Blog

Hasil Kopdar BBC Januari

Minggu kemarin, kopdar Bali Blogger Community (BBC) pun digelar lagi. Ini yang keempat kali. Tempatnya di Desa Budaya Kertalangu Kesiman Denpasar. Tempatnya asik karena di samping sawah. Juga luas. Jadi, seharusnya sih kopdarnya juga asik. But, aku ternyata merasa kopdar ini kurang asik. Alasannya nanti di belakang saja.

Kopdar kali ini diikuti 25 semeton belogger. Daftar hadirnya aku lupa. Mungkin Arie yang bawa. Ternyata Novan yang bawa tanpa sengaja. Obrolan dari pukul 5 sore (dari yang seharusnya pukul 4 itu) kelar sampe sekitar pukul 6.30 Wita. Atau malah lebih. Soale pas bubar sudah gelap.

Materi yang didiskusikan kali ini antara lain: (1) Rencana launching BBC, (2) Website BBC, dan (3) Keanggotaan dan Pengurus BBC. Dan, inilah hasil diskusi itu.

Continue reading “Hasil Kopdar BBC Januari”

Gurita Media Keluarga Cendana

Hingga hari ini Soeharto masih terbujur sakit di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta. Begitu banyak perhatian oleh media menimbulkan banyak pertanyaan di kepalaku. Dari sudut pandang muatan media atau analisis isi media, sangat jelas bahwa berita soal Soeharto mendapat tempat utama di media. Sebatas pada media-media yang kubaca seperti Bali Post, Jawa Pos, dan Kompas, berita tentang Soeharto hampir selalu jadi headline.

Di semua TV juga begitu. Tiada berita tanpa sakitnya Soeharto. Metro TV, Trans TV, SCTV, RCTI, TPI, dan seterusnya semua memberitakan Soeharto. Berita tentang Soeharto dengan segera menenggelamkan berita-berita tentang bencana di berbagai tempat, termasuk banjir di sepanjang Bengawan Solo. Entah ke mana semua berita itu menghilang? Masalah ribuan pengungsi kini berganti sakitnya mantan diktator sekaligus pahlawan di negeri ini.

Continue reading “Gurita Media Keluarga Cendana”

Dadong, Beristirahatlah dengan Tenang

Sejak pertama kali bertemu dengan dadong, aku merasa ada sesuatu yang mengikatku dengannya. Rasa ini seperti halnya ketika aku pertama kali lewat di daerah Pekarangan, Manggis, Karangasem. Melihat bukit, sawah, dan laut yang menyatu di desa ini, aku seperti melihat Mencorek, kampungku di Lamongan. Melihat dadong, bisa jadi juga seperti melihat nenekku sendiri.

Mungkin karena aku memang kehilangan kakek dan nenek sejak kecil. Aku tidak terlalu mengenal nenek dan kakekku. Kakek nenek dari bapak tidak pernah ku kenal sama sekali. Keluarga dari bapakku memang agak misterius. Hampir semua saudara tidak pernah bertemu dengan kakek nenek dari bapak. Kakek dari ibu sudah meninggal sejak aku belum lahir. Lalu, nenek dari ibu sudah meninggal ketika aku mungkin masih TK. Aku tidak ingat persis kapan. Satu hal yang jelas, aku tidak terlalu dekat dengan nenekku. Dia lebih akrab dengan cucu-cucu lain. Maklum, aku punya banyak sepupu.

Continue reading “Dadong, Beristirahatlah dengan Tenang”

Komentator, Haruskah jadi Provokator?

Aku agak ragu-ragu ketika akan menulis posting ini. Pertama, ada beberapa hal yang muncul di kepala untuk ditulis. Tapi ketika sudah mau aku tulis, aku mikir lagi. Untuk apa sih aku menulisnya di blog? Lalu aku baru sadar. Ternyata aku nulis hanya karena ingin ada yang mengomentari, bukan karena aku memang ingin menulis. Kedua, aku juga takut tulisan ini akan dibaca nyinyir sama orang lain. Takut orang lain akan menuduh aku songong dan lain-lain. Ini memunculkan pertanyaan, “Aduh, sejak kapan dibaca orang harus jadi pertimbangan utama bagiku ketika akan menulis di blog? Kenapa harus takut dituduh atau dikomentari orang lain?”

Well, tulisan dibaca orang tentu menyenangkan. Apalagi sampai dikomentari. Tapi lama-lama kok aku mikir itu seperti bumerang. Memang sih, di satu sisi itu berarti tulisanku tidak jadi sekadar masturbasi. Komentar dari orang yang berkunjung berarti ada respon meski hanya beberapa orang dan kadang lebih sering basa-basi. Lalu, lama-lama kok aku makin termotivasi menulis hanya untuk sekadar mendapat komentar. Artinya, komentar sudah jadi motivasi utama. Itu sih terasa akhir-akhir ini.

Continue reading “Komentator, Haruskah jadi Provokator?”

Undangan Kopdar BBC Januari

Semeton Belogger yth,

Setelah tanya sana sini, ditelpon sana sini, chatting sana sini dan seterusnya, akhirnya kita bisa ambil keputusan: Launching BBC ditunda..

Maka, kita tidak jadi launching BBC pada 19 Januari 2008 nanti. Salah satu alasannya memang karena tidak adanya orang yang mau ngoordinir persiapan.

Tapi, don’t worry be happy. Kita akan tetep ketemuan Januari ini. Maka, sekalian ngundang semeton belogger saring sami untuk hadir pada Kopdar Januari BBC pada:
Continue reading “Undangan Kopdar BBC Januari”

Bali is Like a Home

“So, how was your impress about Bali? Is it like what you’ve thinked before?” kataku.

“Ya, ya. It’s absolutely different. I was travelled around some places. I went to India, Srilanka, Ghana. But, Bali is different. I don’t know how. In Bali i feel like coming home,” katanya.

*obrolan dengan basa Inggris ala kadarnya di mobil dalam perjalanan ke Ubud pagi tadi dengan Bu Edith, bos dari tempat kerja part time*

Rwa Bhineda di Pulau Dewata

Tadi siang ada diskusi kecil dengan Win, semeton blogger Bali yang lagi studi di Pittsburgh, Amrik sono. Obrolan via Yahoo Messenger ini bermula dari tulisan dia di blognya soal kekerasan di Bali. Win mempertanyakan apakah orang Bali sudah berubah sehingga sudah demikian akrab dengan kekerasan?

Pemicu pertanyaan itu adalah tawuran di Kuta pas tahun baru lalu. Pas pergantian tahun itu, dua orang tewas akibat tawuran di salah satu kafe. Sebatas yang aku baca di media lokal, hanya disebut tawuran. Tapi Jun, teman wartawan The Jakarta Post, menyebut itu sebagai tawuran antar-preman.

Continue reading “Rwa Bhineda di Pulau Dewata”

Mengawali Tahun dengan Puja

Puja pagi mengawali tahun baru 2008. Ketika hari masih gelap dan orang-orang mungkin masih terlelap, kami duduk bersila di ruang belakang gedung pertemuan. Bale puja yang biasa digunakan untuk berdoa agak basah karena hujan yang mengguyur semalam. Udara pun masih lembab. Dingin.

Sekitar 15 menit sebelumnya aku sudah ke tempat itu. Kadek Dian, koordinator murid-murid di ashram, semalam bilang puja pagi akan dimulai pukul 5. Tapi ketika aku ke sana pukul 5 pagi itu, belum ada satu orang pun. Aku lalu kembali ke kamar ashram di lantai dua gedung Taman Kanak-kanak. Aku kembali merebahkan badan, menarik selimut, lalu berbaring sambil melihat Bani dan Bunda di kasur sebelahku.

Continue reading “Mengawali Tahun dengan Puja”