
Hanya menyimpan desain keren dari Kang Ayip ini. Menarik banget soale. Tahun ini saatnya lebih serius mewujudkan beberapa ide. Tidak hanya dengan menyimpannya di kepala, tapi melakukannya. Sebab ide tanpa aksi hanyalah mimpi..
maka, menulislah untuk berbagi, agar ceritamu abadi.

Hanya menyimpan desain keren dari Kang Ayip ini. Menarik banget soale. Tahun ini saatnya lebih serius mewujudkan beberapa ide. Tidak hanya dengan menyimpannya di kepala, tapi melakukannya. Sebab ide tanpa aksi hanyalah mimpi..
Hiruk pikuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) tentang Perubahan Iklim sudah berlalu pertengahan Desember lalu. Selain jadi tuan rumah yang baik, keberhasilan Bali lainnya di konferensi yang diikuti sekitar 10 ribu peserta dari 189 negara itu adalah masuknya kampanye World Silent Day sebagai salah satu upaya untuk mengurangi emisi penyebab perubahan iklim.
Pertanyaannya kemudian, setelah UNFCCC lalu apa? Bagaimana meneruskan kampanye World Silent Day, yang bersumber dari pelaksanaan Nyepi di Bali, pada tingkat lebih global?
Ketika melakukannya dua tahun lalu, aku hanya berpikir untuk lari dari ingar bingar perayaan tahun baru di Denpasar. Entahlah. Aku memang tidak bisa menikmati suasana yang ramai. Kadang-kadang malah seperti cemas di tengah kerumunan banyak orang. Begitu pula pada perayaan tahun baru.
Ketika masih jadi wartawan baik-baik, larut di dalam perayaan tahun baru seperti jadi sesuatu yang “wajib”. Tapi aku tidak bisa menikmatinya. Meski sudah mencoba kayak apa, tetap saja aku merasa terasing di sana.
Apa sih yang sebenarnya kita cari dari hiruk pikuk perayaan tahun baru? Harapan baru? Resolusi baru? Hidup baru?
Atau apa sih sebenarnya makna tahun baru itu? Kenapa semua orang begitu bersemangat dengan perayaan ini? Kenapa kita jadi seperti makhluk asing ketika kita memilih lari, sepi dari semua ingar bingar ini?
Inilah pertempuran yang tak pernah ku menangkan: melawan rasa malas. Minggu ini misalnya. Ada beberapa hal yang ingin aku tulis. Aku bahkan sudah liputan. Ini belum termasuk ide-ide lama yang masih belum jadi juga.
Banyak ide di kepala untuk ditulis. Pameran Plush-Tick I Wayan Suja, Festival Makanan Tradisional Denpasar, acara tahun baru di Popo Danes, opini tentang banyaknya bencana di Indonesia, tentang kampanye World Silent Day, tentang dukungan pembubaran MUI, dan seterusnya dan seterusnya.
Tapi semua hanya di kepala. Ketika aku sudah di depan komputer untuk nulis, tiba-tiba semua hilang dikalahkan rasa malas. Ah, dasar!
Lagi, lagi, dan lagi. Akhir-akhir ini internetku lambaaaat banget. Tidak tahu apakah karena providernya (Starone) ataukah modemnya (Venus). Tidak jelas apa sebabnya. Namun jelas akibatnya: BIKIN SAKIT HATI! 🙁
Melawan hujan dan badai (cailah..) kami tetap berangkat ke Ubud pagi ini. Sejak dari rumah, hujan campur angin tidak juga berhenti. Tapi demi sebuah janji (mmm, tepatnya kesanggupan untuk datang, sih) maka aku dan istri tetap ke sana untuk melihat pameran di Komaneka Gallery Ubud.
Pameran karya Wayan Suja bertema plush-tick ini termasuk unik. Setidaknya aku belum pernah nemu tema pameran begini. Bagaimana plastik itu menjadi penanda (tick) dari sebuah kesenangan sesaat (plush). Hmm, ini cultural studies banget..

Ketika kami lagi berbaring sambil baca koran, istriku menceritakan keinginannya untuk bekerja tetap di salah satu media yang akan segera terbit di Bali. Koran punya grup Media Citra Nusantara itu katanya akan terbit Januari nanti. Beberapa temanku di sana. Salah satunya yang kemudian ngobrol sama Lode, istriku, untuk kerja di sana saja.
Hmm, ini masalah yang sudah berkali-kali kami diskusikan. Aku juga kadang-kadang iri melihat teman kerja terikat. Sepertinya enak dengan rutinitas berangkat pagi, kerja sepanjang hari, dan pulang ketika petang. Lalu tiap akhir atau awal bulan kita dapat gaji atas pekerjaan tersebut. Besar kecilnya relatif. Yang jelas kita dapat pendapatan tetap. Dan, inilah yang dicari istriku.
Tulisan ini sudah aku posting di Bale Bengong. Tiba-tiba saja pengen aku muat juga di blog ini. Sesekali boleh juga naruh tulisan soal kuliner di sini. 🙂

—