Blog

Ya, Mari Menikmati Hidup. Itu saja Cukup..

– kado ulang taun bagi diri sendiri-

Taun ini sepertinya memang waktunya menikmati hidup.

Tidak usahlah berpikir terlalu berat tentang masa depan. Cukup nikmati apa yang kau dapat. Dan rasakan betapa enaknya hidup ketika kita merasa cukup.. Ah, jadi kayak Gde Prama. He.he.

Continue reading “Ya, Mari Menikmati Hidup. Itu saja Cukup..”

28 Tahun. Ah, Makin Tua Saja.

Kok persis sama dengan taun lalu ya? Ulang taunku pas ketika aku lagi ngasi pelatian jurnalistik bagi aktivis LSM. Taun lalu sama teman2 LSM pertanian berkelanjutan di Jimbaran. Sekarang pas pelatian sama teman2 LSM penanggulangan AIDS.

Taun ini tidak banyak harapan dan doa. Mari menikmati hidup. Itu saja udah cukup.. Ini beberapa SMS sekadar ngingetin mereka yg masih inget. :)) Continue reading “28 Tahun. Ah, Makin Tua Saja.”

Selalu Ada Gelap di Balik Gemerlap

Pernahkah kita berpikir bahwa apa yang kita pakai, apa yang kita makan, atau apa yang kita lihat sehari-hari tidaklah sesederhana adanya?

Pertanyaan itu muncul setelah aku nonton Blood Diamond yang menceritakan bagaimana ironi sebuah permata yang berkilau itu ternyata lahir oleh perang tak berkesudahan dan perjuangan berdarah-darah. Ketika permata itu telah ada di tangan konsumen mereka tak pernah berpikir tentang itu semua. Permata adalah kemewahan. Begitu menyilaukan hingga orang tidak sempat berpikir tentang darah yang mengalir di baliknya. Continue reading “Selalu Ada Gelap di Balik Gemerlap”

Soto Karangasem, Weteng Wareg Gumi Ajeg

-aku kirim ke The Jakarta Post utk Surfing Bali. tp belum dimuat sampe hari ini-

Soto karangasem menambah kekayaan kuliner Bali. Tak hanya mapan secara ekonomi, pedagangnya pun bisa jadi tuan di tanah sendiri. Mereka punya slogan weteng wareg gumi ajeg.

Di bawah bangunan semi permanen beratap dan berdinding seng, Wayan Sukanada, 44 tahun, melawan stereotip bahwa orang Bali malu bekerja di sektor informal. Sejak 1980 pria asal Desa Ngis, Kecamatan Manggis, Karangasem itu berdagang soto sapi di pinggir jalan raya di daerah Oongan, Denpasar timur. Tiap hari dia melayani pelanggan yang rata-rata karyawan swasta di sekitar tempat mangkalnya. Continue reading “Soto Karangasem, Weteng Wareg Gumi Ajeg”

Konglomerasi Media dan Penunggalan Opini di Bali

Huh, akhirnya kelar juga laporan yang ku kerjakan sekitar dua bulan ini. Awal Februari lalu, Mas Hanif, teman di LSPP Jakarta minta tolong bantu bikin riset tentang dampak konsentrasi kepemilikan media di Bali. LSPP akan membuat buku tentang peta kepemilikan media penyiaran di Indonesia. Salah satu bagiannya adalah bagaimana dampak konsentrasi kepemilikan media penyiaran itu. Bagian ini mengambil contoh kasus di Bali.

Ketika ditelpon pertama aku mikir riset itu bener-bener riset. Aku mikir sih ya mungkin mirip bikin skripsi dengan sumber utama riset pustaka. Mikir soal riset, otakku langsung kebayang soal yang ribet. Nyatanya komposisi sumber riset itu sekitar 50 persen riset pustaka, 50 persen wawancara. Continue reading “Konglomerasi Media dan Penunggalan Opini di Bali”

Taman 65, Ketika Rumah jadi Pusat Kebudayaan

-ini hasil ngobrol kemarin sama Termana alias Kingkong apa Lekong ya? he.he. aku kirim ke Jakarta Post. semoga dimuat besok. kalo ga besok, semoga Kamis depan. kalo ga dimuat juga, paling tidak aku muat sendiri di blog ini. :))-

Setelah melewati pintu utama, tiap orang yang masuk areal di daerah Denpasar timur tersebut, akan disambut lukisan. Sepanjang koridor itu lima lukisan dipajang. Dengan warna dominan merah, lukisan-lukisan itu langsung menyita perhatian. Namun lukisan-lukisan itu tidak tergantung di dinding galeri atau museum. Lukisan itu ditempelkan “hanya” di dinding rumah. Ya, bener-bener rumah tempat tinggal. Continue reading “Taman 65, Ketika Rumah jadi Pusat Kebudayaan”

Kami Berlomba Maka Kami Ada

Lomba itu pun diadakan kembali di gang kami. Lomba sebelumnya sekaligus lomba pertama diadakan Agustus tahun lalu. Ceritanya untuk membangkitkan nasonalisme anak-anak gang. :)) Waktu itu lombanya banyak. Ada kepruk balon isi air, makan krupuk, gigit duit di jeruk. Pas gigit, gigi mereka sampe item-item. Tapi kan rame jadinya. Apalagi anak2 gang sebelah juga pada ikut.

Lalu Sabtu lalu lomba diadakan lagi. Yang bikin ide sih istriku lagi. Rencana semula lomba diadakan Minggu pekan lalu. Eh, ternyata aku pas lagi drop. Sakit. Udah gitu juga memang lupa. Jadi ya diundur Sabtu kemarin. Kebetulan banget hari itu tanggal merah. Jadi ya pas saja.. Continue reading “Kami Berlomba Maka Kami Ada”

Bikin Komunitas Blogger Denpasar

Sebenarnya udah lama pertanyaan -atau kegelisahan- ini muncul. Kenapa ya aku kok gak pernah denger ada Komunitas Blogger di Bali, atau setidaknya di Denpasar? Aku cari berkali-kali di blogger atau google juga ga ketemu. Asumsiku: memang belum ada komunitas blogger di Denpasar.

Padahal komunitas blogger di kota lain begitu hidup. Bandung dengan Bandung Blog Village, Jogja dengan Angkringan, Semarang dengan Loenpia, dan seterusnya. Mereka bisa saling mendukung. Dan yang paling penting adalah bisa menyebarluaskan gagasan ttg blog ke orang lain. Bagiku sih itu bagian dari demokratisasi melalui internet. Continue reading “Bikin Komunitas Blogger Denpasar”

Garingnya Perayaan Ultah Akademika

Ketika berangkat dari rumah, aku terlalu banyak berharap. Aku bayangin akan banyak teman alumni Akademika yang dateng malam itu. Akademika, pers mahasiswa tempat aku belajar jurnalisme pertama kali sekaligus tempat yang mengubahku, merayakan ulang taun ke-24 Sabtu malam kemarin. Sebagai alumni yg baik dan benar –he.he- aku niat banget datang ke aka, gitu sebutan kami untuk Akademika, malam itu.

Padahal sebenarnya ada tiga alasan untuk tidak hadir. Pertama aku tiba-tiba sakit. Badan agak demam. Hidung ngocor. Mungkin karena Jumat kemarin kehujanan terus malemnya nglembur ngetik laporan riset media sampai pukul setengah dua pagi. Udah gitu baru bisa tidur sekitar pukul tiga dan bangun pukul tujuh. Jadi ya klop: kehujanan, nglembur, kurang tidur. Seperti biasa, badan langsung drop. Continue reading “Garingnya Perayaan Ultah Akademika”