Blog

Portal Personal, Merayakan Kebebasan Informasi

Hmm, lama tidak nulis opini serius. Kalau tidak salah sih terakhir kali pas Media Indonesia memuat tulisan resensiku soal mengorganisasi diri dengan informasi Mei lalu.

Dan, kali ini aku bikin tulisan opini serius lagi. Tulisan ini pesanan Koran Pak Oles untuk edisi akhir tahun tentang jurnalisme warga. Ya sekalian media campaign tentan blog lah.

You. Yes, you. You control the Information Age. Welcome to your world. (TIME)

Senin, 12 November lalu jadi peristiwa bersejarah dalam perjalanan blogger dunia. Sebab pada hari itu, salah satu blogger terkemuka di Mesir, Wael Abbas, mendapat penghargaan prestisius dalam pencapaian jurnalis media mainstream dari the International Center for Journalists (ICFJ). Blogger Wael Abbas mendapat Knight International Journalism Award yang selama ini hanya diberikan pada jurnalis. Inilah dua hal yang akhirnya mendapat pengakuan secara formal: bahwa blogger pun masuk dalam ranah jurnalisme.

Continue reading “Portal Personal, Merayakan Kebebasan Informasi”

Ada Udang di Balik Jancuk!

Tulisan ini dibuat ketika aku sedang menunggu proses komputer di tempatku kerja part time. Entah kenapa komputer ini tiba-tiba agak lambat ketika lagi buka imel dan blogging. Jadi, daripada bengong mikir jorok, aku bikin aja tulisan ini. Kali ini soal..

–eh, sik. Aku teken Alt+Tab dulu untuk lihat apakah prosesnya sudah kelar… Kutu kupret tenyata semua masih pada muter-muter belum selesai proses.-.

Balik lagi. Sampai mana tadi? Oya, kali ini soal bahasa saja. Soalnya masih hangat. Sehangat isu global warming mungkin.

Continue reading “Ada Udang di Balik Jancuk!”

Mati Tua di Jalan Raya

Minggu lalu saya bekerja membantu panitia Joint Convention Bali (JCB) 2007. Lembaga kami Sloka Institute yang bergerak di bidang pengembangan media, jurnalisme, dan informasi membuat media internal untuk konvensi gabungan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) – Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) – Ikatan Ahli Pertambangan Minyak Indonesia (IATMI) tersebut.

Selama empat hari (Senin-Kamis), saya dan dua teman lain pun harus bolak-balik Denpasar – Nusa Dua karena konvensi itu dilaksanakan di Bali International Convention Center (BICC) Nusa Dua sedangkan cetak media internal itu harus di percetakan Temprina milik Jawa Pos di Denpasar.

Continue reading “Mati Tua di Jalan Raya”

Laporan Kopdar Bali Blogger Community

Akhirnya bisa juga aku bikin sambitan (bukan sambutan) selaku tukang kompor Kopdar Bali Blogger yang Ketiga Minggu (11/11) lalu. Laporan ini dibuat biar komunitas ini keliatan sok serius. Padahal isinya cuma orang2 belogodog. *hahaha*.

Sebenarnya hampir semua belogger yang hadir udah pada bikin cerita. Jadi laporan ini semacam sok resmi saja. Makanya aku udah siap2 lari kalau disambit. Nggak lah. Laporan ini dibuat sebagai bentuk pertanggungjawaban moral saja.

Biar tidak penuh basa-basi, to the point saja. Terima kasih untuk semua blogger yang sudah berkenan diprovokasi untuk datang, Mas Hendro dan Pan Belog (ini mirip tokoh Deep Throat dalam investigasi wartawan Washinton Post berjudul All President Men karena tidak mau disebut namanya, hehe) yang udah nyumbang buat kopdar, Kang Ayip dan Ebo yang udah nyumbang stiker dan majalah.

Continue reading “Laporan Kopdar Bali Blogger Community”

Dan, Lahirlah Bali Blogger Community


Tiba-tiba aku merasa agak takut untuk melakukan perjalanan Sabtu sore pekan lalu. Padahal aku hanya hendak ke Ungasan. Tidak jauh. Tidak juga lama. Hanya sekitar 25 km dari Denpasar. Tidak akan lebih dari 30 menit perjalanan ke sana.

Namun aku seperti merasakan kegentaran yang pernah ku alami sebelumnya pada Januari 2006 lalu, ketika aku akan menikah. Hanya berselang hari sebelum hari H pernikahan, aku harus ke Singaraja untuk melihat pementasan teater di sana. Maka, perjalanan sekitar 2 jam dari Denpasar ke Singaraja waktu itu dipenuhi dengan ketakutan: jangan-jangan bla-bla-bla, jangan-jangan bla-bla-bla..

Continue reading “Dan, Lahirlah Bali Blogger Community”

Blog antara Adsense, Narsis, dan Isi

Lagi males nulis panjang. Jadi masukin saja hasil diskusi kecil di milis pantau-komunitas@yahoogroups.com. Diskusi ini dipicu tulisan Imam Shofwan di PANTAU. Sayangnya aku lagi males juga utk membuat link ke tulisan itu. Kapan2 aja deh aku bikin link ke sana. Sekarang aku masukin diskusi kecil ini saja. Ya, sekadar ngungkapin kegelisahan soal perkembangan blog di Indonesia, termasuk Bali. Sekaligus utk bernarsis ria itu tadi. :p

Membaca banyak tulisan di media massa soal Pesta Blogger kemarin, sepertinya memang masih ada soal yang belum terjawab: seberapa seriuskah blogger Indonesia menulis secara kritis?

Continue reading “Blog antara Adsense, Narsis, dan Isi”

Ironi Konferensi Perubahan Iklim di Bali

Desember nanti, Bali akan dipenuhi 10 ribu hingga 15 ribu orang. Ribuan orang: aktivis LSM, pejabat, penjahat (lingkungan), menteri, sampai presiden dari 180 negara akan tumplek blek di Nusa Dua, bagian selatan Bali. United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) alias Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim itu akan berpusat di Bali International Convention Centre (BICC).

Banyak suka cita, terutama masyarakat Bali. Ini ibarat rezeki nomplok karena konferensi besar itu akan jadi promosi gratis buat pariwisata Bali. Ya, tentu saja. 10 ribu orang tidaklah sedikit. Apalagi isu pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim (climate change) sedang laris manis jadi wacana global. Maka, itu tadi, Bali pun akan mendapat imbas pencitraan.

Continue reading “Ironi Konferensi Perubahan Iklim di Bali”

Memburu Jejak Dampak Perubahan Iklim di Bali

Sabtu pekan lalu, akhirnya tubuhku memberi tanda (lebih jelas lagi). Ketika mampir di Pekarangan, Manggis, Karangasem, kampung istriku, tubuhku tiba-tiba lemes. Aku pikir hanya sebentar. Tapi meski sudah istirahat, minum teh hangat, lalu makan di warung ikan laut Pesinggahan dalam perjalanan kembali ke Denpasar, ternyata tubuhku tidak pulih juga.

Ketika sampai rumah, setelah sekitar 1 jam perjalanan, hal yang paling terasa adalah ada yang tidak beres di tenggorokan. Kalau sudah begini, biasanya radang. Pertanda capek. Kalau toh ke dokter, paling juga disuruh istirahat secukupnya. Jadi ya, tidak usahlah ke dokter. Istirahat saja cukuplah.

Huh! Minggu ini memang melelahkan. Tapi setidaknya satu pekerjaan akhirnya selesai.

Continue reading “Memburu Jejak Dampak Perubahan Iklim di Bali”

Untuk Bani Anak Kami

Bani Anakku,

Ketika kau menangis saat Ayah akan pergi
Lalu apa lagi yang Ayah cari?

Ketika kau tersenyum saat Ayah baru datang
Lalu ke mana lagi Ayah pulang?

Maka, cukuplah, Bani
Biarkan Ayah di sini bersamamu sepanjang hari

*Ketika Bani nangis gara-gara aku mau pergi untuk cukur rambut tadi pagi. Jadi Bani pun ikut bareng ke tempat cukur. Punya Bani. Hmm, lalu apa lagi yang aku cari?*