Blog

Soal Gempa di Yogya

mungkin ini juga telat. karena beberapa kali coba posting ternyata ga bisa. ya internet yg lelet lah, yg sibuk ga jelaslah. tapi biarin saja. toh itu enaknya ngeblog. ga harus kejar deadline. :))

soal gempa di jogja.

ketika tau pertama kali di TV Sabtu pagi, aku pikir gempa itu biasa saja. ya mungkin cuma satu dua orang mati. jadi ga terlalu kepikiran. karena itu ketika ada teman SMS ngasi kalo rumah keluarganya di Bantul hancur, aku bales dengan bercanda.

hari itu aku juga memang total ngurus malam puncak renungan AIDS nusantara. jadi ga terlalu merhatiin berita.

malamnya, setelah selesai acara dan sampe rumah. aku baru tahu kalau gempa itu makan korban sangat banyak, sampai lebih dari 3000 orang. esoknya data orang mati bertambah. esoknya bertambah. dan bertambah terus. hingga hari ini lebih dari 5000 orang mati.

jogja. baru sekitar dua minggu lalu aku dari sana. muter2 keraton, malioboro, alun-alun, UGM, dst. lalu kini aku liat di TV bangunan2 runtuh. mayat2 dikubur. dadaku sesak.

parahnya lagi, bencana itu datang tiba2 saat banyak orang siaga dg merapi. ternyata bencana itu datang dalam bentuk yg lain. tak pernah terduga..

Photos reveal strength, optimism

The Jakarta Post , Jakarta | Fri, 05/26/2006 1:25 PM | Life

I Wayan Juniartha, The Jakarta Post, Denpasar, Bali

Anybody could sense the tristesse in his faltering voice. Yet, along with the anguish there was also a trace of hard-nosed realism to his words. Robbie Baria, a young photographer, both lamented and rejoiced at the weeks he had spent with a poor, HIV-infected housewife at Pemuteran, a coastal village in northern Bali.

“”The entire experience has deeply affected my life. It put me in face-to-face contact with the harsh reality of poverty and suffering. On the other hand, it also introduced me to an individual, who, above all else, refused to give in to one of the world’s brutal tragedies,”” he said.

Continue reading “Photos reveal strength, optimism”

Mengabarkan Perjuangan Odha Lewat Gambar

-huh, sibuk ngurusi persiapan pameran hingga hari H dan pasca. sampe lupa terus utk posting. jd ya posting press release ajalah. sptnya belum telat-

Enam fotografer memamerkan foto kehidupan Odha. Menggambarkan optimisme. Sekaligus membongkar mitos bahwa HIV/AIDS adalah akhir segalanya.

Sabtu (20/1) menjelang tengah malam, seorang wartawan bertanya di sela-sela persiapan pameran foto ini, “Kenapa pameran ini tidak memperlihatkan orang-orang kena AIDS yang kurus dan tinggal tulang?” Kami terhenyak. Pertanyaan ini makin membuktikan bahwa masih banyak kesalahpahaman dan mitos tentang HIV/AIDS. Karena itulah kami berharap bahwa pameran foto ini bisa menjawab kesalahpahaman dan mitos itu.

Continue reading “Mengabarkan Perjuangan Odha Lewat Gambar”

Cerita Berburu Sepupu

Agak mendadak bagiku. Rabu pekan lalu Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerbitan Yogyakarta (LP3Y) menelpon kalo aku harus presentasi di Yogya. Ceritanya mereka lagi ngadain program pendanaan liputan investigatif tentang HIV/AIDS. Sekira sebulan lalu aku kirim proposal. Dan lolos sebagai calon peserta.

Syarat berikutnya: presentasi di diskusi bersama di Yogya Selasa (16/5). Ga ada pilihan lain. Aku harus ke Yogya.

Ngobrol ma bini, kami sepakat berangkat bareng. Udah lama pengen jalan bareng ke Yogya sejak belum nikah. Tapi selalu ga bisa. Jadi mumpung ada urusan ke Yogya, sekalian aja sambil bulan madu meski tertunda. :))

Sambil bulan madu, ga ada salahnya berburu. Sebab ada sepupu kuliah di Yogya yg bermasalah. Sepupu ini dari pihak istri. Kuliahnya belum kelar, udah punya dua anak. Umur tiga tahunan di bawahku. Itu sebenarnya ga soal. Masalahnya dia juga blm kerja. Jarang telpon ortu. Sekali dua kali telpon cuma minta dikirim duit. Alamat ga jelas. Bini+anaknya di Jakarta. Dia di Yogya..

Lalu Sabtu ini kami udah di Yogya. Berburu sepupu jadi pekerjaan pertama. Abis istirahat skt dua jam di penginapan di daerah Malioboro, aku ma teman cari sepupu. Barusan cari ke studio tempat dia kerja. Eh, yang jaga studio bilang sepupuku itu ga ada. Katanya lagi ke Bromo..

Well, berburu belum ada hasil. Semoga Senin udah dapet. Atau syukur2 besok..

Sekali Lagi F**kng Birokrasi!

Pas udah kebuka kolom untuk nulis ini, aku kok tiba2 blank ya. Padahal perasaan aku punya beberapa hal untuk ditulis. But, tiba2 aja hilang. Ga berbekas sama sekali di pikiran. Kadang-kadang emang gini ini..

Jadi ya tulis aja deh yang kesangkut pas mikir sebentar: Soal rencana Pekan Renungan AIDS Nusantara (PeRAN) 2006, dengan teman2 relawan Sobat yang mendampingi orang dengan HIV/AIDS (Odha).

Minggu ini mbulet gara2 birokrasi lagi. Dulu sepertinya gampang. Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi nawarin relawan Sobat untuk bikin kegiatan tersebut. Kami pun menerima dan udah nyusun agenda. Antara lain lomba menulis masalah HIV/AIDS, pameran foto, kampanye anti diskriminasi+stigma pada Odha, hingga malam puncak renungan. Tujuannya untuk mengenang mereka yg udah lewat gara2 AIDS serta memberi dukungan pd yg masih hidup.

Oleh KPA Provinsi kami diminta koordnasi dg KPA Kota Denpasar. Dan, f**kng birokrasi itu mulai bikin sebel. Trnyata PeRAN harus dikoordinasikan dg lembaga lain. It’s ok. Kami ketemu dg lembaga lain dan agenda digabung. Tapi tetap harus ngurusi semua proposal dan diajukan ke KPA Kota meski sebelumnya udah ngasi.

Gapapa. Kami bikin lagi. Diajukan lagi..

Tapi, tiba2 Minggu lalu salah satu project officer KPA Kota Denpasar bilang kami harus melibatkan semua LSM HIV/AIDS di Denpasar dalam kepanitiaan. “Semua agenda dan kepanitiaan harus diubah,” katanya ala birokrat. Oh, f**k!

Yg kasian teman2 Sobat lain jd pada bingung. Lagi2 karena birokrasi. Huh!

Birokrasi F**king Kompleks!

Ada dua kematian April ini. Tapi tidak perlu menangis. Sebab yang mati cuma KTP dan SIM C. :)) Kebetulan banget mereka mati barengan 19 April lalu, barengan dengan ulangtaunku.

Cuma karena kematian keduanya, aku jadi was2. Misalnya aku keluar Bali lalu masuk lewat darat. Biasanya di Gilimanuk pasti KTP tiap orang yg masuk Bali diperiksa. Kalo KTPku ketauan mati, bisa2 ga boleh masuk Bali. Soal SIM juga gitu. Kerjaanku lebih banyak di jalan. Kalo misalnya ketangkep polisi, bisa2 bayar denda, dong. Untungnya masih ada keplek sakti, Kartu Pers. Jadi ya masih bisa bernafas lega.

But, sebagai warga negara yg baik, gak enak juga tau KTP+SIM mati tanpa ngurus lagi. Maka, sejak pertengahan April lalu, aku berniat ngurusi dua benda yang seolah-olah penting itu.

Masalahnya untuk ngurus SIM harus bawa KTP sementara KTP baru belum ada. Sejak Januari lalu, aku memang ngurus surat pindah dari Panjer, Denpasar Selatan ke Subak Dalem, Denpasar Utara. Semua syarat udah lengkap: fotokopi kartu keluarga -yg isinya cuma aku. he.he-, surat nikah, foto kopi KTP, bayar iuran banjar, hingga foto. Awal Februari lalu semua syarat udah tak kasi ke banjar biar segera dapet kartu keluarga+KTP baru. Waktu itu santai-santai karena nganggap ga bakal lama ngurus itu. Kata petugas waktu itu, “Ntar cari ke kelian banjar ya.”

Sekitar dua minggu habis nyerahin itu, aku ke rumah kelian. Dia ga ada. “Bapak kari mekarya,” kata anaknya dalam basa Bali halus yg artinya, “Bapak masih kerja.” Besok ke sana lagi, kelian ga ada lagi. Ke sana lagi, ga ada lagi. Sampe akhirnya aku bosen nyari karena kelian ga pernah ada.

Ketika KTPku mati, aku baru inget untuk ngurusi lagi. Beberapa kali ke rumah kelian, tetap aja ga ada. Hingga sekitar seminggu lalu aku ketemu kelian di rumahnya. Dia bilang belum pernah baca namaku sebagai warga banjar. “Nanti saya tanyain ke sekretaris banjar. Besok aja ke sini lagi,” katanya.

Sabtu lalu aku kembali nanyain ke rumah kelian. “Kok nama Adik tidak ada ya di sekretaris,” katanya pas ketemu. “Coba deh saya tanyain lagi,” kata dia lalu nelpon sekretaris. Orang di ujung sana menjawab surat itu memang ga ada di tangannya. “Mungkin dibawa kelian tempek. Cari saja ke sana,” katanya santai. Kelian tempek tuh kepala unit terkecil di banjar, semacam kepala lingkungan.

Aku dan istri mulai sebel. Sepertinya mulai ga beres. Kami ke kelian tempek. Hasilnya nihil. “Waktu itu kan dikasi ke sekretaris banjar,” katanya.

Ga jelas siapa yg bisa bertanggungjawab soal KK+KTP baru kami. Ketika telpon lagi ke kelian banjar dia menjawab santai, “Kalo tidak ada di kelian tempek dan sekretaris, mungkin sudah diurus ke kecamatan.”

Oh, f**king beureaucracy!

Setelah 27 Tahun Berlalu. Lalu?

Ini telat lebih dari seminggu. Jadi, sebenarnya, udah ga aktual. Tapi karena kebiasaan nulis feature dan kerja di majalah mingguan, jadi ya tetap aja dianggap aktual. he.he. Juga karena ini penting sebagai bagian dari sejarah hidup. Seperti kata Soekarno, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.” alias Jasmerah. -gawat..-

Soal ulang taun 19 April lalu. Sekadar mengingat ucapan beberapa teman.

ton, hepi besdey ya. sukses selalu dah. sori telat sehari. br ada pulsa ni. gmn kabarnya nyonya anton? udah ada calon anton/lode junior blm? slm ya buat si nyonya rmh. [dewikosala, teman. 20/4 06]

cil, met ulang tahun. smg sehat selalu, tambah rejeki, cepat punya momongan dan rukun selalu. [ricky, teman. 20/4 06]

wishing u sunlight in u’r heart.. success in u’r path.. answer to u’r prayer.. and smile in u’r eyes.. happy birthday. wish u all the best.. [sophie, teman. 20/4 06]

met ultah ya. moga tetap sehat, panjang umur, n semangat terus. sori telat. [081338854…, teman. 20/4 06]

happy b’day. smg lbh bisa membahagiakan keluarga ‘n orang2 di sekitarmu. [izur, teman. 19/4 06]

hepi b’day, bapak anton. semoga ada waktu di mana kita bisa ngumpul bareng, di antara cerita dan juga makanan. [gegdung2, teman. 19/4 06]

happy birthday, ya! [gilda, kolega. 19/4 06]

pak de apa kbr? selamat ulang tahun ya! smg panjang umur, sehat selalu sekeluarga. smg selalu dalam lindungan Allah SWT. calon sepupu gmn kbrnya? sehat2 aja kan? [bintang, ponakan. 19/4 06]

met ultah ya mas Anton. semoga sadar udah tua. ha.ha.ha. Bcanda, bung. [topan, teman. 19/4 06]

selamat ulang tahun, antonemus. mg cepat punya momongan. he.he. [hanapi, teman. 19/4 06]

ass -ini sebenarnya jorok. he.he. tapi maksudnya assalamu’alaikum, bukan ass in english- bang Anton piye kabare? met ultah, bang. ring dija saiki ngojog aja mama lode? anton jr udah ada blm? [ariefreza, teman. 19/4 06]

SELAMAT ULTAH, TON. [LATIEFS, teman di latiefs.blogspot.com via blog. ga tau kapan. he.he.]

Ya, begitulah. Pas malem balik dari Jimbaran sampe rumah ada kue tart dg tiga lilin untuk ayah, bunda, dan bani. begitu berarti di tengah teman dan keluarga..

Thanks, God. I Got Playboy!

Dengan semangat 45, Sabtu malem lalu aku pengen banget sampe rumah. Badan pegel setelah lima hari penuh jadi fasilitator pelatian menulis untuk aktivis advokasi petani itu ga terlalu tak peduliin. Bukan karena pengen cepet2 ketemu istri, atau jabang bayi dalam perut, tapi karena Playboy! :))

Begitulah, setelah menunggu berminggu2 akhirnya Playboy Indonesia sampe rumah juga. Pas masih di pelatian, istri yang sudah baca duluan kirim SMS: “Playboy lebih bagus dari Pantau. Baca lead aja udah terasa.” Makanya jadi ga sabar pengen liat edisi pertama majalh yg rencana penerbitannya pun sudah bikin banyak orang menolak.

Lalu, malam itu hingga Minggu malam, puas2in aku baca Playboy Indonesia. Dan, generally, selain editing yg banyak kelewat dan artikel ttg komik, menurutku Playboy memang keren. Artikel nyrempet sex hanya di PlayJoke. Atau kalau mau maksa menghubungkan ya soal Marilyn Monroe. Selebihnya, artikel Playboy tergolong berat.

Tulisan Agus Sopian soal agama2 lokal di Jawa Barat. Tentang bagaimana intervensi negara dalam masalah keyakinan, termasuk memberikan standar islamisentris pada agama2 di Indonesia dan mengawasi wilayah privat melalui pencantuman agama di KTP. Artikel ini dalam tapi terlalu serius nulisnya. Kang Agus, kenapa tak menulis yg lebih nyantai meski materi berat?

Wawancara dengan Pramoedya Ananta Toer adalah bagian terbaik edisi pertama. Lengkap meski Alfred dan Solihun yang wawancara sadar kalau tujuan awal ga sampe. Tapi tetap saja asik membaca omongan2 PAT. Meski materinya berat, tulisannya lucu. Kadang2 sampe ketawa pas baca.

Tulisan ttg Eddie, orang Amrik yg jadi tukang bikin perahu di Aceh ditulis Linda Christanty. Sayang banget kurang greget. Aku kok ga nemu hal istimewa di tulisan ini. Istimewanya ya karena si Eddie itu orang Amrik itu saja. Perjuangannya juga bukan sesuatu yang luar biasa bagiku.

Ada pula tulisan Alfred Ginting soal usaha orang Timor Leste melupakan Indonesia. Wah, keren juga, Bang Alfred. Aku pikir dia cuma jago motret, ternyata nulisnya juga keren. Ini artikel terbaik kedua selain wawancara dg PAT. Sayangnya cuma kurang banyak soal gimana usaha Timor melupakan Indonesia itu.

Oya ada pula cerpen Dewi Lestari -yg aku ga ngerti maunya apa- dan FX Rudi Gunawan, yang lumayan asik.

Habis baca Playboy, ga salah kalo aku nunggu2 setengah mati dapet majalah ini. So, i hate USA, but i love Playboy.. :))

Susahnya Cari Majalah Playboy

Udah seminggu lebih cari2 majalah Playboy di Denpasar, ternyata ga dapet2. Aku cari di agen terbesar di Bali, udah habis. “Kami ngambil dikit. Cuma 700,” kata yg jual. Wah, masa 700 dibilang dikit. Lalu cari di Gramedia, ga jual. Di Gunung Agung, habis. Agen2 lain, habis juga. Alamak susah nian cari majalah ini.

Temanku yg juga kerja di Playboy bilang mau ngirim ke alamatku. “Namamu udah masuk list yg akan dikirim,” dia SMS gitu minggu lalu. But, sampe skarang belum juga majalah itu sampe. Hari ini dia SMS, kantor dievakuasi gara2 diserbu FPI.

Hmmm, FPI lagi..

Gerombolan preman berpakaian putih2 suka teriak2 “Allahu Akbar” ini masih saja jadi pengacau, termasuk dalam kasus Playboy. Mereka bilang Playboy ga boleh terbit. Alasane karena mengancam moral. Lha, gimana mengancam? Isinya toh, sebatas yg kutau dari berita dan teman2, ga vulgar2 amat. Malah setauku banyak tulisan berkualitas di tengah dangkalnya tulisan di media saat ini. Lalu dianggap mengancam? Itu kan asumsi. Belum terbukti. Bandingkan dengan FPI yang sudah sering ngobrak-ngabrik apa yg mereka ga suka, lalu dengan bangga menyematkan predikat melanggar norma.

Itu juga yg sepertnya akan terjadi kalau RUU APP disahkan. Akan makin banyak preman berkedok agama ini menyerbu dan melakukan kekerasan. Menyedihkan, seperti sedihnya aku ga dapet Playboy…