lagi buka imel dan surfing. tapi leletnya minta ampun.
nyebelin!
Category: Daily Life
Bani Nawalapatra
Hari ini terakhir ikut pelatihan relawan sobat setelah mulai dari Senin lalu. Tiap hari dateng dari jam 9 smp jam 5 sore di dalam kelas terus kecuali utk dua kali break dan sekali makan siang. Melelahkan.. Tapi sykurlah kelar juga. Pelatian ini utk tahu bagaimana jadi sobat bagi orang dengan HIV/AIDS (Odha). Yang ngadain pelatian, Bali+ lembaga support untuk Odha di Bali. Ya, itu ajalah soal kegiatan minggu ini.
Sekarang udah Jumat. Selalu menyenangkan kalo akhir pekan gini. Paling ga Sabtu+Minggu bisa sedikit santai meski masih ada tulisan yang belum kelar. Now lagi buka2 imel+blog. Ada yang menarik di jiwamerdeka.blogspot.com dan electronposts.blogspot.com. Dua milis yg lumayan menambah spirit melawan otoritarian yg makin parah di negara ini: soal RU APP.
Oya, semalem udah dapat nama. Anak kami -kata dokter sih akan lahir sekitar Oktober- udah kami siapin nama: Bani Nawalapatra.
Udah, ah. Istirahat dulu..
Menunggu: Pekerjaan Paling Membosankan!
Pagi2 aku udah ninggalin rumah. Ada janji jam 7 mau ke Negara, sekirar 150 km dari Denpasar, untuk liputan tentang bakso babi. Aku mau nulis hubungan bakso babi dengan masalah identitas di Bali. Karena jauh, maka harus pagi2. Rencananya berangkat bareng ma teman fotografer.
Jam 7 lebih dikit aku udah nyampe. Nunggu. 30 menit. satu jam. Ga jelas. Aku SMS kalo udah nunggu. Baru teman itu bales, sori baru bangun kesiangan. Juga ngajak berangkat jam 11 aja.
PARAH! Ini udah kali ketiga janjian dan selalu telat. Males aja kalo gini terus..
Cerita Indonesia Memutari Lingkaran
Tadi sore nonton VCD Gie. Film ini kalo ga salah mendapat penghargaan sebagai film terbaik dalam Festival Film Indonesia taun lalu. Sebenarnya pengen nonton di Wisata 21 waktu itu. But karena susah, jadinya ya nunggu VCD aja. Thx God akhirnya hari nonton juga.
Gie bercerita tentang Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa angkatan 60an. Dia hidup di zaman Soekarno. Waktu itu gerakan mahasiswa juga terpecah dalam ikatan2 primordial kaya HMI, PMKRI. Bahkan mereka [HMI+PMKRI+GMNI] berantem ketika kampanye pemilihan ketua senat. Lucu juga.
Satu Pintu Lagi Telah Terbuka
Pas lagi buka puasa ma sodara di Bali dua hari lalu, masuk SMS dari sepupu yg lagi ngambil master di Australian National University (ANU) Australia. “Udah baca pengumuman IFP. Congrat! Namamu masuk yang lolos tahap berikut.” Gitu SMS-nya.
Tentu saja senang bukan kepalang. Malam itu juga, setelah buka dan maghriban tentu saja, dengan senang hati aku ke warnet. Cek www.iief.or.id. Liat news, dan waaah, ternyata bener. Namaku dengan manisnya ada di urutan 79. Lalu, besoknya surat+formulir lengkap dalam basa Indon dan English itupun tiba.
Setelah nunggu sejak Juli lalu, akhirnya ada juga pengumuman pra-pendaftaran calon penerima beasiswa IFP. Dan, Thanx God, aku lolos juga meski masih tahap yang sangat awal. Paling tidak, satu pintu udah kebuka meski masih ada tiga atau empat pintu lain yang belum tentu bisa kulewati. Gak ada salahnya dicoba. Kalau toh nanti gak lulus, paling gak aku udah pernah mencobanya.
Ceritanya, begitu lulus S1 Mei lalu -(akhirnya, setelah 8 tahun kuliah!)-, aku kirim lamaran fellowship ke Ford Foundation. Nothing to loose. Toh cuma modal kirim email. Niatnya pengen belajar jurnalisme kalo lolos nanti. Dan, ternyata lolos juga.
Tinggal sekarang ngurus semua syarat pendaftaran itu. Selain itu juga mikir jadinya kira2 belajar dimana ya soal jurnalisme? Hal yang paling penting sih di negara yang pake English untuk percakapan sehari-hari. Soale niat belajar tuh cuma biar Englishku lancar aja. Bukan cari titel. 🙂
Setelah Empat Bulan Akrab dengan HIV/AIDS dan Narkoba
Dua hari lalu Tabloid Kulkul edisi Mei terbit. Artinya sudah lima bulan ini aku kerja di tabloid soal HIV/AIDS dan narkoba ini. Tabloid bulanan ini diterbitkan Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPAD) dan Badan Narkotika Provinsi (BNP) Bali. Jadi ya ini punya pemerintah.
Lima bulan, banyak banget pelajaran yang ku dapat.
Continue reading “Setelah Empat Bulan Akrab dengan HIV/AIDS dan Narkoba”
Tiap Warga Negara Berhak Bekerja di Mana pun!
Malem minggu lalu aku lewat Lapangan Puputan Badung. Pas lewat, tiba-tiba beberapa pedagang acung berlari-lari sambil bawa dagangannya. Dua pedagang balon berlari sambil sesekali melihat ke belakang. Pedagang jagung bakar lari sambil mendorong gerobaknya. Namun sial bagi pedagang bakso, dia digiring petugas ketentraman dan ketertiban (Tramtib), yang justru tidak pernah bikin tentram dan tertib, ke mobil yang menggaruknya.
Lapangan Puputan Badung adalah salah satu tempat terbuka yang ddimiliki Denpasar. Lokasinya strategis. Di tengah kota. Di sekelilingya ada Markas Kodam IX/Udayana, rumah jabatan Gubernur Bali alias Wisma Sabha, kantor Walikota, dan kantor BUMN kaya Garuda dan Pertamina.
Continue reading “Tiap Warga Negara Berhak Bekerja di Mana pun!”
Kisah para Ambtenaar Denpasar
Tumben hari ini aku datang ke kantor walikota Denpasar. Ada undangan mendadak pertemuan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Bali dengan masyarakat Denpasar. Awalnya males datang karena undangan mendadak. But, pas ada waktu luang ke sana aja meski bentar.
Kalau gak salah, terakhir ke kantor walikota sudah tiga empat tahun lalu. Memang jarang sih ada keperluan di sana.
26 Tahun. Lalu Apa?
Bang Anton, gmn kbrnya hari ini? Selamat ulang tahun, Bang. Semoga dilimpahkan berkah dan rahmat oleh Allah SWT. Amien!
-arief, teman di bali-
Ada wajahspagi ini ceria, maka dikirimnya matahari ke atap rumahnya berharap seerang matahri harinya. ada kepala dari miniatur krakah, wajah siap sebenarnya bersembunyi dlm miniatur. seutas putih terbang di angkasa bisa hinggap di kepala srasa tua deh. selamat ulang tahun semoga makin menyadari arti kelahiran dan hidup di dunia ini. panjang umur sehat sentosa.
-izur, teman di makassar-
Rambut Keriting Bukan Kejahatan!
Pas aku lagi baca koran pagi tadi, tetangga sebelah ngobrol. Suaranya agak kenceng jadi aku bisa dengar dengan jelas. Topik bahasannya soal rambut.
Ceritanya ada dua anak kecil, ponakan tetangga, yang datang ke kos. Kakak beradik. Cowoknya adik, ceweknya kakak. Si kakak rambutnya lurus, sedangkan adiknya berambut agak keriting. Lalu datang ibu, tetangga yang lain, dan bilang ke tetanggaku itu.
“Kok yang cowok rambutnya brekele.”