Blog

Intel Nyolong Rekaman Diskusi

Sore tadi ada teman telpon. Dia sedang di Bali ikut seminar tentang masa depan Indonesia di bawah pemerintahan SBY. Seminarnya di Hotel Jayakarta Kuta. Pembicaranya antara lain Budiman Sudjtamiko, Faisal Basri, dan yang lain. Dia bilang banyak intel di diskusi yang diadakan Friedrich Elbert Schiftung (FES) tersbeut.

Parahnya, intel-intel itu nyolong rekaman selama diskusi. “SBY sepertinya mulai menunjukkan otoritariannya,” kata temen itu.

So, teman-teman tercinta. Sepertinya masa di bawah kekangan penguasa itu akan segera kembali. Salah satu caranya ya nginteli diskusi kelompok-kelompok prodem. Mungkin SBY jadi tiran hanya masalah waktu. Tunggu saja..

Kuta Karnival yang Menyenangkan dan Liar

Biasanya pantai Kuta Bali cuma dipenuhi peselancar, turis berjemur atau jalan-jalan, serta penjual souvenir. Namun, pada 24 September -3 Oktober lalu suasana pantai indah itu berbeda. Umbul-umbul menghias sepanjang bibir pantai. Di salah satu bagian pantai juga ada ramp dan panggung gede. Ada apa gerangan?

Oalah, ternyata selama sepuluh hari tersebut digelar Kuta Karnival. Kuta pun jauh lebih rame dibanding hari lain. Tidak hanya aktivitas pariwisata sebagaimana biasa. Di sana ada juga konser musik, lomba surfing, skateboard, cheerlader, fashion show, parade, dan beragam acara lainnya. Seluruh kegiatan berpusat di Half Way Point, salah satu titik di pantai Kuta yang biasa dipake surfing.

Continue reading “Kuta Karnival yang Menyenangkan dan Liar”

Purnama Kapat dan Pengajian di Masjid Agung

Malam ini bulan masih terlihat penuh. Kemaren sih Purnama Kapat dalam penanggalan Bali. Ini hari baik, meski semua hari juga baik. Pas Purnama Kapat, banyak banget pura yang ngadain Odalan -upacara enam bulan sekali dalam penanggalan Bali.

Pas di jalan ketika aku balik dari kirim laporan di internet, aku ketemu beberapa remaja habis sembahyang di pura. Masih dengan pakaian adat mereka duduk-duduk di pinggir jalan. Ada juga yang naik motor pelukan sama pasangannya. Tiap purnama, umat Hindu di Bali memang banyak yang sembahyang di Pura Jagatnatha Denpasar.

Continue reading “Purnama Kapat dan Pengajian di Masjid Agung”

Bersembunyi di Pantai Berkarang Bali Selatan

Lupakan Kuta, Sanur, ataupun Nusa Dua. Menikmati Bali hanya dengan berjemur di pantai-pantai landai tersebut tidak lagi bergengsi. Kini saatnya Anda menikmati liburan yang lebih menantang, eskotis, dan eksklusif. Sebab pantai-pantai berikut hanya diketahui sedikit turis. Informasinya pun lebih bersifat dari mulut ke mulut. Anda tidak akan menemukannya di buku petunjuk ataupun paket perjalanan.

Pantai-pantai ini seluruhnya masuk wilayah Kecamatan Kuta Selatan seperti Pecatu dan Uluwatu. Tidak ada petunjuk resmi menuju ke sana. Arah paling gampang adalah jalan raya menuju Pura Uluwatu, salah satu pura terbesar di Bali di Desa Uluwatu, Bali bagian Selatan. Seluruh pantai berciri sama: bibir pantai pendek, dibatasi dua tebing, pasir putih, ombak besar, dan… tersembunyi! Sebab, pantai ini berada di balik bukit-bukit kecil antara objek wisata Garuda Wisnu Kencana di Bukit Jimbaran hingga Pura Uluwatu.

Continue reading “Bersembunyi di Pantai Berkarang Bali Selatan”

Senyum Jenderal di Bibir SBY

Meski belum final, SBY dipastikan menang dalam pilpres 20 September lalu. Terharu juga melihat bagaimana orang Indonesia sudah demikian dewasa berpolitik. But, kenapa SBY yang terpilih?

Sebab, senyumnya itu lo. Aku melihat senyum Soeharto ketika masih muda. Memikat namun berbisa. Ngeri aja. Feeling-ku bilang akan ada diktator baru di negara ini: SBY.

But, semoga saja tidak.

MERDEKA! [gawat, ya? :p)

Dua Negara, Seribu Satu Cerita

-resensi buku-

Meskipun judul bukunya berembel-embel catatan perjalanan jurnalistik, buku ini lebih tepat disebut kajian tentang Damascus dan Baghdad. Sebab penulisnya tidak hanya menyusun berdasarkan reportase di lapangan tapi lebih banyak menggunakan bahan-bahan tertulis alias riset. Penggunaan data skunder lebih banyak, dibandingkan observasi atau wawancara dengan sumber-sumber di lapangan, misanya.

 

Maka, embel-embel sebagai catatan perjalanan jurnalistik dalam buku ini terkesan dipaksakan. Sebab, buku ini lebih dari itu. Sebagaimana disinggung dalam pengantarnya, buku ini memang tidak hanya sebuah laporan jurnalistik tetapi pemahaman mengenai sejarah sebuah negara, kota, dan juga suku-suku bangsa yang ada di dunia.

Continue reading “Dua Negara, Seribu Satu Cerita”

Jejak Hindu di Tanah Kelahiran Amrozi

Lamongan hanya dikenal gara-gara Amrozi. Padahal ada juga jejak Hindu di pesisir utara Jawa Timur itu yang menarik dikunjungi. Bangunan dan upakara Hindu tersisa di Makam Sunan Drajat dan Sunan Sendangduwur. Kurangnya perawatan dan perhatian mengancam bukti akulturasi Hindu dan Islam ini.

Supiyah, 60 tahun, menengadahkan tangan ketika saya menyusuri jalan setapak di area makam. Jalan itu menghubungkan makam Sunan Drajat dengan museum. Tanahnya berdebu dan berkerikil selebar tak sampai semeter melewati pinggir ratusan nisan batu hitam. Menyusuri jalan sepanjang sekitar 100 meter ini, saya menjumpai sekitar 15 pengemis. Umumnya mereka berbaju lusuh, tanpa alas kaki, dan berteduh di bawah pohon atau tubuh bersandar tembok. Mereka membawa piring atau gelas untuk tempat koin pemberian pengunjung.

Tujuan utama pengunjung, termasuk saya, adalah Makam Sunan Drajat. Sunan atau wali adalah sebutan untuk penyebar Islam pada masa dulu. Disebut Makam Sunan Drajat karena makam ini terletak di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, sekitar 120 km barat laut Surabaya. Menggunakan kendaraan umum, pengunjung dari Surabaya biasa naik bis kecil jurusan Terminal Osowilangun (Surabaya) – Tanjung Kodok (Lamongan) dan turun di pertigaan Desa Banjarwati.

Continue reading “Jejak Hindu di Tanah Kelahiran Amrozi”

Cerita Tengkorak dari Bukit Choeung Ek

Suara puja dalam bahasa Khmer mengalun dari pengeras suara sebuah kuil kecil di Choeung Ek, sekitar 15 km barat daya Phnom Penh, ibukota Kamboja. Puja itu iramanya sama dengan azan dari masjid atau kidung dari pura. Ketika mendengar pertama kali, aku bahkan mengira suara orang mengaji. “Tapi apa iya di tempat ini ada masjid?” pikirku.

Dari Tan Surya, sopir taksi sekaligus pemandu perjalanan, aku baru tahu bahwa suara itu adalah puja biksu dari kuil atau pagoda. Hari itu, hari terakhir di Kamboja setelah selesai kursus.

Continue reading “Cerita Tengkorak dari Bukit Choeung Ek”