Blog

Ketika Pecandu Narkoba Akhirnya Aksi

Setelah ngomong2 sejak lima bulan lalu, akhirnya aksi demo pun dilakukan ke Kejaksaan Negeri Denpasar dan Pengadilan Negeri Denpasar Kamis kemarin. Ikatan Korban Napza (IKON) Bali menuntut agar hakim tidak lagi menjatuhkan vonis hukuman penjara bagi pecandu narkoba. Sebab, nyatanya penjara memang bukan jawaban. Di dalam penjara, pecandu makin mudah dapat heroin dan narkoba jenis lain.

Demo kemarin mungkin bukan hal luar biasa. Massa sekitar 40 orang. Tuntutan penghapusan vonis penjara. Tujuan PN dan Kejari Denpasar. Orasi. Nyanyi2. Tidak ada yg istimewa. Continue reading “Ketika Pecandu Narkoba Akhirnya Aksi”

Perempuan di Sarang Penasun [8]

***

Toh, dengan semua masalah itu, usaha Yeni dan PL NEP Yakeba lain termasuk berhasil. Indikator paling jelas adalah makin banyaknya jumlah klien NEP Yakeba. Bulan pertama program berjalan ada 42 penasun dijangkau. Juni lalu ada 359 penasun klien NEP Yakeba. Sebagian klien juga ikut voluntary conselling testing (VCT) atau konseling dan tes secara sukarela. Bulan pertama hanya lima klien ikut VCT di Yakeba. Hingga Juni lalu sudah 63 orang ikut VCT, 58 di antaranya tes HIV. Hasilnya 28 penasun positif HIV. Continue reading “Perempuan di Sarang Penasun [8]”

Perempuan di Sarang Penasun [7]

***

Kecurigaan tetangga hanya satu masalah Yeni sebagai PL NEP. Dia pernah pula ditegur pimpinan PRM Sandat karena lokasi penjangkauannya terlalu dekat, bahkan sempat masuk areal terapi. Sebagian klien PRM Sandat kadang-kadang memang masih pakai heroin (occasional). Jarumnya mereka dapat dari PL NEP di situ termasuk Yeni. Karena Yeni satu-satunya PL NEP yang juga klien methadone, maka dia yang kena getah paling parah. Dia dipanggil pimpinan PRM Sandat dan diminta agar tidak lagi membagi jarum di lingkungan tersebut. Continue reading “Perempuan di Sarang Penasun [7]”

Perempuan di Sarang Penasun [6]

***
Ngobrol santai lebih sering dilakukan saat klien mengembalikan jarum. Misalnya Yeni mengajak klien ikut kelompok dampingan sebaya (KDS) atau client meeting. Atau kalau sudah tahu statusnya positif diajak Positive Chat. Bahan obrolan kadang termasuk soal keluarga atau pasangan. “Biar pun statusnya ODHA, mereka terbuka. Masalahnya cuma lingkungan keluarga atau rumah masih ada yang belum bisa nerima sepenuhnya,” tambahnya. Continue reading “Perempuan di Sarang Penasun [6]”

Perempuan di Sarang Penasun [5]

***

Prosentase HIV/AIDS di kalangan penasun dibanding kelompok berisiko tinggi lain memang lebih tinggi. Per April lalu dari 984 orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Bali, 453 orang dari kalangan penasun, hampir separuhnya. Sisanya dari kalangan heteroseks (355 orang) dan homoseks (84 orang). Sebagai bandingan, pada Maret 2005 lalu, ada 321 penasun dari 635 ODHA. Sisanya, 175 heteroseksual dan 55 homoseksual.

Merangkaknya prevalensi penularan HIV di kalangan junkie jadi kekhawatiran lembaga penanggulangan HIV/AIDS. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pelaksana NEP pun bertambah. NEP masuk program harm reduction atau pengurangan dampak buruk. Yakeba, sebelumnya fokus ke rehabilitasi pecandu heroin dan pencegahan, pun melasanakan harm reduction, termasuk NEP sejak Oktober 2005. “Kami lihat ODHA IDU makin banyak dan tidak tercover, jadi ya kami coba ke harm reduction,” kata Kadek Moyong, Koordinator Lapangan (Korlap) NEP Yakeba.

PL NEP Yakeba direkrut dari staf dan relawan Yakeba yang sebagian besar bekas junkie. Mereka dilatih sebagai petugas penjangkau. Namun tak semua PL baru itu staf dan relawan Yakeba. Ada pula klien LSM lain. Salah satunya Yeni. Setelah mengikuti pelatihan, Yeni jadi salah satu dari sepuluh PL NEP Yakeba hingga Juni lalu.

Sejak jadi PL, rutinitas Yeni berubah. Selesai minum methadone di PRM Sandat tiap pukul 8 pagi, dia ke Yakeba. Padahal biasanya dia ngobrol dulu di sana sampai pukul 11 untuk minum methadone lagi. Tapi sekarang pukul 8.30 dia harus sudah di Yakeba untuk absen dan morning briefing yang diikuti semua PL, Korlap, dan Manajer Program. Selain soal rencana kerja harian, saat morning briefing juga dibagi jarum untuk masing-masing PL, termasuk Yeni.

Tiap hari Yeni dapat 25-30 jarum. Berbekal jarum dia kembali ke warung tempat dia dan Cecep serta puluhan junkie lain bertemu.

Awal jadi PL, Yeni mencari teman-temannya saat dia masih pakaw. Dia ke Kuta dan ke daerah Jl Gatot Subroto Barat Denpasar nyanggongin teman-temannya yang ikut terapi substitusi heroin dengan buprenorphin. Buprenorphin merupakan produk generik yang dikenal dengan nama pasar Subutex. Menurut aturan pakai, pil ini dikonsumsi secara sub-lingual, ditaruh di bawah lidah dan dibiarkan larut. Tujuannya mengurangi ketergantungan pada heroin atau menghilangkan sakaw.

Masalahnya, junkie yang ikut terapi Subutex belum bisa menghilangkan kebiasaan nyuntik. Barangnya memang bukan putaw, tapi caranya tetap cucaw. Karena itu Yeni juga membagi jarum pada mereka. “Memang tidak bagus, tapi gimana lagi? Daripada mereka berbagi jarum kan?” kata Yeni balik bertanya.

Dua bulan terakhir, Yeni lebih banyak nongkrong di warung di daerah Denpasar Barat. “Anak-anak (junkie) lagi kumat-kumatnya sekarang,” kata Yeni.

Sebelumnya sudah ada PL Yayasan Hatihati di tempat itu. Kini Hatihati dan Yakeba saling mengisi. Di warung itu Yeni bisa membagi paling tidak 25 jarum hingga sekitar pukul 14.00 wita. Selama sehari, klien paling banyak sekitar pukul 11 dan pukul 1 siang. Selama menunggu itu, Yeni biasa duduk-duduk di warung sambil minum teh atau kopi.

Sambil minum kopi dan menghisap rokok Yeni juga ngobrol masalah kesehatan sama kliennya. Tidak mudah. Karena beberapa anak sempat ngeblok, sok tahu soal masalah yang dibicarakan. Yeni sempat kesal. “Aku sudah capek-capek berniat baik masa digituin,” katanya. Tapi lama-lama klien bisa cerita banyak soal masalah mereka masing-masing. [ke posting berikutnya]

***

Perempuan di Sarang Penasun [4]

***

Yayasan Hatihati kemudian mengintervensi perilaku ini dengan membagi jarum suntik steril ke penasun. Lima relawan NEP saat itu membagi jarum steril di beberapa kawasan nongkrong penasun seperti Kampung Flores dan Sudirman Denpasar serta Jl Nakula dan Jl Poppies Kuta. Selain membagi jarum, intervensi juga dilakukan untuk mengubah perilaku junkie, bahasa lain penasun. Selain agar tak lagi berbagi jarum, juga agar junkie tak memakai jarum bekas.

Jumlah junkie yang dijangkau Yayasan Hatihati terus bertambah. Dari 184 junkie pada 1999 jadi 366 junkie pada tahun berikutnya. Per Mei lalu mereka sudah menjangkau 1850 junkie, 100 di antaranya cewek. Petugas lapangannya pun bertambah, 13 orang. Mereka tak hanya di Denpasar tapi juga menjangkau kota lain seperti Singaraja, sekitar 150 km utara Denpasar, dan Negara, sekitar 200 km barat laut Denpasar.

PL Yayasan Hatihati berganti-ganti. Ada yang keluar, ada pula yang masuk. Salah satu yang bertahan lama itu Komsa Nursalam, akrab dipanggil Gale. Sejak Februari tahun ini dia menjangkau Negara dan sekitarnya. Sebelumnya, staf Yayasan Hatihati sejak 2001 ini menjangkau Kuta. Gale, juga mantan junkie, sedikit banyak mengubah perilaku Yeni.

Mereka kenal saat masih pakaw bareng di Kuta. Sudah lama akrab membuat Gale mudah diterima Yeni termasuk ketika mengajaknya jadi klien NEP Yayasan Hatihati. Awalnya Yeni tak terlalu peduli. Paling penting dia dapat jarum steril. “Apalagi dia lagi kenceng-kencengnya pakaw waktu itu,” kata Gale. Pelan-pelan perilaku Yeni berubah. Selain tak lagi berbagi jarum, Yeni juga berani mengembalikan jarum bekas.

Bahkan, dia mulai mencari substitusi heroin dengan methadone, jadi klien PRM Sandat Denpasar sejak Februari 2003. Tapi baru beberapa hari ikut terapi dia berhenti. Transportasi jadi alasan. Waktu itu dia tinggal di Kuta sementara PRM Sandat ada di Sanglah, Denpasar. Jaraknya sekitar 15 km. Yeni tidak punya kendaraan pribadi. Padahal angkutan umum di Bali sangat susah.

Alasan lain, dia dan suaminya masih pakaw. “Heroin bagiku tidak bisa digantikan saat itu,” akunya.

Satu hari Yeni benar-benar tidak bisa beli barang. Dia hampir sakaw –sakit karena badan kecanduan heroin. Dia minum methadone. “Ternyata sakawku hilang,” katanya. Sejak itu, dia benar-benar rajin ikut terapi methadone. Tiap hari dia naik ojek dari Kuta ke Sanglah. Pelan-pelan, hidupnya berubah lebih baik.

“Aku mulai sabar. Pikiran juga tenang,” katanya. Yeni makin mengurangi pakaw meski kadang-kadang masih. Dia pun pindah ke Denpasar agar lebih dekat tempat terapi.

Tidak lagi pakaw juga membuat ekonominya membaik. Dia bisa beli TV, sepeda motor, dan kulkas. Sejak Februari lalu dia pindah dari kos sekitar 4×3 meter persegi ke rumah dengan dua kamar tidur, satu kamar tamu, satu dapur, dan satu kamar mandi meski masih kontrak Rp 7 juta per tahun. Rumahnya di Denpasar Selatan termasuk kawasan baru. Di depan rumahnya masih berupa sawah. Pohon pisang dan ilalang liar rimbun di sekitarnya sempat jadi masalah. [lanjut ke posting berikutnya]

***

Perempuan di Sarang Penasun [3]

***

Cecep dan Yeni termasuk dari 77,3 persen penasun yang suka berbagi jarum suntik di Bali saat itu. Perilaku ini rentan menularkan HIV. Data itu ditemukan Made Setiawan dan aktivis penanggulangan HIV/AIDS lainnya melalui survei singkat pada 34 penasun di Kuta dan Denpasar. Merespon temuan itu, Setiawan dan teman-temannya mendirikan Yayasan Hatihati pada 10 Desember 1998 untuk menanggulangi HIV/AIDS di kalangan penasun.

Awalnya Hatihati mencegah penularan dengan pemutihan (bleaching). Jarum bekas pakai dibersihkan dengan pemutih. Jarum disedotkan di cairan pemutih, dikocok tiga kali, lalu dijemur. Baru setahun berjalan, cara ini mengalami hambatan. Penasun sebagai klien malas melakukan pemutihan. Aroma jarum setelah dicuci juga tidak enak.

Karena itu, sejak Maret 1999, Hatihati mencoba kegiatan NEP. “Kegiatannya masih underground waktu itu,” kata Lodovickus Gerong, manajer program Yayasan Hatihati. Sebagai uji coba, mereka membagi 300 jarum. Ludes! Habisnya jarum diikuti perubahan perilaku Penasun. Ada sepuluh penasun yang tak lagi berbagi jarum saat pakaw.

Meski hanya dua bulan uji coba, Hatihati yakin NEP efektif. Sejak Juni 2002, NEP resmi jadi bagian dari program pengurangan dampak buruk (harm reduction) Yayasan Hatihati. “Jangka panjangnya mengurangi prevalensi penularan HIV. Jangka pendeknya mengubah perilaku IDU,” tambah Vicky, panggilan akrab Lodovickus.

Barang putus, istilah untuk heroin yang tidak ada di pasaran, memang hanya sekitar dua minggu. Namun Yeni dan penasun lain tetap cucaw karena susah dapat jarum untuk menyuntik heroin. Kalau beli di apotek mereka tidak berani. Polisi biasa menunggu di depan apotek. Ketika melihat ada yang beli jarum, orang itu akan dibuntuti.

Tekek, sebutan junkie pada polisi, tak hanya membuntuti pembeli jarum suntik di apotek. PL juga kadang jadi korban. Ketika diperiksa dan ditemukan jarum di tasnya, PL itu dibawa ke kantor polisi dan diperiksa 2×24 jam. Bahkan ada PL yang dihajar polisi gara-gara bersama junkie target operasi (TO).

Kejadian ini dialami Irwan Syahrudin, PL NEP Hatihati, sekitar Februari 2002. Waktu itu NEP masih underground. Wawan, panggilan akrabnya, dipukul polisi karena tidak mau jadi saksi terhadap kliennya yang tertangkap membawa heroin. Dia bahkan dibawa ke Poltabes Denpasar bersama dua kliennya tersebut. Surat keterangan kerjanya dirobek. Dia juga diinterogasi polisi.

Kondisi itu membuat PL gerilya membagi jarum. “Kami harus kucing-kucingan. Kalau ada polisi ya keluar jurus ampuh, langkah seribu..” kata Wawan lalu tertawa.

Selain kucing-kucingan dengan polisi, masalah juga datang dari petugas apotek. Mereka selalu bertanya soal kartu tanda penduduk (KTP) pembeli jarum. Apotek juga tidak buka 24 jam. Padahal keinginan pakaw bisa muncul kapan saja. “Jadinya terpaksa jarum bekas itu kami cari lagi untuk pakaw,” tambah Cecep. Carinya di atap warung, tempat sampah, bahkan selokan. Atau bisa juga dengan pinjam jarum bekas ke teman lain. Tak peduli tengah malam dan harus menggedor pintu rumah teman.

Sensasi cucaw dan ngedrag memang berbeda. “Karena irit dan rasanya beda. Kita lebih enjoy. Kencengnya lebih enak,” kata Cecep. [lanjut ke posting berikut]

***

Perempuan di Sarang Penasun [2]

***

Masuknya HIV ke tubuh Yeni berawal dari perilakunya saat pakaw, bahasa slang pakai heroin. Dia pakaw sejak 1994, ketika rumah tangganya dengan pensiunan insinyur warga Italia bermasalah. “Dia terlalu posesif,” katanya. Semua kebutuhan materi Yeni terpenuhi termasuk rumah dan mobil. “Tapi aku tidak bahagia. Seperti burung dalam sangkar emas,” tambahnya. Yeni tertawa pelan.

Ketika akhirnya cerai pada November 1995, rumah dan tanah 30 are di Petitenget, Kuta beserta semua isinya jadi milik Yeni. Sebagai ganti, anak tunggal mereka dibawa mantan suami ke negara asalnya. Psikologis Yeni bermasalah. Dia makin kencang pakai heroin. Dia ketergantungan.

Awalnya Yeni pakai heroin dengan cara ngedrag. Heroin ditaruh di alumunium foil bekas rokok atau permen karet. Bagian bawahnya dipanasi api. Asap pembakaran dihisap dengan kertas lintingan. Ke mana asap bergerak, ke sana dia mengejar. Seperti mengejar naga (chasing dragon) sehingga disebut ngedrag.

Masalah datang saat heroin putus pada 1996. Harga putaw, nama jalanan heroin, mahal dan susah dicari. Sementara itu rumah, mobil, motor, TV, dan semua barang milik Yeni sudah habis terjual untuk pakaw. Padahal dia makin tergantung pada serbuk putih coklat itu.

Tak ada modal untuk beli heroin, Yeni mulai ikut jual “barang”, bahasa lain heroin. Tak hanya heroin tapi juga narkotika jenis lain seperti hasish. Untuk beli dia sampai ke Thailand. Agar tidak ketahuan polisi, barang dimasukkan ke dalam perut. Sampai Bali, barang itu dikeluarkan di buth up. Dia jongkok untuk buang air besar. Bukan kotoran yang keluar, tapi air sama barang itu.

“Crut crut crut.. Keluar dah,” katanya.

“Bau, dong?” tanya saya.

“Ya bau, lah!”

***

Putaw mahal dan susah tak hanya masalah Yeni, tapi juga penasun lain. Karena itu ketika ada temannya datang dari Singapura dan punya simpanan barang, mereka pakaw bersama.

Mereka duduk berdelapan di Jl Poppies II Kuta. Barang ditaruh di atas gelas air mineral yang dibalik, diisi air, diaduk, ditarik dengan jarum, terus disuntikkan ke urat lengan. Satu jarum berpindah dari satu orang ke orang lain. “Itu pertama kali aku pakai jarum bergantian,” kenang Yeni.

Alasan itu pula yang membuat Cecep mulai cucaw, bahasa jalanan nyuntik heroin, dari yang biasanya ngedrag. “Barang cuma ada seperempat (gram) untuk berdelapan. Mana cukup kalau ngedrag? Akhirnya ya kita bagi pedang,” katanya. Bagi pedang maksudnya berbagi jarum.

Ketika jarum itu menembus urat lalu putaw masuk ke darah, tanpa mereka sadari, saat itu pula HIV berpindah dan bertambah. “Waktu itu belum ada informasi soal HIV/AIDS. Jadinya cuek aja,” kata Cecep, demikian pula Yeni.

Jarum suntik memang jadi salah satu sumber penularan HIV selain hubungan seks tanpa kondom, pertukaran darah, atau air susu ibu pada anaknya.

Yeni menduga virus itu sudah ada di tubuhnya sejak akhir 1997. Waktu itu Jack Loobie, suami barunya, baru balik dari negaranya, Australia. Loobie, yang juga penasun, tes HIV. Hasilnya dia positif. “Aku disuruh tes tapi aku tidak mau,” aku Yeni.

Tapi dia baru tahu justru saat sakit. Dia batuk-batuk, tuberculosis (TB)-nya kumat. Dokter menyarankan dia tes HIV. Hasilnya, positif. CD4, sel indikator ketahanan tubuhnya, cuma 7 dari yang normalnya 500-1100. “Aku merasa sudah tidak ada harapan. Makanya masa bodoh saja. Kalo punya uang, aku mau habisin saja buat senang-senang,” katanya. [lanjut ke posting berikutnya]

***

Perempuan di Sarang Penasun [1]

-tulisan terpanjangku. :)) dibuat atas beasiswa liputan dari LP3Y utk bikin liputan ttg HIV/AIDS. sebagian dimuat di Playboy Indonesia Desember ini-

Perempuan di Sarang Penasun

Jarum berbungkus plastik itu berpindah cepat. Yeni, 37 tahun, mengeluarkannya dari tas. Menggenggam lalu memberikannya pada Cecep, 49 tahun. Tanpa melihat kanan kiri, Cecep memasukkan jarum ke saku celana jeansnya. Yeni mencatat.

“Makasih, Yen,” kata Cecep lalu tersenyum. Gigi depannya ompong.

“Iya. Jangan lupa balikin bekasnya,” jawab Yeni.

“Santai saja.”

Mereka ngobrol. Tak lama, sekitar lima menit. Cecep lalu pergi menyuntikkan heroin ke lengannya dengan jarum yang baru dia dapat dari Yeni. Selesai nyuntik, dia mengembalikan jarum itu ke tas Yeni.

Sekitar pukul 11 siang awal Juni lalu belasan orang nongkrong di warung tempat Yeni dan Cecep bertemu di kawasan Sanglah, Denpasar Barat. Hampir semua laki-laki. Satu dua terlihat lusuh dan sering menguap. Sebagian besar dari mereka injecting drug user (IDU) atau pengguna narkoba suntik (penasun). Jarum untuk menyuntikkan heroin itu mereka dapat dari Yeni dan petugas lapangan (PL) lain di warung tersebut.

Selain tiga pelayan warung, perempuan lain di tempat itu adalah Yeni. Toh, Yeni tak takut apalagi risih di antara belasan laki-laki yang bagi banyak orang mungkin terlihat sangar: rambut gondrong, tato sepanjang lengan, anting, dan kaca mata hitam.

Tulisan kaos coklat Yeni menegaskan itu, No Fear, tepat di dada. Kaos itu berpadu celana jeans biru putih tiga per empat. Telinga kanannya tindik dua. Kiri tanpa tindik. Lipstik di bibirnya mengering. Kaca mata hitam di atas kepala.

Yeni akrab dengan belasan laki-laki itu sejak Februari 2003, ketika dia mulai rajin ikut terapi methadone di Program Rumatan Methadone (PRM) Sandat Denpasar. Terapi itu untuk mengurangi ketergantungannya pada heroin. Minggu pertama ikut terapi, Yeni tak rajin masuk. “Sehari masuk, sehari tidak. Tergantung mood,” katanya.

Kini Yeni tiap hari ke tempat pelayanan terapi methadone di dekat Rumah Sakit Sanglah Denpasar tersebut. Selain untuk terapi juga karena dia harus melakukan kegiatan Needle Exchange Program (NEP) atau program pertukaran jarum suntik di tempat tak jauh dari PRM Sandat. Yeni jadi petugas lapangan (PL) NEP Yayasan Kesehatan Bali (Yakeba). Aktivitas membagi jarum itu tak boleh dilakukan di areal PRM Sandat.

Pekerjaan membagi jarum steril pada penasun dilakoni Yeni sejak Oktober 2005. Aktivitas ini mengubahnya dari klien jadi petugas. Semula dilayani kini melayani.

“Jadi lumayan tahu. Untuk ngasi informasi ke klien lebih banyak pakai pengalaman pribadi aja,” katanya. Yeni berharap orang lain bisa belajar dari pengalamannya itu.

“Aku ingin bantu mereka,” tambahnya.

Pelajaran yang disampaikan Yeni adalah agar penasun tak lagi berbagi jarum suntik ketika pakai heroin. Sebab perilaku itu bisa menularkan human immunodeficiancy virus (HIV), virus penyebab sindrom penurunan sistem kekebalan tubuh atau acquired immune deficiancy syndrome (AIDS). Virus itu ada di tubuh Yeni. [ke posting berikut]

***