek [semacam ketua RT]. Kami cek ke tempek banjar, tidak ada. Dia bilang tidak pernah terima. Tanya lagi ke kepala lingkungan, dia bilang mungkin di pengurus. Karena males, urusan itu tak kami lanjutin. Pasif aja dulu.

Lalu, awal Juli lalu kami harus ngurus perpanjangan STNK motor. Istriku ga masalah karena pake KTP mertua. Lha aku, jelas ga bisa. Karena KTP udah mati. SIM juga. Keduanya mati pas 19 April lalu. Abis itu aku baru inget lagi soal KTP. Yaudah kami pun tanya2 lagi. Terakhir dapatlah pengurus banjar yang dulu terima surat pindah dan semua tetek bengek yang dulu kami urus.

Hasilnya? Ilang sodara-sodara! Itu pun harus cek2 lagi ke tempek banjar. Sebagai jalan keluar, pengurus banjar meminta kami mengurus surat pindah lagi. Aku dari awal udah bilang keberatan kalau harus ngurus lagi. But, ga ada pilihan lain. Ngurus lagi atau ga dapat KTP selamanya?

Jadi ya, sejak kemarin kami pun ngurus surat pindah lagi. Untungnya barusan aja dapat semua dari Kepala Desa dan Kecamatan asal. Jadi ya mulai lagi berurusan sama birokrasi yang bikin makan ati itu..

Membaca Penanda Piala Dunia

Finally, Final Piala Dunia 2006 berakhir. Hasilnya, mamamia!, Italia menang.. Azzuri ngalahin Perancis [apa Prancis ya?] di final lewat adu penalti. Ketakmampuan David Trezzeguet [bener ga ya nulisnya] nendang penalti jadi berkah bagi Marcello Lippi. Italia menang 5-3.

Momennya memang udah lewat. Tapi tetap menarik ngobrolin piala dunia, entah pialanya itu sendiri maupun finalnya.

Piala Dunia, sebagai sebuah benda, hanya berupa piala berbentuk bola dunia dengan tangan di bawahnya. Pengganti piala Jules Rimet ini dilapisi emas 18 karat, tinggi 36 cm, dan berat 4.97 kg [ini versi wikipedia]. Tapi piala dunia itu tak melulu benda. Dia hanya simbol. Hanya penanda, menurut kajian semiotika ala Umberto Eco. Di baliknya banyak banget petanda atau makna yang ingin disampaikan.

Di balik piala dunia ada ego manusia yang tak mau kalah. Lihatlah Christiano Ronaldo yang menangis gara-gara kalah ma Jerman. -Syukurin!- Ada superioritas. Ada gengsi. Karena itu 32 negara rela menghabiskan milayarn duit “hanya” untuk ikut lari-lari mengejar bola di lapangan. Piala dunia jadi ajang pamer kekuatan. Mungkin inilah perang tanpa senjata yang dinikmati milyaran orang di dunia.

Kalau sepakbola adalah agama, mungkin dia akan jadi agama paling besar di dunia. Gitu tulis Kafi Kurnia di Intrik GATRA. Sepakat! Inilah agama yang tak perlu disebarkan dengan pedang atau pistol atau meriam. Lihatlah tentara Amerika Serikat yang istirahat sejenak di Irak demi memonton Reyna dan kawan2nya melawan Italia.

Piala Dunia juga bisa jadi lawakan terbesar di Indonesia. Terutama komentator di TV. Lihatlah Roni Patinasarani yang berbuih-buih ngecap mengomentari strategi tiap pelatih. Menyalahkan kadang-kadang. Komentarnya kadang-kadang naif. “Yang anak kecil pun bisa bilang kayak gitu,” tulis M Mahfud, mantan menteri itu. Sejawaran Asvi Warman Adam juga ikut nulis komentar terhadap komentator. Indonesia cuma bisa berkomentar tapi tak bisa ikut main. Lalu mantan menteri dan sejarawan juga ikut mengomentari komentar komentator.

Kini, aku malah mengomentari komentar mereka terhadap komentar komentator. Bener2 lucu..

drop lagi. masih aja ga bisa istirahat..

ga tau kenapa, kok akhir2 ini fisikku payah. baru capek dikit udah drop. seperti juga sekarang. dari dua hari lalu tiba2 hidung kayak tersumbat. agak cuek. eh, besoknya badan langsung panas. parahnya lagi tenggorokan terasa kering. “walah, paling radang tenggorokan lagi,” pikirku.

kalo udah gitu, obat paling mujarab sih istirahat. but, maunya istirahat, tapi masih keluar untuk satu urusan. malemnya keluar lagi karena harus kirim laporan ke kantor. alamak! mana dingin2 lagi.

lalu, hari ini maunya istirahat lagi. eh, masih ada kerjaan belum beres juga. pagi tadi harus kirim tulisan ke tabloid tokoh. harusnya tiga tapi karena buru2 jd kirim satu aja dulu. dan, sekarang nyusul dua lagi buat denpost+bali post. tulisannya soal kampanye HIV/AIDS di media cetak.

huh! habis ini aku mau diem aja di rumah. sibuk dg stik game aja. :))

Menulis Panjang itu Candu!

baru pekan lalu selesai nulis panjang lagi. sebelumnya, soal bakso babi bisa sampe 4000an kata, yang terakhir mala sampe 8000an kata. panjaaaaang banget.

tulisan terakhir soal perjuangan dua perempuan positif HIV dalam penanggulangan HIV/AIDS. satu perempuan tertular karena kebiasaan berbagi jarum saat pakai heroin dengan jarum suntik. dia kini aktif di program pertukaran jarum suntik bagi pecandu heroin. “biar tidak ada lagi orang tertular HIV dari jarum suntik,” katanya. satu lagi tertular HIV dari suami. kini dia aktif kampanye, testimoni, dan mendampingi orang dengan HIV/AIDS. “biar orang lain tidak merasakan apa yang pernah aku alami,” akunya.

ini liputan panjang. perlu pendekatan setahun lebih agar keduanya nyaman berbagi.

nulis panjang ternyata sangat memuaskan. kali ini aku klimaks. seperti halnya onani -ups!- menulis panjang ternyata bikin kecanduan!

Playboy Uncencored Version [Terakhir]

Identitas dalam Semangkuk Bakso [Terakhir]

***

Di mata AAGN Ari Dwipayana, maraknya bakso babi Ajeg Bali itu, bisa dilihat sebagai instrumen untuk memperbesar kesempatan mendapat keuntungan ekonomi. “Dua hal itu (ekonomi dan identitas) bukan dua hal yang terpisah, melainkan saling menembus,” kata Dosen Fakultas Ilmu Sosial Politik (Fisipol) Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta tersebut. Ari, demikian dia biasa dipanggil, lahir dan besar di Ubud, Gianyar. Kini mengajar di Fisipol UGM. Dari Yogyakarta, Ari intens mengadakan riset-riset tentang desa adat di Bali melalui Lembaga Uluangkep yang berkantor di Denpasar.

Kacamata melihat maraknya Bakso Babi Ajeg Bali juga bisa macam-macam. Bisa jadi penggunaan identitas itu untuk membangun pasar spesifik, dalam hal ini orang Bali. Tapi bisa jadi pula penggunaan identitas itu untuk membangun sentimen kebalian dalam pola konsumsi. Kalau makan bakso orang Bali akan memberikan kesejahteraan bagi orang Bali. Kalau belanja di warung orang Jawa akan mengalirkan keuntungan ke Jawa. “Sentimen itulah yang membuat pembeli beretnis Bali lebih mempertimbangkan faktor identitas dibandingkan dengan rasa atau kemahalan,” tambah Ari.

Analisa Ari ini ada benarnya, tapi juga tak sepenuhnya. Pembeli bakso Gede di Kreneng, Denpasar dan pembeli bakso Nyoman di Yeh Malet, Karangasem banyak yang beli karena ingin mencoba Bakso Babi Ajeg Bali. “Setahu saya setelah pernah membeli mereka jarang yang beli ke sini lagi,” kata Gede. Artinya faktor identitas itu berpengaruh ke pembeli untuk mencoba.

Namun tak semua pembeli demikian. Ketut Suratmaja, misalnya. Pegawai negeri sipil di Pemprov Bali ini tertarik membeli juga karena penasaran. Tapi ketika sudah tahu rasanya, bagi dia sama saja. “Saya beli bakso ya cari mana yang enak, bukan siapa yang jual,” katanya. Beberapa pelanggan di warung Diana malah orang Jawa. “Saya juga masih sering beli bakso dorong orang Jawa,” tambah perempuan berkulit putih ini.

Bagi Ari, makin banyak makanan menggunakan sentimen identitas juga bisa jadi hal positif dalam konteks masyarakat multikultural. Setiap etnis punyai selera makan khas dan kebiasaan dalam cara makan. Karena itulah dia melihat sah-sah saja penggunan identitas itu. “Namun, akan berbahaya kalau makan menjadi urusan politik identitas. Kalau tidak makan di warung Bali maka bukan orang Bali sejati atau kalau tidak mengucapkan Swasti Semeng (selamat pagi dalam bahasa Bali halus) bukan orang Bali,” tambahnya.

Toh, bagi I Gusti Ketut Agung politik identitas tetap sangat terasa dalam maraknya bakso babi Ajeg Bali. “Wacana di permukaan memang soal ekonomi, tapi saya melihat jelas ada nuansa politisnya,” kata Gung Alit, panggilan akrab aktivis Fair Trade tersebut. Nuansa politis itu terlihat dari penggunakan identitas Bali oleh penjualnya.

Gung Alit mendirikan Mitra Bali, usaha di bidang kerajinan berkantor di Ubud, Gianyar. Selain membuat kerajinan sendiri, Mitra Bali juga membeli dari perajin-perajin di Gianyar, Jember, hingga Yogyakarta. Usaha ini, menurutnya, untuk memberdayakan perajin lokal agar bisa bersaing, tapi dengan mengusung konsep perdagangan yang layak (fair trade). Mitra Bali juga jadi anggota federasi internasional usaha perdagangan yang layak, IFAT.

Bapak dua anak ini sendiri mendaftar sebagai anggota Koperasi Krama Bali sejak Agustus tahun lalu. Dia mengajak semua karyawan Mitra Bali dan perajin-perajin binaannya. “Agar bisa memberikan suara lain di situ,” ujarnya. Namun, meski sudah punya kartu anggota bernomor 01.02.0000537, hingga saat ini Gung Alit belum pernah diundang dalam rapat anggota.

Menurut Gung Alit, bakso babi Ajeg Bali, merupakan perlawanan terhadap banyaknya bakso yang dijual pendatang di Bali. “Masak pedagang kecil dilawan, sementara bule-bule yang beli villa dibiarkan saja,” tanyanya.

Tapi bagi Ari, maraknya bakso babi juga bisa dilihat sebagai bentuk keterbukaan Bali pada pilihan-pilihan berkebudayaan, termasuk soal makanan. “Sudah sangat lama Bali berinteraksi dengan budaya dan cita rasa lain,” katanya. Ari menyebut contoh Fu Yung Hay, Kolobak, Cap Cay, dan Siobak yang sudah jadi makanan sehari-hari orang Bali. Dari namanya, terlihat bahwa makanan tersebut termasuk Chinese Food. Tapi Siobak misalnya identik dengan Singaraja.

“Apakah selera bisa dipaksakan?” tanya peneliti Institute for Research and Empowerment (IRE) Yogya ini.

Soal selera itu pula yang membuat Puji tak resah dengan maraknya Bakso Babi Ajeg Bali itu tadi. Pembeli baksonya tetap banyak orang Bali meski di Denpasar sudah banyak warung bakso Babi Ajeg Bali. Menurutnya, orang beli bakso datang pasti karena enak atau tidaknya bakso dan pelayanan. Bukan karena asal usul penjualnya.

“Kalau soal rezeki itu sudah diatur sama yang di atas, Mas,” katanya.+++ [TAMAT]

Playboy Uncencored Version [Part 7]

Identitas dalam Semangkuk Bakso [Part 7]

***

Uniknya, penjual bakso babi Ajeg Bali itu ternyata tak melulu orang Bali. Ada pula penjual bakso babi Ajeg Bali itu yang nak Jawa dan muslim. Salah satunya Suyitno. Bujangan asal Genteng, Banyuwangi ini jualan bakso milik Ida Bagus Arianto, juragan bakso baru di Negara, Jembrana. Gerobak berwarna kuning dan oranye yang didorong Suyitno ini juga berisi tulisan dari kertas stiker Bakso Babi Ajeg Bali. Plangkiran pun ada di bagian depan gerobak.

Suyitno pernah jualan bakso sapi di Denpasar. Tapi karena isu formalin dan bakso daging tikus, jualan Suyitno sepi pembeli. Setelah sempat berhenti sebentar, dia diajak temannya untuk ikut jualan bakso babi. Awalnya dia ragu karena jualan bakso babi. Lalu dia pulang ke Genteng dan konsultasi dengan keluarga. Oleh keluarganya diperbolehkan. Alasannya, hanya jualan, bukan makan dagingnya. Juga jualnya ke orang Hindu, bukan orang Islam. “Aku kan juga ora mangan,” katanya dalam logat Jawa.

Jualan bakso babi, menurut Suyitno, hasilnya memang lumayan. Ketika jual bakso sapi, dia bisa dapat maksimal Rp 50.000 per hari. Tapi sekarang dia dapat minimal Rp 100.000 per hari. Hasil itu dipakai untuk mengembalikan modal usaha dan bagi hasil Rp 15.000 pada bosnya, Ida Bagus Arianto.

Gus Tut, demikian dia biasa dipangil, mengaku mulai jualan bakso sejak Februari lalu. Awalnya dia ditawari pedagang bakso sapi yang kos di rumahnya. Pedagang bakso itu mengeluh sebab makin hari makin sedikit dagangannya habis. Kebetulan, Gus Tut sudah biasa bikin bakso membantu pedagang tersebut. Di sisi lain, bakso babi di Negara juga seperti jamur di musim hujan: bermunculan di berbagai tempat.

Karena itu, Gus Tutu mulai membuat bakso babi. Tiga pedagang bakso sapi yang kos di rumahnya, dan semuanya muslim, pun jualan bakso tersebut. Sebagai toleransi, bapak tiga anak ini membuat aturan pedagang itu tidak boleh membeli daging ataupun membuat bakso. “Agar tidak ada kesan saya memaksa mereka jualan,” tambah anak mantan jaksa ini.

Baru seminggu jualan, anak buahnya sudah bertambah. Kini anak buah Gus Tut ada tujuh orang. Tiga nak Jawa dan empat orang Bali. Bagi Gus Tut yang juga aktif di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ini, tak ada masalah dengan lokal dan non-lokal. “Saya sebenarnya mancing saja biar orang Bali tidak jual tanah untuk beli bakso,” katanya. Melalui usaha dagang bakso babi saat ini, Gus Tut ingin mengubah anekdot satir soal bakso dan tanah itu tadi.

Selain itu, jualan bakso babi ini bagi Gus Tut juga jadi semacam “perlawanan” terhadap Koperasi Krama Bali yang terlalu mengedepankan identitas lokal sehingga terkesan anti-pendatang. Karena itulah dia cuek saja mempekerjakan anak buah bukan orang Bali. Anak buahnya juga tak harus memakai kamen atau udeng. Sedangkan penggunaan kata-kata Ajeg Bali di gerobak, menurutnya, untuk menunjukkan bahwa pemilik bakso itu juga peduli pada Bali.

Tulisan Ajeg Bali itu juga ada di punggung kaos oranye yang dipakai anak buah Gus Tutu. Salah satunya ya Suyitno itu tadi. Tapi ketika ditanya apa arti Ajeg Bali, pemuda bertindik dua di kuping ini menjawab santai, “Ora ngerti aku.” [lanjut ke posting berikutnya]

***

Playboy Uncencored Version [Part 6]

Identitas dalam Semangkuk Bakso [Part 6]

***

Ajeg Bali melalui bakso memang lebih riuh terdengar di kampung-kampung. Di Denpasar, bakso babi Ajeg Bali itu hampir seluruhnya mangkal di warung. Hingga saat ini belum pernah terlihat penjual bakso dengan gerobak yang pakai identitas seperti Gede maupun Diana. Tapi di Karangasem, Klungkung, maupun Jembrana, Bakso Babi Ajeg Bali itu sudah menggantikan bakso gerobak yang dulu dijajakan pendatang dari Malang, Banyuwangi, ataupun Lombok.

Di Karangasem, penjual bakso dorong itu malah ada yang berpakaian adat lengkap dengan kamen, selempod, dan udeng (ikat kepala). Bahkan gerobaknya juga mesaput poleng atau kain motif kotak-kotak hitam putih yang biasa diselimutkan di pohon atau patung di Bali.

Tapi menurut Nyoman Carito, pakaian adat pedagang bakso dan gerobak mesaput poleng itu, terlalu resmi baginya. Karena itu, pedagang bakso di perbatasan Klungkung-Karangasem, ini hanya pakai kamen, tanpa selempod ataupun udeng. Bekas penambang pasir di galian C Gunaksa, Klungkung ini bukan anggota Koperasi Krama Bali. Dia usaha dengan modal sendiri. Jualannya juga bukan bakso babi, tapi bakso ayam. “Dulu pernah jual bakso babi, ternyata tak terlalu laku. Pembeli saya lebih suka bakso ayam. Jadi ya saya jual bakso ayam saja,” akunya. Tapi ide jualan itu, tambahnya, memang muncul setelah dia tahu tentang Bakso Babi Ajeg Bali melalui Bali TV.

Tanpa pakaian lengkap dan saput poleng, identitas Nyoman sebagai orang Bali tetap terlihat melalui gerobaknya. Gerobak itu berisi tulisan Ngajegang Bali di sisi kanan dan tulisan Bali Tulen di sisi kiri. Bagian depan atas gerobak berisi plangkiran, bahan berbentuk kotak dari terbuat dari kayu untuk tempat meletakkan sesajen atau canang. “Biar pembelinya tahu kalau saya orang asli Bali,” katanya. Di bagian bawah paling depan gerobak diisi poster iklan rokok Kansas The Real Man dengan gambar wajah laki-laki. “Untuk gaya-gayaan saja,” katanya lalu tertawa ketika ditanya apa maksud gambar itu.

Identifikasi lewat kamen, tulisan, dan plangkiran itu terbukti ampuh menarik pembeli. Ketika sedang ngobrol, sepasang suami istri dan anak perempuannya memarkir motor di dekat gerobak. Turun dari sepeda motor Honda Supra DK 2872 CM, sang bapak bertanya terlebih dulu, “Bali, Pak, Nggih?” Pertanyaan seperti ini biasa ditanyakan untuk orang asing yang belum dikenal. Penanya ingin tahu apakah orang yang ditanya itu orang Bali atau tidak.

“Nggih, Pak,” jawab Nyoman. Bapak, ibu, dan anaknya itu pun pesan bakso sambil istirahat.

Sore itu ketika wawancara kurang lebih dua jam, Nyoman sambil melayani lebih dari 10 pembeli. Rata-rata orang yang lewat daerah tersebut untuk pulang kampung. Lokasi Nyoman jualan saat ini berada di tepi pantai Yeh Malet, Kecamatan Manggis, Karangasem. Dulunya penjual bakso di sini seluruhnya orang Lombok. Tapi kini semua penjualnya orang lokal dengan ciri-ciri sama: pakai kamen, tulisan Ngajegang Bali dan Bali Tulen, serta gerobak berisi plangkiran. “Saya beli gerobak ini dari mereka,” tambah suami Kadek Sutami ini.

Ngajegang Bali, bagi Nyoman, berarti memperkokoh Bali. Sebab, katanya, selama ini orang Bali cenderung malu kalau disuruh kerja seperti jualan bakso. Dia sendiri pun mengalami malu itu ketika pertama kali jualan. “Karena malu pada pembeli juga takut rasanya tidak enak dan cara jualannya salah,” akunya setelah menghisap Gudang Garam Filter di tangannya. [lanjut ke posting selanjutnya]

***

Playboy Uncencored Version [Part 5]

Identitas dalam Semangkuk Bakso [Part 5]

***

Berdirinya Koperasi Krama Bali memang cukup merangsang orang Bali untuk jadi anggota. Ketika baru diresmikan, jumlah anggota koperasi ini sudah mencapai 3000 orang. Dalam waktu singkat, Koperasi Krama Bali juga mendapat anggota berbagai pejabat Bali seperti Kapolda, Ketua DPRD, Gubernur, hingga Ketua Partai Politik. Melalui media-medianya, pejabat yang mendaftar bisa dipublikasikan.

Secara kasat mata berhasilnya koperasi ini bisa dilihat dari maraknya usaha-usaha informal di bawah binaan Koperasi Krama Bali. Di Denpasar, setahun terakhir mulai bermunculan Bakso Babi Ajeg Bali. Warung-warung ini terlihat jelas karena memasang spanduk merah putih bertuliskan Binaan Koperasi Krama Bali. Salah satunya Warung Bakso Babi di Pasar Kreneng, Denpasar.

Menurut Ni Putu Diana, pemilik warung, sebelumnya dia jual kopi. Karena makin hari makin sepi, dia beralih dagangan. Kebetulan waktu itu dia tahu tentang Koperasi Krama Bali dari temannya. Januari lalu dia mendaftar dengan menggunakan nama I Kadek Astika, sepupunya. Untuk jadi anggota dia harus bayar iuran pokok Rp 50.000 dan iuran wajib Rp 10.000 per bulan. Diana juga harus menyerahkan Surat Keterangan dari Bendesa atau Kelian Banjar Adat.

Sebelum membuka warung, Diana mendapat pelatihan membuat satu porsi bakso. Mulai bagaimana menyajikan kuah, berapa banyak bola bakso, serta berapa komposisi bihun, saos, dan kecap. Dengan modal Rp 3 juta, Diana pun berganti pekerjaan dari dagang kopi ke dagang bakso. Kini, meski belum balik modal, dia mengaku sudah mendapat keuntungan. Bagi Diana, jadi anggota Koperasi Krama Bali punya keuntungan tersendiri. “Ada jaminan promosi,” katanya.

Hanya berjarak puluhan meter dari warung Diana, ada juga warung Bakso Babi Ajeg Bali lainnya. Bedanya kalau warung Diana ada di kios, warung tetangganya itu masih pakai tenda. Dua pelayan di warung tetangga Diana itu statusnya sebagai karyawan, bukan pemilik. Menu warung itu juga lebih lengkap. Ada bakso ayam, bakso babi, soto ayam, sate ayam, nasi putih, lontong, aqua gelas, dan teh botol.

Gede Putu Suadnya, salah satu pelayan mengaku dia juga baru jualan sejak awal Februari lalu. Sebelumnya Gede bekerja sebagai buruh bangunan. Pemuda asal Desa Abang, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, sekitar 150 km timur Denpasar, ini juga pernah bekerja di penggilingan padi. Karena hasilnya tak pasti dan terlalu butuh tenaga kasar, Gede memilih berhenti.

Setelah sempat menganggur, Gede mendengar adanya lowongan di Koperasi Krama Bali melalui Radio Suara Besakih, anak perusahaan Kelompok Media Bali Post di Karangasem. Berbekal foto kopi kartu tanda penduduk dan ijazah terakhir, Gede melamar sebagai karyawan. Dan lolos.

Begitu diterima sebagai karyawan, dan Gede sangat senang karena pengumuman itu disiarkan di radio, dia pindah ke Denpasar. Selama hampir dua minggu dia diajari tentang bagaimana membuat bakso dan melayani tamu. Penampilan harus rapi. Rambutnya pun dicukur hingga panjangnya tak lebih dari 1 cm. “Semua dipotong satu senti supaya jualan bakso kita bersih. Tidak ada rambut yang jatuh,” katanya. Pelatihan itu bahkan termasuk bagaimana cara menyambut pelanggan.

Sopan santun menerima tamu itu terlihat dari cara Gede berbicara pada pelanggan. Ketika ada tamu baru datang, dia mengucapkan salam, “Om Swastiastu..” Salam ini biasa digunakan umat Hindu Bali di awal pertemuan sebagai doa meminta keselamatan. Maknanya sama dengan mengucap Assalamu’alaikum oleh umat Islam. Gede juga berbicara dalam bahasa Bali halus pada pelanggannya.

Pakaian mereka juga berbeda dengan pedagang bakso umumnya. Gede dan Budi, temannya, memakai kamen (sarung yang biasa dipakai upacara atau keperluan adat lain) coklat tanpa selempod (selendang). Keduanya memakai kaos oblong hitam dengan tulisan Goyang Binaan Koperasi Krama Bali di punggung. Ada gambar pulau Bali berwarna putih di lingkaran biru dan dikelilingi delapan sinar kuning berujung emas. Gambar itu adalah lambang Koperasi Krama Bali.

Rombong yang digunakan Gede berukuran sama dengan rombong pada umumnya. Bedanya di bagian depan gerobak terlihat jelas stiker besar Bakso Krama Bali “Sukla” Prasadham. Sukla berasal bahasa Bali halus yang berarti suci. Sukla biasa digunakan untuk menyebut semua hal entah itu pakaian, benda, makanan, atau sesajen yang belum pernah digunakan sebelumnya. Jadi ya kurang lebih artinya baru atau suci.

Ada canang, sesajen dari janur kelapa muda berbentuk kotak berisi bunga dan dupa, di ujung pemanggangan untuk memanggang sate. Pada pakaian Gede, stiker di gerobak, dan canang di pemanggangan, terlihat jelas identitas kebalian.

Toh, Gede tak terlalu berpikir jauh tentang identitas maupun ajeg Bali. “Saya pilih pekerjaan ini hanya agar nanti bisa tahu cara-cara hidup,” kata Gede ketika ditanya motivasi memilih pekerjaan tersebut. Dia kemudian diam lama seperti memikir sesuatu. “Di sini saya hanya belajar,” tambahnya. Jika nanti sudah punya modal, Gede berniat membuka usaha jual bakso sendiri di kampung. [lanjut ke posting berikutnya]

***