Lamongan hanya dikenal gara-gara Amrozi. Padahal ada juga jejak Hindu di pesisir utara Jawa Timur itu yang menarik dikunjungi. Bangunan dan upakara Hindu tersisa di Makam Sunan Drajat dan Sunan Sendangduwur. Kurangnya perawatan dan perhatian mengancam bukti akulturasi Hindu dan Islam ini.
Supiyah, 60 tahun, menengadahkan tangan ketika saya menyusuri jalan setapak di area makam. Jalan itu menghubungkan makam Sunan Drajat dengan museum. Tanahnya berdebu dan berkerikil selebar tak sampai semeter melewati pinggir ratusan nisan batu hitam. Menyusuri jalan sepanjang sekitar 100 meter ini, saya menjumpai sekitar 15 pengemis. Umumnya mereka berbaju lusuh, tanpa alas kaki, dan berteduh di bawah pohon atau tubuh bersandar tembok. Mereka membawa piring atau gelas untuk tempat koin pemberian pengunjung.
Tujuan utama pengunjung, termasuk saya, adalah Makam Sunan Drajat. Sunan atau wali adalah sebutan untuk penyebar Islam pada masa dulu. Disebut Makam Sunan Drajat karena makam ini terletak di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, sekitar 120 km barat laut Surabaya. Menggunakan kendaraan umum, pengunjung dari Surabaya biasa naik bis kecil jurusan Terminal Osowilangun (Surabaya) – Tanjung Kodok (Lamongan) dan turun di pertigaan Desa Banjarwati.
Continue reading “Jejak Hindu di Tanah Kelahiran Amrozi”